18. Dimensi Kelam

2201 Words
Tempat serba kemerahan ini tampak tak bersahabat, mulai dari terjangan angin dan aura kelam yang begitu menyesakkan. Bagi Ken, tidaklah mudah untuk menghadapi semua ini, ia perlu lebih memfokuskan energi spritualnya untuk bisa menyeterilkan tempat ini dari pengaruh negatif. Berusaha bangkit, walau tubuhnya sulit untuk digerakkan, ia pun menghirup napas dengan teratur, menurup mata dan mencoba mengendalikan suasana hati. Lengannya perlahan ia jadikan sebagai tumpuan, begitu pula dengan sebelah lututnya, ia pun mulai bangkit walau tubuhnya terasa teramat berat. Bisa mengendalikan suasana hati, Ken pun merasa auranya mendominasi tempat ini, tubuhnya perlahan lebih ringan dan ia pun bisa memijak tanah dan berdiri tegak. Sorot mata Ken bersinar biru, cahaya keperakan keluar dari tubuhnya, ia bisa menghalau energi kelam yang berusaha menekan dan mencelakainya. Sekarang ia bisa bergerak lagi, mencari Siera yang keberadaannya masih belum bisa mereka ketahui. Melangkah, ia pun mulai menyisir tempat aneh ini dengan pandangannya, tidak seperti duania mistis, tempat ini cenderung sepi, tetapi kekelaman yang ia rasakan begitu besar. Ini adalah tempat di mana jiwa kelam dari Yamata no Ryu bersarang, di dalam hati Siera. Kakinya membawa ia ke sebuah danau aneh, di ujung ada sebuah air terjun semuanya serba pedar kemerahan. Ketika melihat keindahan air yang jatuh, di sana ia mendengar suara Siera, meringis seperti tengah menangis. Bola matanya melebar, dengan secepat mungkin ia berlari, memasuki air dan tiba-tiba tenggelam seperti terhisab, padahal ia sangat piawai dalam berenang. Apa yang terjadi? Menggapai-gapai permukaan, tangannya mencengkeram pinggir danau dan ia pun menarik dirinya. Ken bernapas putus-putus, memebersikan wajahnya yang kuyup dan mencoba sekali lagi, tetapi hasil yang diperolehnya tetaplah sama. Mengernyitkan alis, ia pun kembali mengendalikan energi spiritualnya, dan menatap fokus kepada air terjun, menyoroti dan berpikir kenapa bisa mendengar suara Siera di dalam sana. Samar-samar ia kembali mendengarnya, lagi dan lagi, merasakan energi Siera dari balik air terjun. Kontan saja Ken berdiri, berpikir harus melakukan apa untuk bisa mencapai ke tempat yang ada di balik air terjun. “Benar, akan kucoba.” * Mata merah Takao bersinar di dalam kegelapan, di hadapannya ada sosok naga hitam yang terus merongrongnya agar ia segera termusnahkan. Telapak tangan penuh dengan darah, tetapi ia malah menyeringai karena menyaksikan sesuatu, begitu luar biasa. Segel Darah, ini adalah salah satu kemampuan Klan Aoryu yang tidak mungkin didapatkan kecuali ada sosok yang harus diselamatkan dengan tekat sekuat baja. Tidak sembarang bisa mendapatkannya, dan sekarang darahnya berkumpul di telapak tangan, membentuk sebuah pedang. Makhluk raksasa itu akan segera dimusnahkannya, jika terkena serangan benda ini sedikit saja, dengan perintahnya untuk menghancurkan maka senjatanya akan menuruti dan menyegel makhluk itu, menyerap darahnya dan binasalah. Mulut sang Naga bersinar, kilat kembali menyambar-nyambar ketika serangan akan segera dilayangkan. Takao pun mempersiapkan diri dengan kuda-kuda bertahan, mengayunkan pedang, hingga simbol serupa dengan yang ada di bola matanya pun keluar dari ayunan pedang dan melebar hingga puluhan kali lipat. Ketika kekuatan mereka berbenturan, serangan sang Naga memudar karena kalah oleh kekuatan pedangnya. Sekali lagi, mengambil ancang-ancang, dan ia pun kembali menyerang hingga sang Naga hancur dan hilang bersama kegelapan yang membelengunya. Mata Takao pun menyisir sekitar, ia kini berada di tempat berpedar merah, mengerutkan alis, ia pun mulai melangkah. Mencari sosok rekan yang sekarang entah di mana, dan keberadaan Siera. Tempat ini benar-benar aneh, awannya hitam dan langitnya merah pekat seperti darah, pohon-pohon kelabu ada sebuah danau nan besar yang di tengah-tengahnya  terdapat sebuah air terjun. Semuanya nyaris merah dan tak wajar, ini adalah tempat sang Iblis untuk berdiam. Kokoro no Yami, bermula dari tempat ini, tempat ini menjadi sumber terbentuknya dari kelemahan hati Siera. Ia menemukan Ken, pemuda itu tengah terlihat kelelahan, duduk di pinggir danau dengan kaki tak menyentuh airnya. Seluruh tubuh Ken terlihat merah seperti bekas tersiram seember darah. Ia pun mendekat dan melihat wajah kelu Ken, seperti tengah nyaris putus asa. “Apa yang terjadi?” Menggelengkan kepala, Ken pun menghela napasnya. “Siera ada di belakang air terjun itu, sepertinya ada gua tersembunyi, dan aku bahkan tidak bisa melangkah ke sana.” Menatap air terjun bak darah, Takao mengerutkan dahi. Ia sadar untuk menemukan Siera bukan perkara mudah karena ini adalah dimensi kelam tempat sang Iblis di segel, lagi pula kondisi Siera tidaklah begitu baik, segel bungsu Harata itu telah menua dan membuat sang Iblis bisa dengan mudah menguasai tempat ini, bahkan diri mereka jika mereka tidak hati-hati. Siera dan Takao telah terikat batin karena dia sudah menemukan Tangisan Darah, seharusnya ia bisa menyusuri tempat ini. Pasti ada sesuatu yang menghalangi. “Itu dia, Ken kita harus memurnikan tempat ini terlebih dahulu. Ken, hanya kau yang bisa melakukanya. Telanlah energi iblis itu dengan kekuatan spiritualmu, kau harus meneguhkan diri, Ken.” Tidak mudah, ini tidak akan mudah, tetapi ia melangkah dan berjalan terus tanpa memedulikan tubuhnya yang perlahan tenggelam di dalam danau merah. Terus melakukannya, hingga ia berada di tengah-tengah dan memejamkan mata dan memusatkan energi dan melepaskannya sekaligus dengan tekanan besar. Kekuatan spiritual Ken meningkat, dia berhasil dan Takao pun merasakan imbasnya, dirinya menjadi semakin kuat, danau merah pekat bak darah perlahan menjadi bening, air terjun pun berkondisi sama. Sementara Ken yang berada di tengah-tengah pusat muncul ke permukaan, cahaya keperakan yang mengelilingi pemuda itu semakin terlihat jelas. Ken sepertinya sudah bisa menguasai emosi hati, sehingga tidak mudah terpengaruh dengan perbenturan energi maupun hasutan iblis? Mereka melangkah, memasuki ruangan yang ada di belakang air terjun. Suasana tak kalah suram di dalam sana, gulita dan tak terlihat apa pun selain mata merah Takao dan pedar keperakan dari tubuh Ken. Mereka mengalihkan tatapan mencari di mana gadis yang harus diselamatkan. “Siera!” Ken berteriak, begitu pula dengan Takao. Menganggukkan kepala, dua orang pemuda itu melangkah dan masuk semakin ke dalam. Cairan merah bak darah kembali mengelilingi sekitar meraka, genangan semata kaki. “Takao, tak bisakah kau menemukan Siera?” pemuda yang diserukan namanya menggeleng, masih berusaha mencari, tetapi tidak menemukan. Cemas menghantui Takao, ia tidak bisa merasakan kehadiran Siera karena aura kelam di tempat ini terlalu membelenggu mereka, bahkan setelah keberadaan Ken dan kekuatan supernatural pemuda itu, semuanya tidak membaik. Tidak mungkin mereka salah tempat, jelas-jelas walau sepintas baik dirinya dan Ken merasakan hawa keberadaan Siera di tempat ini. Tetes-tetes merah dari air yang menetes jatuh pun membuat suasana semakin mencekam, tidak ada suara di tempat ini, teramat gelap dan menyesakkan. “Haahh!” napas Takao tiba-tiba teramat sesak. Tubuhnya bergetar dan ia jatuh dengan lutut menyangga diri. Ken yang menyadari hal itu pun lantas membantu, menanyakan apa yang terjadi sehingga pemuda bungsu Aoryu merasakan sesak pada napas. Telinganya tidak mendengarkan suara khawtir dari Ken, ia sibuk dengan situasi yang tengah menimpa dirinya, rasa sesak, tubuh gemetar dan merasa menyesakkan. Apakah ini berkaitan dengan keadaan Siera? Batin mereka terhubung, jadi beginikah yang dirasakan gadis itu jika aura sang Iblis meningkat dan mencoba menguasai tubuh karena segel yang melemah? “Siera,” bisiknya dengan suara gemetar. Ken memesang telinga baik-baik dan mencoba mencerna apa yang tengah dikatakan sahabtanya ini. “Siera terbelenggu, Ken.” Sang pemuda menganggukkan kepala. “Apa kau bisa merasakan di mana dia? Aura iblis terlalu kuat di sini sehingga aku tidak bisa membedakan, keberadaan Siera terlalu tersamarkan kerena jiwa kelam Yamata no Ryu.” Ditariknya lengan Takao, dan mereka berdiri bersama. Menaruh sebelah tangan pemuda itu di pundaknya, menopang tubuh tak berdaya sang Sahabat. Alis Takao masih mengerut, mencari tahu keberadaan Siera sebisa mungkin, tetapi mereka tetap tidak merasakan apa-apa. Apalagi sekarang tubuhnya melemah karena ikatan batin ini? Kenapa tiba-tiba menjadi seperti ini? Apakah iblis itu sengaja mempermainkannya? Mengingat tadi juga ia tercampak ke dimensi kelam sang Iblis. * Setengah jam berlalu, orang-orang yang berada di luar lingkaran mengawasi dua pemuda dengan seorang gadis yang berada di tengah-tengah lingkaran. Saling berhadapan, dengan jiwa yang tengah bera di dimensi gaib, sebut saja begitu. Mereka mengawasi, Karura terus saja membuat energinya setabil untuk menghalau iblis lain yang terpancing dengan ritual pemulihan segel, bagaimanapun juga dengan kekuaan spiritual yang dikeluarkan Ken dan Takao, juga Siera, membuat makhluk astral tertark ingin mendekat. Perbenturan energi terus terjadi selama beberapa saat, dan Karura telah menghadapinya dengan teramat baik. Apalagi dengan bantuan dari Kuroda, lelaki itu akan sigab memberikannya energi jika ia merasa kelelahan. Kelopak mata Hoshi melebar, ketika ia menyadari bahwa tiba-tiba saja hidung Takao mengeluarkan darah, begitu pula dengan hidung Siera. Mereka masih mengira-ngira apa yang tengah terjadi, apalagi kelihatannya Ken sekarang sudah stabil dan baik-baik saja dari beberapa menit yang lalu. Bisa saja ia dan Aoda memasuki lingkaran ini untuk membantu, tetapi jika tidak dalam keadaan mendesak, maka ia semua akan percuma. Mereka harus melihat dahulu situasinya, jika sudah genting maka di saat itulah mereka akan bertindak walau bayarannya adalah nyawa. Ia dan Hoshi tidak akan membiarkan Takao dan Ken terbunuh karena tidak bisa keluar dari kekelaman iblis, Siera pun pasti bisa mereka selamatkan. Jadi, tugas yang mereka emban adalah membantu Ken dan Takao dengan memberikan energi spritualnya, kemudian membimbing mereka agar bisa keluar dari dimensi kegelapan. * Bola mata Ken melebar ketika ia melihat hidung sahabatnya mengeluarkan darah, tubuh lelaki itu melemas dan ia pun mulai merasa kewalahan dengan situasi ini. Ia menatap tubuh Takao yang bersimbah keringat, dan kembali berjongkok untuk mendudukkan tubuh lemah sang Sahabat. Takao mengeluarkan suara geraman menahan sakit, ia tidak bisa mengira sakit seperti apa yang tengah dirasakan rekannya ini, tetapi mereka harus lekas menemukan Siera, jika tidak keadaan Takao akan semakin parah dan mungkin dirinya juga akan bernasib sama. “Arrrgggg!” “Arrrgg!” Kepala Ken langsung celangak-celinguk, bukan karena teriakan Takao tetapi karena ia mendengar teriakan Siera juga. Berdiri, ia yakin arah datanganya suara Siera bertempat beberapa meter di depan mereka, sekitar lima atau lebih. Dan ia pun melangkah, bersiap untuk memcari Seira dan meninggalkan Takao yang masih kelihatan menahan rasa sakit. Ketika menggerakkan kaki semakin jauh, Ken dan Takao sudah benar-benar terpisah, mereka berada di tempat kelam yang jarak pandanganya sangat tak jelas. Namun, tepat di depannya ia melihat sebuah ruangan yang terbatasi oleh kristal hijau, dengan Siera yang terjebak di dalamnya. Ken mendekat, menyentuh kristal hijau yang berfungsi sebagai pemisah. “Ken!” itu benar suara Siera, gadis ini adalah Siera. “Siera, tenanglah. Aku dan Takao akan membantu dan membebaskanmu.” Janji Ken, ia menggerakkan tangannya untuk menyentuh kristal hijau di mana tangan Seira menempel di sana. Ia memperhatikan luas kristal hijau yang membatasi ruangan ini, dari ujung ke ujung dan dari bawah sampai ke atas. Alisnya mengernyit, ketika ia menemukan sesuatu yang berada di tengah-tengah dinding kristal. Ia pun mendekat untuk melihat sesuatu itu dan bola matanya melebar karena menemui sosok Seira tergantung di sana, dengan ular hitam mengerikan yang membelit tubuh gadis itu, menjadikan sebagai tali pengikat dan menahal Siera yang tengah tak sadarkan diri. Bola matanya bergerak tak tengang, berpikir itukah sosok iblis yang tengah terbelenggu dan membuat Seira terpenjara di dalam kristal hijau ini? Ternyata iblis itu tengah tak berdaya, tidak sadarkan diri karena segel masih berpengaruh. “Siera! Kita harus cepat. Aku akan membebaskanmu, sebelum iblis itu semakin menguat.” Ken pun memfokuskan diri, sial kekelaman iblis tersebar di mana pun di tempat ini. Ia kesulitan untuk mengeluarkan kekuatan supernaturalnya. Namun, ia harus tetap menghancurkan kristal hijau ini agar Seira bisa mereka selamatkan, selanjutnya ia akan menghabisi iblis yang tergantung itu dan menyerupai Siera dengan cara menyegelnya seperti sedia kala. Tubuhnya semakin mengeluarkan pedar perak, rantai-rantai pun keluar dari telapak tangan, ia arahkan kepada kristal hijau dan mencoba menghancurkannya. Bunyi ledakan terdengar nyaring di dalam goa, memantul dan memekkan teling, menyadarkan Takao yang tengah menahan rasa sesak di d**a. Ia mengernyitkan alis, ketika meraskan aura Ken sepintas meningkat. Apa yang terjadi? Ia harus melangkah, menggerakkan tubuh dan melihat langsung situasi ini. Tertatih, Takao pun mulai mencari sumber suara. Dan ia mendengar suara Siera yang tengah berteriak. Batinnya langsung terhubung, ia tahu di mana letak gadis itu. “Siera! Di mana kau?” Sambil memegangi dadanya, Takao pun semakin melangkah ke dalam. Menolehkan wajah untuk mencari seorang gadis dan pemuda. “Takao? Takao kau ‘kah itu? Kau bisa mendengarku?” suara Seira teramat bergetar, gadis itu terlihat begitu panik. “Iya, itu karena batin kita terhubung, aku te—“ perkataannya terpotong. Kerutan alis mewarnai wajah Takao. “Takao! Hentikan Ken! Dia … dia! Ken, Hentikan!” Kali ini suara Siera terdengar lebih nyata. Bola mata merah Takao menatap pusat suara, berasal dari tubuh seorang gadis yang tergantung dan terlilit ular hitam, terus berteriak kepada Ken yang berusaha menghancurkan kristal hijau. Tidak mungkin! Dalam benak, Takao mengumpat, ia jelas meraskaan Siera yang asli berasal dari sosok Siera yang tergantung di atas sana. Kenapa Ken berusaha memecahkan kristal hijau? Ah, ia melihat sosok itu, sosok yang teramat sama seperti Siera. Itu adalah jiwa kelam Yamata no Ryu, kenapa Ken tidak menyadarinya. Bukankah Ken sudah menguasai Emosi Hati? “Ken, hentikan!” tidak akan sempat, jika terus begini, dirinya akan menghancurkan penghalang iblis. Ken tengah diperdaya, kenapa lelaki itu begitu lemah. Bodoh! Ia menggerakkan kaki, berjalan terseret dan kemudian mulai berlari. Menyergap Ken dan ingin menghajar lelaki itu, penghalang mulai retak dan ia tidak akan membiarkannya manjadi hancur. “KEN!” Tidak sempat, retakan kecil membuat celah, aura iblis keluar teramat banyak, membentuk kristal hitam bak tombak dan menusuk perut Ken. Lelaki itu jatuh terpental, dengan darah yang menghiasi tubuh. Napas Takao satu-satu, ia mengeluarkan kemapuannya sekali lagi, memanggil Segel Darah dan membentuk sebuah pedang, kemudian menebaskannya ke arah celah sehingga membuat tempat itu untuk beberapa saat tersegel dan tak bisa digunakan sang Iblis untuk mengeluarkan energi gelapnya. Sementara itu, Hoshi dan yang lainnya terkaget melihat tubuh asli Ken yang kini bersimbah darah karena perut yang robek juga hidung dan mulut yang juga mengeluarkan darah. . . . Besambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD