36. Mencari Galen

1082 Words
“Ke mana dia pergi? Kenapa dia begitu cepat menghilang?” tanya Galen sambil melemparkan pandangannya ke sekeliling hutan buatan itu. Suasana di sana tampak begitu biasa-biasa saja, seperti dia lewati. Namun, entah kenapa saat ia melihat kembali, ada yang terlihat cukup aneh. “Apa hanya perasaanku saja, kenapa menjadi aneh, ya?” tanyanya. “Bahkan bulu kudukku merinding,” tambahnya sambil mengucap lengannya. “Mencariku anak manis?” Sebuah suara terdengar, disertai dengan sebuah penyergapan dari belakang Galen membuatnya tidak bisa bergerak ataupun memberontak. Galen tidak bisa menghindar karena terlalu tiba-tiba dia disergap oleh seorang pria dari arah belakang. “Sial, dia begitu cepat sekali. Aku bahkan tidak bisa menghindar,” umpat Galen yang terdiam. Ia tidak bisa bergerak karena pria itu menyergapnya menggunakan kawat yang saat ini telah berada di lehernya. “Hahahaha … Galen Ivander, aku menyukaimu.” “Maaf, tapi aku masih normal. Aku pria yang menyukai wanita, aku tidak akan suka dengan pria sepertimu,” ucap Galen membuat pria itu tertawa karena mendapatkan respon seperti itu. Galen berusaha untuk melihat wajah pria itu tetapi pria itu memperkuat cekikannya membuat Galen merasakan rasa sakit karena kawat itu ingin menembus kulitnya. “Sttt … Jangan berbalik ke belakang, atau tubuh dan kepalamu bisa terpisah,” ancam Pria itu membuat Galen tidak berani bergerak. Pria itu cukup gila, lebih gila adalah dirinya sendiri yang begitu berani mengejar seorang pembunuh sendirian bahkan telah diperingati oleh kakaknya untuk tidak pergi mengejar pria itu. Glek! Galen hanya bisa menelan salivanya dengan pelan, karena seutas kawat tengah berada tepat di lehernya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Pria itu bisa-bisa memutuskan urat lehernya jika dia mau. “Ka … kau yang membunuhnya?” tanya Galen mencoba untuk tenang di kondisinya saat ini. Setidaknya dia bisaa mendapatkan sesuatu yang bisa dijadikan barang bukti, walaupun keadaannya saat ini terpojok. “Membunuh apa?” “Gadis itu? Aku rasa kau tahu apa yang kumaksud. Kau tidak bodoh untuk pura-pura tidak paham apa yang aku katakan,” ucap Galen membuat pria itu tertawa kecil. “Hahaha … Sepertinya yang menelponmu tadi adalah kakakmu. Jadi dia mengatakan jika gadis itu telah mati?” tanya pria itu membuat raut wajah Galen berubah. Bisa-bisanya pria itu terlihat santai. “Bagaimana bisa kau melakukannya, sedangkan anak itu berada di dalam pengawasan kami, dan juga dia berada di kantor polisi? Sepertinya kau sudah sering melakukan hal seperti ini,” ucap Galen membuat pria itu terdiam. “Sering lakukan? Hhhmmm, ya seperti yang kau katakan, aku memang terlalu sering melakukannya. Bahkan itu terlalu sering sampai membuatku tidak tahu sudah keberapa kali aku melakukannya.” “Kau—” “Kenapa? Bukankah hal yang biasa jika seorang pembunuh sepertiku melakukan hal yang menurut kalian itu tidak masuk akal?” tanya pria itu membuat Galen lagi-lagi terdiam. “Kenapa kau membunuhnya? Bukankah dia adalah salah satu dari komplotanmu?” “Ak … aku tidak membunuhnya, aku hanya memainkan kawat yang sama seperti yang berada di lehermu saat ini, dan dia memberontak, dan street—” Perkataan pria itu menggantung. “Kau tahu apa yang terjadi? Kawatnya menyayat kulit leher, dia yang ingin mati karena bergerak, dan aku mengabulkannya. Mencekiknya dengan kawat itu, dan memutuskan kerongkongannya, hingga mengeluarkan bunyi patahan, setelah itu aku melepaskannya begitu saja. Aaa … Darah yang menguap itu membuatku semakin bersemangat menjalani hari ini.” “Ka … kau …” “Hahaha … Aku berbaik hati denganmu padamu hari ini, biasanya tidak ada yang kubiarkan lolos ketika bertemu denganku setelah aku membunuh, tapi hatiku sedang bahagia jadi aku membebaskanmu, tapi—” Bugh! Sebuah suara pukulan keras di belakang Galen membuatnya tidak sadarkan. “Oops, sepertinya aku terlalu kasar padamu, maafkan aku,” ucap pria itu sambil menarik Galen. Pria itu benar-benar membiarkan Galen hidup, dan hanya membuatnya tidak sadarkan diri, dan bisa segera pergi dari sana. “Hhmm … aku bilang aku tidak akan membunuhmu, tapi aku tidak bilang, tidak akan menyiksamu bukan? Ahahah. Benar banget, aku ingin memberikan sesuatu yang tidak akan kau lupakan,” ucap pria itu. Suara panggilan Benua terdengar, membuat pria itu bergegas meninggalkan Galen. Jika dia berhadapan dengan Benua, itu akan membuatnya menjadi kacau apalagi dia mendengar dari kejauhan pria itu tidak sendiri tetapi bersama dengan tim. Jika dia tertangkap, itu akan sangat buruk. “Galen … Galen … Galen …” panggil Benua. Rasa khawatir menjalar di pikiran Benua. Dia takut jika terjadi sesuatu pada Galen. Itu akan menambah masalah apalagi, Galen bertindak sendiri tanpa menunggu dirinya. Beberapa orang pun berpencar menjadi keberadaan Galen. Tidak ada suara sahutan dari anak itu. Walaupun dia mereka telah berteriak untuk memanggil. “Coba hubungi nomornya,” saran Rai. Gadis itu pun mengikuti Benua untuk menemukan Galen. “Ah iya, benar. Aku tidak terpikirkan,” ucapnya sambil mengambil ponsel dari saku baju. Begitu cepat pria itu menghubungi Galen. tring … tring … tring … Nada ponsel milik Galen tiba-tiba berbunyi membuat semua orang segera mencari asal suara itu. Beberapa kali mereka menghubungi agar mengetahui letak dari ponsel Galen, tetapi sangat sulit untuk mereka. “Coba telpon lagi,” pinta Rai membuat Benua kembali menghubungi nomor Galen. Tring … Tring … Rai yang sejak tadi diam, untuk benar-benar fokus menemukan di mana asal saura itu akhirnya menengok ke arah kiri. Ia mendengar suara ponsel Galen dari arah kiri. “Aku pikir di sebelah sini,” kata Rai sambil menunjuk ke arah kiri. Beberapa hewan patroli pun digunakan untuk mencarinya. Guk … guk … guk … Beberapa kali dia Galen dipanggil, tetapi belum juga menyahut membuat Benua menjadi bertambah khawatir. Bagaimana tidak anak itu seakan tidak mendengar panggilan mereka. “Galen … Galen …” teriak mereka secara bersamaan. Beberapa saat kemudian, sebuah suara membuat Galen terbangun, dan ketika membuka mata dia menyadari jika dirinya tengah terbalik. Galen melihat ke sekelilingnya, apalagi melihat ke arah dirinya sendiri memmbuatnya tidak bisa berbuat banyak. “Galen … kau dengan suaraku?” panggil Benua kembali. “Galen … jawab ….” panggil Benua lagi. Benar saja, untuk saaja kali ini Galen menjawab panggilan Benua. “Ya … ya … ya, aku dengar,” teriak Galen. “Aku dengar. Aku dengar,” seru Galen. Rai yang mendengar hal itu hanya bisa menengok kiri dan kanan, mencari asal suara dari Galen. “Aneh, suara ponselnya berada di sini sedangkan suaranya berasal dari sana,” gumam Rai. Benua tidak menunggu dan langsung bergegas ke asal suara Galen menyahut. “Aaaa …” Rai berteriak membuat Benua terkejut dan melihat ke arah gadis itu. . Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD