Lelaki dengan sarung dan kemeja coklat itu berjalan mendekat. Tangan kanannya merapikan letak kopyah yang dikenakan, sedangkan tangan kirinya menggenggam barang yang baru saja direbut.
Aku terpana, bersamaan dengan jantungku yang mengalirkan sandi rumput tanpa tahu artinya. Sepuluh tahun lamanya ditinggalkan. Namun, rasa itu tetap masih ada. Kutarik nafasku lebih panjang, mengatur ritme jantungku agar kembali normal.
“Lain kali hati-hati, Ra.” Ia memberikan ponsel yang yang dipegangnya. Benda yang kini menyala, dan menampakkan fotoku waktu masih muda. Foto candid yang dipotret oleh lelaki di depanku ketika dalam acara bakti sosial. Ia sedikit melirik ke arah benda tersebut, hingga sudut bibirnya tertarik dan menampakkan lesung pipinya.
“Terima kasih,” ucapku sambil menarik ponsel dengan cepat. “Harusnya kamu tak membantu. Uang suamiku lebih dari cukup untuk membeli ponsel baru,” ucapku yang sengaja mengagungkan Mas Bagas.
“Untuk apa kamu kesini sendirian? Mana Mas Bagas dan Danial?” tanyanya.
Dalam pencahayaan minim, kuperhatikan wajahnya dengan seksama. Tak ada yang berubah dari Mas Fatih, dengan hidung mancungnya, bibir tipisnya, dan alisnya yang tebal. Apalagi ketika tersenyum, lesung pipi itu terlihat begitu menawan. Dalam posisi gelap seperti ini, menjadi nilai plus untukku yang bisa memandangnya lebih lama tanpa ketahuan.
“Ke rumahmu.”
“Ke rumahku? Kenapa kamu gak ikut?”
“ Malas. Sudahlah jangan banyak tanya, Mas. Sebenarnya ada hubungan apa kamu dengan ibu? Hingga beliau begitu perhatian denganmu?”
Mas Fatih tersenyum. Alih-alih menjawabnya, justru ia menarik lenganku. Hingga dalam temaram lampu, terlihat darah segar di bagian goresan senjata lelaki tadi.
“Ayo ke rumah, luka mu harus segera diobati.”
“Tak perlu. Aku juga bawa kotak p3k.”
Aku membuka dashbord mobil, hingga menampakkan sebuah kotak putih dengan gambar plus warna merah.
Mas Fatih meraih benda tersebut, lalu membukanya. Diambilnya obat merah itu, dan menarik lenganku kembali.
Entah kenapa, aku seperti tersihir. Harusnya aku menolak bantuannya. Tapi ... yang ada justru aku menikmati. Ketika ia dengan telatennya memberikan obat merah itu ke dalam luka ku. Kembali kupandang wajahnya, dengan rasa rindu. Seperti inilah ia, yang selalu hangat dengan perhatian-perhatian kecilnya.
‘Sadar, Zura. Ia adalah lelaki munafik, yang melupakan janjinya untuk menikahimu. 5 tahun lamanya kamu menunggu, tapi yang ada ia pergi tanpa kabar. Jangan kembali terbuai dengan lelaki seperti itu,’ batinku yang mulai menyadarkanku.
Kutarik lenganku dengan paksa. “Aku bisa sendiri,” ucapku sambil mengambil obat merah dari tangannya.
“Aku tahu kamu marah. Tapi bukankah kamu juga sudah bahagia dengan keluargamu? Untuk apa kamu terus menyimpan penyakit hati?”
“Kamu gak akan bilang seperti itu jika berada di posisiku, Mas.”
“Maaf.” Ia menunduk, terlihat menyesal dengan apa yang ia ucap.
“Mau kemana, Mas?” tanyaku ketika lelaki itu berbalik badan dan hendak melangkah.
“Pulang,” jawabnya tanpa menoleh.
“Kamu membiarkanku disini sendirian? Tidak mengajakku untuk mampir?”
“Bukannya kamu bilang malas? Mana mungkin wanita kaya sepertimu mau mampir ke gubug ku yang buruk itu.”
Mas Fatih melanjutkan langkahnya. Hingga mau tak mau akupun ikut turun dari mobil dan mengekori langkahnya. “Tunggu, Mas. Aku ikut.”
Lelaki itu menghentikan langkah kakinya. Lalu kembali berjalan ketika posisi kami sudah sejajar.
“Sejak kapan tinggal disini, Mas? Kenapa gak cari rumah yang ramai penduduknya dan ....”
“Sejak aku tahu kamu menikah.”
Aku terdiam. Entah kenapa rasanya aneh mendengar penuturan dari lelaki di sebelahku, berikut dengan gaya bicara yang terlihat serius. Aku memilih bungkam, dan terus mengikuti langkah kakinya yang terayun. Memasuki jalanan sempit yang sepi dengan rumah-rumah sederhana di sisi kanan dan kiri kami.
“Mama, akhirnya ikut nyusul juga,” ucap Danial yang ternyata duduk di salah satu teras. Rumah sederhana, paling ujung dari gang ini. temboknya terbuat dari kayu, berikut dengan tiangnya yang berasal dari bambu. Terdapat satu jendela depan rumah, dan terlihat kain motif bunga sebagai gordennya. Begitu sederhana. Sedangkan di sebelahnya, ada Mas Bagas yang duduk di kursi kayu usang, tengah memperhatikan kami.
“Maaf, tadi ibu Azura menjadi korban kejahatan, tangannya terluka,” ucap mas Fatih kepada lelakiku yang kini berdiri menatapku. “Disini memang sering terjadi tindakan kriminal,” imbuhnya lagi.
Mas Bagas langsung mendekat ke arahku, dan memeprhatikan anggota tubuhku. Hingga manik mata itu terfokus dengan lenganku yang basah terkena darah bercampur obat merah.
“Sayang, tanganmu berdarah? Kita ke rumah sakit sekarang!” ucapnya yang terlihat panik.
“Gak papa, Mas. Sudah dikasih obat merah. Lagian juga tergores sedikit.”
Mas Bagas menarik sudut bibirnya. “Sejak kapan kamu setenang ini ketika sakit, sayang? Biasanya terpeleset saja sudah ngedumel bialng sakit semua badannya.”
Aku melirik ke arah Mas Fatih yang ternyata ia tersenyum mendengar penuturan dari suamiku.
“Enggak. Zura gak semanja itu.”
“Bener kata ayah, Ma. Mama digigit nyamuk saja, langsung minta diadakan fogging seluruh rumah. Katanya digigit nyamuk itu sakit. Padahal cuma gatal doang,” ucap Danial menimpali.
Ah, kenapa rasanya mereka semua membuka aibku?
Tak lama kemudian, seorang wanita keluar dari rumah, dengan nampan dan dua gelas di atasnya. Memakai gamis sederhana, dengan jilbab segi empat warna merah muda dan menundukkan pandangannya.
“Maaf, Mas, saya gak berani meminta tamunya mas untuk masuk,” ucap wanita itu lembut kepada lelaki yang saat ini berada di sebelahku.
“Gak papa, Dek.”
Obrolan singkat benar-benar membuat jantungku kembali berdetak tak karuan. Siapa wanita cantik itu? Istrinya Mas Fatih kah? Pantas saja ia meninggalkanku, sedangkan wanita pilihannya terlihat begitu santun dan islami. Sama persis dengan wanita idamannya. Lain halnya denganku.
“Mari, Pak Bagas, Bu Azura, Danial, kita masuk,” ucapnya mempersilahkan. “Minumannya dibawa masuk saja ya, Dek,” ucapnya lagi kepada wanita cantik dengan gamis sederhananya.
Netraku dihadapkan dengan keadaan memilukan, rumah yang terbuat dengan papan kayu usang ini, tak memiliki meja dan kursi tamu. hanya ada tikar yang terbentang dengan beberapa lubang di bagiannya, terlihat tanah yang tak rata itu menyempul dari bawah.
“Maaf, rumahnya sederhana,” ucap Mas Fatih.
Aku dan keluarga kecilku duduk di atas tikar, yang menurutku layak untuk dipensiunkan. Lalu, wanita yang dari tadi dipanggil Dek oleh Mas Fatih kini mendekatkan nampan yang dibawanya ke arah kami. “Silahkan diminum. Maaf, hanya seadanya,” ucap wanita cantik itu.
Netraku lagi-lagi berbuat kurang sopan, terus menatap seiap sudut rumah ini yang terasa begitu memilukan.
“Agung dimana, Dek? suruh keluar gih, biar Danial ada teman mainnya,” ucap Mas Fatih kepada wanita cantik itu.
“Nggih, Mas.”
Tak lama kemudian, seorang lelaki yang hampir seumuran dengan Danial pun datang, dengan sebuah robot yang salah satu tangannya sudah tanggal.
“Danial, kita main yuk! Aku punya robot baru yang dibelikan bapak tadi sore,” ucap lelaki itu menatap tubuh tambun anakku.
Ya Allah ya robbi, beginikah kehidupan Mas Fatih? Batinku. Sekedar memberikan robot anaknya pun, dengan robot bekas?