“Ustad, bibirnya belepotan,” ucap Danial kepada gurunya. Ia menunjuk bekas kopi yang menempel di atas bibir ustadnya, sambil tertawa.
“Eh, maaf,” ucap Mas Fatih sambil menarik tisu dari kotak berbentuk sponge bob itu.
“Zura, gak suguhin jajan untuk ustad?” protes ibu kembali.
“Tadi Mama bikin donat kok, Oma. Iya kan, Ma?” tanya Danial yang kini menoleh ke arahku sambil menarik sudut bibirnya.
“Danial mau toping coklat, Ma,” imbuh anakku kembali.
“Iya.”
Aku berlalu ke dapur, mengambil adonan donat yang sudah mengembang. Kugoreng dengan api kecil, hingga makanan berfementasi itu terlihat membulat sempurna. Kuberikan toping beragam, termasuk coklat dan meises kesukaan Danial. Tak butuh waktu lama untuk mengerjakan semuanya, karena ada bibi yang membereskan dapur yang berantakan. Lain hal nya kala masih tinggal di rumah bapak dan ibu dulu.
“Yeay, donat Danial sudah jadi,” ucap anakku sambil mengangkat tangannya. “Bantet gak, Ma?” imbuhnya lagi sambil mengulum senyum.
“Mama Zura itu paling jago bikin donat, Nial.”
“Iyakah, Pak Ustad?”
Lelaki di depan anakku mengangguk. “Mama Zura pintar masak dan jago bikin jajanan.”
“Ustad Fatih tahu dari mana?” tanya anakku.
Seketika lelaki dengan kopyah coklat di pucuk kepalanya langsung tergagap. Menyadari kesalahan ucapannya.
“Sudah, ayo jajannya dimakan dulu. Kok malah ngobrol,” ucap ibu menengahi. Wanita paruh baya yang baru pulang dengan teman-teman sosialitanya kini menoleh ke arahku sambil mengembangkan senyum. “Menantuku ternyata pinter masak. Sekali-kali pengen dimasakin Zura, kalau tidak keberatan.”
Aku hanya meringis, bingung menjawab apa. Hidupku yang dikelilingi oleh kemewahan, membuatku jarang berkutat ke dapur. Lebih tepatnya tidak pernah. Memilih menikmati waktu dengan semua fasilitas dari Mas Bagas yang begitu wah.
Baru juga Mas Fatih memberikan satu gigitan di donatnya. Suara ponsel usangnya berdering. Ia meraih benda pribadi itu dalam saku celananya, dan terlihat mengamati nama yang tertulis di dalamnya.
“Maaf, ijin mengangkat panggilan, adik saya telfon,” ucap lelaki tersebut sambil sedikit menjauh.
“Adik?” tanyaku bingung. Seingatku Mas Fatih anak satu-satunya.
“Kamu belum tahu kalau Fatih punya adik, Ra?” tanya Ibu yang sepertinya memahami raut muka keheranan dari wajahku.
“Hasna nama adiknya. Bukannya kamu dan Bagas sudah pernah berkunjung ke rumahnya?” imbuhnya lagi.
“Sudah, Bu. Tapi ... Zura pikir Hasna itu istri Mas Fatih.”
Ibu terkekeh. “Bisa saja kamu, Ra. Andai, aku masih punya anak lagi, pasti aku jodohkan dengan mereka. Anak-anak yang baik.”
“Ibu nyesal nikahin Mas Bagas dengan zura?” tanyaku sengaja memasang raut muka bersedih.
Ibu mengelus pipiku sambil mengembangkan senyum di wajah tanpa kerut itu. “Bagaimana aku menyesal, sedangkan Bagas anakku begitu bahagia bersamamu, Sayang? Ditambah lagi kalian menghadirkan cucu yang lucu dan menggemaskan.”
“Danial itu ganteng, Oma. Bukan lucu. Memangnya badut?” protes lelaki tambun di sebelahku.
Kami tertawa bersama seperti biasa. Dimana tak ada jarak antara seorang menantu dan mertua. Bahkan kedekatanku sama ibunya mas Bagas, jauh lebih baik dari pada almarhum ibu.
“Maaf, mengganggu. Saya ijin pamit, mau pulang sekarang,” ucap Mas Fatih dengan raut muka khawatir. Kakinya seakan tak sabar untuk melangkah meninggalkan rumah ini. Bahkan, ketika jawaban belum terlontar, ia sudah melewati garis pintu.
“Ustad Fatih kenapa ya, Ma?” tanya anakku.
Aku mengangkat kedua bahuku sebagai jawaban. Begitupun dengan ibu yang menggelengkan kepalanya.
Hingga di beberapa menit kemudian, bibi datang dan memberi kabar jika rumah Mas Fatih terbakar. Tak sengaja ia mendengar pembicaraan guru ngaji anakku di panggilannya tadi.
“Zura, kita kesana ya?”
“Baik, Bu.”
Kami berangkat dengan kendaraan roda empat milik ibu. Namun, belum juga roda ini berputar melewati gerbang rumah ini, kendaraan ini berpapasan dengan mobil Mas Bagas. Ia membuka jendela kacanya dan terus menatap ke arah kami.
“Mau kemana, Sayang?” ucapnya sedikit berteriak, ketika kendaraan kami saling bersebelahan dengan jalur berbeda.
“Ke rumah Ustad Fatih, Mas. Rumahnya terbakar.”
Mas Bagas pun memarkirkan kendaraannya, dan mengambil alih kemudi yang kami tumpangi. Berjalan bersama menuju rumah guru ngaji anakku.
“Bagaimana rumahnya bisa terbakar?” tanya suamiku dengan kemudi di tangannya.
“Belum ada yang tahu, Gas. Ustad Fatih juga tidak cerita. Kami hanya mendengar sekilas dari bibi. Ia tidak sengaja mendengar obrolan Ustad Fatih dengan Hasna. Ya Allah ya robbi, semoga berita tu tidak benar. Kasihan sekali.”
“Bu, kenapa Ibu sekhawatir itu? Apa keluarga Ustad Fatih masih berhubungan dengan keluarga kita?” tanyaku sambil menoleh ke jok belakang. Tempat beliau duduk bersama Danial.
“Bukan, Sayang. Tapi, Ibu sudah anggap mereka seperti keluarga.”
Tak butuh waktu lama untuk menuju rumah ustadnya Danial. Mas Bagas memang sengaja melajukan kendaraannya lebih cepat.
Belum juga masuk gang sempitnya, terlihat riuh para tetangga yang mondar mandir menyelamatkan barang masing-masing. Kasur, tv dan alat rumah yang lain berada di tepi-tepi jalan. Bahkan untuk memarkirkan kendaraan pun begitu keseusahan. Aku dan rombongan mulai turun. Api tak terlihat, melainkan kepulan asap yang meninggi mengurangi sedikit penglihatan. Bahkan beberapa kali aku terbatuk, karena kepulan asap itu menghalangi lajur pernafasanku.
“Sayang, Ibu, kalian disini jaga Danial.”
“Tapi, Mas . Zura khawatir kalau Mas Bagas masuk sendiri.”
“Aku baik-baik saja, Sayang. Secepatnya aku akan kembali.”
Mas Bagas mulai masuk ke dalam gang sempit milik Mas Fatih. Sedangkan aku, Ibu, dan Danial kembali masuk ke dalam mobil dan mengunci kendaraan. Daerah ini rawan kriminal, membuatku harus lebih berhati-hati dari malam itu.
Hampir setengah jam lamanya kami menunggu tanpa kepastian. Bahkan, ponsel Mas Bagas pun tak bisa dihubungi. Membuatku semakin khawatir.
Ibu berinisiatif menyusul. Begitupun denganku yang berpikiran hal yang sama. Sejurus kemudian, kami memantapkan langkah menuju rumah Mas Fatih.
Kepulan asap berangsur menghilang. Api pun sudah tak terlihat. Namun, warga yang berkumpul beramai-ramai di rumah Mas Fatih membuah rasa penasaran ini semakin memuncak. Kupercepat langkah untuk mencapai lokasi, dimana rumah ustadnya Danial itu hampir separuh bagiannya rata dengan bumi. Suara isak tangis menggema, dimana kulihat dua orang terbujur dengan penutup kain bermotif coklat di atasnya.
"Mas Bagas," ucapku lirih.