“Lihat Ustad Fatih? Enggak kok,” dustaku.
“Mama jadi pinokio nanti kalau berbohong. Hidungnya jadi panjang,” goda anakku.
Aku melirik ke arah lelaki yang dari tadi kupandang. Sebuah senyum terbit dari bibirnya. Sepertinya pembicaraan kami terdengar olehnya, yang mampu membuatku salah tingkah sendiri. Aku yakin, wajahku kini pasti memerah layaknya buah tomat siap panen.
**
Ketika cahaya mentari mulai memudar. Mas Bagas datang menepati janjinya. Ya, ia sudah berjanji akan pulang cepat malam ini dan menemaniku makan di luar. Banyak waktu yang kuhabiskan dengan memikirkan Mas Fatih, membuatku sadar jika quality time ku dengan Mas Bagas mulai berkurang. Ditambah lagi, kedatangannya di rumah ini yang membuatku lebih sering berjumpa dengannya. Sebagai wanita normal, aku ingin menjadi istri yang baik untuk suamiku. Aku ingin bahtera yang telah kuarungi terus baik-baik saja. satu dua gelombang mungkin menyapa, tapi tak akan menggoyahkan kapalku untuk berlayar.
“Apa ini cocok, sayang?” tanya Mas Bagas sambil menampakkan pakaian yang ia kenakan. Ia tengah berdiri rapi dengan kemeja lengan panjang, sambil menyunggingkan senyum ke arahku.
“Mas, ini kan acara makan malam biasa? Kenapa seformal ini?” protesku.
“Ya gak papa lah, Sayang. Apa kamu lupa dengan pakaian ini?” tanyanya lagi.
Aku menatap tajam ke arahnya, mencoba mengingat sesuatu yang rasanya telah lama terpendam dalam memori otakku.
“Ayolah, Sayang. Apa gak ingat sama sekali?” tanyanya sambil menautkan kedua alisnya. Manik mata hitam itu menatap setajam elang.
Aku tersenyum tipis sambil menatap cermin yang memantulkan tubuhku. Seorang wanita cantik dengan rambut panjang yang terurai, mengenakan dress pendek dengan warna merah menyala.
“Apa kamu benar-benar tak ingat, Sayang?” tanya Mas Bagas kembali. Kali ini dengan kedua tangannya yang melingkar di perutku, dan kepala disandarkan di bahuku. Aku bisa menatap wajahnya dengan jelas, melalui pantulan cermin di depanku.
“Kalau Zura ingat, dapat hadiah apa?” tanyaku sambil tersenyum menatap wajahnya yang sendu. Untuk sesaat aku berfikir kalau Mas Bagas begitu kekanak-kanakan. Hal kecil seperti ini saja, membuat wajah kecewanya terlihat jelas.
“Terserah. Mau tas baru, sepatu baru?”
Aku terkekeh. “Barang-barang seperti itu sudah biasa aku dapatkan, Mas. Zura ingin sesuatu yang beda.”
“Cinta yang baru?”
Aku mengernyit. “Maksudnya, Mas?”
“Sudah Zura, ayo siap-siap! Ibu pasti menunggu,” ucapnya yang kini melepas pelukanku dan meraih jam tangan di atas meja riasku. Silingkarkannya ke lengan kekarnya, sambil memperhatikan jarum jam di dalamnya.
“Lo, ibu ikut juga?”
“Katanya ini makan malam biasa. Gak masalah kan kalau ibu ikut?”
“Iya. Gak papa.”
Mas Bagas membuka pintu kamar, dan aku masih memastikan penampilanku terlihat sempurna. Mendekatkan wajahku ke cermin, untuk mengecek bedak yang kububuhkan di wajahku sudah merata. Juga sapuan lipstik warna terang yang membingkai bibirku.
“Mas Bagas tunggu!”
“Iya.”
“Itu adalah kemeja yang mas kenakan saat makan malam pertama kita. pukul sembilan belas waktu indonesia bagian barat, di restoran Jepang. Pertama kalinya Zura makan ikan mentah, dan berakhir dengan bolak-balik ke kamar mandi karena mual.”
Mas Bagas tersenyum. Paras tampan yang tak dimakan usia itu menelusup jauh ke dasar hati, kembali menghubungkan sandi-sandi cinta yang pernah terbentuk di awal pernikahan kami. Ya, aku dulu yang masih kesal dan tidak terima dengan keadaan. Berbanding terbalik dengan sikap Mas Bagas yang terus mengayomi dan memanjakan. Bahkan, ia tak pernah menuntut malam pertama kami. Menunggu sampai aku siap, dan menerimanya dengan hati. Bukan karena keterpaksaan.
“Kamu bisa dapatkan hadiahmu. Aku mencintaimu, Zura,” ucapnya yang berlalu terlebih dulu, melewati pintu ruangan ini.
**
“Kebiasaan deh, pasti menunggu Mama yang paling lama,” protes Danial ketika aku masuk ke ruang tengah. Disana, sudah terlihat Ibu, Mas Bagas, dan anakku yang super cerewet itu. Meskipun dia lelaki, tapi begitu kritis dengan apapun yang ada di lingkungannya, banyak bicara.
“Nial ...” ucap lelaki di sebelahnya.
Anakku meringis menatap ayahnya yang tersenyum.
Kami berjalan keluar bersama, dengan tanganku yang digenggam oleh Mas Bagas. Dalam segi keromantisan, suamiku memang jagonya membuat hati wanita meleleh bak keju mozarela.
Ketika langkah kaki kami terayun di ruang tamu, kulihat seorang lelaki tengah bercengkrama dengan adik perempuannya. Mereka sama-sama mengenakan pakaian rapi tak seperti biasanya. Mas Fatih mengenakan kemeja bercorak garis , dengan warna muda yang serasi sekali dikenakannya. Wajah tampan itu seakan terpancar, layaknya sebuah magnet untuk kaum hawa yang melihatnya.
Dengan cepat kutundukkan pandanganku. Mencoba menetralisir rasa, yang tiba-tiba hadir begitu saja.
“Fatih, Hasna, ayo!” ucap Ibu.
“Lo, mereka ikut?” tanyaku kaget ketika kakak beradik itu bangkit dari duduknya.
“Kenapa, Sayang? Apa kamu keberatan?” tanya ibu.
“E-enggak sih, Bu. Tapi ....” Aku menggantungkan kalimat.
Ekspektasiku terbang setinggi langit. Namun, kenyataannya masih tertinggal di bumi. Aku yang berfikir akan menghabiskan waktu-waktu indah bersama Mas Bagas dan Danial nyatanya kembali dipertemukan dengan Mas Fatih kembali.
“Kalau Mbak Zura tidak berkenan, kami di rumah saja gak papa, Bu. Kami juga tidak enak kalau ikut acara keluarganya ibu,” ucap Mas Fatih menundukkan pandangan. Begitupun dengan wanita di sebelahnya yang juga melakukan hal yang sama.
“Fatih, kan sudah pernah saya bilang. Kalian itu sudah kuanggap bagian dari keluarga ini. Lagian, Zura pasti tidak mempermasalahkan. Iya kan, sayang?” tanya ibu yang menoleh ke arahku.
Aku menggaruk kepalaku tak jelas. “I-Iya, Bu.”
“Ustad ayo dong ikut! Mama mah pasti seneng kalau ustad ikut. Tadi siang saja lihat Ustad senyum-senyum,” ucap anakku tanpa penyaringan.
Ia tak tahu kalimat lugu yang terlontar dari bibirnya, bagai boomerang untuk Mamanya. Ibu menatap tajam ke arahku, begitupun dengan lelaki di sebelahku. Dari tatapan mereka, seakan menuntut jawaban dariku.
Lagi-lagi kugaruk kepalaku, bingung untuk menjawab apa. Di posisi seperti ini, aku dituntut untuk berpikir cepat, supaya tak timbul kecurigaan.
“Zura bingung saja, Bu, kenapa Ustad Fatih potong-potong rumput di halaman.”
“Lo, Bagas belum bercerita kalau mereka bekerja di rumah kita? Ustad Fatih ikut bantu Simbah Toyo ngerawat halaman. Sedangkan Hasna bantu Simbok nyiapin makan. Dari pada mereka kerja di luar, lebih baik di rumah kita saja kan? Kebetulan simbah Toyo dan Simbok juga sudah sepuh, kasihan kalau tidak ada yang bantu.”
“Bagas belum cerita ke Zura, Bu,” ucap Mas Bagas yang akhirnya mencairkan suasana yang tadinya menegang.
**
Kendaraan roda empat yang kami tumpangi berhenti di halaman resto. Satu persatu penumpang mulai turun. Dari Mas Bagas yang terlebih dulu keluar, dan membukakan pintu mobil belakang untukku. Mas Fatih yang duduk di sebelah Mas Bagas juga turun, lalu membuka pintu mobil di belakangnya.
Ibu langsung pamit terlebih dulu, karena kebelet pipis. Sedangkan Mas Bagas dan Ustadnya danial terlihat ngobrol bersama. Anakku digandeng ayahnya yang dari tadi turut mendengarkan pembicaraan dua lelaki yang mengisi hatiku. Jadilah aku yang berjalan beriringan bersama Hasna. Wanita cantik berjilbab segi empat yang dulunya kupikir istrinya Mas Fatih.
“Mbak Zura, boleh Hasna tanya sesuatu?” tanyanya yang membuat langkah kami berhenti.
Sebelumnya, kita belum pernah mengobrol bersama. Aku sedikit terkejut, ketika ia memulai pembicaraan terlebih dulu.
“Iya. Apa?”
“Apa Mbak Zura itu wanita masa lalunya Mas Fatih?” tanyanya yang membuatku meneguk salivaku dengan kasar.