Bab.9 Mas Bagas curiga?

1107 Words
Lelaki yang kukenal dengan nada lembutnya itu menarik sudut bibir. Namun, tak kulihat sama sekali ia menoleh ke arahku. Sepertinya, ia memang sengaja menjaga pandangan kami agar tak kembali bertemu. Pandangan yang mampu menghadirkan getaran setelah bertahun-tahun lamanya tenggelam dalam waktu. Sebuah rasa yang harusnya tak lagi tumbuh, karena hanya ada bibit-bibit dosa di dalamnya. Ya, pikiranku berpikir demikian. Tapi, tidak dengan suara hatiku, yang terlalu egois ingin tetap berada di dekatnya. “Pertanyaan itu tak harus dijawab, Zura.” “Tapi, aku ingin tahu, Mas. Zura ingin tahu alasan Mas Fatih meninggalkan Zura selama ini.” “Untuk apa?” Kini ia menoleh, dan kembali menarik sudut bibir. Membuat jantungku berdesir hebat. Aku benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Rasanya, aku ingin membaur ke pelukannya, menghapuskan rindu bersamanya. Sepuluh tahun ia pergi meninggalkan luka, nyatanya tak mampu menghapus rasa sayang. Aku Azura, wanita yang gagal move on dari cinta pertama. “Jika aku jujur. Apa akan merubah takdir?” tanyanya kembali. “Aku punya hak untuk tahu, Mas.” “Ada beberapa hal yang lebih baik tidak kamu ketahui.” “Itu tidak adil untuk Zura, Mas.” “Itu menurutmu, Ira. Maaf, maksudku Zura.” Ia terdiam sejenak tampak memikirkan sesuatu. “Sesuatu hal yang tak diinginkan, bisa jadi itu adalah yang terbaik untukmu. Begitupun sebaliknya. Masih ingatkan potongan ayat surat Al Baqarah, jika Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.” “Zura sedang tidak ingin mendengar ceramahmu, Mas. Zura hanya ingin penjelasan.” “Penjelasan apalagi?” “Kenapa kamu belum menikah?” tanyaku dengan penekanan. “kenapa ka-mu ti-dak datang, dan menepati jan-jimu?” tanyaku lagi dengan sepotong-sepotong. “Kamu tahu berapa lama aku menantimu? Kamu tahu bagaimana namamu selalu aku sebut dalam doaku?” Perasaanku menggebu-gebu terhadap lelaki dingin yang dari tadi hanya memasang muka datar. “Takdir kita adalah jawaban dari doa-doamu, Zura. Aku tidak pantas untukmu.” “Ayat mana yang menerangkan kalau lelaki yang lembut dan pandai mengaji tidak pantas jadi seorang suami?” “Itu penilaian manusia. Bukan pada kenyataannya.” “Mas Fatih ....” “Bapak menerimaku menjadi istrinya Hafsya. Secepatnya, aku akan menikahi dia. Aku harap kamu sudah memaafkanku, juga memaafkan bapak. Maaf selama ini tidak menepati janjiku,” ucapnya yang hampir berlalu. Entah, setan apa yang kini menguasai jiwa dan ragaku. Dalam benakku, aku sadar kalau aku adalah wanita beristri. Tapi, hatiku, dikuasai oleh setan-setan cemburu dan rasa rindu yang memuncak. Aku bahkan tak mampu mengendalikan diriku sendiri. Kupeluk tubuhnya dari belakang. Hingga jari-jari yang memegang pintu kini terdiam. Kutarik nafas panjang, sambil melepas semua rindu yang bertahun-tahun lamanya membeku. Mungkin, Mas Fatih akan menilai aku wanita bin*l, w************n, atau entahlah. Aku sudah tidak peduli lagi dengan penilaiannya. “Zura, jangan seperti ini,” ucapnya sambil mencoba melepas tanganku yang melingkari perutnya. “Ra, tolong lepaskan!” “Tidak akan.” Aku semakin tergoda oleh bisikan setan yang terkutuk, hingga pelukan itu justru semakin kueratkan. Wangi tubuhnya, aroma rambutnya, kini menguar ke indra. Menghadirkan rasa nyaman yang tak pernah kudapatkan dari Mas Bagas sekalipun. “Ra, ini salah. Jangan seperti ini.” Aku menarik lengan Mas Fatih, hingga tubuh yang terlihat gemetar itu berhadapan denganku. Wajahnya menunduk, sama sekali tak berani membalas tatapanku. “Mas, kamu masih cinta dengan Zura kan? Kamu masih cinta denganku kan?” tanyaku dengan tak tahu diri. Tak sedikitpun terdengar jawaban. “Mas Fatih, aku sedang berbicara denganmu. Kamu masih mencintaiku kan?” tanyaku yang kini mengangkat rahangnya, memaksanya menatap manik mataku. Wajahnya sendu, dengan mata yang basah. “Maaf, aku sudah ngantuk. Aku permisi dulu,” ucapnya yang langsung berbalik, menarik gagang pintu dan masuk ke dalam rumah. Aku kembali duduk di kursi, dan menangis terisak. Jika digolongkan dalam sebuah kaum, pasti aku akan masuk dalam golongan kufur nikmat. Kurang mensyukuri apa yang aku miliki. Terlalu mencintai makhluk melebihi KepadaNya. “Maaf.” Suara itu terdengar dari belakang tubuhku. Satu kata, yang tak mampu mengubah apapun. “Aku tak butuh maaf darimu, Mas .” “Azura ....” Aku menoleh, dan baru tersadar jika lelaki itu adalah Mas Bagas. Ia menatap ke arahku dengan keheranan. “Kamu kenapa menangis, Sayang? Maafkan aku. Maaf, aku belum bisa membahagiakanmu selama ini,” ucapnya yang justru membuatku semakin merasa bersalah. Ia mendekat ke arahku, ikut duduk di sebelahku, dan memelukku. Jari jemarinya menelusup ke helaian rambut, sambil membenamkan kepalaku di pelukannya. “Sejak kapan kamu disini, Mas?” tanyaku dengan bibir bergetar. Ketakutan jika ia mendengar semua pembicaraanku tadi. “Sejak kudengar kamu menangis.” “Maafin Zura ya, Mas.” “Kenapa minta maaf? Aku yang harusnya minta maaf belum bisa membahagiakanmu.” “Aku bahagia hidup dengan mu, Mas.” “Lalu kenapa kamu menangis disini?” “Aku hanya merindukan ibu, Mas. Aku banyak bersalah kepada beliau.” “Bacakan doa untuknya, Sayang. Bukankah doa istri soleha dikabulkan oleh sang pemilik semesta.” Aku tersenyum tipis. Andai Mas Bagas tahu yang sebanarnya, ia pasti tak akan berbicara demikian. ** “Ma, cepetan ! kebiasaan deh, selalu lelet,” teriak anakku sambil menghentakkan kakinya kesal. “Sabar, Nial. Paling Mama masih dandan.” Terdengar lirih suara Mas Bagas. “Mama kebiasaan deh. Kalau dandan suka lama,” protes anakku kembali. Aku memastikan rambutku tersisir rapi, kemudian berjalan keluar melewati anak dan suamiku yang berada di ambang pintu. Aku pamit dengan bapak terlebih dulu. Mencium punggung tangannya meskipun rasa kesal bertahun lamanya itu belum mampu kuurai. Dan kini, aku dihadapkan oleh pemandangan yang membuat jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Ada Hafsya dan Mas Fatih yang terlihat mengobrol, dengan senyuman di antara keduanya. Sedangkan bapak, sama sekali tak terlihat keberatan. “Sayang, masih mau menunggu disini?” tanya mas Bagas sambil memegang lenganku. “Eh, iya, mas.” Aku berjalan mengekori, dimana Danial anakku sudah terlihat duduk di jok mobil bagian tengah. “Kamu duduk bersama Danial gak papa ya, Sayang. Gak enak sama Ustad Fatih,” ucap suamiku. Aku mengangguk. Mengayunkan langkah, masuk ke dalam kendaraan roda empat, duduk bersama Danial. Lalu diikuti oleh langkah Mas Fatih yang kini duduk di sebelah Mas bagas duduk di depan. Cukup lama memang kami dalam perjalanan. Terlebih lagi, harus mengantar ustadnya Danial untuk pulang terlebih dulu. Mas Bagas tak beristirahat, melainkan langsung ijin ke kantor setelah memastikan aku dan Danial tiba di rumah. Kulingkarkan dasi ke lehernya, sambil memastikan penampilannya rapi seperti biasanya. “Kenapa wajahmu masih mendung, Sayang?” tanya suamiku sambil mendongakkan wajahku menatap ke arahnya. “Zura keingat sama Ibu, Mas. Zura merasa bersalah sama beliau.” “Keingat sama ibu atau sama mantan?” tanya lelakiku yang membuat tubuhku seketika mematung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD