12. Liburan Absurd?

2226 Words
Beberapa hari lalu, Takao menjadi sandaran Siera saat gadis itu berteriak dalam tidurnya, merasakan hangat dari rengkuhannya dengan tangan terus membelai kepala itu hingga membuat sang Gadis merasa nyaman. Nyatanya, semua hal yang dilakukan Takao tidak bisa membuat pikiran Siera ikut tenang. Telinga gadis itu yang berada dekat dengan d**a Takao, dapat mendengar detak jatung sang Lelaki walau kelopak mata ditutup rapat, tetapi otaknya terus berkerja dan terus saja memikirkan sesuatu yang tadi dilihatnya. Ya, itu adalah dirinya ketika menusuk perut Sanosuke dengan kuku-kuku panjang nan hitam, hal ini membuat tubuhnya kembali berkeringat dingin, seperti ada kilas balik terbayang di benaknya. Siera merasakan dirinya mendedak bergetar, ia mengetahui kalau ada keanehan terjadi padanya dan ia mengingat beberapa waktu lalu juga pernah bertemu dengan sosok mengerikan yang berubah menjadi dirinya, sama seperti saat sosoknya di waktu bulan purnama. Di tempat asing itu, di belakang air terjun dengan pedar sekitar serba kemerahan, ia melihat dan berbicara dengan sesosok makhluk. “Siera?” mata beda warna Takao menangkap perbedaan terhadap tubuh dari sosok yang ia pelukan, untuk menyadarkan gadis itu dari lamunan, ia pun akhirnya memanggil nama Siera. Tangan Takao yang berat tiba-tiba saja Siera rasakan di kelapanya, membuat wajah gadis itu yang awalnya menyandar di d**a pun mendongak dan menatap dengan mata merah yang telah menyembunyikan warna asli irisnya. Setelah lebih tenang, rambut Siera juga perlaham menghitam. Senyuman Takao membuat Siera kembali lebih baik. Ia sempat merasakan kehangatan yang memenuhi dadanya. “Tekan perasaan negatifmu, kau pasti bisa. Tenanglah, kami semua ada di sisimu.” Kembali tangan Takao membelai kepala Siera, dan membuat gadis itu menjadi nyaman. Melihat Siera yang sudah bisa mengendalikan diri, Takao pun mengalihkan atensi dan mengaktifkan kemampuan matanya untuk melihat situasi yang ada di kamar ini. Betapa terkejutnya ia, manik merahnya pun terbelalak karena kamar ini dipenuhi aura hitam yang menyesakkan. “Kau gadis kuat, Barbar.” Sedikit demi sedikit, aura hitam itu mulai berkurang dan Takao pun merasa lega, meski ia mendapatkan jambakan dan cubitan dari tangan-tangan Siera yang terlihat tak terima karena dikatai seperti tadi. Menghela napas, Lelaki berparas tampan itu pun terbangun dari lamunannya tentang insiden beberapa hari yang lalu. Ia sangat khawatir mengenai keadaan Siera, apalagi kemarin gadis itu juga kembali mengalami timpang tindih terhadap hal fisik dan non fisik, entah bagaimana bisa dia dibawa pergi ke dunia astral tempat para makhluk non fisik itu? Memikirkan kemungkinan, kerutan di alis Takao pun bertambah. Sepertinya mereka harus membuat perasaan Siera membaik dulu dan mental gadis itu lebih kuat, barulah memberitahu mengenai kenyataan tentang kutukan yang ada di dalam tubuh Siera. Ia berharap, semoga gadis itu tidak lepas kendali. * Pintu yang dibuka dengan pelan pun, akan mengeluarkan suara jika hal itu tengah terjadi di malam yang sangat sepi seperti sekarang ini. Siapa saja jika masih terjaga, pasti akan mendengar deritan walau sekecil apa pun. Setelahnya, seseorang masuk dan melangkahkan kaki indah menyentuh lantai dingin. Dia adalah sesosok gadis berambut panjang, perlahan mendekat, berjalan langkah demi langkah untuk mendekati sang Pemilik kamar dan terlihat tengah terlelap. Mata gadis itu membeliak senang karena menemukan sang Empunya tak sadar akan tanda bahaya, seringai pun semakin mengembang di wajah mulus dengan pipi ranum memerah bak ceri. Semakin dekat, gadis bersurai merah gelap dan bermata rubi bak kilau api kini berdiri di samping ranjang lelaki berambut hitam berantakan yang masih tertidur. Tangan sang Gadis yang berkuku panjang, hitam dan tajam pun membelai pelan wajah putih pucat sang Lelaki. Kembali, bibir hitamnya menyeringai hingga menampakkan gigi taring, lidahnya pun membelai bibir karena melihat hidangan lezat yang ada di depan mata. Gadis itu lalu menaiki tubuh sang Pemuda, merangkak di atasnya dan mendekati wajah. Ia kemudian menghirup sesuatu dari dalam mulut yang celahnya terbuka karena dengkuran, mengambil entah apa yang membuat tubuh lelaki terlelap itu menjadi tak nyaman dan semakin tak bertenaga. Setelahnya, kuku panjangnya membelai d**a yang tak memakai atasan, lalu dengan benda runcing yang ada dijarinya, ia tusukkan ke pertengah agak ke bawah d**a dengan keempat jarinya. Begitu pelan, tapi sangat menyakitkan. Kuku hitam yang awalnya hanya tiga centi, kini memanjang hingga dua puluh centi, mengakibatkan tubuh tak berdaya itu ditembus oleh benda runcing yang ada pada jari sang Gadis. Mata sang Korban langsung terbelalak, mulutnya terbuka lebar, dan jeritan menggelegar ke mana-mana. “ARRGGG!” Di balik temaramnya lampu, darah-darah kental semakin berceceran ke selimut putih yang menutupi tubuh lemah itu. Gadis dengan rambut merah dan beriris sama kini tertawa, dan kembali melakukan aksinya. Jari berkuku panjang menekan d**a dan perut yang sudah tertusuk agar semakin dalam, hingga mengakibatkan sang Pemuda memuntahkan darah dari hidung dan mulut. “Uhuuk ... Si-Siera, henti—uhuk? Kuku itu langsung dicabut oleh gadis bernama Siera, mengakibatkan empat lubang mengaga yang mengeluarkan semburan amis dan kental semakin melimpah. Dengan satu jari, kembali ia memasuki luka tusuk tersebut dan merobeknya hingga menampakkan benda kenyal merah yang terletak di bawah d**a dari tubuh sang Lelaki. “Arrggg! Ggrraahh!” jerit kesakitan menggema dan memenuhi seisi kamar. “Khu khu khu.” Setelah lubang yang dibuatnya di d**a semakin besar, Siera lalu memasukkan kelima jari yang kukunya telah memendek, tetapi tetap tajam. Ia lalu mengorek dan menarik hati itu keluar dari tubuh sang Korban. “Takao, ini kesukaanku.” Setelah mengatakan hal itu, Siera pun memasukkan hati ke dalam mulut, ia gigit dan dinikmatinya benda kenyal milik Takao dengan lahap, darah dan lendir berjatuhan dari bibirnya, menetes dan menjaluri dagu hingga ke leher, sampai seluruh tubuhnya berbau anyir dan sangat menusuk indra penciuman siapa pun yang menghirupnya. Namun, Siera sangat menikmati anyir darah itu, ia begitu puas. Anehnya, setelah kehilangan satu organ tubuhnya, Takao belum juga merasakan kematian. Dengan tubuh yang sudah tidak bisa ia kendalikan dan hanya ada rasa sakit di mana-mana, Takao menatap nanar Siera yang tengah menyantapi orangan tubuhnya. “Slurrpp. Nikmat sekali. Khu khu.” Lidahnya menjilati darah-darah yang bertetesan di telapak tangannya, dengan sedikit merangkak Siera mendekati Takao dan berlutuh di hadapan tubuh lelaki yang bernasib mengenaskan itu, lalu kembali ia tersenyum dan menunjukkan kelima kuku panjang dan runcingnya. “Sampai jumpa, Sayang!” Siera menusukkan kukunya ke tenggorokan Takao, memutar benda tajam itu hingga mengakibatkan darah menyembur ke mana-mana dan memisahkan kepala itu dari tubuhnya. Bruk. Kepala berambut hitam ikal jatuh dari ranjang dengan mata yang terbelalak lebar. * Bruk. “ARRGGG!” Tubuh sang Pemuda basah oleh keringat, ia bahkan merasakan kalau dirinya tengah menggigil. Seingatnya, tadi ia sedang memikirkan Siera dan kemungkinan apa saja yang akan terjadi jika gadis itu mengetahui identitasnya, tetapi entah bagaimana ia bisa tertidur di kursi pada meja belajar di kamarnya ini dan bernasib mengenaskan seperti tadi. Ia terjatuh ke lantai dan membuatnya seketika sadar dari mimpi. Desakan napas masih terngah-engah, Takao bisa merasakan detak hatinya sangat kencang dan semakin menggila, keringat yang terus mengalir membasahi tubuhnya juga terasa dingin. Entah bagaimana, tadi ia bermimpi dan bunga (bangkai) tidur itu adalah yang paling mengerikan dari berbagai dreamland yang pernah disinggahinya. Siera dengan sosok berbeda gadis itu mendatanginya, menyiksanya dan juga memakan jatungnya, bahkan gadis itu memenggal kepalanya. Lengan berkeringat itu langsung saja menyentuh d**a dan lehernya, walau tadi hanya mimpi, tetapi ia ingin memastikan kalau dirinya benar-benar belum mati. “Ck, sialan.” Poni-poni rambutnya yang menutupi dahi, ia sibak ke atas dengan tangan kiri, menjadikan dahi penuh keringat itu dapat terekspos dengan jelas. Mata berbeda warna pun melirik ke arah jam yang ada di atas meja belajar, masih menunjukkan pukul dua dini hari. Dengan sedikit lemas, ia lalu mencoba berdiri dan melakukan perenggangan pada tubuhnya, Takao pun turut memejamkan matanya dan mengatur napas agar ia menjadi tenang kembali. Perlahan, ia berjalan dan melirik kasur megahnya, tetapi Takao sama sekali tidak menuju ke sana, ia malah melangkan ke arah pintu. Kakinya kini sedang membawa ke kamar Siera, hanya ingin memastika keadaan gadis itu apakah dia baik-baik saja. Perlahan-lahan, ia membuka pintu kamar dan mendapati Aoda yang sedang berada di sana, lantas Takao merasa terkejut dan membeliakkan mata. Benaknya bertanya-tanya, kenapa sang Sulung juga berada di sini? Mereka yang saling menatap, lalu mulai menganalisis masing-masing, mencari tahu ada gerangan apa sampai mereka berdua ke kamar sang Gadis dengan waktu hampir bersamaan pula. “Aku hanya ingin menumpulkan hubungan batin antara ia dan iblis itu,” jelas Aoda sambil tersenyum dalam ruangan temaram ini. “Tetapi, ini sangat tak mudah.” “Kau mimisan?” Ia mendekati kakaknya dan membantu sang Sulung untuk berjalan, mereka lalu keluar dari ruangan itu bersama-sama. “Jangan gegabah, tubuhmu itu sangat tidak kuat menahan beban kemampuan supernaturalmu.” Aoda yang tengah duduk, lalu menghapus jejak-jejak darah pada hidungnya dengan tisu dan meminum teh hangat yang baru saja dibuatkan Takao untuknya. Tentu saja, ia paham mengenai apa yang disampaikan adiknya, bahkan ia lebih tahu mengenai hal itu. Namun, ia harus melakukannya, menumpulkan perasaan Siera terhadap alam bawah sadar agar gadis itu tidak gampang dikendalikan dan dirasuki makhluk astral lagi. “Dengar, ini kulakukan agar dia tidak kelihangan kendalinya saat kita memberitahu Kokoro no Yami, aku hanya berjaga-jaga.” Mata Aoda yang serius, dan tiba-tiba saja berubah menjadi menyebalkan dalam pandangan Takao. “Yang paling penting, apa yang ingin kaulakukan di kamarnya, hn?” Tentu saja ia nyaris tersedak, kakaknya mengatakan hal itu di saat ia tengah menyesap teh. Walau rasa sakit luar biasa dirasakannya akibat menahan panas di hidung dan kerongkongan, tetapi Takao tetap mencoba berpura-pura tidak acuh dan melanjutkan acara menikmati tehnya. “Hanya ingin memeriksa, tadi aku memimpikannya.” “Pfft, jangan bilang kau bermimpi kotor?” mata itu semakin memuakkan, Takao ingin sekali menonjoknya. Ia hela napas dan dengan serius menceritakan tentang mimpinya, Aoda yang mendengarkan pun merubah ekspresi. Lelaki itu tidak kelihatan ingin bercanda lagi, setelah mendengar semua penjelasan Takao tentang mimpi mengerikan itu, mereka terdiam beberapa saat dan Aoda pun mengatakan hal yang membuat sang Bungsu menaikkan alisnya bingung. “Ya, sepertinya Siera memeng akan mengambil hatimu.” “Hah? Kau serius, Kak?” Melihat ekspresi Takao yang kebingungan dengan ucapa Aoda, lelaki yang memiliki umur lebih tua darinya itu pun kembali berbicara sambil memasang senyum menggoda. “Dalam konteks berbeda,” ucapnya dan langsung berdiri, kemudian melangkah meninggalkan Takao yang masih kebingungan. “Seperti mengambil hati, menyatukan hatinya dan cinta, mungkin?” Semakin menjauh, Takao yang mendengarkan hal itu lantas merubah mimik wajahnya, tak ia duga sang kakak mengatakan hal itu kepadanya. Sial, ia benar-benar menjadi kepikiran sekarang. Jadi, maksud kakaknya adalah ia yang mulai menyukai gadis itu atau tertarik kepada Siera karena gadis itu dapat mengambil hatinya? “Dasar bodoh.” * Esok harinya, ketika membuka mata, ada hal yang berbeda di kediaman Aoryu ini. Siera yang menyadari perbedaan itu langsung merasakan kebahagiaan dan menjumpai dua orang kesayangnnya. Ya, dua orang lelaki yang membuat suasana di rumah menjadi lebih bewarna. Pelukan ia berikan kepada Hoshi dan Sanosuke, pun mereka memeluk adik bungsunya secara bersamaan. Tentu saja ini adalah hari spesial bagi Siera, selain karena kehadiran sang Kakak, ia juga mendapati saudara kembarnya sudah sembuh dari luka yang diderita. “Syukurlah, Sanosuke. Sepertinya kau benar-benar sudah pulih.” Melihat senyum cerah dan haru di wajah sang Adik, Sanosuke pun membengkokkan bibirnya dan membelai kepala Siera. Ia lalu merenggangkan pelukannya terhadap Siera dan menatap Takao dengan wajah yang tidak suka. Mereka saling tatap, seperti ada kilat tak kasat mata dan saling menyambar satu sama lain, tidak senang dan sama-sama tidak mau mengalah. “Wow! Wow! Sudah, sebaiknya kalian duduk. Omong-omong, kalian sudah sarapan?” “Hm, thanks. Sudah, tentu saja.” Mereka kemudian duduk dan mengikuti intruksi pemilik rumah, ruang keluarga adalah tempat yang dipilih Aoda untuk berbicara. Kemudian, beberapa saat setelahnya bel kembali berbunyi dan pelayan mengatakan kalau Uzukiro Ken lah yang datang. Setelah semuanya lengkap, maka Hoshi dan Aoda pun memulai pembicaraan. “Baiklah, langsung saja. Jadi, ada beberapa hal yang ingin aku jelaskan kepada kalian.” Hoshi memulai mengatakan sesuatu yang membuat berbagai pasang mata menatap ke arahnya, lelaki itu menjelaskan dari satu poin ke poin lainnya, sedangkan para pendengar mulai memasang mimik serius. “Pertama, kita akan liburan selama satu minggu di Distrik Uzukiro di Utara.” “Distri Uzukiro? Itu kan nama margaku, kenapa aku baru tau ada distrik seperti itu?” Mendengar pertanyaan adari Ken, Hoshi pun menatap Aoda dan sekarang giliran lelaki berambut berkacamata yang mulai angkat bicara. “Ya, tidak banyak orang yang mengetahuinya, termasuk anak bau kencur seperti dirimu, Uzukiro Ken.” Sangat singkat penjelasan keluar dari bibir dengan senyum malaikat yang dimiliki Aoda, tetapi entah kenapa rasanya Ken ingin sekali merobek senyum laknat yang seolah sedang menghinanya mentah-mentah itu. “Intinya, itu adalah yang pertama. Kedua, kalian akan mengambil cuti sekolah selama satu minggu.” Hampir sama dengan Aoda, sekarang giliran Hoshi yang tersenyum kecil, setengah menyeringai tepatnya. “Apa?” serempak saja Ken dan Siera memekik, sedangkan Takao dan Sanosuke hanya mengerutkan dahi masing-masing. Wajah mereka menunjukkan ketidaksukaan terhadap perkataan Hoshi tadi. “Aku tidak mau mengambil cuti, bisa-bisa itu memengaruhi nilai akademikku. Pokoknya aku tidak setuju!” Siera berdiri dan berkacak pinggang, menatap kakaknya dengan bibir mencebik tak terima. “Aku juga, aku berencana untuk kencan dengan ... dengan ... i-itu ....” Ken berkata malu-malu hingga wajahnya memerah, sekaligus memandangi Siera dengan senyuman yang membuat Sanosuke dan Takao muak, hingga  ingin melempar si Uzukiro. Melihat akan segera terjadinya keributan yang akan berkelanjutan dengan demo berkepanjangan maka Hoshi dan Aoda pun menjelaskan lebih detil lagi, bahwa mereka tidak hanya sekedar liburan, tetapi karena akan melakukan hal yang lebih penting. Mereka akan melakukan kerjasama antar klan untuk melaksanakan upacara adat yang tidak bisa digagu-gugat. Dengan alasan ini, akhirnya walau masih banyak pemberontakan yang dilakukan Siera,  perlahan-lahan gadis itu berhenti dan menerima. Sedangkan Ken, ia yang tahu mengenai rencanan sebenarnya pun hanya diam dan pasrah saja. “Jadi, besok kita akan berangkat, lalu lusanya kita akan berjalan-jalan dan berekreasi dan setelah itu baru kita akan melaksanakan upacara.” Dengan ekspresi menyakinkan dan santai, Aoda mengatakan hal sedemikian rupa dan terdengar sangat menyebalkan di telinga Siera, tetapi gadis itu hanya diam saja karena sudah mau bernegoisasi agar ikut andil dalam liburan absurd ini. Ya, semoga saja akan menyenangkan dan membuat Sanosuke semakin sehat dengan udara desa yang asri. “Ya, kita akan bersenang-senang.” . . . Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD