Mata merah yang sekarang masih dialiri darah itu terbelalak, saat ia menyaksikan Siera dikerubungi oleh sesuatu yang sangat hitam dan terpenjara di suatu tempat tak terbayangkan. Siera terlihat menatap kosong dirinya, tubuhnya terdiam seperti tak ada tanda kehidupan di sana. “Takao!”
“Huh?”
Aoda menatap khawatir adiknya, mata merah mereka sama-sama saling berpandangan, Aoda menelisik Takao yang kelihatan berkeringat dan menghela napas.
“Ada apa?” lelaki yang merupakan kakak Takao itu bertanya, setelah ia menaruh tangannya di pundak sang adik.
Ia mengelengkan kepala. “Aku hanya terlalu berkonsentrasi.”
Siera.
Alis Aoda berkerut, ia merasa lega karena melihat Takao yang berhasil masuk ke dalam alam bawah sadar Siera, akhirnya sang Bungsu dapat melangkah satu tingkat lagi, dan yang mengejutkan adalah Takao juga berhasil mempererat Segel Mata dan Darah. Padahal seharusnya segel tersebut hanya bisa dilakukan dengan keadaan Siera sedang sadar, dan membutuhkan darah Takao yang akan diserap di dahi Siera.
Takao menemukan Tangisan Darah, itu berarti setelah ini perasaan mereka akan saling terhubung dan Takao bisa melihat jauh ke dalam diri Siera.
Saat Aoda masih terfokus dengan adiknya, Karura dan Ken bisa bernapas lega karena makhluk yang merasakan aura Siera telah berhasil mereka usir. Sangat beruntung memang jika memiliki Karura di dalam kelompok ini, gadis itu bahkan terlihat tidak kelelahan dan sangat berbeda dengan Ken yang masih merasa tak berdaya dengan tubuh penuh keringat.
“Sudah tak apa, dia telah pergi.” Karura memperhatikan Takao dan juga Aoda.
Mata sang Sulung pun dikembalikan seperti sewajarnya, begitu pula dengan Takao, darah di mata lelaki itu bahkan masih tercetak jelas seperti membentuk jalur sungai.
“Kau merasa ada yang berbeda?” yang ditanya adalah Takao, Karura tersenyum kepadanya dan Aoda mengerti, kemudian menyeringai.
Bola mata Ken membesar dan terlihat terkejut.
“Aku tak merasa lelah.” Takao menggumam.
“Auramu berbeda, Takao. Kau seperti memancar keluar.” Ken kelihatannya tak bisa mendeskripsikan apa yang dilihatnya atas diri Takao, tetapi itu adalah hal baik menurutnya, ia sama sekali tak merasa perasaan tak mengenakan saat Takao mendekat ke arahnya.
Mereka pun kembali ke bilik masing-masing setelah tak ada yang ingin dibicarakan lagi, Takao dan Ken kini tak harus menjaga Siera karena Karura telah ada di sisi gadis itu.
Sanosuke yang juga tidur di kamar yang sama dengan mereka pun hanya terdiam dan terus menatap Takao. Lelaki itu tak mengerti kenapa ia juga merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan lelaki bungsu Aoryu, tetapi ia hanya mengatubkan bibir dan tidak mengomentari apa-apa—terlepas dari perasaan ingin tahu yang terus mengusiknya, ditambah lagi, ini pasti berhubungan dengan Siera.
Menurut Sanosuke, Takao dan Ken pasti lebih tahu banyak hal tentang Siera dan kutukan itu daripada dirinya dan entah kenapa selain Siera, ia merasa bahwa dirinya juga salah satu yang paling banyak tidak mengerti tentang situasi ini. Maka dari itu, setelah mempertimbankan, ia pun berjalan mendekati kedua orang yang bersiap-siap untuk tidur.
Beberapa langkah di depan Takao, tak membuat Sanosuke puas, lelaki itu semakin mendekat dan berdiri menjulang di hadapan tubuh Takao yang duduk dengan selimut menutupi pinggang.
“Apa yang kaulihat darinya?” Sanosuke tidak berekspresi saat mengatakan hal tersebut, tetapi sebenarnya Takao paham apa yang dimaksud lelaki berparah mirip dengan Siera.
Menghela napas, Takao sekarang terlihat merapikan selimutnya.
“Aku ingin beristirahat, dan aku tak tau kau sedang menanyakan apa.”
*
Pagi hari sangat berbeda dengan keadaan kemarin siang, lihatlah burung-burung yang berkicau, cuaca yang cerah dengan sinar matahari lembut mengintip lewat celah-celah pohon juga kabut dan embun yang membasahi daun. Tak tampak seram seperti saat pertama mereka datang, malah terkesan sangat asri dan menyegarkan, cocok untuk mereka yang ingin olah raga sejenak dan merenggangkan badan.
Hirupan kuat yang dilakukan hidung Siera, membuatnya tersenyum dan menandakan ia sangat menyukai situasi ini. Jelas saja dengan cahaya matahari, bungalo milik keluarga Uzukiro tak terlihat mengerikan lagi, malah terkesan seperti tempat-tempat yang memang cocok untuk bermeditasi. Apalagi bagunan terbuat dari kayu dan terlihat sangat memesona. Kenapa Siera baru menyadarinya sekarang?
“Satu dua, satu dua, satu dua,” ucap Ken berulang-ulang, lelaki itu terlihat tak mau kalah dalam menggunakan kesempatan langka ini untuk sekadar menyemangati diri dan menjaga kesehatan, ia melakukan senam ringan guna sebagai pemanasan, rencananya Ken dan Yahiko akan berputar-putar dan lari-lari kecil sambil menikmati pemandangan yang tersaji.
“Satu dua, satu dua!”
“Siera! Kau mau ikut juga?”
“Memangnya kalian mau ke mana?” Siera tetap melakukan gerakan senam dan mengikuti Yahiko yang memimpin.
“Tentu saja berkeliling, pasti mengasyikan, Siera.”
Siera pun menganggukkan kepalanya, ia lalu mengikuti dua orang lelaki yang berlari di depan, Ken yang seharusnya beberapa langkah di depannya, kini malah ikut sejajar dengan Siera. Sementara sebagian orang sibuk memanjakan diri di luar bungalo, ada sebagian lagi yang menyibukkan diri di dapur untuk memasak sarapan, tentu saja ketua tim itu adalah gadis satu-satunya yang berkompeten dalam urusan dapur—walau Hoshi dan Aoda tak kalah cekatan. Karura kini mengaduk telur, disebelahnya ada Aoda yang sedang menumis sayur, lalu di seberang meja ada Hoshi yang sedang menyusun mangkuk untuk di bawa ke ruang makan, Kuroda pun sedang mengambil nasi dan menyendokkannya ke wadah yang akan menampung hidangan berkarbo itu untuk mereka semua.
Takao sendiri berada di teras, dan sedang menatap ke arah pohon-pohon tua, entah kenapa semenjak ia melihat ke dalam diri Siera, ia selalu merasa waswas dan seperti ada yang menekan dirinya juga. Entah apa itu, Takao pun tak tahu.
Mereka kini berada di ruang makan, tentu saja untuk sarapan, dengan hidangan menggugah yang sudah tersedia di atas meja. Sesekali terdengar candaan dan tawa, juga garpu dan sendok yang berdentingan.
Acara hari ini adalah pergi ke belakang gunung untuk melihat bunga-bunga yang sedang mekar. Masalah upacara, akan dilakukan beberapa hari lagi. Jadi, sekarang waktunya mereka untuk menenangkan diri atau membuang semua stres di kepala, mengambil spot yang bagus untuk berfoto atau pun melukis.
Ada yang menggelar kain khusus untuk piknik dan ada juga yang langsung berlari dan melihat hamparan bunga dan kupu-kupu. Siera yang awalnya sangat sebal dengan tempat ini pun terperangah karena menemukan hal yang namanya surga dunia. Benar-benar luar biasa.
Bunga-bunga kini selalu bergoyang, tempat luas dengan tananman indah yang seperti lapangan pun membuat suasana begitu damai dan menenangkan, angin bertiup, membuatnya benar-benar merasa segar karena udara yang jauh dari kata kontaminasi asap dan lain-lain.
“Sanosuke, ayo lukis aku. Cepat!” Siera bergaya dan tertawa sambil mengambil setangkai Kamelia.
Lelaki itu tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Ia pun mengambil kuas dan mulai memoles cat di kanvas, sementara Siera masih mencoba menjadi patung, agar karya seni yang dibuat saudaranya sempurna. Namun, belum sampai tiga menit Siera mematungkan tubuhnya dengan senyum yang menunjukkan gigi putih, Sanosuke sudah bersuara dan menyuruhnya untuk melakukan hal lain saja karena dia sudah hapal bagaimana yang harus dilukis pada diri Siera.
“Tapi, nanti kalau berbeda bagaimana?”
Kembali lelaki itu hanya membalasnya dengan senyum, tangan-tangannya yang sudah terlatih pun mulai mengambil cat yang tersedia dan mengoleskannya kepada kanvas. Raut wajahnya datar alami itu dapat disaksikan beberapa orang, terutama Yahiko yang merasa tertarik dengan kemapuan melukis Sanosuke. Lelaki itu masih mengarahkan pandangannya dan berada di dekat si pemuda.
Berada di atas kain yang digelar, Takao menyandarkan diri pada batang pohon dengan sebuah onigiri yang ada di genggaman. Matanya menerawang orang-orang yang berkeliaran di pandangannya, ada yang berlari-lari mencoba menangkap kupu-kupu atau hanya berdiri di tengah padang dan seperti merasakan betapa sejuknya suasana di tempat yang penuh bunga ini.
Hari-hari liburan mereka semakin menyenangkan, tak bisa dipungkiri kalau mereka merasa kepenatan berangsur menghilang karena suasanya memukau ini. Petang perlahan mulai menunjukkan bahwa mereka yang beraktivitas di luar bungalo harus bersiap masuk, suasana malam sangat tak terasa baik jika sendirian di luar sana, bagaimana pun mereka berada di dekat hutan karena tempat ini selalu dipenuhi kabut ketika malam menjelang.
Pukul 6.00 sore, para pria mulai menyiapkan kayu-kayu untuk persiapan api unggun, mereka akan mengadangan pesta kecil-kecilan sambil memasak di luar bungalo. Gadis-gadis yang hanya dua orang saja pun mulai menyiapkan panganan, mereka memotong daging yang akan dipanggang di atas bara api, sayur seperti paprika, bawang dan tomat, juga jamur dan jagung. Ada juga yang mulai bernyanyi dan memainkan gitar, Hoshi dengan senang hati mengeluarkan suara operanya yang membuat gelak tawa. Ini adalah hari kedua mereka di bungalo, liburan yang luar biasa bagi Siera yang sangat jarang bersenang-senang bersama temannya, Ken dan Takao.
“Hei, Hoshi, Yahiko! Bantu di sini!” Aoda pun menyerukan, dan sekarang gitar diberikan kepada Takao, dan Ken yang awalanya ikut membantu Aoda kini mendekat dan mengeluarkan suaranya yang serak-serak basah itu, berdansa bersama Siera dan menarik Sanosuke yang terus saja terdiam di kursinya.
“Sanosuke, jangan tarik hidungku!” Siera mencubit pipi sebelah kanan Sanosuke, dan lelaki itu hanya mendelik, ia tentu seharusnya bersikap jaim di depan Takao.
Yahiko yang tadinya berkutat dengan bara dan panggangan pun menarik Karura dan ikut berdansa, sementara itu Kuroda pun hanya menggelengkan kepala melihat keakraban yang tengah mereka ciptakan ini, lagu Dance Queen yang dinyanyikan Ken masih meluncur indah, lelaki bertampang Eropa itu terkadang memainkan nada terlalu tinggi atau rendah membuat lirik yang tercipta menjadi aneh dan mengundang gelak tawa.
Semua bertepuk tangan saat nyanyian Ken selesai, Takao memetik gitar dengan kuat sebagai pengakhirannya dalam musik yang dimainkan. Aoda dan Kuroda mengundang mereka untuk mendekat karena danging dan jangung yang dipanggang sudah matang, Siera mengambil setusuk daging dengan sayuran dan banyak bawang yang melekat di sana, gadis itu terlalu menyukai bawang bombay.
“Jangan sebanyak itu, Sie. Mulutmu akan bau.” Hoshi menggelengkan kepala dan ia hanya bisa menghela napas saat Siera memeletkan lidah.
Sanosuke menyeringai, dan ia berbisik,”Sebentar lagi dia akan kebingungan sendiri.”
“Tidak! Aku tidak akan begitu!”
Sanosuke dan Hoshi terlihat secara bersamaan mengendikkan bahu dan Siera mendadak merasa kesal bukan main.
*
Tak dapat dikira oleh Ken, lelaki itu begitu terperangah dengan kenyataan yang ia dapati sekarang, bertemu dengan Siera dan Sanosuke merupakan suatu anugerah tersendiri baginya karena dengan mengenal mereka berdua, menjadikannya terlibat dalam lingkup ini. Lelaki itu begitu terpukau, menyaksikan peninggalan-peninggalan klan Uzukiro di kuil milik klannya, di sini ia menemukan sejarak klannya dan melihat tempat yang telah menjadi suatu situs bagi klan Uzukiro. Kuil ini contohnya, itu salah satu tempat tua yang masih bersejarah sampai sekarang, konon dari penjelasan Miko—Pendeta Wanita Kuil yang berada di sana, setiap benda keramat yang tergantung di dinding kuil memiliki kekuatan supernaturalnya sendiri, itu sebabnya dari mereka tidak ada yang berani memindahkan benda-benda tersebut, yang mereka lakukan hanya menjaga agar tetap bersih.
“Agak menyeramkan,” Siera berbisik kepada Ken yang berdiri di sampingnya, lelaki itu mengangguk karena beberapa topeng keramat beraut tak lazim, seperti memiliki tanduk atau taring dengan lidah panjang menjulur.
Lagi pula, Ken jelas merasakan aura yang begitu kuat dari masing-masing benda peninggalan klannya itu. Salah satunya topeng, seperti didiami suatu makhluk kasat mata yang memiliki kekuatan besar. Energinya mungkin hampir menyamai iblis yang mendiami tubuh Siera. Tiba-tiba saja ia merasa dirinya berkeringat, percampur-adukan energi benar-benar ia rasakan, tetapi bukan berarti hal tersebut adalah bentuk pemberontakan. Tidak, ia masih bisa menahan diri walau merasa agak tertekan, setidaknya aura yang mengelilingi kuil ini beraturan.
Mereka pun mulai mengelilingi kuil, beberapa dari mereka ada yang menjadi bagian dari dokumentasi, setidaknya tempat ini cukup dirahasiakan dari publik dan hanya para elit klan besar yang tergabung dalam perkumpulan supernatural yang mengetahuinya.
“Menurutku ini seperti Kuil Aoryu, begitukah Hoshi?” Aoda menatap teman karibnya, sedang lelaki berwajah baby face itu mengangguk-anggukkan kepala.
“Tak sebarangan orang bisa berkunjung ke tempat ini juga, untung kita memiliki ikatan yang penting terhadap kutukan Kokoro no Yami.” Hoshi menjawab, pandangannya masih terfokus pada benda-benda di dinding.
Hoshi lalu melirik Sanosuke dan Yahiko, kedua orang itu pun menganggukkan kepalanya, dan langsung mengajak Siera untuk melihat taman belakang karena penuh dengan pohon sakura dan ada sungai kecil dengan banyak ikan beraneka warna menghiasi. Siera nyaris memekik karena sangat tak sabar untuk melihat semuanya, ia pun tanpa berpikir panjang langsung menyambut uluran tangan Sanosuke dan beberapa saat setelahnya mereka telah menghilang dari area dalam kuil.
Melihat Siera telah diamankan, Hoshi mulai menanyakan sesuatu yang harus diketahui Ken dan Takao.
“Bisakah Anda menjelaskan topeng mana yang digunakan Uzukiro Makoto saat ikut andil dalam penyegelan iblis?”
Sang Miko awalnya berpikir, tetapi setelah diberitahu kalau Ken merupakan anak dari Uzukiro Tsurumi dan Uzukiro Makoto, sang Miko pun mulai menjelaskan.
Ia berkata bahwa topeng yang dipakai saat penyegelan adalah yang memiliki tanduk dan taring, yang di dalamnya didiami oleh Dewa Fuin.
“Ken, setelah pulang nanti, kita akan rutin berlatih. Mungkin setiap akhir pekan, begitu pula dengan kau, Takao.” Hoshi mengamati lagi topeng tersebut.
Aoda mengangguk, dia ikut menjelaskan, “Kau dan Ken akan berlatih untuk kerjasama kalian. Jika kemampuan sudah setara dengan para penyegel terdahulu, barulah kita mulai memperbaruinya.”
“Lalu, apa tak masalah jika kita pergi nantinya, Siera bagaimana?” Takao pun mengerutkan alis, ia lalu menganggukkan wajah ketika mendengar Karura berbicara.
“Kalau hal itu serahkan saja kepadaku, setidaknya dengan ada diriku, iblis itu tak akan memberontak.” Karura menimpali sambil tersenyum.
*
“Aku tak menyangka keluarga Ken sangat hebat hingga mempunyai peninggalan sejarah klan yang seperti itu.” Siera menatap lelaki berkulit kemerahan di sampingnya dengan mata berbinar, dan dibalas oleh Ken dengan cengiran di bibir juga sebelah tangan yang menggaruk kepala sendiri.
Takao sendiri hanya memperhatikan, ia juga berpikiran sama dengan Siera, tak menyangka temannya ini memiliki klan yang berpengaruh sama sepertinya.
Mereka lalu duduk di ruang tengah bungalo, sudah satu jam lebih mereka kembali dari kuil milik klan Uzukiro. Dan sepertinya para orang dewasa yang lain juga sebagian ada yang duduk dengan mereka dan ada juga yang mengambil camilan di dapur.
“Kak, besok kita akan mengadakan upacara, aku jadi penasaran dengan hal itu?” Siera meneguk cokelat hangatnya dan mengedarkan irisnya kepada sang Kakak yang duduk di seberang meja.
Lelaki itu mengangguk hingga mengakibatkan rambutnya yang cola bergoyang, ia mengambil jusnya dan menegak hingga tertinggal sebagian.
“Hmm, persiapkanlah dirimu.” Lelaki Harata itu lalu menatap Takao dan Ken bergantian setelah beberapa saat menjatuhkan sorotnya pada sang Bungsu.
Dapat disadari oleh Takao, kalau mereka yang ingin menenangkan emosi Siera dan membuat gadis itu menjadi bahagia dan melupakanan masalahnya, sepertinya berhasil. Dapat dilihat Siera yang tidak pernah membahas mengenai kutukan ataupun ibunya yang takut kepadanya. Takao pun memejamkan mata sambil mengehela napas, ia berdoa agak esok hari segala risiko yang ditakuti tak akan terjadi, semoga saja Siera bisa menerima kenyataan tentang dirinya dan iblis yang mendiami tubuh gadis itu.
Mereka seperti berkejaran dengan waktu, saat nanti Ken telah menguasai kekuatan supernatural khas klannya, maka mereka semua akan mengambil andil untuk memperbaiki segel Kokoro no Yami.
.
.
.
Bersambung