Relisha mengembuskan napas lega setelah Ken memilih untuk tidur di kamar Poppy. Setidaknya ranjang Poppy hanya muat untuk dua orang sedangkan ranjang Ken bisa sampai tiga orang. Relisha memilih memasuki kamarnya karena selera makannya juga hilang akibat berdekatan dengan Ken. Pria itu maunya apa sih?!
Relisha memeriksa ponselnya dan ada sebuah pesan masuk.
Rel, kamu lagi apa? Acara khusus wanitanya sudah selesai belum? Mau aku jemput?
Pesan dari Daniel membuat pikirannya makin tak keruan.
Tidak. Aku sudah pulang. Terima kasih.
Relisha mematikan data seluler, berbaring di atas kasur dan menarik selimutnya sampai menutupi wajahnya.
***
Emma bekerja sebagai asisten manajer di departemen store. Poppy tidak tahu apa jabatan Emma tapi dia selalu mengatakan Emma bekerja di mall. Emma melepas jedai dari rambutnya dan membiarkan rambut sebahu dengan layernya tergerai menarik perhatian para pria yang berlalu lalang.
Emma tentu saja sangat cantik. Dia memiliki standart kecantikan wanita Indonesia dengan hidung mancung berkat filler. Dia selalu bertanya pada teman-teman Ken sebelum mendekati pria itu tentang kriteria wanita yang disukai Ken. Mereka menunjukkan poto Olivia yang terkenal akan keanggunan dan kecantikannya. Lalu, Emma membuat dirinya seperti Olivia. Dia ingin menarik perhatian Ken tanpa menyadari bahwa itu membuatnya menjadi palsu. Ken tidak mempermasalahkan apakah Emma seperti Olivia atau tidak hanya saja pada saat itu dia merasa bahwa dia harus kembali menjalin hubungan setelah pernikahan Olivia dengan pria pilihannya.
Emma saat itu muncul membawa beberapa kemiripannya dengan Olivia. Termasuk sifatnya yang sok-sok peduli pada lingkungan dan pada Poppy. Sayang, anak kecil memiliki semacam bakat alamiah untuk mendeteksi apakah seseorang tulus menyayanginya atau tidak.
Sebulan mereka menjalin hubungan, Ken membelikannya sebuah mobil alphard yang mungkin akan didapatkan Emma setelah lebih dari lima tahun bekerja dari seorang asisten manajer departemen store. Bukan departemen store terbesar melainkan departemen store yang masuk kategori sedang.
Emma masih menginginkan Ken. Tapi Ken sudah tidak menginginkannya lagi. Emma menyalahkan Poppy dan bersumpah akan membuat anak kecil itu menyesal karena telah membuatnya berpisah dari Ken.
***
“Apa kamu memang sedang hamil, Relisha?” tanya Mamah yang datang ke rumah setelah Ken ke kantor dan Poppy berada di sekolah.
Dia dan Ken tidak membicarakan soal kehamilannya kan soal bagaimana kalau Mamah Ken menanyakan tentang kehamilan ini.
“Tidak, Mah. Maksudku, belum. Belum hamil.”
Mamah memperhatikan perut Relisha yang rata. Perutnya memang tidak membesar layaknya orang hamil tapi biasanya wanita yang kurus agak tidak terlihat kalau dia sedang hamil.
Mamah menarik napas perlahan. “Ken dan Rey memang tidak akur dari dulu. Rey selalu memojokkan Ken dan Ken membenci Rey. Saat Ken menikah dengan Olivia, Rey menyuruh Ken untuk meninggalkan rumah. Entah kenapa Rey selalu tidak setuju dengan keputusan Ken untuk menikah. Jadi, saat Ken sudah denganmu, Rey, ya, akan melakukan seperti yang dia lakukan pada Olivia.”
Aneh! Kenapa Rey seperti itu sih?!
“Mamah tahu alasan Rey—“
“Tahu.” sela Mamah. “Rey ingin Ken tidak menikah karena kalau dia menikah dia memiliki tanggunggan anak dan istrinya itu berarti hak waris Ken lebih banyak. Papah Ken ingin hartanya dibagi antara Ken dan Rey karena selama berbisnis Rey suka membantu. Sayangnya Rey terjebak kebodohannya sendiri. Bisnis yang dibangun Papah Ken di Indonesia nyaris bangkrut berbeda dengan yang dimilikinya di Belanda. Akhirnya, Rey diberhentikan. Tapi dia akan tetap mendapatkan hak waris kalau Ken memiliki istri dan anak hak warisnya bisa sampai 85% dari total kekayaan dan Rey hanya mendapatkan 15%. Tapi, kalau semakin banyak Ken memiliki anak maka Ken bisa mendapatkan 90%.” Cerita mamah panjang lebar.
Relisha mengangguk-ngangguk mengerti.
“Kamu tidak usah memikirkan yang macam-macam. Mamah percaya Ken dan Rey akan kembali berhubungan baik layaknya Om dan keponakannya. Rey tidak sebusuk yang Ken pikir kok. Dia bahkan selalu membantu Mamah. Mau bagaimanapun juga Rey adik Mamah dan Ken adalah anak Mamah. Mamah tidak bisa membela salah satu di antara mereka.”
“Iya, Mamah benar. Mereka adalah keluarga seharusnya mereka saling menyayangi. Mungkin Ken dan Om Rey perlu sering bertemu, saling berkomunikasi dan ya, sering berdiskusi.”
“Ah, Mamah ada keperluan. Titip Poppy ya, jaga dia baik-baik. Mamah tidak menyangka kalau dia dan kamu bisa seakur ini. Poppy anaknya susah sekali untuk bisa menerima orang baru sebagai ibunya.”
Relisha mengangguk antusias sekaligus merasa miris karena sebenarnya dia bukan ibu sambung Poppy tapi pengasuh Poppy.
“Apa kamu mau diadakan resepsi pernikahan nanti?”
***
“Aku tidak percaya kamu bisa melupakan aku secepat itu, Ken.” Kalimat itu meluncur dari kedua daun bibir Emma saat dia sampai di dalam ruangan kerja Ken.
“Terserah kamu mau bilang apa, sekarang aku sudah menjadi suami Relisha.” Ken berkata acuh tak acuh.
“Apa yang kamu lakukan padaku itu keterlaluan. Poppy tidak mungkin menerima orang lain semudah itu kecuali kalau kamu berhubungan dengan wanita itu sebelum denganku.” Nadanya menuntut dan tidak terima dengan kekalahannya dari Relisha.
Ken menatap Emma. Membiarkan wanita itu mengeluarkan semua emosinya, kemarahannya dan segala apa yang dirasakannya. Ken mengerti kalau mungkin perasaan Emma tidak terima karena Poppy bisa menerima Relisha sebagai ibu sambungnya tapi mau bagaimana lagi faktanya memang begitu.
“Aku ingin kita tetap menjalin komunikasi meskipun kamu milik Relisha.” Emma menatap Ken. Memohon melalui tatapan matanya. Ken tidak bisa bilang tidak dan memilih tidak menjawab.
“Kamu harus ingat kalau aku menikahi Relisha setelah kita berpisah. Jangan pernah salahkan Relisha dalam hal ini.”
“Tapi dia mengambilmu dariku.”
“Demi Tuhan aku menikahinya setelah berpisah denganmu!” Ken tidak menyadari kalimatnya dan dia membawa nama Tuhan dalam kebohongannya.
Astaga apa yang aku katakan?
Ken merenungi kalimatnya. Dia tidak menikahi Relisha kan tapi kenapa kalimat itu meluncur dari kedua daun bibirnya dengan mudah apalagi dia membawa nama Tuhan. Apa ini sebuah pertanda?
Emma menatap Ken dengan ekspresi kecewa.
“Apa aku memang tidak punya kesempatan untuk bersamamu?” tanya Emma, matanya meremang basah.
“Ma’afkan aku, Emma.” Ken tidak tahan melihat mata Emma meremang basah. “Kamu sebaiknya pulang.”
“Keeen!” pintu ruangan Ken terbuka. Relisha menatap Ken dan Emma secara bergantian.
Hening.
Entah kenapa Relisha merasa kesal melihat Emma datang ke kantor Ken.
“Oke, aku pergi.” Emma mengangkat pantatnya sambil menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Sebelum keluar dari pintu ruangan Ken, Emma dan Relisha saling bersitatap.
Emma tersenyum sinis pada Relisha yang ditangkap Relisha sebagai pertanda awal yang membuat Relisha merasa... akan ada sesuatu yang terjadi. Mata dan hidung wanita itu merah. Ada apa sebenarnya?
“Kenapa dia ada di ruanganmu?” tanya Relisha yang mirip seperti pertanyaan seorang wanita pada kekasihnya yang menemukan wanita lain di ruangan kerja kekasihnya.
“Tidak ada apa-apa.” Ken malah tampak agak gugup. Kalau dia bilang Emma mengemis cinta padanya apa yang akan dipikirkan Relisha kalau Ken tidak mengatakan sebenarnya, Relisha tentu akan curiga. Jadi, lebih baik dia segera mengganti topik pembicaraan.
“Ada apa kamu ke sini?” tanya Ken menatap Relisha.
“Mamahmu tadi ke rumah, dia menyarankan kita agar mengadakan resepsi pernikahan. Aduh! Bagaimana ini?” Relisha tampak panik. Dia bahkan enggan untuk duduk dan menenangkan diri.
“Kamu mau ada resepsi pernikahan?” tanya Ken yang seakan jawabannya terserah Relisha.
“Ken,” Relisha membungkuk, kedua tangannya menyentuh meja kayu eboni. Dia menatap Ken lekat. “Aku rasa ini masalah besar, Ken, kalau sampai ada resepsi.”
“Yasudah, kita bisa bilang ke mamah kita tidak mau ada resepsi yang penting pernikahan kita sah.”
Dahi Relisha mengernyit. “Pernikahan sah apanya? Kita tidak menikah.”
“Iya, maksudku begitu. Kamu ke sini hanya untuk menanyakan itu saja?”
“Iya, aku juga mau ke kampus. Aku mau bertemu Soraya.”
Tatapan mata Ken yang tadinya ramah berubah agak tajam. “Kamu mau bertemu Soraya apa bertemu yang lain?” Ken menatap curiga Relisha.
Relisha duduk di depan Ken. “Kalau aku bertemu yang lain memangnya kenapa?” tanya Relisha yang seperti memancing emosi Ken.
“Tidak boleh. Kamu tidak boleh bertemu yang lain selain Soraya. Siapa pun itu!” kata Ken menegaskan.
Sebelah alis Relisha terangkat tinggi. “Loh... kenapa? Kamu saja bisa bertemu dengan Emma.”
“Itu berbeda.”
“Berbeda apanya?” nada suara Relisha meninggi persis seperti wanita yang sedang cemburu. Dia bangkit berdiri, menatap Ken dan berkata, “Kalau kamu ingin aku tidak bertemu dengan seorang pria pastikan dulu kalau kamu juga tidak bertemu dengan wanita lain apalagi mantan kekasihmu. Kecuali Olivia karena ada Poppy.” Relisha berkata marah seperti benar-benar terbakar api cemburu tapi sebenarnya dia sendiri tidak sadar akan perkataannya.
Kemudian dia melesat pergi.
Ken hanya tersenyum sambil menerka-nerka perasaan Relisha padanya.
Apa ini artinya Relisha cemburu pada Emma?
***