bab.2 Pahlawan

1322 Words
“Ustad Fatih itu gak cocok jadi guru ngajinya Danial, Mas.” “Kenapa gak cocok, Sayang? Kata Mama, ustadnya Danial itu santun sekali tilawahnya juga bagus.” “Tapi, Mas ....” “Kenapa lagi sih, Zura? Kita bahas ini nanti ya. kasihan ustadnya Danial kalau harus menungguku lama. Aku menemuinya dulu ya.” Tak tertarik dengan percakapan mereka, aku memilih kembali ke kamar dan membaringkan diri. Jujur, ada rasa rindu yang menggelayut untuk bisa menatap ustadnya Danial lebih lama. Tapi, mengingat statusku yang kini seorang istri, aku tak ingin kembali tenggelam dengan kisah lama yang belum usai. Kupandangi langit-langit kamar yang menjadi kebiasaanku, dengan pikiranku yang terus kembali melayang mengingat masalalu. “A’udzu billahi minasyaitanir-rajim.” “Bismillahir Rahmaanir Rahim.” “Alhamdulillahi Rabbil’aalamiin.” “Ar-Rahmaanir-Rahiim.” Aku yang tengah duduk di teras mushala menikmati bacaan demi bacaan surat Al fatihah. Beberapa kali aku menirukan kalimat yang sama, nyatanya tak bisa semerdu ketika Mas Fatih yang membacanya. Hati seperti disentuh kala mendengar kalimat itu, menenangkan jiwa dan sedikit melupakan beban hidup yang selama ini aku derita. “Ra, dari tadi kamu disini?” tanya Mas Fatih yang ternyata telah berdiri di sebelahku. “Iya, Mas. Kamu ditunggu teman-teman untuk acara bakti sosial hari ini.” “Ada berapa takjil yang bisa dibagikan hari ini?” “Alhamdulillah, donatur semakin bertambah dan jumlah takjil yang disitribusikan juga lumayan banyak.” Aku berjalan bersama Mas Fatih menuju lokasi. Melewati jalan desaku yang teduh nan asri. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan pohon-pohon sisi kanan dan kiri, yang membuat dahan dan daun rindangnya menutupi kami dari terik mentari. “Bacaan al fatihahmu merdu sekali, Mas. Yang mendengar ikut adem dengarnya.” “Iyakah? Kamu berlebihan memujinya.” “Ira ingat-ingat, Mas Fatih lebih sering mengaji surat al fatihah dari pada surat yang lain.” “Aku pernah dengar ceramah dari salah seorang ustad, kalau surat al fatihah memiliki banyak keistimewaan. Selain pahalanya yang seperti membaca sepertiga Al Qur’an, orang yang membaca surat al fatihah seolah ia telah menyedekahkan emas di jalan Allah.” Lelaki dengan sarung dan koko coklat kesayangannya itu terkekeh. “Kapan lagi orang miskin sepertiku bisa sedekah emas tiap hari?” Aku tersenyum getir, mendengarkan penuturan dari lelaki di sebelahku. Hidupnya tidak seindah bacaan-bacaan merdu yang sering kali keluar dari bibirnya. Di umurnya yang masih kecil, ia ditinggal oleh bapaknya karena menikah lagi. Sedangkan ibunya yang sakit-sakitan itu pun meninggal usai ditinggal sang suami. Ia dibesarkan oleh nenek, yang saat ini sudah dianggap sebagai ibu, dengan garis hidup kemiskinan. Nenek Imah yang sudah tua, tentu tenaganya banyak berkurang, tak lagi gesit dengan jaman masih muda. Wanita yang terkenal dengan penjual gethuk itu akhirnya turut tutup usia tak lama setelah anaknya dipanggil sang ilahi. “Zura, kamu disini, Sayang? Makanya dipanggil-panggil dari tadi gak mendengar,” ucap Mas Bagas yang telah melewati daun pintu. Aku bahkan tak menyadari kehadirannya jika ia tak menyapa lebih dulu. Kenangan beberapa tahun silam rasanya begitu indah. “Iya, Mas. Ustadnya Danial sudah pergi?” “Iya. Kenapa?” “Gak papa. Seneng saja.” “Kamu itu lucu, Zura. Tiap kali gak suka seseorang pasti langsung ditampakkan. Memangnya kenapa si gak suka sama Ustad Fatih? Sepertinya ia orang yang baik. Benar kata Mama, ia juga lelaki yang ramah.” “Kenapa malah dipuji, Mas? Kan Zura sudah minta kalau dia dipulangkan kembali saja? dia tidak bersertifikat, tidak kompeten, Mas.” Mas Bagas tersenyum. “Owh, ternyata itu alasanmu tidak suka? Ya gak papalah sayang, kalau ia tak bersertifikat, yang penting ia bisa menyalurkan ilmunya ke anak kita, dan Danialnya nyaman kan gak masalah. Bisa jadi, alasan ekonomi yang membuatnya tak bisa melanjutkan study, atau beberapa pertimbangan lain. Kan kita gak tahu.” Begitulah Mas Bagas, meskipun dari awal dilahirkan ia selalu dicukupkan dengan materi. Ia tak pernah sombong dan membedakan orang lain berdasarkan hartanya. Bahkan, aku begitu terkejut ketika dulu ia hendak meminangku. Seorang gadis biasa dari kampung yang tak memiliki keahlian apa-apa. Ia pun menghormati orang tuaku, meskipun perekonomian kami bagaikan langit dan bumi. “Susah ngajakin ngomong kamu, Mas.” Mas Bagas tersenyum, sambil melepas pakaian yang menyelimuti tubuhnya. Memang menjadi kebiasaan ia, ketika pulang kerja langsung membersihkan diri ke kamar mandi. “Setahuku ia juga berasal dari Desa yang sama denganmu, Sayang. Apa kamu gak kenal?” “Enggak.” “Tapi, Ustad Fatih bilang kalau mengenalmu.” “Ia bilang seperti itu, Mas?” tanyaku kaget. Aku pikir, Mas Fatih akan menyembukan jati dirinya, tak ingin ketahuan dengan kisah kelam di antara kita. “Iya. Sudah, aku mandi dulu ya, Sayang. Kalau belum mandi, kamu pasti tak ingin dekat-dekat denganku kan?” tanyanya yang kini mencubit hidungku gemas. Hal yang selalu ia lakukah, ketika sengaja menggoda. Aku terkekeh. ** “Mas, kenapa masuk gang sempit ini?’ tanyaku ketika usai makan malam di luar. Ia melajukan kendaraan roda empat ini menuju jalan yang hanya dimasuki satu mobil saja. itupun bakal kesusahan apabila hendak berbelok. Ditambah lagi kalau ada kendaraan dari arah berlawanan. “Kita mampir ke rumah ustadnya Danial dulu ya!” “Maksudnya ke rumah ustad baru Danial?” Lelaki yang tengah fokus dengan jalanan, kini akhirnya menoleh. Dibelainya rambutku yang panjang sambil tersenyum. “Bukan, sayang. Ini rumahnya ustad Fatih. Mama gak setuju kalau guru ngajinya Danial diganti.” “Apa? kita berkunjung ke rumah Ustad Fatih, Yah? Danial ikut ya?” tanya anak tambunku yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia yang tadinya berbaring di jok belakang, langsung berdiri dan menatap ayahnya yang tengah menyetir. “Iya. Kamu mau ikut? Tapi sepertinya mesti jalan kaki. Kita gak bisa masuk gang lagi,” imbung Mas Bagas yang mulai menepi dan menghentikan laju kendaraannya. “Mas ... yakin?” tanyaku. “Iya, sayang. Aku diamanahi Mama untuk antar makanan tadi ke ustadnya Danial.” “Maksudnya lauk-lauk yang kita bungkus tadi?” tanyaku tak percaya. Memang sedikit aneh, kala Mas Bagas kembali memesan banyak lauk untuk dibawa pulang. sedangkan aku dan danial sudah cukup kenyang dengan makan malam hari ini. Ibu pun tak mungkin mau dengan lauk berbahan daging dan lemak, karena beberapa ini beliau sedang diet ketat dan mengatur apa yang dikonsumsi. “Mama gak ikut turun?” tanya Danial yang terlihat begitu antusias. Ia sudah membuka pintu kendaraan dan hendak menginjakkan kaki ke jalan. Kupandangi jalanan sepi disini, terlihat rumah-rumah sederhana dengan pencahayaan ala kadarnya. “Enggak, deh. Mama disini saja. males.” “Yakin, Sayang? Berani?” “Beranilah, Mas. Lagian aku sedang pakai sepatu hak tinggi, malas jalan lama-lama.” Perlahan kulihat tubuh Mas Bagas dan Danial yang menjauh, hingga tak lama kemudian tubuh itupun lenyap dalam pandangan. Aku meraih ponsel dalam tas kecilku, kembali bermain dengan sosial media yang selama ini menjadi pengusir sepi. “Berikan ponselmu, atau nyawamu akan berakhir sekarang juga.” Aku tersentak ketika pintu kendaraan ini terbuka dan seseorang masuk begitu saja, menodongkan alat tajam yang kini di dekatkan ke leherku. “Ka-kamu siapa?” tanyaku takut dengan nafas yang tersengal. Jujur, ini kali pertama aku menjadi korban dari tindak kejahatan. “Beri ponselmu,” ucapnya lagi yang kini menatrik benda yang kupegang. “Jangan!” Aku kembali mendekat, hingga benda tajam yang ia pegang digoreskan ke lenganku. Darah segar mulai mengalir. Sejujurnya, ponsel itu hilang pun pasti Mas Bagas akan membelikannya yang baru. Tapi ... beberapa album dengan kenangan Mas Fatih ada di dalamnya. Bukan sebuah potret dirinya, atau aku yang tengah bersanding dengan lelaki masa lalu. Melainkan foto candid yang ia bidikkan ketika dulu kita masih bersama. “Aduh ....” ucapku meringis menahan rasa perih. Hingga kalimat teriakan kembali terdengar, diiringi oleh perkelahian dua orang lelaki. Aku menatap lekat di antara cahaya minim tempat ini, hingga baru tersadar kalau orang yang tengah berkelahi dengan pencuri itu adalah lelaki yang sama yang datang ke rumah sore tadi. “Mas Fatih,” ucapku lirih ketika melihatnya berhasil mengambil benda milikku. Sedangkan lelaki dengan penutup kepala warna hitam itu telah lari tunggang langgang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD