Sstt …
Suara isyarat terdengar dari bibir pria itu tidak lupa dengan jari yang tengah di dekatkannya di depan bibirnya. Ia sangat tidak ingin ada yang berisik saat ini. Dia tidak ingin ada yang membuat kepalanya menjadi sakit.
“Tenanglah di sini, kita akan bersenang-senang nanti,” kata pria itu sambil keluar dari dalam ruangan itu.
Beberapa meter dari dalam tanah, tempat ruangan itu berada, mungkin sekitar 3 meter. Tidak mudah ditemukan. Bahkan suara-suara dari luar pun tidak bisa terdengar.
Gadis itu menyapu bersih pandangannya se isi ruangan yang tengah di tempatinya. Membuatnya merinding melihat beberapa barang-barang, apalagi pisau yang tengah di letakkan di atas meja.
Kilapan perkakas yang berada di atas meja itu, akan membuat siapa saja yang melihatnya akan merinding apalagi tengah di sekap di ruang tertutup. Berusaha untuk menggeser kursinya, namun sepertinya kursi yang tengah dipakai olehnya saat itu tidak bisa geser.
Benua yang sejak tadi naik pitam, belum juga mendapatkan jawaban dari apa yang sedang dia inginkan. Gadis yang di depannya lebih sulit dari apa yang dibayangkan.
“Aku mau gila berhadapan dengan gadis seperti ini,” kesal Benua sambil mengacak rambutnya kemudian keluar dari dalam ruang interogasi.
Bagaimana tidak frustasi jika sejak tadi, gadis itu tidak mengatakan yang sebenarnya dan beranggapan jika Benua tengah bermain.
“Huh! Gadis itu sangat menyebalkan,” kata Benua sambil duduk dan meminum air mineral yang berada di atas meja sampai habis. Dia telah kehabisan kesabaran.
Mungkin menenangkan diri sejenak adalah hal yang baik, sebelum kembali melakukan interogasi pada anak yang berada di dalam ruangan itu.
Galen tengah duduk sambil kembali memeriksa berkas-berkas mereka, ia butuh sesuatu yang dapat membuat anak itu bisa mengatakan yang sebenarnya padanya. Harus memiliki senjata yang ampuh untuk itu.
“Sepertinya dia telah dilatih oleh seseorang sampai seperti ini. Lihat saja, dia begitu membuat kita menjadi gila. Walaupun kita memiliki bukti tetapi masih belum bisa membuatnya menjadi komplotan dari penjahatnya. “Hubungi Davin, tanyakan apa dia menemukan sesuatu.”
“Baik,” seru Daren sambil keluar dari ruang pengawas introgasi.
“Tidak mudah membuatnya mengaku,” curhat Benua.
Tatapan Rai tertuju pada anak di balik kaca itu.
“Apa aku boleh masuk ke dalam?” tanya Rai sambil melihat ke arah Benua.
Ia ingin secara langsung berhadapan dengan anak itu, ia pun manjadi semakin penasaran mengenai anak remaja itu. Apakah dia mampu membuat anak itu membuka suara siapa yang membantunya.
Benua melihat ke arah Rai. “Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke dalam, itu sangat berbahaya,” ucap Benua dengan tegas.
Ia takut jika Rai masuk ke dalam sesuatu akan terjadi pada Rai. Walaupun hanya seorang anak remaja tetapi jika anak itu nekad, mungkin akan terjadi hal yang tidak mereka duga.
“Tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir seperti itu. Aku bisa mengatasinya,” ucap Rai mencoba untuk meyakinkan Benua, jika dia pun bisa membantu mereka.
“Tapi–”
“Biar aku bicara sebagai sesama perempuan, mungkin dia akan bercerita padaku,” kata Rai mencoba untuk menjelaskan keinginannya. “Aku seorang psikologi, jangan lupakan hal itu,” tambahnya.
Walaupun ada keraguan, tetapi Benua tetap memberikan izin Rai untuk masuk ke dalam ruang interogasi sendiri.
“Lamar aja,” goda Galen membuat Benua menatap ke arah adiknya dengan sinis.
