7. Di Rumah Takao

2602 Words
Baru saja tiba di rumah, suara ribut-ribut sudah mengalihkan atensi Hoshi yang awalnya kelihatan lelah dan masih berbincang dengan sahabatnya. Alis matanya mengerut dalam, bola mata terbelalak ketika menyadari sesuatu, Hoshi pun berlari dari ruang tamu menuju kamar Siera yang ada di lantai dua. Ia kemudian masuk ke kamar dan terheran melihat kekacauan di sana.Ketika mengalihkan pandangan ke sisi lain, dirinya syok karena melihat sosok sang Adik terlihat mengenaskan. "Sanosuke," berbisik, Hoshi tak kuasa untuk mengeluarkan suaranya saat pandangan matanya mengunci sosok yang dipanggilnnya itu. Jantungnya bedegub kencang karena melihat keadaan sang Adik, Hoshi pun tak ingin menunda lagi dan membelenggu Siera dengan energi spiritualnya. Kekalutan terlihat jelas di wajah Hoshi, keringat mulai menjalari tubuh dan napasnya terengah-engah karena situasi yang tak pernah dibayangkannya kini terjadi. "Aoda, tolong lepaskan Sanosuke dari kuku yang menancap di perutnya!" Hoshi panik bukan main, beruntung karena ia membawa Aoda ke rumahnya ini. Aoda yang sudah mengubah warna mata yang awalnya kelam, menjadi merah bak darah dan bersinar terang. Melepaskan Sanosuke dari kuku yang menancap, sementara Siera masih terbelenggu dengan energi spiritual dari sahabatnya. Sanosuke yang baru ia selamatkan sudah tak sadarkan diri, perut hingga belakang punggung baru saja tertembus kuku dari jelmaan iblis. Ia meletakkan tubuh Sanosuke di pangkuannya, mencoba melakukan pertolongan pertama kepada adik dari sahabatnya itu. "Hoshi, sebaiknya kau bawa Sanosuke ke rumah sakit. Kau tidak memiliki cukup kekuatan, aku yang akan menahannya dengan kekuatan spiritualku. Jika hanya sekitar sepuluh menit, mungkin aku bisa, Takao sedang menuju ke sini, tadi aku sudah menghubunginya." Aoda mulai berkonsentrasi, meningkatkan energinya dan akan menggantikan Hoshi untuk membelenggu tubuh Siera. Yang digunakan Aoda adalah kekuatan spiritual berbentuk aura kuat, tak mudah mengendalikan kekuatan sebesar ini, tetapi jika hanya beberapa saat mungkin ia bisa. "Baiklah, akan kuserah—" ucap Hoshi terpotong karena ibunya datang dan berteriak histeris. "Apa yang? HUAAA! Iblis itu membunuh anakku, Sanosuke. Argggg!" Tak ingin menambah parah apa yang sudah terjadi, Aoda bergerak cepat untuk membuat Mieko pingsan, lalu ia membawa perempuan paruh baya itu ke kamar tidurnya dan mengunci pintu, tak ingin wanita itu sampai mengganggu situasi sulit yang coba mereka kendalikan. Menganggukkan kepala, Hoshi pun bertukar peran dengan Aoda, lelaki Aoryu itu berteriak hingga aura kuat merah mengunci pergerakan Siera dengan belenggu yang mengelilingi tubuh si gadis. Aura merah memenuhi kamar Siera, sesuatu yang terlihat kuno dan berbahaya kini dikendalikan Aoda, kekuatan spiritual lelaki Aoryu itu semakin meningkat dengan drastis. Sudah menjadi sebuah rahasia bagi klan Aoryu yang bisa mengendalikan kekuatan kelam, tetapi bayarannya juga teramat berbahaya. Jika salah langkah maka Aoda akan terbunuh dan terpenjara bersama iblis di dunia astral. Melihat situasi yang mulai dikendalikan, walau Aoda terlihat bersusah payah, Hoshi pun membopong adiknya dan lekas menuju ambulan yang telah datang. Membawanya ke rumah sakit adalah prioritas lain yang harus mereka lakukan. Beberapa saat setelah kepergian Hoshi, dari arah pintu kamar, Takao muncul dan langsung memanggil kakaknya, melihat situasi cukup menyulitkan karena perbenturan energi yang besar. Cukup mudah bagi Takao menemukan kamar Siera, tentu saja auman gadis itu sangat membantunya. "Aoda! Segel dari Yamata no Ryu, lepas?” tercengang, Takao pun mulai mengkonsentrasikan diri. "Takao, cepatlah. Gunakan energimu untuk kembali memperbaiki segel, walau tidak akan sempurna kalau bukan Klan Uzukiro yang melakukannya, setidaknya bisa bertahan untuk sementara waktu sebelum kita menemukan Uzukiro yang cocok." Itu adalah kekuatan mata khusus untuk memanipulasi sesuatu, termasuk untuk menyegel iblis atau ingin bersekutu dengan makhluk dari dunia lain, setiap Aoryu yang terpilih memiliki kemampuan ini, akan mempunyai ciri khas mereka dan berbeda di tiap masing-masing pribadi. Lelaki itu pun mengubah mata kelamnya yang berbeda warna menjadi merah, mata itu dihiasi bintang segi enam berwarna terang dan bak rubi. Darah segar keluar dari mata Takao dan menetes melewati pipi tirusnya, Takao mendekatkan diri ke hadapan wajah Siera yang berusaha melepaskan diri dari aura kuat Aoda. Menatap ke arah mata Siera yang berwarna merah dan ia pun menggumamkan sesuatu. "Fuin.” Gadis Harata itu pingsan setelah mereka berhasil mengaktifkan kembali segel, dan karena ibu si gadis telah terbangun dan berteriak histeris ketika melihat Siera, maka Aoda yang akan menenangkan Mieko dan Siera dibawa pulang ke rumah keluarga Aoryu oleh Takao. Mengehal napas, Takao menatap tubuh Siera yang masih belum sadarkan diri, alisnya berkerut bertanda bahwa ia tengah berpikir, apa yang menyebabkan gadis ini tertetesi kebencian? Apa yang menyebabkan Siera kehilangan kekuatan segel di tubuhnya?  Malam kian larut, bersama sebuah mobil yang membelah jalanan sepi. Tak tahu saja, bahwa ikatan permainan takdir antara Takao dan Siera pun dimulai sejak saat mata dan darah menghentikan sang Iblis. * Aoryu akan menjaga segel dengan mata dan darahnya. Hanya Aoryu terpilihlah yang bisa menjaga dan memilindunginya. Sang Jelmaan Iblis dari perempuan Harata yang dilahirkan. * Bingung, itulah hal pertama yang sekarang dirasakan Siera. Menyadari baru saja terbangun dari tidur dan langsung merasa heran ketika menemukan tubuhnya tidak di kamar seperti biasa—tentu saja kamarnya yang bernuansa merah muda, sangat berbeda dengan ruangan yang sekarang ditempatinya. Kamar ini bernuansa biru muda dan ada lambang bendera Spanyol di dinding. Tidak mengerti apa yang tengah terjadi kepadanya, seingatnya kemarin ia bertengkar dengan Sanosuke, kemudian menangis di atas ranjang sambil memeluk lutut dan jatuh tertidur begitu saja. Hanya itulah yang bisa ia ingat. Mengembuskan napas, bola matanya kini menatap sekeliling, menggerakkan tubuh dan mencoba mencari informasi tentang keberadaannya. Menekuk wajah masam dan bertanya-tanya, kenapa pula dia bisa ada di kamar ini? Siapa yang membawanya? Suara derit pintu ketika terbuka menandakan seseorang masuk ke kamar yang ditempati Siera sekarang, gadis itu mengernyitkan alisnya bingung, merasa tak mengenal sosok wanita paruh baya yang mendekatinya. Walau sudah berusia di atas lima puluhan, wanita berambut panjang yang diikat rendah itu teramat cantik, wajahnya anggun dengan hidung kecil mancung dan alis mata hitam rapi. Bibirnya seperti buah persik yang baru matang, dan paras wajahnya mengingatkan Siera dengan seseorang. "Ah, selamat pagi. Bagaimana keadaanmu? Apa sudah baikan, Nak?" tersenyum, wanita itu membelai kepala Siera. Benar-benar cantik jika dari dekat. Siera melebarkan matanya untuk memperhatikan dengan saksama, apalagi masih tidak bisa mengingat tentang bagaimana ia bisa sampai ke tempat ini, hingga ia pun melamun karena berpikir-pikir. "Ah? Itu," berucap dengan terbata ketika menyadari pertanyaan tadi, Siera menatap sang Wanita dengan sorot keraguan. Wanita paruh baya itu bernama Mayumi, dan ia mengembangkan bibirnya karena memahami apa yang tengah dipikirkan gadis manis ini. Tentu saja berada di kamar orang asing dan bertemu dengan orang asing pula adalah sesuatu yang pasti mengganggu pikiran si gadis sejak tadi. Untuk menenangkan Siera, sang Wanita paruh baya kembali beramah tamah dan membuat wajahnya terlihat lebih lembut serta keibuan. "Kau pasti bingung, ya? Aku adalah ibunya Ta-chan, panggil saja Bibi Mayumi. Lalu, siapa namamu, Nak?" Tutur kata Mayumi amat halus dan menyejukkan hati, membuat Siera merasanya nyaman seketika. Apalagi keramahan sangat ketara tersorot dari bola matanya, wanita yang mengaku bernama Mayumi itu pun memberikan Siera segelas teh, menyerukan kepadanya agar pelan-pelan meneguk karena masih cukup panas. Sambil menyesab teh, Siera kembali berpikir tentang pernyataan sang Bibi, siapa pula Ta-chan? "Aku adalah Harata Siera, Bibi. Salam kenal. Lalu,  itu... Ta-chan itu... si-siapa, Bibi?" sebenarnya Siera merasa agak sungkan, tetapi untuk mendapatkan jawaban dari rasa penasaran, dirinya pun nekat bertanya. Wanita itu melebarkan matanya, mungkin sedang menebak gerangan apa yang membuat Siera tak mengenal teman sekelasnya sendiri. "Bukannya kalian teman sekelas? Maksudku, Ta-chan, dia adalah Aoryu Takao-chan." "Ppfff ... Ta-ta-chan?" Telapak tangan Siera langsung menutup mulutnya, ia menahan tawa seketika mengetahui siapa orang di balik nama kekanakan itu. Tidak disangka, kalau lelaki berwajah horor seperti Takao dipanggil seimut itu oleh ibunya. Oh, Tuhan... izinkan Siera untuk memanggil Takao dengan suffix yang sama seperti ibunya di sekolah nanti. Kita lihat bagaimana ekspresi lelaki sok keren itu. "Ekhem... iya, Bibi, kami teman sekelas hehe. Itu, terus kenapa aku bisa berada di sini?" tatapan mata Siera kembali menunjukkan rasa penasaran. Apa Takao yang membawanya ke sini, tetapi untuk apa? "Hmm... Ta-chan yang membawamu ke sini. Ahh, Ta-chan, kau akhirnya sudah pulang, Nak." Mayumi memekik heboh ketika Takao memasuki kamar bernuansa biru muda ini, dan lelaki bungsu Aoryu tersebut hanya mendelik horor ketika mendengar sang Ibu memanggilnya dengan nama terlewat imut dan membuat Siera tertawa tertahan seperti sekarang. Ck, di depan Siera pula. Batin Takao kesal. Ahh... itu sungguh lucu sekaligus memalukan untuk Takao, apalagi melihat raut wajah lelaki itu yang seketika menjadi sebal. Dia pasti sangat  tersiksa. Dalam benak, Siera berkata dengan tawa menyeramkan. Khu khu khu. Benar 'kan? Aoryu Ta-chan ini sok keren, bahkan terhadap keluarganya, dasar. Cukup lama terdiam karena sedang melihat interaksi Takao dengan ibunya, akhirnya Siera tersadar saat Mayumi mengatakan sesuatu yang melibatkan dirinya. Namun, itu bukanlah hal yang baik menurut Siera. "Sekarang, sebaiknya kaujelaskan kepadanya, kenapa kau membawa 'pacarmu' ini kemarin malam dalam keadaan pingsan?" mendengar ucapan Mayumi, langsung membuat kedua mata Siera terbalak dan mulutnya menganga. What the.... "Pa-pacar? Semalam a-aku pingsan? Kau menculiku, ya?" Siera kebingungan, ia tergagap dan kemarahan seketika menjalar ke seluruh tubuhnya, kepalanya memanas. Siera berkata nyaris dengan teriakan sambil menunjuk jarinya tepat di depan wajah Aoryu Takao. "Hei! Hei! Jangan bertengkar, haduh! Masalah anak muda yang lagi kasmaran... sebaiknya kutinggal dulu, ya. Akan kubuatkan makanan." Mayumi melangkah keluar sambil tersenyum penuh arti tanpa memedulikan Siera yang memekik tidak terima dan Takao yang mendecak sebal atas ulah sang Ibu yang seenaknya itu. Setelah pintu kamar ditutup Siera pun menatap Takao dengan sangar. Seolah tatapannya bisa membakar rambut si pemuda. "Apa yang kaulakukan padaku, Ta-chan?" Siera berkata dengan nada rendah berbahaya. Mendengar panggilan itu, tentu saja Takao mengerutkan kedua alisnya, tak terima ketika gadis ini seenak jidatnya yang lebar itu memanggil dengan suffix yang paling menyebalkan bagi Takao. Namun, ia memutuskan untuk tak memperpanjang masalah, dan lebih memilih untuk memberikan penjelasan kepada Siera. "Aku tidak menculikmu dan hentikan panggilan itu, Barbar!" "Jangan memanggilku begitu, Mata aneh!" Siera menggeram saat Takao memanggilnya dan dengan sengaja menghina dirinya. Dia benar-benar yakin, lelaki ini pasti sengaja mencari ribut dengannya. "Tenanglah! Kau membuatku tuli. Dasar Barbar." Menghela napas jegah, Takao menyentil dahi sang Gadis. Mendapatkan perlakuan begini, ingin sekali rasanya ia mencekik lelaki yang berdiri sok keren di depannya itu. Sial... lelaki ini membunuh kesabarannya. Siera membuang wajah ke arah lain saat Takao memperhatikannya, malas dia melihat wajah lelaki datar itu. Namun, beberapa saat kemudian, Siera mengingat tujuannya setelah ia terbangun dari tidur. "Aku ingin pulang!" gadis itu berucap dengan nada suara seperti memerintah dengan teriakan pula, kedua tangannya bersidekap dengan bola mata yang memandang Takao kesal. Lelaki Aoryu itu menaikkan sebelah alisnya ketika mendengar nada yang seolah tidak gentar memerintah dirinya. "Anak-anak, saatnya makan siang!" jerit Mayumi terdengar dan membuat dua sejoli itu terdiam, khususnya Siera karena tadi perutnya berbunyi setelah mendengar suara bibi. Benar juga, dia belum makan apa-apa sejak pagi. Dan wajahnya memerah karena malu, belum lagi seringai Takao yang menghinanya secara tidak langsung. * Bau obat-obatan langsung menerpa indra penciuman Siera ketika ia dan Takao sampai di sebuah rumah sakit. Ia menerima kabar dari si sulung, bahwa saudara kembarnya mengalami kecelakaan yang mengharuskan rawat inap di rumah sakit selama beberapa hari ke depan. Resah menggeluti hati, kaki-kaki yang cukup panjang melangkah dengan cepat, mencari di mana kamar rawat inap sang Kembaran yang sangat dirindukan. Dalam benak, ia selalu mendoakan agar laki-laki itu tidak terluka parah. Begitu sesak rasa di d**a karena mendengar kabar menyedihkan ini. Berada di sebelah Siera, Takao hanya sesekali melirik gadis yang berjalan dengan gelisah, sangat terlihat jelas dari raut wajah jika kecemasan memenuhi pikiran si gadis keras kepala, apalagi kedua tangan Siera terus saja bertautan dan agak gemetar. "Tenanglah, kakakmu pasti baik-baik saja." Tersenyum tipis untuk menghibur dan menguatkan Siera, Takao pun mengatakan kalimat penyemangat. "Aarigatou, Ta-chan." Siera mengatakannya dengan tulus dan membalas senyuman Takao. Mendengar panggilan yang dilontarkan Siera, seketika senyum Takao langsung pudar dan ia ingin sekali menjitak kepala si gadis, apalagi masih tersenyum kepadanya dengan wajah tanpa dosa itu. Takao pun hanya menghela napas untuk meningkatkan kesabaran, setidaknya ia masih ingat ini adalah rumah sakit, jadi harus lebih menahan diri agar tak berbuat keributan. Mereka berjalan dengan lumayan cepat ketika sudah melihat Aoda yang ada di depan kamar rawat Sanosuke. "Hei, masuklah! Mereka sudah menunggumu, Siera-chan." Tersenyum, Aoda membawa Siera agar masuk dengan menepuk pelan punggung gadis itu. Siera menganggukkan kepalanya dan ia pun memasuki ruangan rawat saudara kembarnya. Ketika membuka pintu, Sanosuke sedang duduk sambil disuapi bubur oleh Hoshi. Melihat kedatangan Siera, sang Pasien pun tersenyum hangat dan si gadis langsung berlari untuk memeluk kakak kembarannya karena benar-benar khawatir. "Apa yang terjadi, Sanosuke?" isak terdengar, sementara Sanosuke meringis karena pelukan Siera yang mengenai lukanya. Sadar dengan rasa sakit saudaranya itu, Siera pun melepaskan kedua tangannya dengan perlahan.Tidak peduli sudah menjadi tontonan gratis bagi duo Aoryu yang terdiam memandangi si kembar. "Dasar, kau membuatku hampir mati ketakutan. Aku sangat khawatir!" dia pun menangis semakin menjadi ketika memperhatikan kondisi Sanosuke yang sangat memprihatinkan. Kepala dan tubuh bagian atasya dibalut perban, wujudnya sudah seperti mumi saja. Dalam benak berpikir, apa luka saudaranya ini sebegitu parah? "Aku baik-baik saja, hanya kecelakaan dan untungnya aku masih bisa duduk, kaulihat?" untuk membuat rasa panik Siera reda, Sanosuke pun mengelus pucuk kepala gadis itu, dan perlahan tersenyum. Alis Takao berkerut, merasa aneh melihat hubungan si kembar ini. Lihatlah! Bahkan sekarang Sanosuke sedang menghapus air mata Siera dan mencium dahinya. Bukankah mereka terlalu intim untuk sekadar saudara kembar? Apa jangan-jangan ada yang tidak beres antara mereka berdua? Mengingat si kembar itu tumbuh tanpa pengawasan orang tua, itulah yang ia tahu dari Aoda. Takao menghela napas karena berpikir yang tidak-tidak, bisa-bisanya ia melakukan praduga terhadap si kembar. Ini bukan urusanku. Aoda menyeringai ketika memperhatikan gelagat Takao yang menatap kembar Harata yang sedang berpelukan layaknya sepasang kekasih. Wajah pemuda itu datar, tetapi Aoda tahu kalau Takao sedang menelisik ke arah Siera dan Sanosuke. Haah... sepertinya terjadi sesuatu saat Siera berada di rumahnya bersama Takao kemarin malam? Sadar diperhatikan sang Kakak, Takao menatap Aoryu sulung itu dengan tajam dan dibalas Aoda dengan seringai yang semakin lebar. Aoda kemudian mendekatkan kepalanya yang lebih tinggi ke kepala Takao dan membisikkan sesuatu kepada adiknya itu. "Cemburu, Hmm~" Mendengar nada mengejek yang menjengkelkan itu, Takao mendelik seketika. Suara rendah Aoda benar-benar membuatnya kesal. Aoryu bungsu itu lalu menatap kakaknya bengis dan menginjak kuat kaki Aoda yang ada di sebelahnya. Membuat lelaki sulung itu menjerit tertahan. Mendengar suara Aoda, mereka yang sedari tadi sedang sibuk sendiri pun menatap lelaki itu. "Tidak apa, lanjutkan saja, lanjutkan saja," katanya sambil menggaruk belakang kepala. "Sanosuke, berbaringlah!" Siera kemudian berkata sambil membantu sang Kakak berbaring, Siera meletakkan kedua telapak tangannya di perut Sanosuke yang terluka. Semua yang ada di kamar rawat itu terkejut ketika dari kedua telapak tangan Siera mengeluarkan cahaya keemasan yang menyerap masuk ke dalam tubuh Sanosuke. Hingga perlahan-lahan rasa sakit di tubuh Sanosuke pun menghilang seketika dan merasakan bahwa dirinya telah menjadi lebih segar dari sebelumnya. Ia menutup mata untuk menikmati rasa sejuk yang masuk ke dalam perut dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Aoda dan Takao seketika menganalisis kejadian yang baru pertama kali mereka saksikan, sedangkan Hoshi terbelalak ketika melihat Siera yang rambutnya mulai berubah. "Hentikan, Siera! Rambutmu berubah menjadi merah," ujar Hoshi sambil mendekati adiknya itu. "Eh?" Siera melihat rambutnya yang sudah berubah warna, lalu menghentikan kegiatannya. "Apa yang kaulakukan kepada Sanosuke, Sie?" kembali Hoshi bertanya ketika melihat Sanosuke yang duduk dan membuka perban kepalanya dan ternyata luka di sana telah tersembuhkan. "Aku menyembuhkannya. Inikan sudah biasa kalau kami terluka." Dengan senyum yang menampakkan gigi taringnya, Siera berujar dan hal itu membuat Aoda meringis ngeri. "Kau terlalu banyak memakai tenaga, Siera. Lihatlah! Ular-ular itu sudah muncul." Sanosuke berkata sambil menyentuhkan tangannya ke ular-ular yang beterbangan mengelilingi Siera. Tangan Sanosuke tertembus makhluk astral yang tidak bisa disentuh oleh orang lain selain Siera. Ular-ular itu bagaikan hologram yang bisa dilihat tapi tak bisa disentuh. Hoshi menatap adik-adiknya, ketika Siera cemberut dan mengundang tawa Sanosuke. "Takao! Lakukanlah seperti yang dijelaskan kemarin," ujar sulung Harata itu kepada adik dari sahabatnya yang kini melangkah ke arah Siera. Takao yang berdiri di belakang Siera, kemudian menarik tangan gadis itu hingga tubuh itu berputar dan menghadap ke arahnya. Jarak mereka teramat dekat dan juga saling menatap satu sama lain. Tentu saja membuat terkejut dan seketika pertanyaan dengan nada tak sedang dikeluakan. "Apa-apaan kau?" . . . Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD