“To … tolong …” Alana memberontak pada pria yang saat ini tengah mencekik lehernya dengan tiba-tiba.
Tidak main-main pria itu langsung menyerangnya, tanpa bisa kabur. Alana berpikir jika pria itu datang untuk membuatnya keluar dari tahanan. Namun, hal yang tidak dia tahu adalah, jika dia hanyalah pion yang akan dibuang saat mereka tidak membutuhkannya.
Tangan Alana mencoba untuk memberontak tetapi ia kehilangan tenaga. Apalagi saat pria itu mencekiknya, bukan memakai tali ataupun tangan tetapi memakai kawat yang secara otomatis, akan membuatnya kesakitan. Suara ringisan disertai dengan suara minta tolong terdengar tidak berselang beberapa saat kemudian darah mulai menetes di atas lantai.
Pria itu berhasil mengerjakan tugasnya menghabisi wanita yang bisa membuat mereka dalam bahaya jika Alana menceritakan hal-hal yang diketahuinya. Membunuh di kantor polisi memang cukup berbahaya tetapi harus dilakukan, sebelum anak remaja itu membuka suara.
Pria itu tersenyum saat melihat gadis yang baru saja dibunuhnya menggunakan kawat. Setelah menyelesaikan pekerjaannya kemudian dia segera pergi dari sana, saat itu juga.
Ia harus segera bergegas pergi sebelum ada yang menangkap basah dirinya telah membunuh.
Langkah kaki yang santai kemudian keluar diikuti oleh seorang pria yang baru saja masuk ke dalam ruang control. Mata pria yang baru masuk itu membulat ketika melihat kondisi gadis yang ditahan oleh mereka tengah menghadap ke samping dengan leher yang berlumuran darah.
Seketika dia meraih walkie talk miliknya dan mengabarkan apa yang terjadi di ruang interogasi.
“Ada pembunuhan di ruang interogasi. Anak remaja itu, mati,” serunya di walkie talkie membuat Benua yang baru saja mencoba untuk meregangkan tubuhnya langsung beranjak dari tempatnya.
Begitu pula dengan Davin yang baru saja makan, ia segera meletakkannya dan bergegas pergi ke ruang interogasi.
Semua petugas yang mendengar berita itu pun segera bergegas menuju ke ruang interogasi. Benua segera bergegas dan melihat apa yang terjadi. Saat ia sampai ke ruang interogasi melihat pemandangan yang sangat membuatnya bertambah emosi.
Mayat! Ya. Dia hanya menemukan, mayat! Seketika saksi mereka untuk mengungkap kejahatan, menghilang begitu saja.
“Sialan,” umpat Benua sambil mengacak rambutnya dan menggebrak meja interogasi. “Apa yang terjadi, kenapa dia bisa dibunuh di ruangan ini?” tanya Benua penuh dengan emosi.
Semua orang yang berada di ruangan itu menundukan kepala.
Rai pun terkejut. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa seseorang bisa membunuh hanya dengan jarak 2 menit setelah dia keluar dari ruangan itu.
“Ma … maafkan aku, aku tadi pergi ke toilet sebentar. Setelah kembali, ak … kau melihatnya—”
“Arrrghh … sudahlah, aku tidak ingin alasan yang lain lagi,” tegas Benua. “Tutup seluruh gedung ini, dan periksa seluruh CCtv di gedung ini. Aku yakin dia masih berada di ruangan ini,” seru Benua sambil melangkah keluar dari ruang interogasi.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Rai pada pria yang langkah kakinya tengah dikejar olehnya itu.
“Aku harus menemukannya. Jika berita ini, sampai keluar dan menyebar di masyarakat kekhawatiran dan ketidakpercayaan mereka pada polisi adalah taruhannya, dan masalah akan semakin runyam,”
Benua meraih telepon genggamnya, dan menekan nomor Galen.
Ddzzz … ddzz …
“Iya, hallo manusia es,” jawab Galen dari seberang telpon.
“Kamu di mana?”
“Pulang, melewati jalan belakang. Ada apa?”
“Gadis itu mati di ruang interogasi,” ucap Benua membuat Galen menghentikan langkah kakinya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh kakaknya. Mati? Seseorang mati di ruang interogasi?
“Heuh? Mat … mati? Kenapa bisa seperti itu? Bukankah ada yang menjaga ruang interogasi?”