Benua menatap Galen dengan tajam, bisa-bisanya Galen berpikir seperti itu di saat seperti ini. Merek tengah berada dalam situasi yang seharusnya tidak bercanda. “Wow… wow… wow. Matamu, jangan gitu amat dong,” Galen merinding. “Kayak psikopat tahu. Lagi pula aku hanya bercanda. Apa tidak bisa bercanda?”
Benua duduk sambil menyilangkan tangannya, menatap ke arah kaca, di perhatikannya dengan jelas gadis yang baru beberapa hari dikenalnya itu namun telah mengisi ruang hatinya.
“Tatapan matamu itu loh, jelas banget suka ama kak Rai,” ledek Galen membuat Benua lagi-lagi menatap Galen dengan tatapan yang sangat tajam.
Adiknya itu tidak pernah berhenti untuk menggodanya.
“Diam, berisik tahu. Lebih baik, kau fokus dengan pekerjaan yang saat ini tengah kita kerjakan. Jangan terlalu memikirkan hal yang lain,” ucap Benua membuat Galen mengatup mulutnya dengan kuat, hingga terdengar suara karena gesekan giginya.
Benua benar-benar tidak bisa diajak bercanda, padahal menghilangkan stress.
“Bilang aja, kalau mau melamarnya. Biar kita bisa pesta besar di rumah.” Galen kembali mengejek Benua membuat pria itu semakin kesal dibuatnya.
“Diam nggak. Mending lu keluar dari sini, daripada bikin kepala gue pusing dengan lu ngomong.”
Galen hanya bisa mencebik bibirnya karena mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh kakaknya.
“Ya sudah, tugasku sudah selesai. Aku mau cabut dulu,” seru Galen sambil mengambil tasnya dan keluar dari ruangan.
Beberapa pengawas di dalam ruangan hanya bisa terdiam, mereka tahu kelakuan antara Galen dan Benua hampir tiap hari selalu seperti itu. hal biasa untuk mereka mendengar perdebatan keduanya.
Anak remaja itu, tengah menundukkan kepalanya. Rai menatap, tidak berani bertanya apapun mungkin dia ingin gadis remaja itu begitu tenang dengan kehadirannya.
“Jika kau jujur, hukumanmu akan diringankan.”
Gadis itu mulai perlahan-lahan menatap ke arah Rai. Wajahnya tidak bisa diprediksikan menampilkan ekspresi. Sulit.
Membuat Benua mulai kesal. “Yak, mending langsung masukin dia ke dalam penjara saja,” titah Benua. “Pekerjaan kita tertunda hanya karena mengurusinya saja. Akan banyak korban jika kita duduk dan diam di sini.”
Memang apa yang dikatakan oleh Benua memang benar, tapi mendapatkan informasi dari gadis itu sangat diperlukan. Karena gadis yang tengah bersama mereka telah mendengar suaranya.
Suara siulan lagi-lagi terdengar di dalam kantor polisi, sambil menggunakan headset, melangkah ke sebuah ruangan.
Mengganti pakaian dengan pakaian petugas polisi kemudian datang ke ruang interogasi. Dia melihat keadaan sekitarnya sebelum benar-benar masuk ke dalam ruangan yang saat ini tengah berada Rai.
Ia berusaha untuk menunggu waktu yang tepat untuk melakukan aksinya.
Beberapa saat kemudian, Rai yang sudah lelah memilih keluar dari dalam ruangan, sambil membicarakan sesuatu dengan Benua disaat yang bersamaan, pria yang tengah bersiul masuk ke dalam ruang interogasi membuat mata gadis itu seketika membulat dengan sempurna, ketika melihat siapa yang berada di depannya saat itu. pakaian seragam polisi dan tengah menundukkan kepalanya.
“Ka … Kau …” Mata Alana membulat saat melihat pria yang telah berada di sana.
Hanya ada langkah kaki yang terdengar, sedangkan pria itu tidak menjawab pertanyaan gadis yang telah terkejut melihatnya.
Arrrgghhh … Urgh …
“To … tolong …”
Suara tangisan disertai dengan suara minta tolong terdengar tidak berselang beberapa saat kemudian darah mulai menetes di atas lantai.
.
Bersambung …