Bab.12 Serumah

1052 Words
“Zura? Kamu menyusul kesini?” tanya Mas Bagas yang menghampiriku. Ia datang memelukku, dan melakukan hal yang sama kepada putranya. “Tanganmu, Mas? Terluka?” tanyaku sambil menatap bekas sobekan di ujung sikunya. Terlihat robek seperti bekas terbakar. “Aku gak papa. Hanya saja ....” Lelaki itu menatap dua jenazah yang tadinya berada di depannya. Tertutup rapat oleh kain jarik motif coklat. Jika dilihat dengan mata telanjang, satu anak kecil dan satu orang dewasa. Deg. Mendadak jantung ini seperti tersambar petir. Menghadirkan rasa nyeri yang teramat sakit. Mungkinkah itu Mas Fatih? Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru tempat ini, tapi tak kudapati lelaki masa laluku berada. “Mas ... itu ... siapa yang meninggal?” tanyaku panik sambil menunjuk tubuh yang terbujur kaku. Lagi-lagi pikiranku terus menyetel ulang kisah kami dulu. Dimana, Mas Fatih selalu perhatian dan begitu mengayomi. Di balik kesederhanaannya, ada rasa sayang yang begitu besar. Meskipun aku tahu kami sudah memiliki kehidupan masing-masing. Melihatnya meninggalkan dunia ini justru semakin menyiksa. “Mas, itu ....” ucapku lirih sambil menatap tubuh yang terbujur. Pelupuk matapun tak mampu lagi membendung lebih lama. Hingga setetes demi tetes, air mata mulai membasahi pipi. “Itu temannya Danial, Yah?” tanya anakku. “Iya, Sayang.” Kupegang dadaku yang rasanya sesak. Sedangkan ibu kini memelukku, memberikan sebuah kekuatan. “Siapa yang meninggal, Gas?” tanya ibu yang matanya juga basah. “Pak Dani, Bu. Ia dan anaknya yang kecil.” “Inalillahi wa innailaihi rojiun,” ucap wanita yang tengah memelukku. “Hasna mana? Fatih juga tak terlihat.” “Hasna tidak sadarkan diri. Ustad Fatih sedang menemaninya.” Mendengar obrolan ibu dan Mas Bagas membuat sedihku berkurang. Ada harapan untuk tetap bisa melihat Mas Fatih. Saat ini aku menyadari, melihatnya bersama wanita lain akan lebih baik. Dari pada mendapatkan kenyataan kalau ia tak ada lagi di dunia ini. “Assalamualaikum.” Ucapan salam terdengar bersamaan dua orang kakak adik yang tengah berjalan gontai ke arah kami. Terlihat, Mas Fatih memeluk pundak adiknya mencoba menenangkan. Sedangkan wanita yang kupikir adalah istri dari guru ngaji anakku, masih terlihat trauma berat. Meskipun begitu, ia tetap menyapa kami dan menjabat tangan. Setelahnya ia kembali mendekat keluarganya yang telah pergi meninggalkan dunia. ** Waktu terus berjalan, dimana hari terus kami lewati. Mas Fatih dan adiknya kena banyak denda atas semua musibah yang terjadi dengan mereka. Sudah jatuh, masih ketimpa tangga. Sepertinya kalimat itu nyata di hidup mereka saat ini. Uang jutaan dibayarkan Mas Bagas untuk para tetangga yang menjadi korban. Sedangkan rumah yang dikontrak mereka, diminta kembali dan tak boleh ditinggali. Tentunya, uang ganti rugi pun harus di bayarkan. Mas Fatih dan adiknya diminta ibu tinggal di rumah kami untuk sementara. Sampai menemukan tempat tinggal yang baru. Mereka diberikan kamar tamu yang terpisah. Berkali-kali ucapan terima kasih terlontar dari mereka , juga dengan kalimat janji yang akan segera melunasi semuanya. Ibu terlihat begitu bahagia tatkala mereka menerima tawaran untuk tinggal. Juga dengan Mas Bagas yang juga tak keberatan. Lain halnya denganku, yang dari awal sudah menolak kedatangan mereka. Namun, pendapatku sama sekali tak diindahkan. Apalagi alasanku tak masuk akal. Tak mungkin juga kan, aku menceritakan kepada Mas Bagas dan ibu kalau aku dan Mas Fatih sebelumnya memiliki hubungan khusus? “Tante Hasna dan Ustad Fatih gak mau makan bersama kita, Oma. Katanya meraka sudah sarapan di dapur dengan bibi-bibi yang lain,” ucap Danial kala diminta menjemput guru ngajinya untuk sarapan bersama. Ya, ibu begitu menyayangi mereka. Seperti anaknya sendiri. Mereka diperlakukan seperti keluarga, tanpa memandang kasta. Mungkin, jika ibu mengenal Hasna terlebih dulu, hidupku pun akan tersimpir dari kehidupan anak lelakinya. “Ya sudah, habiskan makanmu, Nial.” “Ok, Oma.” Anakku mulai naik ke atas kursinya dan menyantap makanan yang tersaji di atas meja. ** “Sayang, pulang kerja nanti mau dibawakan apa?” tanya suamiku ketika aku merapikan dasinya. “Gak usah, Mas. Nanti malam kita makan keluar bersama saja. Aku bosan makan di rumah.” “Baiklah.” “Ingat, jangan pulang terlambat. Nanti istrimu kelaparan.” “Siap, Sayang.” Mas Bagas yang sudah terbalut dengan pakaian kerjanya itu membubuhkan kecupan di dahiku seperti biasa. Lalu kuantar ia berangkat sampai ke ambang pintu. Kulambaikan tanganku ketika kendaraannya mulai melaju meninggalkan. “Ma, bantu Nial mewarnai,” ucap anakku yang tiba-tiba datang dengan membawa buku gambar dan crayon. “Ayo.” “Kita mewarnai disitu saja ya, Ma. Bosan di kamar,” ucap Danial sambil menujuk gazebo berukuran 2 x 3 meter di taman rumah ini. Kubelai rambut hitamnya. Lalu duduk di papan kayu berplamir itu, menemani anakku mewarnai. Sebuah gambar cartun jepang yang dulunya juga menjadi tokoh favoritku. “Ma, doraemon warnanya biru kan?” tanyanya sambil menunjukkan krayon yang dipegangnya. “Iya, Nial.” Ia kembali fokus dengan gambar di atas kertasnya. Sedangkan manik mataku kini mengarah ke segala penjuru. Hingga kudapati seorang lelaki yang tengah berjongkok memotongi rumput halaman yang mulai meninggi. Aku tersenyum tipis, lagi-lagi pikiranku kembali berkelana membawaku ke masa silam. “Sudah, Ra. Biar aku saja yang memotongi rumputnya. Kamu ambil tugas yang lain. Lagian, ini itu tugasnya laki-laki,” ucap Mas Fatiih yang hendak mengambil sabit dari tanganku. Saat itu, kami sedang melakukan agenda tahunan. Mengadakan pesantren kilat untuk anak-anak. Halaman desa yang tak terawat kami jadikan tempat. Meskipun harus ekstra untuk membersihkannya. Selain alasan tempatnya yang gratis, tempat inipun luas. “Ira bisa kok, Mas. Di rumah juga biasanya Ira yang melakukan,” ucapku. “Iyakah?” Mas Fatih menoleh ke arahku. “Aduh,” teriakku yang tiba-tiba merasa kesakitan. Darah mengalir dari jari kiriku, meninggalkan sayatan dari benda tajam yang kupegang. Tatapan Mas Fatih yang memabukkan membuatku tak bisa konsentrasi dengan apa yang kulakukan. “Tuh kan,” ucapnya yang langsung sigap menarik jariku. Membersihkan darah itu dengan memasukkan ke dalam mulutnya. “Mama, dengar Nial gak sih? Dari tadi dipanggil gak nyaut,” ucap anakku dengan nada meninggi sambil menarik lenganku. Aku baru tersadar. Menoleh ke arah putraku yang memasang muka masam. “Dengar.” “Nial bilang apa?” tanyanya yang membuatku kebingungan. “Tanya doraemon warnanya apa kan?’ jawabku. “Salah, Ma. Dari tadi gak dengerin Nial sih. Lihat, Nial saja sudah selesai mewarnai,” ucapnya sambil menunjukkan buku yang dipegang. “Lagian, Mama ngapain lihat Ustad Fatih seperti itu?’ tanyanya lagi yang kini menatap lelaki yang tengah memotongi rumput.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD