“Tapi kita masih harus menyuruh seseorang mengawasinya. Kita tidak bisa membuat kesalahan.” Eleonor memerintahkan pelayannya. “Aku mengerti. Aku pasti akan melakukan ini dengan baik.” Sebuah jejak penuh semangat melintas di mata Lila. Eleonor tersenyum samar-samar. “Kita tidak akan menyerang jika kita tidak diserang. Kita hanya mengubah permainan ini menjadi sedikit lebih menarik.” Dia mengulurkan tangan dan dengan lembut mengetuk cangkir teh di depannya. Dia tampak tenang dan anggun, seperti permaisuri yang telah lama hidup di istana kekaisaran. Pada malam hari, di sebuah rumah ratusan kilometer jauhnya dari ibukota, seseorang sedang duduk di aula. Orang-orang yang berdiri di aula semuanya berpakaian hitam dan memiliki sepatu bot panjang. Aura dan kehadiran mereka mengintimidasi