“Dua menit. Hanya dua menit dari Rai keluar dari ruangan itu, dan juga petugasnya hanya pergi ke kamar kecil, saat dia kembali dia menemukan anak itu tanpa nyawa.” Benua menjelaskan pada Galen apa yang terjadi. “Kami sedang mencarinya, aku yakin dia masih berada di kantor polisi.”
Bruk!
Tiba-tiba ada seseorang yang menabrak Galen yang tengah berdiri. Pria itu berjalan dengan sangat terburu-buru.
“Maaf.” Seseorang baru saja menabrak Galen, membuat ponsel miliknya terjatuh.
“Galen, ada apa?” tanya Benua. “Galen … Galen … Are you oke?” Di seberang telpon Benua begitu khawatir, apalagi saat Galen tidak menjawab panggilannya.
Tidak ada suara, anak remaja yang tengah dipanggilnya masih menatap aneh pria yang baru saja menabraknya dan pergi dengan buru-buru.
Ketika dia tengah mengambil ponselnya, otaknya malah bekerja dengan sangat cepat.
“Pria tadi memiliki aroma darah segar,” gumamnya sambil mengambil ponsel miliknya yang masih berada di jalan. Ia terdiam sejenak, sambil mengingat kembali moment dirinya bertabrakan dengan orang itu. “Benar. Itu bau darah segar,” ucap Galen sambil mengambil ponselnya.
“Ak … aku baru saja berpapasan dengan pembunuhnya, aku yakin sekali. Pakaiannya tercium aroma darah yang masih segar,” lapor Galen pada Benua.
“A-apa yang kau katakan?” tanya Benua.
“Aku berpapasan dengan pembunuh itu. Aku mencium aroma dari tubuhnya,” ucap Galen lagi. “Aku akan mengejarnya,” katanya lagi.
“Tidak. Kau harus tetap di sana.”
“Tidak. Aku harus mengejarnya sebelum dia pergi dan menghilang.”
“Kubilang jangan lakukan itu. Dia sangat berbahaya, dia baru saja membunuh di ruang introgasi, jika kau pergi mengejarnya itu adalah hal yang sangat berbahaya. Kau tidak tahu berhadapan dengan siapa.”
“Tapi, dia akan hilang jika aku tidak pergi mengejarnya.” Galen bersih kekeh untuk mengerjar pria itu. “Jika bukan aku, siapa yang akan mengejarnya?”
“Tapi, Galen—”
“Aku harus pergi sebelum dia pergi lebih jauh.”
“Jangan pergi sendirian. Tunggu kami di sana, dan jangan pergi ke mana-mana,” titah Benua namun anak yang tengah diajaknya berbicara tidak terdengar suara sahutannya. Galen mematikan telpon secara pihak membuat Benua yang berada di kantor begitu kesal.
“Galen … galen … Galen …” panggil Benua menaikan suaranya satu oktaf.
Percuma saja, Galen tidak mengindahkan apa yang dikatakan oleh Benua. Anak itu bertindak sendirian untuk mengejar pelaku pembunuhan.
Rai yang melihat Benua yang tengah kesal menghampirinya.
“Ada apa?” tanya Rai.
“Sial, kita harus segera menyusulnya Galen.”
“Memangnya ada dengan Gelan? Bukannya dia–”
“Dia pergi mengejar pria yang dianggapnya pembunuh,” kata Benua membuat raut wajah Rai berubah.
“B-bagaimana bisa?”
“Dia berpapasan dengan pria itu, saat pulang. Dan sekarang dia pergi mengejarnya sendiri.” Benua menjelaskan dengan singkat. “Kalian ikut denganku, sisanya berpencar dan cari di sekitaran gedung.”
“Aku ikut …”
“Tidak … sangat berbahaya.”
“Tapi, aku ingin ikut.”
“Huh. Baiklah, kau boleh ikut denganku, tapi jangan jauh-jauh dariku.”
Beberapa orang mengikuti Benua menuju jalur belakang tempat biasa dilalui oleh Galen untuk kembali ke rumah dengan cepat. Langkah kaki yang cepat untuk mengejar, ditambah dengan beberapa anjing adalah hal yang paling dibutuhkan oleh mereka.
Galen melangkah dengan cepat mencoba untuk menyusul pria yang menabraknya.
“Ke mana dia pergi? Kenapa dia begitu cepat menghilang?” tanya Galen sambil melemparkan pandangannya ke sekeliling hutan buatan itu.
“Mencariku anak manis?” Sebuah suara terdengar, disertai dengan sebuah penyergapan dari belakang Galen membuatnya tidak bisa bergerak ataupun memberontak.