Hanya sesaat aku berada di rumah Mas Fatih, tak ingin berlama-lama dihadapkan dengan keadaan rumahnya yang memilukan . Mas Bagas yang memang humbel dan banyak bicara selalu mendominasi pembicaraan dengan melontarkan kalimat tanya. Sedangkan lelaki masa lalu yang saat ini menjadi guru ngaji anakku, terus memberikan jawaban tanpa kembali melempar tanya sekalipun.
Wanita yang sepertinya adalah istri Mas Fatih tak keluar sekalipun seusai memberikan minuman tadi, ia lebih memilih menyembunyikan diri di ruang rumahnya yang tertutup oleh gorden yang terbuat dari kain yang sama dengan gorden jendelanya.
“Danial, kita pulang, yuk!” ucap Mas Bagas kepada anak semata wayangnya.
Kami mengayunkan langkah keluar seusai pamit, mendapati dua bocah yang kini tengah duduk di teras dengan satu robot mainan yang kini dipegang oleh Danial.
“Lah, cepet banget, Yah,” protes anakku.
“Iya. Mamamu sudah ngantuk.”
“Itu sih akal-akalan Mama supaya cepet pulang dari rumah Ustad Fatih, iya kan, Ma?” tanyanya yang membuatku salah tingkah. Ucapan dari Danial selalu saja membuatku mati kutu.
Aku menggeleng. “Mama memang mengantuk, Danial. Lihatlah mama menguap lagi,” ucapku yang kini membuka mulut dan menutupinya dengan telapak tanganku.
“Itu alasan Mama saja kan? Supaya drama Mama lebih meyakinkan?” ucap Danial lagi.
“Danial, tida boleh bicara seperti itu ya sama orang tuanya. Terlebih sama Mamanya. Ingatkan kalau ....”
“Ingat, Ustad. Kita mesti menghormati orang yang lebih tua dari kita. apalagi Mama dan Ayah.”
“Cakep.”
Mereka memainkan tangan, melakukan gerakan tos yang tak kumengerti. Ada menempelkan telapak tangan satu sama lain, tos dengan gerakan meninju, juga dengan menempelkan siku. Danial terlihat tertawa riang, begitupun dengan Mas Fatih yang terlihat menarik sudut bibirnya. Tak kusangka pertemuan anakku yang hanya beberapa jam kepada guru ngajinya, bisa seakrab ini. padahal aku berniat ingin membujuk Mama supaya mengganti guru ngaji anakku. Tapi, melihat keakraban mereka rasanya amatlah susah. Tak terlihat hal buruk dari guru ngaji itu, yang bisa dijadikan ujung tombak alasan untuk mengakhiri pekerjaannya.
Ya Tuhan, bagaimana aku sanggup terus berdekatan dengan Mas Fatih? Sedangkan rasa itu sama sekali belum kau ambil dariku? Bahkan sepuluh tahun lamanya, rasa itu masih terpendam rapi dalam sanubari.
**
“Sayang, kamu belum tidur?” tanya Mas Bagas yang mulai menyadari pelupuk mataku belum menyatu. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam, dan ia tengah asyik menonton pertandingan bola favoritnya. Beberapa kali ia meracau sendiri layaknya komentator ternama, sedangkan aku yang ada di sebelahnya, terus memeluk guling mencoba memejamkan mata. Sayang, aku kesusahan. Bayangan Mas Fatih terus menari-nari dalam pikiranku, terlebih lagi dengan aksi heroik yang tengah ia lakukan malam tadi. Ketika aku bisa menatapnya dari dekat, dan memperhatikan setiap inci wajahnya. Tak ada yang berubah. Sayang, takdir berkehendak di luar keinginanku.
“Belum, Mas. Belum bisa tidur.”
“Kenapa, ha? Apa kamu terganggu dengan suaraku?” tanyanya yang kini menekan tombol power dalam remote tv. Dalam sekejap layar pipih yang tertempel di dinding depan kami menampilkan warna hitam gelap.
“Kenapa dimatikan, Mas?” tanyaku. “Bukankah pertandingan itu yang kamu tunggu dari beberapa hari?” imbuhku lagi.
Ya, Mas Bagas begitu antusias beberapa hari lalu ketika tahu akan ada pertandingan dari clup sepak bola favoritnya. Bahkan malam ini pun ia memakai pakaian dengan logo club tersebut.
Mas bagas tersenyum, dengan jari lembut yang kini mengusap lembut pucuk kepalaku. “Bagaimana mungkin aku bisa asyik sendiri sedangkan istriku dari tadi terganggu.”
Aku menggeleng. “Bukan karena suara tv ataupun suara komenan dari Mas Bagas. Tapi ....”
“Apa, sayang?”
Aku ragu untuk berucap. Lagi-lagi suaraku terasa tertahan di tenggorokan kala ingin membahas Mas Fatih di depan suamiku.
“Sayang, ada apa?”
“Guru Ngaji Danial ....”
“Iya kenapa? Masih ingin mengganti guru ngajinya Danial? Tahu sendirikan kalau kehidupannya begitu memprihatikan. Setidaknya sedikit uang gaji dari kita bisa buat tambah-tambah untuk kesehariannya. Terlebih lagi, Danial begitu nyaman dan cocok dengan ustad Fatih itu. Tahu sendiri kan anakmu itu bagaimana?”
Ya selama ini Danial memang pilih-pilih dalam bergaul. Ia tidak mudah akrab dengan orang lain. Apalagi bisa seakrab itu. Mungkin, karena pengaruh didikanku yang membatasi ruang lingkup permainannya.
“Sayang, yang namanya ijazah, sertifikat profesi, itu hanya secarik kertas yang dilegalkan. Bisa didapat juga dengan tumpukan uang meskipun ia tidak kompeten dalam hal itu. Tapi sejauh ini kulihat Ustad Fatih bisa memberi perubahan untuk Danial anak kita. padahal baru sekali pertemuan lo, Sayang.”
“Iya, Mas. Mas fatih bisa memberikan perubahan kepada Danial. Tapi ... ia juga bisa memeberikan perubahan berarti kepadaku juga. Aku masih menyimpan rasa yang sama dengan lelaki masa laluku itu, Mas. Meskipun aku tahu, kita sama-sama sudah memiliki garis kehidupan masing-masing,” ucapku yang tertahan di tenggorokan dan tak mampu kuucap.
Kutatap manik mata hitam milik suamiku, tatapan yang tulus dan begitu menyayangi. Aku yang tengah berjuang dengan pernikahan yang tak kuinginkan ini , tak ingin goyah dengan kehadiran lelaki mas alalu.
“Tidur ya, Sayang. Jangan bergadang! Tak baik untuk kesehatan.” Ditariknya lembut selimut yang tadinya menutupi kakiku. Kini benda lebar nan tebal itu menutupi hingga d**a, berikut dengan Mas Bagas yang turut menenggalamkan diri bersamanya. Dikecupnya dahiku dengan hangat, lalu dibelainya kembali rambutku yang panjang. “Aku tahu niatmu memberikan yang terbaik untuk anak kita. Tapi untuk saat ini Ustad Fatih lah yang terbaik.”
Aku mencoba terpejam, tak ingin berlarut mengungkit lelaki tersebut lebih lama.
**
Seperti biasa, aku bangun setelah mentari mulai beranjak naik dan menyinarkan cahaya hangatnya yang mulai masuk dari jendela-jendela kaca ruang ini. kukucek mataku dan menatap lelakiku yang sudah rapi dan kesusahan memilih dasinya seperti biasa. Beberapa dasi dengan corak dan motif berbeda bejejer di atas ranjang . Aku bangkit dan tersenyum, memilih salah satu dasi tersebut yang sekiranya cocok dengan pakaian yang dikenakan suamiku. Sekalipun ia tak pernah menolak pilihanku.
“Makasih, Sayang. Lima tahun ini kehidupanku lebih berarti setelah menikah denganmu,” ucapnya yang mendaratkan sebuah kecupan di dahi. Sedangkan aku masih fokus memasang dasi diantara lekukan kerah pakaian.
“Bapak dan ibu gimana? Sudah ditranser jatahnya?” tanyanya dengan menarik sudut bibir.
Entah kenapa, tiap kali pertanyaan itu menyapa. Aku seperti anak yang telah dijual dengan orang tua. Dipaksa menikah dengan lelaki yang tak kucintai, dan mereka selalu mendapakan berapapun rupiah yang diinginkan.
“Bapak kemarin telfon, katanya Hafsya adikmu mau masuk perguruan tinggi.”
“Bukannya ia baru lulus s1, Mas?” tanyaku. Selama ini keluargaku memang lebih sering melakukan panggilan kepada Mas Bagas dari pada kepadaku. Mungkin, jika bersama lelaki yang kini menjadi suamiku itu ia bisa mengeruk harta berapapun yang ia minta lain halnya jika meminta denganku, yang selalu kujawab dengan kalimat penolakan.
“Iya. Ia sekarang ambil s2.”
“S2, Mas?” tanyaku kaget. Selama ini aku hanya di sekolahkan sampai bangku sekolah menengah atas, dan kini adikku dilanjutkan hingga s2?
Bolehkan aku cemburu? Sedangkan selama ini memang aku selalu dibedakan dengannya?
“Iya, bapak minta bantuan untuk biaya pendaftaran dan kehidupannya di Jogja nantinya.”
‘Sudah kuduga,’ batinku.