Saat hati telah terlepas dari sedikit beban karena mengutarakan masalah dan apa yang dirasa kepada sang Sahabat tersayang, maka untuk sekarang ini ia bisa bernapas lega. Gejolak kegundahan perlahan terkikis sudah, wajahnya yang cantik kini kembali menjadi ceria, senyum menawan menghiasinya. Harata Siera, sekarang terlihat bersemangat saat ia kembali ke kediaman keluarga.
Saat berpapasan atau sengaja mengajak ngobrol Sanosuke, Siera merasa ada yang aneh dan berbeda dari sang Kembaran. Biasanya, lelaki itu selalu ada untuknya dan mau menemani ke mana pun ia ingin, tetapi beberapa hari ini Sanosuke seperti bukan dirinya saja. Tentu, menyadari tingkah Sanosuke yang di luar dari kebiasaan pemuda itu, membuatnya khawatir dan kesal juga.
Malam ini bulan sedang penuh dan bersinar terang, purnama bertengger di langit malam dengan dihiasi bintang-bintang. Jikalau banyak orang menyukai fenomena tersebut, maka lain halnya dengan Siera, bukannya bisa menikmati anugerah Tuhan, ia malah sangat benci akan hal itu.
Sudah jatuh, tertimpa tangga, tersiram cat pula. Mungkin itulah ungkapan yang cocok untuk Siera sekarang. Sudah bulan purnama dan pastinya selalu berwujud aneh dan menakutkan, ibunya semakin histeris dan tidak mau bertemu dengannya, ditambah lagi Sanosuke yang seperti menghindar dan tidak mau berbicara. Siera menjadi kesal sendiri, hingga ia memutuskan untuk menemui Sanosuke, kembarannya itu sedang berada di kamar.
Membawa boneka panda hadiah dari Hoshi saat dia berulang tahun dahulu, Siera berjalan perlahan dalam diam, sambil mengerutkan alisnya, mencoba menjaga tapak demi tapak agar kakinya tak mengeluarkan suara.
Pintunya tidak dikunci. Batin Siera senang.
Kepalanya mengintip masuk, sedangkan badannya masih di luar pintu. Siera memperhatikan saudara kembar bertampang dingin itu, kemudian sorot matanya menyisir ke dalam kamar Sanosuke.
"Tok ... tok ... tok! Ada orangnya tidak, ya?" gadis berambut merah dengan bola mata berwarna sama—untuk saat ini, kini bersuara nyaris berbisik.
Mengerutkan alis dan menatap sang Kakak yang sepertinya tertidur di ranjang, ia pun membuat keputusan dan membuka pintu perlahan agar tak menimbulkan suara. Mulai melangkah dengan berjinjit-jinjit, menghalau suara tapak kakinya dan semakin mendekati sosok lelaki. Wajahnya ia miringkan, saat tersenyum memperhatikan Sanosuke. Naik ke atas tempat tidur dan duduk bersila menghadap sang Pemuda, sambil memeluk boneka panda kesayangan.
"Sanosuke, bangun!" tubuh pemuda berusia tujuh belas tahun digoyangkan dengan cukup pelan beberapa kali, suaranya yang sengaja diintonasikan rendah sepertinya tak terlalu berpengaruh bagi Sanosuke.
"Engg!" beberapa saat setelahnya, saudara kembarnya itu pun terbangun, desah suara dapat didengar Siera. Tidak terlalu jelas apa yang dikatakan, tetapi beberapa kali Sanosuke sempat membuka mata.
"Sanosuke?"
Mata si lelaki kembali mengerjab beberapa kali, memfokuskan atensi kepada satu-satunya tamu yang datang tanpa diundang ini, kemudian mengernyitkan alis karena merasa tidurnya sudah diganggu. Belum lagi suasana hatinya cukup tak baik belakangan ini, apalagi Siera datang ke kamar di situasi yang tak tepat, kekesalan langsung menghujam kepala dan dadanya.
