Walau hubungan antara Hoshi, Sanosuke dan Takao menjadi dingin atau lebih tepatnya lelaki yang adalah para kakak Siera seperti mengawasi tingkah adiknya, tetapi setidaknya Aoda sudah bersyukur mereka tidak melakukan hal di luar batas. Ia sendiri yakin dengan penjelasan Siera, dan sudah menanyakan secara empat mata kepada adiknya sendiri. Dan seperti jawaban dari bungsu Harata, bahwa dua orang ini memang sebelumnya tengah saling melancarkan tantangan satu sama lain.Tidak ada yang terjadi setelah peristiwa menggegerkan itu, mereka juga tetap fokus berlatih, walau Hoshi terlihat lebih sinis sampai kembali memancing kemarahan Siera. Bahkan beberapa saat yang lalu, gadis yang adalah teman sekelas adiknya itu menggigit bahu Hoshi karena saking kesalnya diperalakukan bagai putri raja yang harus dikawal ke mana pun berada.
“Aku cakar nih, ya! Aku CAKAR!” terdengar lagi, teriakan membahana Siera yang sekarang tengah menyiksa Hoshi. Sahabatnya itu memang sangat over melebihi siapa pun jika bersangkutan dengan Siera, hanya saja selama ini tidak terlalu dinampakkan karena tahu kalau bungsu Harata tak suka dikekang.
Karura datang dari belakang dan menepuk bahu Seira dan memelototi Hoshi yang berwajah bayi murahan. Si baby face ini benar-benar di luar dugaan.
“Sudahlah, Hoshi. Kita di sini bersama-sama, jadi jangan mengekorinya ke mana pun. Jangan bersifat kekanakan karena kau itu sudah tua, Bayi Busuk!” Karura ikut sebal juga, melihat tingkah Hoshi.
Laki-laki itu hanya mendecak, dan menurunkan tangan Siera yang berada di kedua wajah mulusnya. Ia hanya masih tak rela mengetahui fakta bahwa Siera-nya—adik kesayangannya ini telah begitu dekat dengan seorang pemuda.
“Jadi, tidak benarkan? Katakan, Sie.”
“TIDAK!”
Dan selanjutnya terdengar teriakan Hoshi yang menggema di penjuru ruangan bungalo. Laki-laki itu kembali digigit di area tulang selangka oleh adiknya.
*
Beberapa hari selanjutnya, ketika malam, mereka memulai persiapan, setelah mengisi perut dan tenaga sebelumnya. Memulai pemulihan segel seperti yang sudah dijelaskan jauh hari, keputusan ini diambil karena para orang dewasa meyakini bahwa Takao dan Ken sudah siap untuk bisa melakukan tugasnya.
Mereka berada di ruang tengah yang perabotan dan furnitur lain telah dipindahkan, ruangan itu pun menjadi lebih besar karena sekarang kosong seperti aula. Di sana, mereka berkumpul dan melakukan persiapan, menyerukan kepada Yahiko untuk mengambil darah Takao dengan jarum suntik cukup besar dan membuat Siera maupun Ken bergidik karenanya.
Yahiko memanglah seorang dokter bedah, lelaki berusia dua sembilan itu bekerja di salah satu rumah sakit swasta milik keluarganya di kota Tokyo. Setelah mengambil sesuai yang diperlukan, ia pun meletakkan kapas dibekas bekas jarum ditusuk dan merekatkannya dengan plester.
“Tahan dengan membentuk siku agar pendarahannya cepat berhenti.” Ia membantu Takao untuk mengetatkan siku pemuda itu dengan menekan punggung lengan.
Sekarang giliran Aoda dan Hoshi yang membuat persiapan, berupa tulisan kuno yang sama sekali tidak bisa dibaca mereka semua—kecuali kedua sulung itu, ternyata sudah banyak yang mereka pelajari selagi mencari tahu keberadaan Uzukiro. Dengan menggunakan kuas, mereka mulai melukis, tiga lingkaran dengan bintang segi enam di tengah-tengah dan akan ditempati oleh Siera juga Takao dan Ken.
“Walaupun yang memperbaiki segela adalah Ken, tetapi sekarang antara Siera dan Takao sudah saling terhubung ikatan batinnya. Maka dari itu, jika kalian tersesat di dunia mistis atau yang lebih tepat tidak bisa kembali sebab jiwa Siera menggelap karena iblis, maka saat itulah Takao harus menggunakan ikatan batin dari Tangisan Darah yang telah kau temukan. Mengerti, Takao?” sang Sulung memberikan arahan, apa saja yang akan terjadi ketika mereka telah duduk di dalam lingkaran darah ini.
“Dan Ken, tugasmu adalah untuk bisa mengembalikan kesucian jiwa Siera dengan memperbaiki segel, memurnikan segel yang perlahan rusak karena usia. Di sana, nanti kalian akan bertemu dengan sosok Siera yang terkekang, maka Ken harus melepaskannya.” Kali ini giliran Hoshi menjelaskan.
Mendengar hal itu, tentu membuat Siera mengerutkan alis, tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud dirinya terkekang di sana. Apakah seperti mimpinya dahulu, di danau pedar kemerahan dan di belakang air terjun. Ada sosok makhluk mengerikan dan dia bisa menyerupai dirinya.
Setelah persiapan selesai, seperti yang sudah dijelaskan, sekarang Siera pun duduk di tengah-tengah dengan sosok Takao yang ada di depan dan Ken di belakangnya. Sementara itu, para orang dewasa dan Sanosuke berada di luar lingkaran, mengikuti sudut siku bintang dan duduk di sana—minus Yahiko yang tidak memiliki kekuatan spiritual.
Aoda dan Hoshi berada di samping, sebagai penjaga jika terjadi sesuatu nantinya. Sedangkan tiga lainnya berada di depan dan belakang. Meraka memulainya, Siera harus menenangkan diri dengan menghirup napas dalam, kemudian mengembuskannya secara teratur. Memejamkan mata dan melakukan hal ini selama beberapa saat. Begitu pula dengan Takao dan Ken, mereka mengikuti dan ketika merasa emosi telah setabil, Aoda pun menyerukan untuk berkonsentrasi pada energi spiritual mereka.
Mengubah mata menjadi merah, Takao pun mensejajarkan pandangan kepada Siera untuk bisa masuk ke alam bawah sadar gadis di hadapannya, sedangkan Ken memengang atas kepala Siera dan lelaki bermarga Uzukiro itu bisa dengan muda memasuki ke diri Seira terdalam dengan mudah setelah Takao mengendalikan semunya.
Tatapan mata Siera menjadi kosong, gadis itu telah berada di dalam pengaruh mata spesial Takao, menelisik lebih dalam untuk bisa menemukan sudut tergelap dari hati dan menemukan jiwa kelam yang bersarang pada diri Siera.
Tersentak, Ken telah membuka mata dan menyadari sekarang telah berpijak di tempat tidak lain adalah alam bawah sadar Siera. Ia sendirian, tidak ada siapa pun di sini. Situasi terlihat senyap, dengan pedar kemerahan yang memenuhi keseluruhan, semua itu bisa ia tangkap pada pandangannya. Berjalan, ia pun mencoba mencari di mana iblis yang berasarang di hati Siera bersembunyi.
Ketika mengedipkan mata, Takao berada di suatu tempat gelap tak terhingga, satu-satunya yang terlihat bercahaya adalah mata merah miliknya. Mengerutkan alis, ia pun berusaha untuk tetap tenang dan memfokuskan energi spritualnya. Ia melangkah dan melihat bahwa yang berada di bawahnya adalah jalan setapak, perlahan-lahan terlihat dan mengarah ke suatu tempat. Berhenti sejenak, ia coba menganalisis apakah dirinya berada di tempat yang semestinya? Apakah alam bawah sadar Siera sekelam ini?
Siera?
Batinnya memanggil sang Gadis, tetapi matanya terbelalak ketika yang terdengar malah suara Ken. Lelaki itu memanggil namanya setelah mendengar ia yang menyerukan nama Siera.
Takao! Kau ‘kah itu? Di mana kau, aku telah berkeliling cukup lama, tetapi tidak menemukan kalian berdua.
Lelaki itu jelas khawatir karena Ken hanya berputar-putar di tempat yang sama. Lembah, dan danau, kemudian air terjun kemerahan. Semuanya berpedar merah, jangan-jangan dirinya sudah tersesat di dimensi gaib? Gemetar kaki Ken karena memikirkan hal itu, tidak, jangan sampai.
Ken! Kau menemukan Siera?Ken! Ken?
Alis Takao berkerut karena ia tidak bisa berkontak batin dengan lelaki bertampang Eropa itu lagi. Tidak, ia harus tetap tenang dan fokus, maka ia embuskan napas dan menjaga energinya agar tak terperosok semakin jauh. Untuk sekarang yang dilakukannya hanyalah berjalan mengikuti cahaya di depan jalan setapak ini. Ketika matanya mengarah ke atas, samping dan bawah maka yang terlihat hanyalah kegelapan pekat.
Kabut hitam datang dengan kecepatan luar biasa, Ken terkapar ditanah karena merasakan tekanan energi gelap yang mengerikan. Ia mencoba bangkit tetapi tubuhnya tertekan sesuatu yang teramat kuat. Apa karena sesunggunya dirinya belum cukup siap untuk menghadapi semua ini? Hanya mementingkan ego agar dirinya bisa mendapatkan perhatian Siera dan kedua kakak gadis itu, sesungguhnya ia masih teramat tak rela dengan semuanya?
Kenapa begini? Ia tidak bisa bangkit, walau ia ingin? Apakah karena tekatnya lemah?
“Arrrrrgggg!”
Berteriak, Ken menggigit bibirnya, alisnya mengernyit menahan tekanan dan berusaha untuk bangkit, tetapi hasil dari energi yang ia keluarkan malah membuat perbenturan teramat kuat, kilat-kilat mulai menyambar dan merobek-robek baju maupun kulitnya.
Tidak beda jauh dengan keadaan Ken, Takao yang masih terus berjalan pun mulai khawatir karena tidak menemukan ujung, tetapi ketika pikiran negatif mulai merasuki kepalanya, maka ia menarik napas dan mengatakan kepada diri sendiri bahwa semua ini hanyalah ujian sebelum menemukan Siera. Mata merahnya awas, memikirkan tidak mudah untuk bisa masuk ke lubuh hati Seira dan didiami Yamata no Ryu. Segel yang mulai rusak, pasti menyebabkan iblis itu mempermainkan mereka seperti sekarang. Tidak ia ketahui bagaimana sulitnya sang Ayah dan rekan lainnya ketika menyegel kutukan Kokoro no Yami pada diri Seira.
Gawat, Ken cukup lemah dengan permainan hati seperti ini. Itu sebabnya pemuda itu terlalu peka untuk merasakan perbenturan energi, ia harus menemukan rekannya untuk bisa bekerja sama. Ia harus bisa keluar dari kekelaman ini.
*
Belum ada lima belas menit mereka memulai kegiatan supernatural ini, Yahiko satu-satunya yang memperhatikan pun dibuat melebarkan bola mata karena rekan-rekannya yang berada di dalam maupun luar lingkaran terbuat dari darah ini tengah dalam kondisi fokus untuk menjaga energi spiritual masing-masing.
Di sisi kanan, Aoda terlihat mengerutkan alis, mata merahnya bersinar ketika memandang Ken yang berkeringat luar biasa, tubuh laki-laki itu pun begetar. Jangan bilang mereka tidak bisa menemukan Siera dan malah tersesat. Apakah ini terlalu dini bagi mereka?
“Hoshi!” Aoda menginterupsi, lelaki di samping kanan dari ketiga orang yang ditengah ini menganggukkan kepala.
“Mereka harus menemukannya sendiri, mereka harus bisa menghadapinya karena nanti akan ada rintangan yang lebih berta lagi.”
Ia mengembuskan napas, berdoa agar Ken dan Takao memiliki keteguhan hati untuk melawan kegelapan Yamata no Ryu, ia tahu ini semua tidak mudah. Namun, entah kenapa, ia merasa hanya Takao dan Ken lah yang bisa melakukannya. Bahkan untuk orang seperti Aoda pun tidak bisa diharapkan, lelaki itu terlalu lemah dengan kekuatan supernatural luar biasa yang dipunya.
Ken memang terlihat kesusahan karena pemuda itu terlihat terlalu gampang dikelabui, tetapi tidak dengan Takao yang sifatnya tak beda jauh dari para Aoryu terdahulu. Walaupun Ken memiliki kelemahan, tetapi pemuda itu sangat piawai dalam kemampuannya, hal ini bahkan ia ketahui sendiri dari Nenek Kikyo yang adalah neneknya Ken.
“Mereka pasti bisa saling bekerja sama, Aoda.”
*
Tetes keringat mulai mengalir di dahi, jika seperti ini terus maka percuma saja. Tiada ujung, kegelapan ini begitu membelenggunya. Memejamkan mata, Takao memilih untuk duduk di tengah-tengah jalan setapak, berpikir dirinya tidak akan menemukan Siera. Jika melihat dengan mata spesial merahnya ia tidak bisa, maka ia akan menunggu sesuatu untuk bisa melepaskan diri dari belenggu serba hitam ini.
Ketika mengembuskan napas dengan teratur, auman sesuatu terdengar, lantas ia pun berdiri dengan mata yang membeliak lebar, mencari tahu dari mana asalnya suara tadi. Apakah itu adalah Siera? Tidak mungkin?
Kepala Takao celangak-celinguk, mencari dan mencoba menemukan sesuatu agar ia bisa terbebas dari tempat ini. Namun, tiba-tiba saja sesuatu datang dengan kecepatan penuh, mengarah tepat kepadanya hingga ia merasakan sesuatu hamper menimpa tubuh. Bunyi ledakan terdengar, ia pun mengerutkan alis setelah berhasil menghindar.
Ketika matanya berkedip, ia melihat di depannya sosok naga hitam muncul, setinggi pohon kelapa dan mengaum kuat mengeluarkan cahaya dari mulut. Takao ternganga, manatap tidak percaya. Kali ini, kilat kempali dilayangkan, mengarah kepadanya, dan ia pun mencoba menghindar, melompat dan berlari. Napasnya satu-satu, tubuhnya terjatuh dan ia pun menyangga pada lutut. Apakah ia sudah tersesat di sudut tergelap dari hati Siera?
“Ck, sialan. Ken! Di mana kau?” setelah berteriak sebegitu kuat, tatapannya kembali fokus pada makhluk yang menghadangnya ini.
Tidak mungkin aku bisa melawannya, tetapi aku berada di sini karena untuk membantu Siera. Bagaimana? Apa yang harus kuperbuat? Apakah dahulu mereka mengalami hal seperti in?
Terlalu banyak berpikir, serangan kali ini tepat mengenainya, Takao pun terpelanting, hingga menyebabkan darah memenuhi bagian dahi, ia terseret beberapa saat karena ledangan yang kuat, dan jatuh dengan wajah menghantam tanah. Terlungkup dan berusaha untuk membangkitkan diri.
“Tidak akan! Aku tidak akan kalah!”
Bersusah payah, akhirnya ia bisa berdiri, menatap darah yang berceceran di tangannya, mata merahnya bersinar di dalam kegelapan. Cairan amis yang memenuhi tubuhnya bergerak, berkumpul di bagian telapak tangan kirinya, menjadi semakin banyak dan membentuk sesuatu.
“I-ini?”
Senjata dari Segel Darah.
*
Orang-orang yang berada di bungalo hanya bisa terhenyak, melihat dahi Takao tiba-tiba mengeluarkan darah begitu banyak, tetapi sesaat kemudian darah lelaki itu bersinar bersamaan dengan bola matanya. Seseorang yang pertama kali menyadari hal ini adalah Aoda, kakak lelaki dari Takao itu kemudian berbisik bahwa adiknya tengah berada di dunia sang Iblis. Terjebak di sudut hati tergelap Siera dan melawan bagian tubuh Yamata no Ryu yang perlahan menguasi dan mencoba mengelamkan jiwa sang Bungsu Harata.
“Tetapi, Takao juga mendapatkan sesuatu yang akan membantu pemulihan segel. Itu adalah Segel Darah.”
Sesuatu perlahan terjadi, luka-luka di tubuh Takao perlahan sembuh, memang inilah risiko yang harus diambil jika berurusan dengan segel dari Kokoro no Yami. Jika mereka mengalami masalah di ketika memulai pemulihan segel, maka tubuh asli mereka pun akan menerima dampaknya.
Yang terpenting, sekarang Ken dan Takao harus bisa memurnikan jiwa Siera terlebih dahulu yang mulai menghitam, dan memperbaiki segel setelahnya.
.
.
.
Bersambung