“Sudahlah, Mas. Sekali-kali jangan diturutin mulu keinginan Bapak.”
“Lo, kenapa?”
“Jadi kebiasaan, Mas. Apa-apa nanti telfon Mas Bagas lagi minta dikirimin uang.”
“Ya kalau kita bisa kenapa enggak, Zura? Kan gak ada salahnya kita bantu keluarga.”
“Ah, terserahlah, Mas.”
“Kok gitu sih, Sayang. Kalau begitu aku yang kirim saja.”
“Jangan, Mas. Azura saja,” ucapku. Jika Mas Bagas yang mengirim, tentu nominalnya akan dilebihkan.
“Nah gitu dong, Sayangku,” ucapnya seraya mencium keningku.
Aku menjabat tangannya, dan lelaki yang mengahalaliku itu kembali memelukku dan membubuhkan kecupan hangat di dahi.
**
“Uang bulanan sudah aku kirim, Pak, juga uang untuk pendaftaran untuk Hafsya.” Kukirim pesan tersebut ke ponsel bapak, dengan kuberi bukti transaksi yang ku srenshoot dari ponselku. Sepuluh juta rupiah.
Tak lama kemudian ponselku berdering, bukan notif pesan melainkan sebuah panggilan yang masuk.
“Tuh kan, kalau masalah duit selalu gercep,” ucapku sambil meraih ponsel yang tadinya kuletakkan di atas meja.
“Ada apa lagi, Pak?” tanyaku tanpa basa-basi setelah mengusap benda kesayanganku dan meletakkannya di dekat telinga.
“Sayang, ini aku.”
“Mas Bagas?” tanyaku sambil menatap ponselku, memastikan nama yang masuk.
“Ibu kena serangan jantung,” ucap Mas Bagas panik.
‘Palingan juga drama mereka, minta ditransfer lebih,’ batinku.
“Ibu meninggal, Zura. Tapi, aku belum bisa kesana sekarang. Aku masih meeting,” ucapnya.
Aku tersenyum sengit. Benarkah? Ibu meninggal? meninggal dijadikan drama? atau ini akal-akalan bapak saja? tanyaku sendiri yang masih belum tak percaya dengan kalimat yang aku dengar.
“Sayang, kamu dengar aku kan?”
“I-iya, Mas.”
“Bisa tidak kamu kesana dengan supir? Nanti aku segera menyusul.”
“Baik, Mas.”
Panggilan terputus, dan aku mulai menyiapkan diri, mengenakan pakaian panjang dan mencari Danial yang tengah bermain di belakang rumah. Bersama supir rumah ini, kami memecah jalanan dan menghabiskan beberapa jam di kendaraan.
“Ibu ...,” ucapku lirih menatap bendera kuning yang berada di depan rumah. Rumah masa kecil yang dulunya sederhana kini tersulap menjadi hunian yang megah ketika aku telah menikah dengan Mas Bagas, memiliki dua lantai dengan tiang-tiang besar yang menjadi penyangganya.
Aku turun, dan mulai memecah kerumunan di pintu rumah yang begitu sesak oleh para warga yang melayat. Wanita yang telah melahirkan beberapa tahun silam itu kini tengah terbujur dengan jarik motif batik yang menutupi semua bagian tubuhnya. Bapak terlihat sibuk dengan persiapan pemakaman. Sedangkan Hafsya tengah menangis tersedu di dekat almarhumah.
“Mbak Zura,” ucapnya yang langsung bangkit ketika menyadari kedatanganku. Dipeluknya tubuhku dengan kepala yang disandarkan di bahuku. “Ibu meninggal, Mbak. Ibu meninggalkan kita untuk selamanya,” ucapnya dengan terisak.
Air mata yang kupertahankan di pelupuk mata akhirnya lolos juga. Mengalir membasahi pipi chubbyku dan terus turun membasahi karpet mahal milik bapak.
“Kenapa gak pernah cerita kalau ibu punya riwayat penyakit jantung?” tanyaku sambil menatap tubuh yang terbujur.
“Ibu menyembunyikan penyakitnya dari kita semua, Mbak. Beliau tidak ingin terus merepotkan Mbak Zura dan Mas Bagas,” ucapnya.
Lain halnya dengan bapak dan Hasya. Ibu bukanlah seorang wanita matre yang terus mencari keuntungan setelah aku menikah dengan Mas Bagas. Bahkan, dulu ibulah yang pertama merestui hubunganku dengan Mas Fatih tanpa memberikan syarat apapun kepada lelaki itu.
Tak menjawab ucapan adikku, aku berjalan mendekat dan membuka kain yang menutupi wajahnya. Kulit pucat dengan bibir yang membiru, seakan tengah tersenyum kala kutatap.
“Maafin Zura ya, Bu. Maafin Zura yang selama ini jarang datang untuk ibu,” ucapku yang kini sesenggukan.
Pikiranku terus berkelana dengan kalimat umpatan yang dulunya kulontarkan untuk bapak. Karena perseteruanku, aku jarang mampir ke rumah. Selain saat lebaran saja. Itupun hanya beberapa jam tanpa menginap.
“Azura, boleh bapak bicara sebentar?” tanya seorang lelaki yang ternyata telah berdiri sebelahku. Aku mendongak ke atas menatap wajahnya. Berpakaian rapi dengan batik modern dan peci di kepalanya.
“Ada apa, Pak?”
“Kita ke kamar sebentar ya,” ucapnya sambil menarik lenganku.
Akupun menurut. Sedangkan Danial yang dari tadi berada di sebelahku turut mengekori. Diajaknya kami masuk ke dalam sebuah ruangan, yang kuyakin ini adalah kamar bapak dan ibu. Terbukti dengan foto mereka yang tertempel di salah satu sisi dinding. Ya, aku tak pernah masuk rumah ini lebih dalam ketika semua usai direnov. Seminggu setelah aku dan Mas Bagas melangsungkan pernikahan.
“Zura, kamu bawa uang cash gak? Bapak belum sempat ke atm. Kamu tahu sendiri kan, kita mesti ke kampung sebelah untuk menuju kesana? Bapak butuh untuk bayar para penggali kubur, butuh untuk ....”
“Ini, Pak,” ucapku yang langsung memberikan uang dari dompet yang kupegang. Segepok uang dengan nominal yang sama dengan uang yang kukirim tadi. Aku tahu sekali, hal ini pasti terjadi.
“Bagas mana?”
“Mas Bagas datang terlambat, Pak. Tapi pasti beliau menyusul.”
“Kamu beruntung memiliki suami seperti Nak bagas.”
“Bapak yang beruntung memiliki menantu seperti Mas Bagas,” ucapku yang langsung pergi meninggalkan ruang kamar, sambil menarik lengan anakku.
Prosesi demi prosesi dijalankan. Akupun turut mengantar ibu ke persinggahan terakhirnya. Tak dapat kuhitung berapa tetesan air mata yang kuseka dari pipiku, bentuk rasa penyesalan yang tak mengindahkan kehadiran ibu. Aku yang cuek, aku yang suudzon, aku yang durhaka. Karena bapak yang begitu tamak dengan duniawi, membuatku turut mengacuhkan wanita yang telah melahirkanku.
Kulihat tubuh tua ibu dikebumikan, kembali ditutup dengan tanah yang kini menggunung. Aku dan Hafsya berjongkok di sebelahnya, sambil menaburkan bunga di atasnya sebagai penghormatan terakhir. Danial tak turut serta, ia lebih memilih tinggal di kamar dengan anak sepupuku yang seumuran dengannya.
“Mbak, kita pulang yuk!” ucap gadis remaja yang kini mengelus bahuku. Ia mengenakan pakaian serba hitam dengan kaca mata warna gelap yang menutupi netranya. Satu persatu, para peziarah mulai meninggalkan.
“Duluan saja, Dek. Mbak masih ingin disini,” ucapku sambil kupaksakan untuk tersenyum.
Wanita cantik itupun mengangguk lalu turut mengekori langkah-langkah kaki yang meninggalkan. Termasuk dengan bapak.
Disitu kutumpahkan tangisku, berikut dengan semua sesal yang terus mengganjal dalam hati. Harusnya, aku tak mengedepankan ego, hingga bisa melihat keadaan ibu tiap harinya. Memastikan keadaan beliau, hingga tak akan meninggalkanku secepat ini. cukup lama aku berdiam disitu, sambil terus menatap nisan yang bertuliskan nama wanita yang telah melahirkanku. Hingga matahari terus naik dan menyinarkan cahaya emasnya, aku pamit untuk pulang.
Langkah kaki yang terayun kini terhenti, tatkala menatap tubuh yang sosoknya sangat kukenali. Tengah berjongkok di depan pusara tua yang pernah kukunjungi untuk mendapatkan restu. Langkah ini terayun mendekat, bersamaan rasa penasaran untuk memastikan lelaki yang kulihat.
“Dia sudah bahagia dengan keluarganya, Bu. Dia terlihat sangat bahagia. Suaminya sangat menyayanginya, dan ia memiliki seorang putra yang saat ini kudidik. Dunia begitu sempit ya, Bu?”
“Mas Fatih,” ucapku lirih yang tak mungkin didengar olehnya.
“Sepuluh tahun berlalu dan aku belum bisa membuka hati untuk siapapun,” ucapnya lagi yang membuat tercengang. Itu artinya, wanita tempo hari bukan istrinya?