Bab.10 Kopi Hitam

1099 Words
Mas Bagas terkekeh, membuatku semakin kebingungan. “Sayang, aku hanya bercanda. Kenapa wajahnya setegang itu?” tanyanya sambil mencubit hidungku. Akupun tersenyum tipis, merasa tak enak sendiri. “Sepertinya nanti aku pulang terlambat. Jika ibu belum pulang, tolong temani Danial ngaji ya.” Aku terdiam. Sejujurnya, aku malu menampakkan wajahku . Mengingat semua yang kulakukan malam itu. Aku terlalu dikuasai oleh rasa egois. “Sayang, kenapa gak dijawab? Apa kamu keberatan?” tanyanya lagi. “Ti-tidak, Mas.” “Tuh kan wajahnya murung lagi. Apa perlu aku transfer uang untuk belanja?” Aku menggeleng. “Tidak usah, Mas. Uang Zura masih cukup.” Lelaki itu menatapku tajam, dengan mengernyitkan dahinya. “Kalau ini, aku yakin kamu sedang tidak baik-baik saja, Sayang. Sejak kapan kamu menolak transferan uang?” tanyanya bingung sambil menempelkan punggung tangannya ke dahiku. “Kamu gak demak kok.” Aku terkekeh. Kali ini kuacak rambutnya, hingga ia terlihat kesal. “Selama ini Zura terus merepotkanmu, Mas. Begitupun dengan keluarga Zura yang menjadikan Mas Bagas sebagai atm berjalan.” “Atm berjalan? Ada-ada saja kamu, Sayang. Sudah, aku berangkat dulu, nanti aku transfer uangnya,” ucapnya sambil mengecup lembut keningku. Hal yang memang sudah menjadi tradisi sebelum berangkat bekerja. “Tunggu, Mas,” ucapku yang membuat langkahnya terhenti. “Ada apa, Sayang?” “Rambutmu belum rapi,” ucapku sambil menyisir rambut hitamnya. “Terima kasih, Sayangku. Untuk semua perhatian dan cintamu,” ucapnya yang kembali mendaratkan kecupan di dahiku. Kali ini, ia memberikan bonus di kedua pipi dan bibirku. ** “Ma, Danial pengen donat. Pesenin online dong,” pinta anakku sambil menarik ujung bajuku. Aku yang tengah bergerilya dengan akun sosial mediaku. Kini mau tak mau menghentikan aktifitas. Kutatap pipi tembem anakku, sambil mengembangkan senyum, “Baru beberapa minggu yang lalu kamu makan donat. Nanti kalau giginya sakit bagaimana? Kebanyakan makan manis.” “Danial pengen, Ma. Belikan donat, Ma,” rengeknya kembali. Aku terdiam sesaat. Entah kenapa mendadak pikiranku memikirkan ide baru. Jika membuat sendiri, bukankah kita bisa mengatur kadar manis dalam makanan tersebut? “Kita bikin sendiri bagaimana?” Danial mengernyitkan dahi. Lalu tertawa terbahak ke arahku. “Sejak kapan Mama bisa masak? Jadinya donat bantet nanti, Ma. Kayak Danial, gendut-gendut.” Aku mendelik kesal ke arahnya. “Mama itu bisa bikin donat.” “Buktikan dong, Ma, kalau begitu.” “Siap. Kalau tidak bantet Mama dapat hadiah apa?” tanyaku sambil mengangkat kedua alis hitam yang kubingkai dengan eyebrow. “Mama minta hadiah apa dari Danial?” “Akan aku pikirkan nanti.” “Tapi, kalau donatnya bantet. Gantian Danial yang meminta sesuatu kepada Mama.” “OK, fine.” Kita berjabat tangan layaknya sedang melakukan sebuah kompetisi. Aku masuk ke dalam dapur. Mengalungkan tali celemek ke leher. Hal yang rasanya lama sekali tak kulakukan. Terakhir berkutat dengan bahan makanan sebelum menikah dengan Mas Bagas. Kumulai mengambil bahan-bahan yang kubutuhkan, mencampurnya dan melakukan tahap demi tahap layaknya sebuah chef profesional. Sedangkan dari tadi, Danial terus berbicara meremehkanku. Sebelum menikah dengan Mas Bagas, aku adalah wanita pekerja keras. Urusan rumah, urusan dapur, aku yang memegang. “Ra, ibu mau beliin adikmu sepatu. Kamu jaga rumah ya. Jangan lupa bekas alat makannya dicuci. Juga pakaian di belakang rumah tinggal dijemur.” “Sepatu buat Zura juga kan, Bu?” “Sepatumu masih layak pakai. Kamu pakai saja yang biasanya.” “Tapi, Bu ....” “Awas, jangan ditinggal ngluyur. Ingat, kamu di rumah saja , jangan kemana-mana,” ucap ibu yang berlalu menggandeng tangan Hafsya tanpa mempedulikanku. Aku yang memasak, aku yang membersihkan. Belum juga dengan pekerjaan rumah yang lain. Kesenjangan-kesenjangan itu membuatku semakin iri. Dimana, aku seperti dijadikan babu, sedangakan Hafsya dijadikan ratu di rumah ini. Ya, itulah pemikiranku dari kecil sampai sedewasa ini. “Mama, kenapa diam? Mama capek ya nguleni donat? Sudah, nyerah saja,” ucap Danial yang membuyarkan lamunan. Aku tersenyum. Kuraup mukanya dengan tangan kotorku, hingga pipi tembem itu menampakkan noda putih berbentuk jari. “Ma, kotor,” protesnya sambil membersihkan pipinya dengan tangannya. Aku menutup adonan donat, dan membiarkannya mengembang terlebih dulu. Hingga tak lama kemudian kudengar suara salam dengan nada khasnya. Hatiku kembali bergemuruh. Jantung ini memompa darah lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa, pertemuanku dengan Mas Fatih terus saja membuatku salah tingkah seperti ini. Aku seperti kembali melewati masa puberku. Dimana akan berbunga-bunga tatkala berada di dekat Mas Fatih. Menatap parasnya, menghirup aroma wanginya. Ya, aku terus terbuai oleh pesonanya. Meskipun aku sadar, aku adalah wanita bersuami. “Ma, sepertinya ustad Fatih sudah datang,” ucapnya yang langsung lari meninggalkanku. Aku berjalan perlahan keluar, sambil mengatur ritme jantungku yang tak karuan. Dimana kini, kulihat anakku menarik lengan Mas Fatih untuk segera masuk ke rumah. Senyum terbit dari bibir mereka. Terlihat begitu akrab. “Assalamualaikum, Bu Ira,” ucap Mas Fatih sambil menundukkan pandangannya kala melewatiku. “Waalaikumsalam,” ucapku sambil menatap tubuhnya yang menjauh. Mereka duduk di karpet warna hijau ruang tengah ini. Meja kayu berada di tengahnya, dengan satu kitab berada di atasnya. Kuperhatikan mereka, dimana doa hendak belajar dipanjatkan dan disusul bacaan alfatihah. Danial yang belum hafal semua ayatnya, terlihat begitu antusias menirukan gerak bibir dari Mas Fatih. “Zura, kenapa berdiri disini?” Aku menoleh ke sumber suara, dimana seorang wanita paruh baya dengan pakaian modis itu tengah menatapku. Sejurus kemudian, manik matanya menatap ke arah Danial mengaji. “Ustad Fatih sudah datang, kenapa gak ditemani ngajinya, Zura?” “Datangnya barusan kok, Ma.” “Lo, belum disuguhi minum juga?” tanyanya lagi tampak meperhatikan atas karpet yang terbentang. “Kan Zura bilang, Ustad Fatih baru datang, Ma.” “Ya sudah buatkan minuman gih!” Aku melakukan perintah Mama, menyajikan minuman untuk guru ngaji anakku. Tak butuh waktu lama untuk membuatkan kopi panas untuk Mas Fatih. Kuracik sendiri takaran kopi dan gulanya, tanpa bantuan asisten rumah tangga disini. Ya, aku tahu sekali, Mas Fatih lebih menyukai kopi hitam dengan sedikit gula. Ia tak suka sesuatu yang berlebih, termasuk gula. “Silahkan diminum dulu, Ustad. Keburu dingin nanti tidak enak,” ucap Ibu sambil menyimak apa yang diajarkan lelaki masalaluku kepada Danial anakku. “Terima kasih, Bu.” Mas Fatih mengambil pegangan cangkir, tampak menghisap aroma yang menguar. Bibir manisnya bergerak ke atas dan ke bawah, terdengar memanjatkan doa , dan disrupurnya kopi hitam tersebut. Kopi hitam meninggalkan jejak di bibir atasnya. “Bagaimana rasanya, Pak?” tanya Ibu terlihat menunggu ekspresi lelaki yang seperti dianggap anaknya sendiri. “Enak, Bu. Kopinya seperti buatan ... “ Mas Fatih menoleh ke arahku, seakan tak sadar dengan apa yang ia ucap. Dengan cepat ia menundukkan pandangan, ketika pandangan kami saling bertemu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD