Hela napas Takao terdengar di telinganya sendiri, setelah sekitar tiga puluh menit menjadi sandaran Siera, akhirnya gadis itu tertidur juga. Dengan perlahan, ia membenarkan posisi tidurnya, membaringkan di kasur dan menyelimutinya. Ia kini menandang wajah Siera, gadis itu terlihat damai ketika tertidur, padahal biasanya bertingkah barbar. Terkadang, Takao dapat menyaksikan sendiri igauan Siera, dan membuat lengannya ia gerakkan untuk mengusap-usap kepala Siera dengan perlahan agar kembali tenang. Ia lalu menatap Aoda dan Ken yang berada di ambang pintu, untuk hari ini, mereka menyudahi dulu mengenai percakapan tentang Kokoro no Yami. Aoda berkata, setelah ia menghubungi Hoshi, mereka besok akan berkumpul lagi untuk membicarakan hal yang sama. Semoga saja mereka bisa tepat waktu untuk memperbarui segel.
Ken mengeluh terang-terangan, pasalnya ia belum diizinkan untuk kembali bergabung dalam hal spektakuler ini. Aoda menyarankan agar dia membicarakan dengan neneknya dahulu, setelah diizinkan, barulah Ken dapat membantu proses penyegelan. Walaupun Aoda dan Takao juga berharap agar Kikyo mengizinkan hal ini, karena tentu saja kutukan iblis itu adalah ancaman yang besar.
*
Pagi hari, selama ia bangun dan sadar, ia merasa hal ta wajar terhadap dirinya sendiri. Ia seperti selalu diawasi dan diikuti. Belum lagi, terkadang ia mendengar suara-suara ganjil. Dan yang lebih aneh lagi, ia dapat mengerti apa ucapan suara-suara itu, padalah ia yakin kalau itu bukan bahasa yang ia mengerti. Siera bingung. Karena penasaran, ia pun terus mengikuti ke mana arah itu mengajaknya, dan ia melihat sesuatu di sana.
“Khuaa khuu hkuuhh.”
Siera memperhatikan sosok itu, seperti tengah berbicara kepadanya. Sunggu luar biasa karena ia sama sekali tidak takut dengan sosok yang kelihatan bagai aura hitam mengerikan. Mengajaknya pergi dan menjauh dari Takao dan Ken. Di sini, ia sendirian, di sebuah gedung tua yang sudah tak terpakai dan merupakan bekas ruangan olah raga. Ruangan itu sangat tidak terawat dan kelihatan menyedihkan, kolam renang yang airnya kosong dan sudah penuh lumut dan lumpur, serta peralatan-peralatan olah raga lainnya yang rusak dan tidak terurus.
Ia terus melangkah masuk, membiarkan sosok tersebut membimbingnya dan saat membuka lemari, Siera menemukan sosok anak perempuan yang menangis berada di dalam sana. Mulutnya disumpal kaos kaki dan tubuhnya diikat tali. Gadis itu terisak dan kelihatan ketakutan. Siera tidak mengenalnya, rambutnya panjang dan lurus hingga melewati pinggul, akhirnya Siera membantu gadis itu melepaskan tali-tali yang mengikat tubuh.
“Kau tak apa?”
*
Kedua pemuda berbeda karakter itu tengah kebingungan mencari Siera, mereka adalah Ken dan Takao. Setelah masuk sekolah, Siera langsung pergi ke toilet, dan yang mengherankan sampai sekarang gadis tersebut belum kembali juga. Tentu saja, mereka kebingungan. Keadaan Siera sedang lemah dan mudah dirasuki, itu yang dikatakan Ken dan membuat Takao meremas rambutnya sendiri karena tidak juga menemukan Siera.
Mereka pun berpencar, mencari dan berlari-lari seperti orang gila, kalau sampai kenapa-napa, mereka tidak akan memaafkan diri mereka sendiri.
Kedua pemuda itu lantas saling menghubungi via ponsel, napas mereka terengah-engah. Dan dengan bodohnya mereka tidak memanfaatkan teknologi yang ada. Terlalu panik jelasnya. Sekarang, mereka berjalan ke sebuah gedung tua bekas ruangan olah raga. Melangkah masuk, Ken dikejutkan dengan keadaan ruangan yang begitu memperihatinkan, seperti tempat uji nyali saja. Di tambah lagi, cukup banyak aura negatif di sini.
.
Tangan-tangan kecilnya masih mencoba membuka tali itu, gadis berambut hitam sepinggul hanya diam saja, wajahnya pucat sekali dengan air mata yang masih terus menetes dan kelihatan memeluk tubuhnya sendiri, seperti menggigil. Lantas, Siera langsung melepaskan jaketnya dan memakaikan kepada sang Gadis. Dengan tangannya yang lembut, ia mengelus-elus pelan kepala yang dipenuhi keringat.
Namun, saat mengelus kepala si gadis menyedihkan, Siera dikejutkan dengan adanya sesuatu yang lengket dan menggeliat di telapaknya. Lantas, Siera menarik tangannya dengan pelan dari kepala tersebut dan ia melihat telapaknya penuh dengan cairan kuning berbau busuk, serta belatung yang menempel.
Terkejut bukan main, Siera langsung mengibas kuat telapaknya. Ia tersendat, tubuhnya seketika bergetar ketika kembali menatap gadis itu, ia melihat kulit wajah sang Gadis telah terkelupas sebahagian dan belatung-belatung menggeliat di sana, kelihatan sudah membusuk dan teramat menyeramkan. Sosok tersebut kemudian menggapai-gapaikan tangannya dan kemudian berniat memeluk Siera. Membuka mulut, ia melihat si gadis mengeluarkan cairan hitam yang berbau sangat busuk.
“Sieraahh.”
Tiba-tiba saja, Ken berlari seperti seorang yang tengah kesetanan. Takao sendiri tercengang karena melihat temannnya itu semakin berlari kencang dan meninggalkannya. Tidak mau ambil pusing, ia lalu mengejari Ken dan ikut masuk semakin dalam ke gedung ini. Mata hitamnya melihat Ken yang sekarang mengguncang-guncang tubuh Siera yang berdiri mematung di depan sebuah lemari reot. Ia tentu saja keheranan.
“Siera-chan! Sadarlah!” Ken masih mengguncang-guncang tubuh Siera yang seperti membeku sambil berdiri. Tatapan gadis itu kosong.
“Ada apa, Ken?” Takao mendekat.
Mata Takao kian terbelalak karena merasakan tubuh Siera yang sedingin es.
“Dia sedang dibawa pergi, berada di dunia lain.”
Tentu saja, Takao semakin tercengang. Ia sama sekali tidak mengerti dengan hal seperti ini, matanya masih memperhatikan tubuh Siera yang kaku dan dingin dengan tatapan mata kosongnya. Persis seperti boneka porselen. Ia menarik napas, dan menutup kelopak dan ketika membuka mata, manik Takao telah berubah menjadi merah darah. Takao melihat tempat ini ternyata sangat ramai dan ia melihat ada seorang gadis berambut panjang tengah memeluk Siera.
“Kau melihat gadis itu, yang memeluk Siera?”
Menganggukkan kepala, Takao pun bergumana. Tidak terlalu mengerti bagaimana agar bisa melepaskan Siera dari pengaruh hal seperti ini, jika ini tentang segel, kemungkinan Takao bisa membantu, tapi tidak. Ia masih banyak belum tahu tentang kemampuan spiritual Klan Aoryu. Takao lalu menghitamkan kembali maniknya, jika terlalu lama, ia bisa kelelahan.
Sekarang, ia menyaksikan Ken yang memejamkan mata, tangan berkulit kemerahan milik lelaki itu tengah berada di dahi Siera, sepetinya ia akan mencoba menyadarkan Siera seperti waktu itu.
Dahi Ken mulai berkeringat, tentu, Takao tahu hal-hal berbau supernatural seperti ini sangat melelahkan. Apalagi Ken adalah seorang dengan kemampuan spesial, lelaki itu bisa melihat langsung sesuatu yang ghaib tanpa mata khusus sepertinya. Belum lagi perbenturan energi yang akan menyiksa lelaki itu. Seperti saat ia mengontrol Siera dengan segela mata dan darah, Ken hampir pingsan karena merasakan perbenturan energi.
*
“Siera-chan!”
“Siera-chan!”
Sayup-sayup, Siera mendengar seseorang memanggilnya. Matanya berkedip dan ia masih berada di pelukan gadis ini.
Hangat dan menenangkan. Seperti pelukan Takao. Batinnya Siera.
Mata Siera langsung terbelalak. Ia mengingat sekarang, kenapa bisa ada di sini? Ia mencoba melepaskan pelukan dengan paksa, tetapi ini sangat sulit. Saat bergelut dengan makhluk ini, tiba-tiba saja ada yang menarik Siera dengan kuat. Pandangannya mengabur dan berubah menyilaukan dan ia tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Ada sesuatu yang Siera dengar, seperti suara jantung dan napasnya sendiri.
“Siera!”
“Siera-chan!”
Tubuh Siera sekarang berada di pelukan Takao, sementara Ken tengah terduduk tanpa tenaga di lantai yang kotor, tubuhnya basah oleh keringat dan napasnya masih tersegal-segal. Ia lalu menghela dan mengusap wajahnya dengan sapu tangan. Manik birunya kembali menatap Siera yang masih belum sadarkan diri, tetapi keadaannya sudah normal. Kembali Ken memanggil nama Siera, sedangkan Takao kini memukul-mukul pelan wajah si gadis.
Matanya perlahan terbuka, dan menatap bingung Takao yang berada persisi di atas wajahnya. Saat ingin bangkit, Siera merasa lemas sekali, dan ia bahkan kesulitan untuk menggerakkan kepala.
“Kau sudah tak apa, Siera?”
Tidak ada jawaban untuk Takao, Siera hanya menatap dengan bingung lalu memendamkan kepalanya di d**a si lelaki. Mereka pun setuju untuk langsung pergi membawa Siera ke Unit Kesehatan Sekolah, Ken lalu mengambil jaket Siera yang tercecer di lantai, dan gadis itu sendiri kini tertidur dalam gendongan Takao.
“Aduh, lelahnya. Ta-chan, gendong aku juga, dong?”
Jawaban Takao hanya dengusan saja, dan membuat Ken mengeluh kuat. Tentu saja, lelaki maniak ramen itu masih kelelahan setelah berhasil memasuki alam lain yang menjebak Siera, dan memaksa gadis itu untuk ikut dengannya. Bahkan, baju Ken masih basah oleh keringat.
*
Di Unit Kesehatan Sekolah, Siera tertidur selama dua jam, sedangkan Ken tertidur selama tiga jam. Tidak ada sosok Takao di dalam sini, hanya ada Hoshi yang menemani adiknya. Setelah mendapat telepon dari Takao, ia langsung pergi ke sini dan ingin melihat keadaan adiknya. Gadis kesayangannya akhirnya bagun, dan menatap kakaknya dengan pandangan terkejut, tentu saja.
“Hai, Cantik.” Bibir Hoshi langsung tersenyum dan mengusap lembut rambut Siera.
Langsung saja pelukan diterima Hoshi dan ia hanya bisa terkikik geli karena melihat adiknya ini. Pandangan matanya lalu menatap lelaki satunya yang masih tertidur pulas. Karena heran melihat kakaknya yang bengong, Siera pun menatap arah pandang kakaknya itu, dan ia juga menatap Ken yang terlelap. Tentu saja dirinya juga bingung.
“Kak Hoshi.”
Takao masuk ke dalam ruangan, lalu menatap Siera yang masih memeluk kakaknya. Mata berbeda warnanya juga menatap Ken yang masih tidur terlelap.
“Siapa dia, Takao?”
“Uzukiro Ken, orang yang cocok.” Takao menyeringai dan membuat Hoshi terbelalak.
Ia tentu saja paham apa maksud Takao, dan ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan Uzukiro yang memiliki kemampuan khusus itu. Tanpa sadar, Hoshi tersenyum dan kembali menatap Ken.
Mengelus kembali rambut adiknya, ia kemudian melepaskan tubuh Siera yang berada di dekapannya dan berjalan menuju ranjang Ken. Memperhatikan wajah lelah lelaki yang masih lelap itu dan sekali lagi tersenyum hingga membuat Siera keheranan sendiri.
“Kenapa sih, Kak?”
Membalikkan badannya, Hoshi pun menatap Siera yang masih kebingungan dengan omongan aneh kakak dan temannya itu. Tentu saja, Siera adalah yang tidak tahu menahu dengan masalah ini merasa kebingungan. Setidaknya, hal ini masih dirahasiakan dari gadis di keluarga Harata.
Setelah selama tiga jam tertidur, akhirnya Ken terbangun. Ia merenggangkan tubuhnya yang masih lelah dan menguap lebar hingga mengundang tawa Siera. Saat duduk dan lebih memfokuskan penglihatannya, Ken terkejut dengan kehadiran orang asing di dalam ruangan ini.
Hoshi langsung mendatangi Ken dan mengajak lelaki maniak ramen itu untuk berkenalan. Mereka pun berbicara banyak hal sebagai awal basa-basi. Dan kemudian, Ken memulai sesuatu yang serius. Hal itu tergambar jelas dari raut jenaka Ken yang sekarang tiba-tiba berubah.
“Siera-chan, apa yang kaulakukan di gedung tua itu?” Ken menatap Siera dengan kedua mata indahnya yang sebiru lautan.
Awalanya, Siera terdiam. Ia kelihatan seperti mengingat-ingat sesuatu. Alis matanya berkerut dan ia pun menjawab apa yang ditanyakan Ken kepadanya.
“Aku mendengar suara, dia bilang ‘ikutlah denganku’, begitu,” jelas Siera, kemudian ia terdiam sejenak, kelihatan masih berpikir, dan melanjutkan ucapannya “dan ada seorang anak perempuan yang disekap di lemari, aku lalu menolongnya. Setelah itu, dia memeluku dan hangat seperti pelukan Kakak dan Takao. Ah, bagaimana keadaannya? Kita harus melaporkannya, Kak.”
Mereka terdiam, Ken masih memendang Siera dengan selidik. Yang ia tahu, sosok yang memeluk Siera itu memang mamakai pakaian sekolah mereka, tetapi wajahnya sangat mengerikan. Seperti makhluk astral pada umumnya. Dan Ken juga sempat berjengit ketika melihat makhluk itu menatapnya bengis karena mengganggu kebersamaannya dengan Siera.
“Ah, seperti itu. Kerja bagus karena telah menolong seseorang. Tetapi, aku juga baru saja datang, Siera. Aku tak tahu.” Hoshi hanya menjawan sekenanya saja.
Hoshi dan Takao tidak mengerti kenapa Ken kelihatan sangat serius. Yang bisa mereka lakukan hanya kontak mata dan seperti ingin mengetahui sesuatu. Setelahnya, Ken lalu bersuara kembali dan berdiri tepat di depan Siera.
“Siera-chan, kau jangan pernah ke gedung itu sendiri lagi. Dan jangan pernah ke mana pun sendiri. Ingatlah, kalau ingin mengunjungi suatu tempat atau mendengar apa pun itu, kau harus menghubungi kami terlebih dahulu.”
Ingin membicarakan sesuatu, Ken pun menatap Hoshi dan mereka menganggukkan kepala dan keluar dari ruangan, sementara Takao ditugaskan untuk menemani Siera yang masih tidak mengerti apa yang telah terjadi dengan dirinya.
Tatapan mata masih dihadiahkan Siera untuk Takao, dan ia mengerti kalau gadis ini sedang menanyakan sesuatu, ia hanya menghela napas dan menyuruh Siera untuk beristirahat kembali, padahal gadis itu sudah merasa lebih baik daripada saat pertama kali membuak mata.
Walau dengan bibir yang mengerucut, Siera tetap menuruti perintah Takao. Ia tiduran kembali dan sekarang hanya menatap ke arah atas, memperhatikan langit-langit ruangan. Sesekali matanya yang melirik ke arah Takao yang masih membenahi letak selimutnya. Ia mengerutu kembali, entah hanya perasaannya saja, tetapi mereka memperlakukannya seperti anak kecil.
“Aku sudah tidak apa-apa, Orang Aneh.” Takao hanya diam saja dan tidak mau menyahuti pancingan Siera. Bagaimana pun, gadis itu harus tetap istirahat kembali.
“Tidurlah!” Takao mengetukkan kedua jarinya—telunjuk dan tengah, di dahi Siera dan membuat gadis itu menguap beberapa kali. Tanpa Siera sadari, beberapa detik ia telah memandang mata semerah darah Takao dan membuatnya tertidur.
Di luar ruangan, Hoshi dan Ken saling berbicara mengenai Siera dan hal-hal aneh yang terjadi. Ken benar-benar tidak terlalu mengerti kenapa kakaknya Siera ini tidak memberitahu masalah sebesar ini kepada Siera, seharusnya sejak awal gadis itu sudah diberitahu kalau di dalam tuhunya ada kutukan yang melibatkan iblis. Dan Kokoro no Yami itu bukanlah hal kecil.
Kemarin, Ken telah berbicara banyak hal dengan neneknya mengenaik sejarah Aoryu, Harata dan Yakumo, serta tentang iblis yang melibatkan tiga klan tua di Jepang. Tak lupa permasalahan kutukan Kokoro no Yami yang dijatuhi kepada anak perempuan Harata. Walaupun sekarang kutukan itu telah disegel, tetapi nyatanya karena waktu yang terus berjalan, membuat perlahan segel itu semakin melemah dan membutuhkan bantuan Aoryu, Harata, Yakumo atau Uzukiro terpilih untuk memperbaiki segel. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh Uzukiro terpilih dan itu adalah dirinya sendiri. Ken sangat bersyukur karena ternyata neneknya mengizinkan, tidak seperti apa yang dibayangkan Aoda dan dirinya.
Lalu, Ken menyarankan agar hal besar ini juga diketahui oleh Siera, bagaimana pun mereka akan melibatkan Siera dan seharusnya adalah sangat berhak bagi gadis itu untuk mengetahui kebenaran tentang dirinya sendiri.
Menghela napas, Hoshi masih berpikir, sejak dulu ia selalu bilang kalau hal-hal aneh yang ada pada diri Siera adalah pelindung gadis itu. Jadi, sekarang ia kebingungan sendiri bagaimana cara untuk memberitahukan hal ini kepada adiknya. Pasti Siera sangat syok berat, mana ada manusia yang mau dirinya dinyatakan jelmaan iblis. Hoshi merasa keringat mulai menuruni dahinya dan napasnya mulai terngah-engah sendiri. Ia kebingungan. Siera adalah adik kesayangannya, ia tidak ingin melukai perasaan gadis itu.
“Kita harus tetap memberitahukan hal ini, Kak. Siera berhak tau. Ini bukan hal sepele, dan kita harus menerima apa pun nanti yang terjadi kepada Siera. Dan yang terpenting, dia harus tau dan menerima mengenai keberadaan iblis itu yang ada di lubuk hatinya yang terdalam.” Ken menatap Hoshi, ia tidak peduli. Kalau Siera tidak diberi tahu, maka perbaikan segel ini tidak akan bisa dilakukan. Mengingat, Siera harus sadar penuh atas kontrol dirinya, dan gadis itu bukanlah bayi seperti dulu lagi.
Sosok dari jiwa yang kelam itu, harus mereka segel agar tidak menganggu kehidupan Siera lagi.
.
.
.
Bersambung