13. Bungalo

2713 Words
Suasana pagi terlihat mendung, awan-awan hitam menghampiri karena ditiup angin, walau ini adalah salah satu hari yang ditunggu oleh beberapa orang, tetapi kelihatannya tidak sedemikian jika kita melihat wajah cemberut seorang gadis yang ada di dalam mobil. Dua buah kendaraan sedan berjalan beriringan, kadang ada gumaman kesal atau sumpah serapah yang diucapkan sang Gadis, ia ingin duduk dekat dengan Sanosuke, tetapi sialnya hal itu tak dikabulkan oleh kakaknya yang menyebalkan.Mereka yang akan pergi berlibur berjumlah sembilan orang, di mobil pertama di depan duduk Itou Kuroda yang diketahui mereka sebagai guru di sekolah, sekarang malah tengah menyetir mobil sedan milik keluarga Harata, di sebelahnya ada Hoshi yang masih asik bertelepon entah dengan siapa. Lalu, di jok belakang ada Sanosuke dan Aoda. Di mobil sedan yang mengikuti mereka dari belakang ada Sato Yahiko yang sedang mengemudi, di sebelahnya duduk Takao yang nyaris adu otot karena berebut tempat dengan Ken dan akhirnya dimenangkan oleh Takao. Lalu, di jok belakang ada Siera, Ken dan Nishima Karura. “Lihat, muka Hoshi tadi gak, Ken! Menyebalkan!” Siera menatap kuku-kukunya yang tidak pernah telat untuk dipotong, dan berkhayal sedang mencakar wajah sok imut kakaknya itu. “Padahal masih sisa satu tempat! Sumpah kesel!” Siera sekarang menghela napas dan menggerak-gerakkan tangannya seperti sedang menonjok seseorang. “Kenapa tidak Aoda saja yang di sini, jadi terjebak sama bocah-bocah.” Karura mulai sewot karena sedari tadi Siera terus saja ribut, Yahiko dan Ken pun kelihatan bingung, sedang Takao sendiri hanya diam dan masa bodoh dengan semua ini. Beberapa saat yang lalu, Hoshi dengan wajah songong khas bebyface-nya mengatur tempat duduk di mobil untuk mereka semua. Dengan enteng, sambil memutar-mutar kunci mobil di jari telunjuk dan melemparkannya kepada Kuroda, ia pun berbicara, “Yang ikut di mobilku, Kuroda, Aoda, dan Sanosuke. Sisanya di tempat Yahiko.” “Hei!” serentak, Siera, Karura dan Yahiko meneriaki Hoshi. Siera tentu tak terima harus berjauhan dari Sanosuke dan bukanlah hal yang menyenangkan kalau dikerubungi oleh bocah-bocah seperti mereka, bagi Yahiko dan Karura. Kembali pada adegan yang mulai memanas antara Siera dan teman kakaknya, yaitu Karura. Ingin menengahi kedua orang yang kelihatan bersitengang, apalagi sekarang Ken duduk di tengah-tengah Siera dan Karura, membuatnya berinisiatif mengatakan sesuatu. “Mungkin karena Sanosuke habis sakit, jadi duduk berdua biar gak sempit.” Ken tersenyum cerah sambil mengatakannya. “Oh, jadi kamu mau bilang, kalau sekarang sempit karena aku lebih gendut dibanding kalian gitu?” mendengar jawaban Karura, membuat wajah Ken menjadi terkejut, ia pun jadi serba salah sendiri. Bukan maksudnya mengatakan kalau duduk bertiga dengan wanita berambut pendek sebahu dan tubuh bak model itu menyebabkan sempit. “Bu-bukan itu!” Ken mengangkat kedua tangannya dan mengibas-ngibaskannya sambil menggelengkan kepala, sementara Karura sudah berwajah sangat mengerikan karena tersinggung dianggap gendut. “Kau ‘kan memang lebih berat dari kami, Kak! Dasar!” Siera menghela napas dan melirik Karura yang siap mencekik Ken, sementara itu Yahiko yang melihat kekasihnya pun hanya geleng-geleng kepala. “Karura, sudahlah!” akhirnya Yahiko menegur. “Apa? Berisik!” Yahiko kembali berkonsentrasi karena dibentak kekasihnya, walau sangar dan penuh tindik di telinga, ia sebenarnya tipikal takut calon istri. “Heh, yang becus dong kalau nyetir! Pelan amat, sih! Balap mobil yang ada di depan!” “Argg!” jerit Yahiko sambil menginjak pedal gas karena kesal juga. TIN TIN TIN. “Jangan bunyikan klaskson sembarang, Kak Yahiko! Bahaya!” “Ck.” Takao yang duduk di samping Yahiko pun mendecak bosan. Rem diinjak secara tiba-tiba menyebabkan ban berdecit nyaring. “Arrgggkkk!” Semua orang yang duduk di jok belakang pun berteriak karena merasakan tubuh mereka maju tersentak ke depan. “Dasar Yahiko bodoh! Apa yang kaulakukan, Hah! Mau membunuh kami? Dan ini di mana sih, berhenti tiba-tiba?” Karura yang masih kesal, terus saja mengomel dan menghardik kekasihnya. “Mereka yang di depan tiba-tiba berhenti!” Yahiko sepertinya tidak mau kalah dan ia pun hanya menghela napas, kemudian keluar dan mendatangi mobil yang sejak tadi membimbing mereka. Penghuni lainnya pun melakukan hal yang sama, dan melihat kalau area yang dijadikan tempat berhenti adalah kawasan hutan. Pohon-pohon tinggi pun menggelilingi jalan. Siera menatap Sanosuke yang berjalan ke arahnya, lelaki itu tersenyum dan ia langsung menghampiri dan memeluknya. “Bagaimana perasaanmu?” lelaki itu membelai kepalanya. Ia hanya menggeleng dan Sanosuke langsung paham apa yang dimaksud dengan gerakan kepala Siera. “Baiklah semuanya, dari sini kita harus berjalan kaki dan kita akan menginap di sebuah bungalo milik keluarga Uzukiro Makoto yang masih bisa dipakai. Barang-barang sebaiknya kita keluarkan, jaraknya hanya sekitar seribu meter dari jalan ini.” Hoshi berkata, ia pun mulai menyuruh Kuroda untuk membuka bagasi mobil dan Yahiko pun mengikutinya. “Punya ayahku?” Ken menggumam tanpa sadar, ia entah kenapa merasa sangat penasaran dengan tempat milik keluarganya ini. “Mungkin ayahmu adalah orang yang kaya, siapa tahukan, Ken.” Siera kini menggandeng tangan Ken dan ia berjalan bersama-sama dengan Sanosuke di sebelah kanan dan Ken di sebelah kiri, sementara Takao berada di belakang mereka masih asik memperhatikan hutan yang mulai mereka masuki. Mereka mengikuti jalan tanah dan karena cuaca sedang gerimis maka sangat berbahaya jika mobil ikut masuk ke dalam area khawasan yang jalannya tidak rata itu. Kuroda dan Yahiko pun diberitahu oleh Aoda kalau mungkin jika cuaca sudah cerah besok, maka mereka bisa memasukkan mobil ke dalam pekarangan bungalo. Cukup jauh berjalan dan beberapa kali ada saja yang hampir terpeleset, begitu juga dengan Takao. Jika bukan karena Aoda gesit memeganginya saat ia kehilangan keseimbangan, sudah pasti ia akan terkapar di tanah dan ditertawakan Siera. Belum apa-apa saja, Siera sudah mengejeknnya. Suasanya di pekarangan bungalo terlihat agak seram, mereka dikelilingi pohon-pohon besar dan terlihat sudah tua. Belum lagi cuaca sedang berkabut dan gerimis, entah kenapa membuat Ken menjadi merinding dan merasakan hawa tidak menyenangkan. Mengingatkannya dengan film horor barat yang dulu sering ditonton, dan berjudul Evil Death. Sial, jangan sampai hal itu benar-benar terjadi kepada mereka, tiba-tiba menemukan sebuah buku sihir dan tanpa sengaja memanggil roh jahat, mengakibatkan mereka saling menyakiti dan terbunuh. Film sialan. “Nah, sebaiknya kita masuk. Karena cuaca semakin memburuk.” Aoda tersenyum dan membantu membawa tas rekan-rekannya. “Aku tak yakin ini salah satu jenis liburan?” Siera menatap kesal suasana suram ini. “Tempat macam apa ini, Kak Hoshi?” alisnya mengernyit tak terima. “Sudahlah, Siera. Tempat ini sangat cocok untuk bermeditasi.” Hoshi mengikik, hanya karena efek cuaca berkabut dan gerimis, tempat ini benar-benar berubah menjadi menakutkan, padahal saat cerah suasananya akan berkebalikan. Mereka tidak tahu saja, kalau di seberang bukit belakang ada lembah luas yang dipenuhi jutaan bunga dan merupakan sarang kupu-kupu beraneka jenis. * Tentu saja, bungalo ini sebelumnya sudah dibersihkan dan dicek keadaaannya oleh Hoshi, Yahiko, Kuroda dan Aoda. Mereka membawa tiga orang lagi untuk meminimalisir terjadinya hal yang tak terduga, mengingat pemberitahuan jati diri Siera sangat berisiko. Kalau pun tak terjadi apa-apa dan Siera bisa menerima dirinya dengan lapang d**a, maka mereka semua akan bersyukur. Namun, Hoshi sendiri tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Semoga saja hal yang ditakutkan tidak menjadi nyata, apalagi mereka harus melatih Ken dan Takao terlebih dahulu sebelum ikut andil dalam pembaharuan segel Kokoro no Yami. Yahiko dan Kuroda memang bukan seseorang yang memiliki kekuatan supernatural, hanya Karura yang memilikinya sejak lahir, sedang Kuroda mendapatkan sebuah mata dari sahabatnya yang merupakan bagian dari klan Aoryu, mata itu anehnya bisa beradaptasi dengan tubuh yang tidak dialiri darah Aoryu. Mata milik sahabat Kuroda yang merupakan paman bungsu atau adik dari ayah Aoda dan Takao, yaitu Takemaru. Kuroda berkata, kalau ia membuka mata yang merah maka ia bisa merasakanan aura jahat, dan dapat membaca isi hati seseorang hanya dengan menatap mata lawan bicaranya. Sedangkan Karura, gadis berusia dua puluh lima tahun itu memiliki darah Nephilim, bukan berasal dari ayah atau ibunya, tetapi dari neneknya. Gadis itu bisa mengeluarkan sayap layaknya malaikat atau bangsa Nephilim lainnya, tetapi bedanya adalah sayap itu hanya bisa dilihat oleh orang-orang seperti Ken karena memiliki indra keenam yang tajam. Karura tentu saja akan sangat membantu, dengan aura dan cahaya suci malaikatnya, itu dapat membuat aura iblis yang ingin keluar dari tubuh Siera tertekan dan tak bisa berontak. Saat anak-anak sekolah telah terpulas, maka orang-orang dewasa pun berkumpul di ruangan tengah yang memiliki perapian, dengan cangkir-cangkir yang sudah beberapa kali diteguk, atau diisi ulang dengan kopi panas dari teko, membuat mereka tidak merasakan kantuk sama sekali. Hoshi, Aoda, Karura dan Yahiko, membicarakan masalah Siera dan kemungkinan yang akan terjadi. Saat sedang serius dan hampir meneguk kopinya kembali, tiba-tiba dari arah utara Sanosuke berjalan mendekati mereka. Anak itu menatap kakaknya, dan tiga orang lainnya. Semua orang terdiam, berpikir macam-macam tentang  keberadaan Sanosuke yang tiba-tiba hadir. “Aku mendengar semuanya, jika kalian ingin tahu.” Mereka masih terdiam, menarik napas dan ada juga yang terbelalak. Hoshi menatap adiknya dengan pandangan mata bersalah, walau begitu Sanosuke terlihat tenang. “Sanosuke ....” Mulut Hoshi kelu karena Sanosuke telah memotong ucapannya. “Aku tahu memang ada yang tidak beres pada Siera, tapi aku selalu berpikir kalau itu tak semengerikan dengan apa yang pernah terjadi padaku. Dan Siera dalam wujud di malam purnamanya, dan berkaitan dengan iblis. Aku bahkan pernah berusaha menghentikan Siera yang mengamuk, lalu hal seperti apa yang akan terjadi jika segel Yamata no Ryu lepas, Kak?” Sanosuke menatap kakaknya dengan pandangan mata sedih, ia kembali berbicara, “Apa kita akan kehilangan Siera? Kenapa kalian membahasnya sendiri?” Melihat Hoshi yang masih terdiam dan berpikir, Aoda pun mengambil andil untuk berbicara. “Kami hanya harus merundingkannya terlebih dahulu, sebelum membicarakan dengan kalian. Mengertilah Sanosuke, kita sedang berusaha di sini untuk memulihkan segel. Mungkin kau tak terlalu mengerti, tapi ayo kita usahakan bersama. Itu sebabnya, kita harus membuat perasaan Siera menjadi bahagia dan lebih baik dulu. Melupakan sejenak tentang ibumu dan kekhawatirannya karena ada ingatan yang sewaktu-waktu datang dan membuatnya memahami keadaan ini.” Aoda pun menatap Sanosuke yang sekarang hanya mengeratkan cengkeraman di tangannya. “Siera bukan akan kecil lagi, dan kita harus memberitahu jati dirinya tanpa membuatnya tertekan dengan keadaan ini. Walau aku tak dapat memprediksikan apa yang akan terjadi kelak, setidaknya kita bisa meminimalisir risiko.” Hoshi pun menambahi dan ingin adiknya mengerti, laki-laki muda yang masih memperhatikan keempat orang dewasa itu hanya berdiri dan berpikir kembali, ia tahu kalau di tubuh adik kembarnya didiami sesosok iblis, tetapi ia sama sekali tak tahu mengenai kejadian yang selama ini terjadi pada keluarganya, disebabkan iblis yang ada di dalam tubuh Siera. * Kedua bola mata terbuka, dengan pandangan yang masih belum jelas, Siera melihat Ken yang duduk di depan ranjangnya dan sedang memperhatikannya, itu membuatnya tersentak. Lalu, kenapa Ken yang ada di kamarnya? Seharusnya Karura lah yang tidur bersamanya. Tunggu dulu, ia juga melihat sosok lain, dan itu adalah Aoryu Takao yang kini berada di samping Ken. Lelaki itu menatapnya dengan mata merah aneh yang bisa berganti-ganti pola dan terlihat sangat menakjubkan. “Ke-kenapa kalian ada di sini?” Siera menarik selimut setingi d**a, dan mentap dua lelaki itu dengan pandangan yang menyelidiki. Yang memberikan alasan adalah Ken, sedang Takao masih diam dan memandangi tubuh Siera yang memiliki segel kasat mata, hanya di dahi saja yang terlihat dengan mata telanjang. Namun sebenarnya di seluruh tubuh juga ada, hanya saja sekarang sudah terlihat samar. Memang termakan usia dan harus segera diperbaiki. Saat ingin mengubah pola matanya, Takao malah tersentak karena menerima hantaman bantal yang cukup kuat dari makhluk yang sedang diperhatikannya ini. “Apa yang kaulihat? Dasar, Ta-chan bodoh!” suara Siera penuh dengan geraman, dan gadis itu hanya mendengar Takao menghela napas dan mengembalikan warna matanya menjadi hitam. “Sebaiknya kau berbaring dan tidur saja, Siera. Sudah kubilang kami hanya ingin menjagamu.” Ken tersenyum. Lagi pula, tidak memungkinkan jika ada makhluk astral tertarik dengan aura iblis yang mengelili tubuh Siera. Gadis itu bukannya mengikuti seruan temannya, malah mendudukkan diri semakin tegak dan menelisik ke dalam mata Ken. “Tapi, kita seharusnya sama-sama beristirahat. Aku tak apa kok, kalau sendirian.” Manik kecokelatan itu agak membesar saat dirasakannya bahwa Takao maju dan menggunakan salah satu tangan lelaki itu untuk menekan bahu kanannya, alhasil Siera pun ikut terdorong dan jadilah ia berbaring di atas ranjang. Takao masih menahan dan persis berada di atas pandangan matanya, walau jarak dari wajah dan tubuh mereka lumayan jauh, lebih dari sejengkal, mungkin? Ia dapat menyaksikan rambut-rambut halus Takao yang mengikuti gravitasi dan terlihat lembut saat kepala itu sedikit bergoyang karena berbicara. “Tidurlah, Siera.” Kepalanya ia miringkan sedikit dan membuat rambutnya ikut bergerak, nada suaranya pelan dan sedikit memerintah. Ada delikan mata yang dapat Takao dan Ken lihat, bibir Siera pun mencebik dalam, gadis yang sedang ditahan bahunya ini oleh Takao benar-benar keras kepala dan sukar diberi tahu. “Yang dikatakan Takao benar, Siera.” Ken tersenyum, ia mencoba membujuk gadis yang sekarang sudah menganggukkan kepalanya dan mengalah. Takao pun melepaskan lengannya yang setia berada di bahu Siera, ketika ia menangkap kelopak mata gadis itu sudah menutup. Tidak sampai sepuluh menit, Siera sudah benar-benar ternyenyak, deru napas sang Gadis terdengar beraturan. Namun, Takao dan Ken tak bergerak sedikitpun dari tempat ini, mereka tetap mengawasi seperti perjanjin, bahwa tidak akan membiarkan Siera sendirian lagi. “Sebaiknya kita juga beristirahat, Takao.” “Bergantian jaga, bagaimana?” Ken pun menangguk dan mulai tertidur, sekarang Takao lah yang bertugas terlebih dahulu untuk memantau sekitarnya, termasuk aura Siera dengan matanya yang sewarna darah. Sepertinya situasi kali ini sudah terkendali. Dan rasa kantuk pun sudah mulai menarik Takao untuk sesekali memejamkan mata, ia berpikir kenapa pembicaraan para orang dewasa di luar sana ternyata tak ada habisnya. Apa saja yang mereka bahas? Seharusnya, Siera akan tidur dengan Karura yang merupakan salah satu teman kakaknya, tetapi karena ada yang harus mereka rundingkan maka Siera kini dijaga oleh Ken dan Takao. Padahal bagi seorang berdarah Nephilim seperti Karura, mudah saja untuk menghalau aura iblis Siera,  yang merupakan sosok iblis terbelenggu dan menempati wadah yang sudah dihujani dengan berbagai segel pelapis. Sebut saja segel dari Kokoro no Yami, dan Segel Mata dan Darah. Dari dalam bilik, terdengar hanyalah bunyi angin yang sesekali mengetuk jendela, detik jam dan sautan napas antara Siera dan Ken karena sudah ternyenyak. Begitu pula dengan dirinya,  semakin lama merasakan matanya semakin berat, apalagi kesunyian ini begitu menghipnotis dan membuat Takao ingin sekali terhanyut bersama. Saat matanya tertutup dan hela napas mulai berjalan lebih teratur, tiba-tiba saja Ken tersentak kaget dan meremas lengan atas Takao, hingga ia pun terbangun dan langsung membelalakkan mata. Tak beda dengan Ken yang terbangun secara mendadak, Karura pun merasakan sesuatu datang mendekat, ia lantas berdiri dan berjalan cepat ke arah kamar Siera. Di sana sudah ada Ken yang berjongkok, lelaki itu seperti habis melihat sesuatu yang mengerikan. “Ada apa?” semua yang keheranan pun mengikuti Karura dan melihat Ken yang berada di lantai, sedangkan Takao terlihat agak kebingungan sama sepertin yang mereka rasakan. “Kau melihatnya, Ken.” Lelaki itu menganggukkan kepala, sosok amat mengerikan daripada yang ia saksikan di gedung tak terpakai di sekolah. Sosok itu sangat tinggi, seluruh kulitnya mengelupas seperti habis disayat dan dikuliti, matanya putih dan tak memiliki pupil yang layaknya dimiliki manusia, rambutnya sangat panjang dan tak terawat—belum lagi bibirnya yang terobek hingga pipi, mengeluarkan lidah yang sangat panjang dan penuh cairan merah seperti darah. Ken pun merasakan aura suci malaikat pada diri Karura meningkat drastis, dan membuatnya kesusahan kembali. Perbenturan energi lagi. Batinnya frustrasi, sepertinya Ken harus segera membiasakan diri dengan segala hal yang terjadi. “Ukh.” Ken menahan agar tak mengeluarkan isi perutnya, tetapi tetap saja, jika energi yang berlawanan sekuat ini, ia akan kehabisan tenaga karena tak kuat menahan siksaan kasat mata itu. “Seseorang yang memiliki kemampuan indigo memang selalu seperti ini, ya? Kudengar, bagi mereka sangat menyusahkan jika terjadi perbenturan energi.” Kuroda memegang dagunya. “Ken harus membiasakan diri. Saat nanti kita memulainya, energi yang berbenturan akan lebih mengerikan daripada sekarang.” Hoshi menimpali dan menyaksikan adiknya yang masih terbuai mimpi, terimakasih kepada Takao yang sekarang sedang mengontrol alam bawah sadar Siera dengan matanya, sepertinya Takao banyak diajari oleh Aoda mengenai kegunaan kekuatan mata klan mereka. Segel di dahi Siera terlihat, seperti merespon sesuatu yang mencoba keluar dari tubuh dan hal itu bisa kembali ditangani Takao, bola mata lelaki itu semakin bersinar merah, hingga darah mulai menetes dari salah satu bola matanya. * Mata Aoryu yang terpilih, akan menguatkan segel dan harus menjaganya seumur hidup. Saat Segel Mata dan Darah sudah dilakukan, dan sang Pengontrol menemukan tangisan darahnya, perasaan mereka akan terhubung dan akan ada saatnya ketika mata itu bisa memandang jauh ke masa depan, juga masa lampau. * Mata merah yang sekarang masih dialiri darah itu terbelalak, saat ia menyaksikan Siera dikerubungi oleh sesuatu yang sangat hitam dan terpenjara di suatu tempat tak terbayangkan. Siera terlihat menatap kosong dirinya dan tubuhnya terdiam seperti tak ada tanda kehidupan di sana. “Takao!” “Huh?” Aoda menatap khawatir adiknya, mata merah mereka sama-sama saling berpandangan, Aoda menelisik Takao yang kelihatan berkeringat dan menghela napas. “Ada apa?” lelaki yang merupakan kakak Takao itu bertanya, setelah ia menaruh tangannya di pundak sang adik. Ia mengelengkan kepala. “Aku hanya terlalu berkonsentrasi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD