Angela, Amalia dan Eleonor akhirnya kembali ke kastil. Sepanjang perjalanan Eleonor menatap sedih keluar jendela tanpa mengatakan apapun.
Tiba dikastil, Amalia mendengus marah.
"Sungguh memalukan punya sepupu bodoh sepertimu." Dia menatap Eleonor dengan marah.
"Amalia, tidak baik bicara seperti itu. Eleonor hanya mengejar pria yang dia sukai." Bela Angela dengan nada lembut.
Eleonor memang mengagumi penampilan Pangeran Felipe yang tak tertandingi dan bersikeras menikahinya. Seorang pangeran yang paling menonjol diantara enam putra kaisar. Dia sebenarnya bukan putra mahkota, namun posisi putra mahkota sekarang tidak stabil serta sakit- sakitan. Jadi hampir semua pejabat menjadi goyah sekarang meski Kaisar sendiri masih mendukung penuh putra mahkota.
“Aku hanya bicara kenyataan. Apa kamu berfikir Yang mulia akan melirik gadis bodoh seperti dia? Huh, dia hanya hidup dengan mengandalkan nama besar Ayahnya.” Cibir Amalia dengan wajah dingin.
Emosi Eleonor segera tersulut. Dia berbalik dan melirik Amalia yang berdiri tak jauh di belakangnya.
“Amalia, biar aku tanya sesuatu. Apa kamu juga menyukai Pangeran Felipe?” Eleonor berjalan mendekat.
Mereka berdua berdiri di pinggir kolam. Tak jauh dari sana ada sebuah Aula untuk menerima tamu. Beberapa pelayan tampak sibuk. Mendengar itu, wajah Amalia tampak kaget namun dengan cepat dia menyesuaikan diri.
Seorang pelayan berlari mendekat dan berbisik.
“Nona, Yang mulia pangeran Felipe datang berkunjung. Dia ada di Aula depan bersama Tuan John dan Tuan Ludwig.”
Mendengar itu wajah Amalia berubah dengan sedikit kegembiraan. Namun dia tidak ingin Eleonor tau bahwa Pangeran Felipe ada di kediaman mereka sekarang.
“Jaga mulutmu!” Bentaknya dengan wajah marah.
Eleonor mendengus.
“Baiklah. Karena kamu berfikiran begitu, aku akan melakukannya.” Ujar Eleonor dengan tatapan provokasi kemudian ia berbalik untuk pergi.
Amalia sangat marah mendengar itu. Dia segera kehilangan ketenangannya yang biasa dan dengan cepat mendorong Eleonor hingga jatuh, namun sialnya Eleonor bukan jatuh ke tanah melainkan jatuh ke kolam.
Melihat keributan itu, semua orang yang ada di sekitar kolam berteriak panik.
“Tolong…Tolong…Seseorang tolong, Nona Eleonor jatuh ke kolam.” Para pelayan berteriak.
Mendengar keributan itu semua orang keluar dan menghampiri kolam.
Amalia pada saat itu sudah menangis tersedu-sedu. Terlebih ketika dia melihat Ibu, nenek dan bibinya berlari menghampiri.
“Ibu, Eleonor bilang dia akan pergi mengintip Yang Mulia pangeran Felipe di aula. Aku ingin mencegahnya, namun dia malah jatuh ke kolam.” Isaknya dengan sedih.
Semua orang terkejut dan marah tentu saja kecuali pelayan yang ada di dekatnya.
“Dasar bodoh! Cepat tolong dia!” Perintah neneknya Helena.
“Benar-benar memalukan. Bagaimana mungkin dia pergi mengintip? Dia sudah membuat malu keluarga Bavaria kita berulang kali.” Theresia mencibir dengan marah.
Sementara semua orang bergegas menolong Eleonor yang tidak bisa berenang di tengah kolam. Pada akhirnya Eleonor diselamatkan dalam keadaan pingsan. Dia segera dibawa ke halaman Anyelir.
“Panggil dokter. Aku tidak ingin apapun terjadi padanya saat William tidak ada disini.” Bentak Helena dengan kesal. Kemudian semua orang berbalik ke kamar masing-masing. Untung saja keributan itu tidak terdengar ke Aula tamu.
Eleonor pingsan dan koma selama sepuluh hari dan bermimpi aneh. Tak ada yang datang melihat keadaannya kecuali empat pelayan di halaman Anyelir yang merawatnya. Dia memimpikan masa depan yang aneh. Sebuah perjalanan yang begitu tragis.
Dia melihat diri sendiri tumbuh dari seorang gadis yang dimanjakan berhasil menikahi Pangeran Felipe dengan beberapa trik hina. Dia juga akan berpartisipasi dalam masalah istana Kekaisaran dan berhasil membantu Felipe menjadi putra mahkota yang baru dengan bantuan pengaruh dari ayahnya Jenderal Agung William.
Dia juga dengan strategi brilian membantu Putra Mahkota naik takhta dengan sukses dan menguasai istana kekaisaran. Pada hari Felipe naik takhta, ia diangkat sebagai Ratu. Betapa mulianya itu.
Pada awalnya dia merasa sangat bahagia sampai dia melihat kenyataan lain yang begitu menyakitkan.
Setelah Putra Mahkota naik takhta, Habsburg dihadapkan dengan ancaman yang datang dari Ottoman, dan negara-negara tetangga sedang menunggu untuk mengambil alih Habsburg yang terjebak perang saudara dalam perebutan tahta selama beberapa tahun. Untuk meminjam pasukan, Eleonor secara sukarela pergi ke Ottoman untuk menjadi sandera. Ketika dia pergi, anak-anaknya masih kecil dan diasuh oleh pengasuh yang di pilih Felipe.
"Jangan takut. Aku pasti akan membawamu kembali."
Lima tahun kemudian, dia akhirnya kembali ke Habsburg, tetapi tempatnya sudah lama diambil oleh selir baru yang bernama Claudia.
Selir Claudia adalah putri seorang menteri yang ditemui Felipe selama Kampanye di Timur. Dia menyukainya dan membawanya kembali ke istana. Claudia melahirkan seorang pangeran bernama Karl, yang sangat disukai oleh kaisar. Di sisi lain, putra Eleonor yang bernama Richard berhasil menjadi putra mahkota karena pengaruh ayahnya Jenderal William yang saat itu masih menjadi jenderal yang disegani di seluruh kekaisaran, Namun Richard sebenarnya tidak disukai oleh kaisar.
Felipe berkata di depan seluruh pengadilan kekaisaran saat itu,
"Richard terlalu lembut. Karl lebih mirip aku.”
Claudia membuat Eleonor merasakan krisis karena kasih sayang Felipe yang luar biasa. Di istana, Eleonor dan Claudia berjuang selama sepuluh tahun untuk mendapatkan kasih sayang Felipe. Namun semua orang tau bahwa Claudia memiliki kewenangan penuh atas istana. Dia bahkan mendesak Felipe untuk menikahkan putri Eleonor yang bernama Sophie ke Wilayah Poznan.
Orang-orang Poznan agresif dan kejam. Putri Sophie meninggal karena sakit selama perjalanan dan dimakamkan di perbatasan. Semua orang tahu bahwa ada sesuatu yang mencurigakan tentang ini, tetapi sebagai seorang ibu, tidak ada yang bisa dilakukan Eleonor karena Claudia selalu memegang kendali.
Dia masih berharap Felipe akan memberikan sedikit perhatian sampai hari itu akhirnya datang.
Felipe mengeluarkan dekrit kekaisaran yang mengatakan bahwa keluarga Duke of Bavaria tidak setia kepada kaisar dan memberontak, putra mahkota Richard digulingkan dan harus menggantung dirinya sampai mati.
Eleonor juga dijatuhi hukuman mati dengan meminum racun. Pada saat Eleonor mendengar pengumuman itu dia sudah dikirim ke istana bawah tanah yang gelap dan lembab. Ia ingat bagian terakhir mimpinya sebelum mati. Eleonor akhirnya bertemu Felipe sebelum dia minum racun, pada saat itu yang di tanyakan Eleonor hanyalah,
"Mengapa?”
“Felipe, apa kamu memiliki hati nurani? Kita menikah selama lebih dari dua puluh tahun. Aku tidak pernah melakukan sesuatu kesalahanpun padamu. Kamu berhasil naik takhta, itu karena keluargaku yang membantu. Ketika kamu pergi berperang dan Poznan menyerang, Aku menulis petisi untukmu. Aku berlutut dan memohon pada para menteri untuk membantumu. Aku pergi ke Ottoman yang asing untuk menjadi sandera agar kekuasaanmu stabil. Ketika Claudia ingin Sophie menikahi Pangeran Poznan, Kamu segera setuju meski tahu disana sangat berbahaya. Sophie meninggal karena masalah itu. Semua orang di kekaisaran tahu bahwa kamu sangat menyayangi Karl dan Claudia. Sekarang setelah kamu membantai seluruh keluargaku dan akan membunuhku, aku hanya ingin bertanya, mengapa?”
Eleonor tersedu-sedu dalam mimpi panjang itu. Dia merasa sangat menyesal berjuang untuk seseorang yang tidak layak.
"Eleonor." Dia melihat Felipe mengerutkan kening. Ekspresinya tidak berubah sama sekali, seolah-olah dia adalah patung yang dingin.
“Keluarga Bavaria terlalu mengancam otoritas kekaisaran. Akulah yang membujuk Ayah sejak lama untuk menjaga keluargamu tetap hidup. Kamu harus berterima kasih padaku karena membiarkan keluargamu hidup dua puluh tahun lagi."
Tubuh Eleonor bergetar mendengar itu. Pria ini terlalu kejam. Dia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Felipe begitu memanjakan Claudia. Dia menatap Felipe dengan ekspresi putus asa.
“Kamu hanya ingin menggunakan kekuatan militer keluarga kami untuk membantumu menang dan naik tahta. Sekarang seluruh kekaisaran milikmu, kamu membakar jembatan setelah menyeberanginya. Felipe, kamu sangat tidak berbudi!”
“Eleonor!” Felipe berteriak dengan marah, seolah-olah tempat sakitnya telah ditusuk, lalu berkata,
"Jangan menantangku!" setelah itu, dia pergi.
Eleonor berbaring di tanah dan mengepalkan tinjunya. Ini adalah pria yang dicintainya sepanjang hidupnya. Di istana, dia bersaing dengan Claudia untuk dalam mendapatkan kepercayaan Felipe. Pada akhirnya, dia menyadari Felipe tidak pernah mencintainya!
Dia memuntahkan seteguk darah.