“Astagaaaa!” pekik Soraya saat mendengarkan cerita Relisha. Relisha cepat-cepat membungkam mulut Soraya. Takut kalau orang-orang sekitar menyangka Soraya kesurupan.
Soraya menatap sekelilingnya khawatir kalau ada pria tampan yang mendengar pekikannya. “Pelankan suaranya.” Protes Relisha.
“Aku terlalu syok.” Kata Soraya melahap kue lapis legit terakhirnya.
Tiga wanita berpenampilan super modis tersenyum menebar pesona ke arah meja pria-pria tampan. Beberapa pria fokus pada makanan dan minuman beberapa lagi fokus pada layar laptop dan beberapa terpesona pada pesona tiga wanita dengan lipstik merah menyala itu.
“Aduh, kalau ada mereka rasanya pengen lempar bom molotov.” Gerutu Soraya.
Relisha melirik ke arah yang ditunjuk Soraya dengan matanya. “Memangnya kenapa sih dengan mereka?”
Soraya mengangkat bahu. “Aku kan benci banyak orang, Rel.” Soraya mengakui.
“Itu sebabnya kamu tidak sepopuler mereka. Setiap orang kamu benci.” Relisha memakan ramennya tanpa ada rasa penasaran sama sekali pada ketiga wanita yang sudah mendapatkan meja. Berjarak tiga meja dari meja Relisha dan Soraya.
“Oh ya, Om Rey bilang macam-macam ke Tante Fani, lho.” Kata Soraya yang sukses membuat Relisha kehilangan selera makan.
“Om Rey bilang apa?” tanya Relisha dengan ekspresi menegang.
“Kamu punya tujuan tertentu dengan menjadi istri Ken. Om Rey bahkan curiga kalian sebenarnya belum menikah, kemungkinan kamu juga sedang hamil.”
Relisha lemas seketika. Dia tidak mau berurusan dengan hal-hal seperti ini. Tapi, kalau dilihat-lihat Om Rey itu seperti bukan orang baik seperti dialah yang memiliki tujuan-tujuan tertentu.
“Tenang, Rel, aku bilang apa yang Om Rey katakan itu tidak benar!” Soraya berkata meyakinkan Relisha. Dia melepas jedai dari rambut curly merahnya. “Aku bilang aku temanmu dan aku tahu siapa kamu. Tapi, Tante Fani nanya-nanya soal pernikahan kamu dan Ken. Aku agak keteteran jawabnya.”
“Mamahnya Ken tadi menelpon Ken dan Ken langsung pergi ke sana.”
“Ken pasti lagi diinterogasi.” Soraya menopang dagu. “Om Rey dan Ken memang tidak akrab, Rel. Mereka itu seperti kucing dan anjing.”
“Memangnya kenapa mereka jadi musuh seperti itu sih? Mereka kan keluarga harusnya bisa saling menjaga dan melindungi juga menyayangi.”
Soraya mengangkat bahu. “Entahlah. Sejak Ken remaja dia memang sudah punya masalah dengan Om Rey. Masalahnya apa ya hanya mereka berdua yang tahu.”
Soraya mengernyitkan dahi melihat ketiga wanita yang memperhatikan dia dan Relisha sambil berbisik. “Rel, mereka lagi ngomongin kita tuh,” kata Soraya.
Relisha menoleh ke arah mereka dan melihat tatapan mata ketiga wanita aneh itu. “Itu cuma perasaan kamu saja, Soraya.”
“Bukan, aku tahu mereka sengaja datang ke kantin karena ada kita. Aku yakin! Soalnya, mereka itu lebih suka nongkrong di kafe sebelah kampus itu, lho. Mereka tidak suka makan di kantin.”
“Yasudah tidak usah diambil pusing biarin saja mereka ngomongin kita. Aku cuma bingung harus bagaimana kalau keluarga Ken menuduh aku yang tidak-tidak.”
“Rel, percaya aku. Aku akan bela kamu. Aku tidak akan membiarkan Om Rey menuduh-nuduh kamu lagi.”
Relisha terdiam sejenak. Dia menarik napas dan mengembuskannya secara perlahan. “Menurutmu, Om Rey itu seperti apa sih orangnya?”
Soraya mengangkat bahu. “Aku tidak terlalu tahu tapi yang aku tahu dia selalu peduli pada penampilannya makanya terlihat muda begitu. Dia tidak segan-segan menghabiskan banyak uang untuk penampilannya. Ken kurang suka, aku juga. Sejauh ini bisnisnya selalu gagal. Dia tidak punya bakat bisnis begitu dan dia selalu minta modal ke Tante Fani. Ken makin tidak suka sama Om Rey.”
Relisha meresapi perkataan Soraya.
“Mungkin karena Om Rey parasit ke Tante Fani makanya Ken tidak suka.”
“Parasit?” Relisha memiringkan kepala dengan dahi mengernyit.
“Tidak bisa hidup sendiri dan selalu merepotkan orang lain metaforanya bisa disebut parasit.”
“Oh,” Relisha mengangguk-ngangguk.
“Hai,” suara hangat menyapa Relisha dan Soraya.
Relisha mendongak dan melihat pria berwajah cute itu. “Daniel.”
Daniel duduk di sebelah Relisha tanpa diminta. Soraya menatap ketiga wanita super modis yang menurut Relisha aneh itu dan seketika dia bisa menebak kenapa tiga wanita itu ada di kantin. Mereka penasaran dengan Relisha yang berhasil membuat Daniel tertarik.
Ya!
“Rel, aku mau nanti malam main ke rumah kamu.” Kata Daniel yang sukses membuat Relisha tercengang.
“Emmm—Relisha nanti malam ada acara denganku.”
Daniel menatap Soraya, “Acara apa? Bagaimana kalau aku juga ikut?”
“Acara khusus wanita. Kamu tidak bisa ikut.”
Daniel menoleh pada Relisha yang mengangguk. “Tidak bisa. Ini acara khusus wanita.”
“Wanita itu memang aneh.” Gumam Daniel.
Sebenarnya, Relisha mau-mau saja kalau Daniel main ke rumahnya tapi ini bukan hal mudah karena dia terikat dengan kebohongan Ken. Terikat sebagai istri Ken. Istri yang bahkan tidak dinikahinya. Untuk akhir ceritanya Relisha tahu kalau dia memang tidak akan menjadi istri Ken. Dia sudah membohongi keluarga Ken dan kalau kebohongan itu terbongkar, tuduhan Rey padanya mungkin akan disetujui keluarga Ken terutama mamahnya.
***
Ken melihat Relisha sibuk sendiri di dapur. Entah apa yang dia masak. Ken mendekatinya dengan melipat kedua tangan angkuh seakan Relisha tidak berhak mendapatkan keramahannya.
“Malam-malam begini kamu sedang apa?”
Relisha berjengit kaget. Dia mengelus dadanya saat melihat Ken. “Kamu mengejutkan aku.”
Ken ingin tersenyum tapi dia menahan senyumnya. Relisha menurut Ken agak bebal. Wanita itu bahkan dengan tidak sopan memanggilnya Ken saja saat pertama kali mereka bertemu.
“Apa yang sedang kamu lakukan?”
“Aku mau bikin nasi goreng.”
Ken mengangguk samar. “Aku ingin berbicara serius denganmu.”
”Ya, bicara saja.” Relisha merasa ada yang ganjil. Kemungkinan Ken akan menghabiskan kontrak kerjanya dan semuanya berakhir. Tak apa. Relisha tidak mempermasalahkannya dia akan mencari pekerjaan baru.
“Mamahmu menyuruhmu berpisah denganku?” tanya Relisha hati-hati.
“Apa yang kamu bicarakan?” Ken bertanya balik dengan galak. “Mamahku menanyakan soal kandunganmu. Dia bilang kamu sedang hamil.”
Kedua daun bibir Relisha terbuka sedikit.
“Dia senang kalau mendapat cucu lagi. Mamahku bilang seperti itu. Kenapa kamu malah menyangka mamahku memintaku berpisah denganmu.”
Perkataan Ken tidak merubah suasana hati Relisha menjadi lebih baik. Dia tetap merasa tidak enak karena telah membohongi mamah Ken. “Mau sampai kapan kamu membohogi mamahmu, Ken?” tanya Relisha dengan nada suara rendah yang serius.
“Sampai aku merasa semuanya harus sudah berakhir. Sampai—“ Ken menggantngkan kalimatnya.
“Sampai?” Relisha menatap intens Ken menuntunya melanjutkan kalimatnya.
“Aku belum tahu pasti.” Akhirnya Ken berkata.
“Apa yang akan kamu sampaikan kalau seharusnya kita berpisah nanti. Aku tidak hamil, lho, kamu akan bilang aku keguguran begitu?”
“Kenapa kamu membicarakan ini sih?” Ken tampak tersinggung. “Aku belum memikirkan sejauh itu, Poppy masih membutuhkanmu.”
Kalimat terakhir itu membuat Relisha seakan dibutuhkan Poppy. Seakan dia benar-benar ibu sambung yang merangkap sebagai pengasuh Poppy.
“Kamu sendiri bilang mau bicara serius. Tentang apa?”
“Tentang...” Ken menatap mata Relisha secara intens.
Relisha tidak bisa mengendalikan degupan jantungnya. Ken melangkah mendekatinya. “Tentang kenyataan bahwa aku mulai—“
“Mulai apa?” Relisha bertanya dengan mata membelalak.
“Mulai merasa kamu harus menjaga sikap dan penampilanmu. Rey akan mengawasi kita, aku yakin itu. Dia pasti akan sering datang ke sini mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikannya andalan. Kalau dia ke sini kamu usir dia. Kamu bisa bilang ke mamahku kalau aku tidak ada. Bilang kalau Rey mengganggumu. Atau kamu bisa menelponku. Aku akan langsung datang dan membuat Rey jera untuk menemuimu.”
Ken berkata tanpa mengedipkan matanya. Matanya fokus pada Relisha. Pada mata hitam Relisha.
Relisha tidak tahu bagaimana cara mengatur napasnya yang kian tersengal karena tatapan dan suara Ken yang terdengar seksi di telinganya.
Ken berhasil membuat Relisha ingin menjauhi Ken tapi juga menginginkan pria itu. Apa yang sebenarnya dia rasakan pada Ken yang akhir-akhir bersikap seakan ingin memberitahu Relisha kalau pria itu menginginkannya.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Poppy yang sukses membuat kedua orang dewasa itu terkejut. Ken langsung menjauhi Relisha.
“Sayang, kamu belum tidur?” tanya Ken membelai kepala Poppy.
Poppy menggeleng.
Ini kedua kalinya Poppy melihat Ken dan Relisha berduaan tanpa jarak. Saat pertama melihat Ken dan Relisha, Poppy diam dan memilih memasuki kamarnya tapi kedua kali ini dia ingin sekali membuat teh. Karena dia pun tidak bisa tidur setelah menonton dua film horor dari laptopnya.
“Aku mau membuat teh, Dad.”
“Biar aku yang membuat tehnya.” Relisha langsung mengambil cangkir, teh, gula.
“Apa kamu mendengar pembicaraan kami?” tanya Ken menatap lembut putrinya.
Poppy menggeleng. “Tidak, Dad.”
Dia mencium kening putrinya kemudian sebelah pipi Poppy. “Menguping pembicaraan orang dewasa itu dilarang.”
“Poppy mengerti. Bolehkah malam ini aku tidur dengan Dad?”
“Tentu, Sayang. Datanglah ke kamar Dad.”
“Apakah Relisha juga tidur dengan kita, Dad?”
Relisha menoleh saat namanya disebut Poppy.
“Emm—“ Ken tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Poppy.
Selama ini Relisha memang tidur di kamarnya di sebelah kamar Ken. Tapi kalau mereka tidak tidur bersama bukankah Poppy akan curiga nanti.
***