"Apa yang kaulakukan? Pergilah! Aku ingin tidur." Dengan raut datar dan suara yang dingin menusuk, Sanosuke mengakatan hal itu kepada Siera. Meski begitu, sepertinya sang Gadis sudah cukup kebal dengan sifat kakak kembarnya yang sangat berlawanan dengannya, tak banyak omong dan dingin.
Mengembungkan pipi karena agak kesal, tetapi nyatanya kerinduan lebih mendominasi Siera karena ingin terus bersama Sanosuke. Maka dari itu, ia malah meletakkan tubuhnya untuk tiduran di sebelah Sanosuke. Tangannya yang cukup panjang menggapai boneka beruang yang berada di pelukan kakak lelaki, kemudian memeluknya dengan erat.
"Ck." Kekesalan Sanosuke yang belum hilang pun bertambah.
"Hei, mau ke mana?" Sanosuke bangkit dari tidurnya, Siera yang menyadari langsung duduk dan bertanya bingung.
Laki-laki itu tetap membungkam mulut, kakinya melangkah menuju kamar mandi, menutup pintu agak kuat dan menguncinya dari dalam.
Beberapa saat Siera terdiam karena menunggu Sanosuke yang belum keluar juga dari kamar mandi, menghela napas dan merasa bingung karena melihat kelakuan kembarannya itu. Saat pintu terbuka dan menampilkan sosok yang ditungguinya, gadis itu tetap tak mendapatkan respons baik meski telah tersenyum lebar. Malahan, ia kembali diusir oleh sang Empunya kamar.
"Kau kenapa? Selalu mengusirku dan tidak mau bersamaku lagi, kau berubah." Tentu saja, Siera yang kesal akhirnya terpancing juga, gadis itu menekukkan alis dengan bola mata merah yang membeliak marah. Sudah mencoba bersabar, tetapi masih mendapat respons yang jelek juga.
Respons tetap tak banyak ditampilkan dari wajah Sanosuke setelah mendengar pertanyaan dan pernyataan adik kembarnya, pemuda itu malah mendengus dan menyeringai, menatap Siera dengan pandangan mata dingin.
"Berubah, eh? Kata-kata itu, kukembalikan untukmu." Sanosuke membuka kaus yang dikenakannya, laki-laki berusia sama dengan Siera sekarang mencampakkan kaus ke sembarang arah, menunjukkan bahwa dirinya sedang dalam perasaan yang buruk untuk diajak berdebat. Namun, adik kembarnya itu terlihat tak terlalu mengerti dan terus mendebatnya.
"Kau kenapa, sih? Tidak seperti biasanya. Tidak asik, tidak seperti Ken." Tidak peka terhadap ketegangan yang ditimbulkan, Siera pun terus mengoceh dan membandingkan sang Kakak dengan sahabatnya. Ikut merasa kesal juga karena melihat Sanosuke yang seperti malah menyalahkannya.
Tangan Sanosuke mengepal, ketika dirinya mendengar sang Adik menyama-nyamakan dengan salah satu rekan kelas yang berusaha terus mendekati Siera. Ia teramat tak suka Siera terlalu akrab dengan rekan siswa di kelas mereka, dan sekarang Siera malah mengatakan hal sedemikian? Menolehkan wajah dan menatap Siera dengan dingin, dirinya pun mengatakan sesuatu.
"Aku tidak suka ... disamakan dengan sampah seperti dia." Sanosuke tak peduli, walau mengatakan hal cukup kejam terhadap rekan kelasnya.
Tentu Siera terperangah, ia tidak mengerti kenapa Sanosuke bersikap aneh seperti ini, dan lagi pemuda itu malah menghina sahabatnya. Sanosuke kenapa tega melakukan hal itu? Keterlaluan sekali, walau dirinya dan Ken tidak lama bersahabat, tetap saja ia tidak suka jika Ken dicela seperti ini.
"Kenapa jadi menghina Ken? Itu memang kenyataan, kau tidak menyenangkan. Dasar panda jelek." Berteriak, ia pun berdiri dan melempar wajah Sanosuke dengan boneka beruang. Ia hendak menuju ke kamarnya, ingin menghentikan omongan tak penting ini, juga meredakan kekesalannya.
Belum sempat membuka pintu, lengan Siera dicengkeram Sanosuke, gadis itu tertarik ke arah pemuda yang berdiri kokoh di depan wajahnya. Bibir Siera masih mencebik tajam, marah kepada saudara lelakinya, apalagi tak ada tanda penyesalan tergambar pada mimik Sanosuke. Hingga membuatnya tambah kesal.
"Apa saja?" tanya Sanosuke ambigu.
Tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan sang Kembar, Siera pun mengernyitkan alisnya bingung.
"Yang sudah kalian lakukan, apa saja?" tambah Sanosuke dengan suara menggeram, tetapi masih coba ditahan untuk tak meneriaki Siera. Dirinya memang teramat protektif kepada sang Adik, belum lagi sifat posesifnya terkadang muncul, seperti saat ini. Tidak suka Siera tak bergantung kepadanya atau menjadi dekat dengan lelaki lain.
"Apanya? Sebenarnya kenapa, sih? Sanosuke sangat aneh." Walau sedang marah, nyatanya gadis itu juga khawatir dengan perubahan yang dialami Sanosuke. Iris merah menatap sang Pemuda yang juga memandanginya dengan dalam.
Melihat adiknya yang juga tak mengerti dan tak peka, Sanosuke menarik napas dengan kesal, sebelum mengutarakan kemarahan yang bersarang di dadanya.
"Siera, aku tidak suka kau disetuh oleh lelaki itu! Apalagi sampai berpegangan tangan, saling membelai, bahkan berpelukan. Aku tidak suka! Jadi, jangan dekat atau berteman dengannya lagi." Ada nada penekanan di beberapa kata yang diucapkan Sanosuke, dia masih membelenggu tangan Siera, hingga sang Adik tak bisa melarikan diri dari percakapan ini. Namun, Siera tentu mulai mengetahu ke arah mana percakapan Sanosuke dan mulai bertanya dengan nada takut-takut. Bagaimanapun, wajah Sanosuke sekarang ini terlihat mengerikan, khususnya bagi Siera sendiri.
"Ma-maksdunya, Ken?" terbata. Awalnya ia terlihat bingung dan takut, tetapi beberapa saat kemudian alis Siera mengernyit karena ia tak bisa menoleransi hal ini, lagi pula Ken adalah sahabat yang baik. Jadi, tuduhan Sanosuke benar-benar tak berdasar dan hanya memandang dari satu pihak saja.
"Kau ini apa-apaan, Sanosuke? Aku tidak melakukan apa pun dengannya, dan jangan mengaturku seenaknya. Lagi pula, Ken sudah kuanggap sebagai kakakku juga." Tidak mau mengalah, Siera pun menaikkan volume suaranya, lagi pula dirinya sudah cukup umur untuk memahami apa yang benar dan salah. Ia tahu dirinya adalah bungsu di keluarga ini, dan berhak untuk dinasihati, tetapi ia tak suka dengan cara seperti ini. Sanosuke selalu bersamanya, tetapi sifat Sanosuke yang sekarang teramat berbeda dan tak seperti diri pemuda itu.
Dahi Sanosuke mengernyit, ia tak suka pembelaan Siera terhadap rekan mereka yang terkenal selalu berisik.
"Jangan seenaknya menganggap orang asing sebagai keluarga. Aku tidak bisa menerimanya."
"Ken itu adalah orang baik, jangan seenaknya berpendapat! Lagi pula, kami hanya berteman, dan aku senang jika bisa akrab dengannya. Aku—" kata-kata Siera dipotong oleh bentakan Sanosuke.
"Aku tidak suka, Siera! Atau akan kulaporkan kepada Hoshi jika kau berbuat tidak senono di sekolah dengan lelaki sialan itu." Sanosuke mengancam, laki-laki itu benar-benar terbutakan oleh perasaan kesal dan iri karena melihat keakraban Siera, tak pernah dilihatnya sang Adik sebegitu dekat dengan orang lain selain dirinya, apalagi orang itu adalah laki-laki.
"Aku tidak pernah melakukannya! Kami hanya teman dan kau jangan seenaknya memfitnah! Aku tidak akan—"
"Jangan pancing aku untuk menghajarnya karena berani terus-tersusan memperdayamu. Kauingin, eh?" pemuda yang adalah kembaran Siera menatap dingin, dengan seringai yang mengembang, hingga membuat Siera gemetar karena kemarahan juga rasa takut yang tiba-tiba membelenggunya.
Mata beriris merah mulai berkaca-kaca, ingin menyudahi semua ini.
"Kau jangan berbuat yang tidak-tidak! Hhhahh ... hahh ... aku benci kau! Dasar jahat!" gadis itu berteriak, dengan air mata yang turun ke pipi.
Siera menghentakkan tangannya kuat, hingga terlepas paksa dari cengkeraman Sanosuke, kemudian berlari keluar dan memasuki kamarnya dengan pintu yang ditutup kencang, dan menimbulkan bunyi ke seluruh ruangan. Mengatur napasnya, menggigit bibir karena rasa sesak di hati. Tubuh lelahnya langsung ia dudukkan di atas ranjang, menekukkan kaki dan menjatuhkan kepala pada lutut. Isak kecil keluar dari bibir, ia gemetar dan dalam hati terus mengucapkan kata benci kepada sang Kakak.
Tanpa disadarinya, Siera menggumam pelan.
"Aku benci Sanosuke."
*
Jika setetes air mata mengalir di wajahnya, dan ada kebencian yang kuat di hatinya. Walau itu hanya sedetik maka aku akan menguasainya. Jiwa dan raga. Aku akan tumbuh bersamanya dan menjadikan dirinya sebagai diriku.
"Kebencian adalah kelemahan dari segel dari kutukan Kokoro no Yami, kebencian adalah pusat dari sang Iblis bersarang di tubuhnya." Takao bergumam membaca buku tebal yang berhasil disalinnya.
Buku tua yang disembunyikan di perpustakaan rahasia yang berada di kuil keluarganya. Buku tentang kutukan iblis dan sudah terjadi hampir lima belas abad lalu.
Buku yang membicarakan tentang segel dari Iblis Yamata no Ryu.
*
DEG.
Detak aneh menyentak d**a.
Mata beriris merah terbelalak, aura kuat hitam mengelilingi tubuhnya dengan liar. Sang Gadis yang tadinya menangis, kini berekspresi kosong bagai tubuh tanpa jiwa
*
Purnama adalah kelemahan segel, akan semakin melemah dan melemah sampai akhirnya segel itu terhapus dan membangkitkan-Nya. Klan Aoryu dan Harata lah yang bisa menghentikan amukan Yamata no Ryu, dan Klan Uzukiro yang akan menyempurnakan penyegelan. Sementara itu, hanya Aoryu terpilihlah yang akan menjaga segel dengan mata dan darahnya.
Takao menaikkan sebelah alisnya karena membaca kalimat terakhir.
"'Mata, aku mengerti maksud itu. Lalu, darah, apa maksudnya?"
*
"Grrrrrrr! Graaaaaarrrr !"
Tubuh Siera penuh dengan aura hitam keunguan yang mengelilinginya, kuku-kuku jarinya meruncing panjang seperti pisau dan berwarna hitam pekat. Pupil matanya yang merah bersinar dan gigi taring yang tajam menghiasi bibir hitamnya. Sementara itu, kulit mengelupas menjadi berwarna kemerahan seperti terbakar, ular-ular jelas terlihat dengan kilat kehitaman mengelilingi tubuhnya.
Perubahan itu terjadi, gadis yang seharusnya memiliki rambut kecokelatan, kini menjadi merah pekat dan terlihat mengerikan. Siera lepas kendali, segel itu terbuka karena setetes kebencian yang sempat hinggap di hati, hingga menampilkan jejak-jejak tato segel yang kian menghilang.
Kutukan dari iblis Yamata no Ryu, kini mengendalikan satu-satunya keturunan perempuan Klan Harata yang terlahir ke dunia. Harata Siera tengah mengamuk, akan memusnahkan siapa saja yang dilihatnya.
"Arrrgggg!" auman dari bibir yang terbuka lebar hingga mengoyak pipi, suara menggelegar itu memekakkan telinga hingga menimbulkan gema.
Tak hanya kamar Sanosuke yang jelas mendengar kebisingan tak wajar itu, seluruh penjuru rumah pun dikuasai auman sosok Siera yang mengerikan.
Khawatir dengan keanehan yang terjadi, Sanosuke datang dengan berlari, napasnya terengah dengan mata terkejut dan dahi mengernyit. Keringat membasahi tubuh, menandakan ia begitu ketakutan dengan sesuatu yang didengarnya, ia kemudian menggunakan tenaganya untuk mendobrak pintu kamar Siera. Khawatir dengan adiknya, membuat ia tidak bisa berpikir jernih, tidak berhasil, ia kemudian mengambil kunci serep dan membuka pintu.
Mata Sanosuke seketika terbelalak tak percaya, bibirnya terbuka kelu, melihat sosok sang Adik terlihat menyedihkan. Napas Sanosuke terengah-engah, air mata menggenang, rasa sesal dan sesak dirasakan karena melihat saudara kembar tercintanya menderita.
Mengambil tindakan cepat, Sanosuke berkonsentrasi dan mengeluarkan kemampuannya untuk menghentikan dan memperbaiki segel Siera.
Mengumpulkan kekuatan spiritual, cahaya hijau keluar dari telapak tangannya, kemudian lelaki itu membelenggu sang Adik dengan energi spiritualnya. Ingin menghentikan pemberontakan gadis itu, ingin memperbaiki segel walau ia tahu dirinya tak mungkin bisa sehebat Hoshi. Sanosuke hanya ingin berusaha mengembalikan saudara kembar kesayangannya.
"Arrrgggg!"
Iblis itu melawan, menyentak penghalang yang mengikat pergerakan, dan menghancurkan energi spiritual dirinya. Akibatnya, Sanosuke pun terpental karena tidak bisa menahan aura iblis yang begitu menekannya.
Tak mau mengalah dan terus berusaha, sekali lagi Sanosuke melakukan hal yang sama, napasnya terasa putus-putus karena tenaga yang perlahan terkuras begitu banyak. Adik kembarnya, kenapa ia tak bisa berguna untuk mengusir iblis itu? Kenapa harus adiknya yang mengalami hal ini?
Terkejut, pergelangannya digenggam dengan tangan berkuku runcing yang tiba-tiba memanjang, ditarik kuat dan dihempaskan secara mengerikan. Sanosuke yang awalnya berusaha menahan, akhirnya terlempar ke arah cermin hias.
Bunyi pecahan kaca terdengar nyaring, semakin memperparah situasi yang terjadi di sini.
"Ugh!" Sanosuke terjatuh dengan punggung terluka dan tertancap pecahan kaca yang telah menjadi puing-puing, beberapa menempel di tangan, kaki dan wajah.
Darah menghiasi lantai, tubuh kembar sulung itu bergetar karena menahan sakit. Ia telungkup di lantai, kemudian mengangkat kepalanya, napasnya terengah-engah karena kehabisan tenanga. Dahi itu kembali mengerut, menatap Siera yang berwujud iblis, mengaung bak hewan buas. Terlihat menderita. Namun, ia harus tetap menghentikan iblis itu sebelum segelnya terhapus.
Ia tak akan membiarkan Siera kehilangan jati diri karena Yamata no Ryu berhasil mengambil tubuh Siera. Belum terlambat. Tak akan ia biarkan.
Tak semudah itu karena nyatanya yang diterima Sanosuke ketika berdiri untuk menyadarkan adiknya adalah kuku-kuku tajam Siera yang menusuk perutnya.
.
.
.
Bersambung