BAB 9

1366 Words
Ken tahu apa yang dilakukannya sudah mencoreng nama keluarganya di hadapan banyak orang. Tapi, Rey memang keterlaluan. Dia sangat membenci Rey dan sebab itulah dia enggan menghadiri pesta apa pun yang diadakan keluarganya. Rey memiliki agenda mencari muka pada ibunya. Ya, Ken tahu. Rey pasti sekarang sangat girang karena dapat memancing emosi Ken.             Relisha sudah mengganti pakainnya dengan pakaian biasa. Dia memang tidak nyaman dengan gaun-gaun terbuka seperti itu. Dia juga sempat melihat lirikan nakal Rey padanya. Dia duduk di sebelah Ken. Poppy memandangi wajah ayahnya.             “Kenapa Dad memukulnya.” Sama seperti Ken, Poppy juga tidak menyukai Rey.             “Masuklah ke kamar dan tidurlah. Besok kamu sekolah.” Bukannya menjawab Ken malah menyuruh Poppy memasuki kamarnya dan tidur.             Dengan berat hati Poppy menuruti perintah ayahnya. Dia melesat pergi dengan pikiran-pikiran kritisnya. Dia masih dan akan tetap penasaran alasan apa yang membuat Ken semarah itu pada Rey.             “Kamu seharusnya tidak usah memukulnya Ken. Anggap saja dia bercanda.” Ucapan Relisha memantik tatapan ngeri Ken.             “Apa maksudmu bercanda? Dia mengatakannya dengan nada tinggi, Relisha. Dia sengaja ingin menjatuhkanku dan aku tidak terima karena apa yang dia lakukan juga menjatuhkanmu!” Ken berkata dengan nada berapi-api.             Relisha terdiam sesaat. Tidak tahu harus berkomentar apa.             “Aku tidak bisa menerima perlakuannya padamu. Bahkan dia tidak ingin melepaskan tanganmu di depan mataku. Apa itu tidak sinting namanya?!”             “Tapi kita bisa meninggalkannya begitu saja, Ken, tanpa harus memukulnya. Aku takut aku yang disalahkan atas semua ini.” Relisha tertunduk sedih.             “Hei, tidak ada yang akan menyalahkanmu. Rey memang berengsek dan dia layak mendapatkan pukulan itu.”             “Semua orang memandangi kita.” Relisha masih membayangkan kejadian tadi.             “Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Aku bisa mengatasi semuanya. Keluargaku mungkin akan percaya pada Rey karena dia punya otak kriminal yang sangat licik. Tapi, selama kamu ada bersamaku tidak akan terjadi apa-apa.”             Relisha merasa putus asa karena dia telah membohongi keluarga besar Ken tentang hubungan sebenarnya dengan Ken. “Bagaimana kalau Rey menyelidiki status pernikahan kita, Ken?” tanya Relisha khawatir.             “Aku bilang tidak usah memikirkan hal-hal lain. Aku bisa mengatasi pria itu kok. Kamu tenang saja. Tidurlah.” Ken berkata lembut.             Masih terbayang di benak Relisha bagaimana kemarahan Ken pada Rey yang telah menuduhnya yang tidak-tidak. Memang sih apa yang dilakukan Ken dengan mengakuinya sebagai istri Ken mencurigakan dan ya, keluarga Ken juga mungkin semuanya menduga kalau Relisha sudah hamil lebih dulu.             “Aku bilang tidur, Rel.” Kata Ken lagi.             Relisha mengangguk patuh.             “Rel,” Ken memanggilnya lirih.             “Ya,” sahut Relisha.             “Jangan terlalu dipikirkan.”             “Oke,” Relisha mengangkat ibu jarinya.             Sebelum mengangkat pantatnya dari sofa, Relisha menatap Ken yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan penuh keinginan. Relisha merasakan detakkan jantungnya tak beraturan. Ken mendekati wajahnya, kedua daun bibir pria itu terbuka sedikit. Relisha tidak tahu harus bagaimana tapi dia sudah mencium aroma aftershave Ken yang kuat. Dan mereka hanya berjarak satu senti hingga Ken memagut bibir Relisha.             Ken sudah menginginkannya sejak Relisha berada di kantornya mengomel soal Olivia yang menuduhnya yang tidak-tidak. tapi Ken masih menahan hasratnya pada bibir Relisha hingga sampai Rey dengan kurang ajar menuduh Relisha yang tidak-tidak. Dia terbakar amarah. Dan amarah menyuruhnya untuk menghantam kepala Rey hingga Omnya tersungkur ke lantai.             Dan saat ini Ken berhasil meraih bibir Relisha tanpa penolakan.             d**a Relisha ramai akan penolakan tapi tindakannya malah berkebalikan. Dia merespons pagutan Ken dan ciumannya itu makin mendalam hingga lidah mereka saling bertaut tanpa disadari Ken maupun Relisha Poppy melihat di balik lemari hiasan. Menutup wajahnya dan memilih melesat ke kamar.             “Aku tidak boleh melihatnya lagi,” gumamanya sambil menggeleng.             “Ken,” lirih Relisha sambil mendorong lembut d**a Ken agar bibir Ken menjauh.             “Apa yang sudah kita lakukan?” tanya Relisha dengan napas agak memburu. ***             Apa yang sudah aku lakukan dengan Ken?             Relisha mencak-mencak di dalam kamarnya. Mengumpati dirinya sendiri yang malah membalas ciuman Ken. Apa-apaan ini?! Terkadang dia menggigit bibir bagian bawahnya keras-keras terkadang menggigit kuku-kukunya yang memang pendek. Dia merasa geli, gemes, marah, kesal semua perasaan jadi satu tapi juga tidak bisa dipungkiri kalau ciuman tadi meskipun singkat sangat disukainya.             Astaga!             Ken sialan!                      Relisha sudah meramal dirinya sendiri kalau malam ini dia tidak akan bisa tidur dengan bekas bibir Ken di dalam bibirnya. Ini seperti dosa. Ya, memang dosa tapi dosa yang menjadi favorit Relisha atau mungkin juga Ken. Mereka tidak memiliki hubungan apa pun. Tapi dia berani-beraninya melakukan itu padanya.             Apa Ken melakukannya karena merasa dia sudah membela Relisha di hadapan Rey? Mungkin semacam ucapan terima kasih yang harus Relisha bayar pada Ken?             Relisha berbaring di atas ranjangnya, memeluk bantal guling dan masih merasakan rasa manis ciuman Ken.             Dan sepanjang malam sesuai dengan ramalannya dia tidak bisa tidur. Dia ingin sekali pergi ke rumah Soraya dan menceritakan apa yang terjadi dengannya malam ini bersama Ken.             “Ciuman? Besok-besok pasti Ken akan melakukannya lebih dari sekadar ciuman!” suara Soraya memutari otaknya. Wanita itu bukannya menenangkan Relisha dia pasti akan malah membuat Relisha semakin parno.              Ini semacam bencana bagi diri Relisha. ***             “Soal semalam anggap saja sebagai ucapan terima kasihmu padaku.” Ken berkata setelah memperhatikan Relisha yang bolak-balik mempersiapkan sarapan.             Relisha menatap Ken dengan tatapan seakan berkata, “Terima kasih buat apa?!”             “Apa maksudmu?” tanya Relisha dengan alis berataut.             Poppy muncul dengan membawa tas ranselnya. Relisha dan Ken berpura-pura tidak membahas masalah semalam. Poppy menatap Ken dan Relisha secara bergantian. Melihat ayahnya berciuman dengan ibunya itu hal yang biasa tapi saat melihat Ken berciuman dengan wanita lain selain ibunya itu agak... membuat Poppy merasa geli sekaligus malu. Malu karena telah melihat adegan yang tak seharusnya dia lihat.             Ken mengantarkan Poppy dan Relisha ke sekolah baru Poppy. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam menikmati musik yang dipilih Poppy. Relisha duduk di belakang dengan menahan gejolak yang anehnya makin menjadi-jadi. Dia ingin menyelesaikan masalah ini dengan Ken. Semua harus jelas kenapa Ken menciumnya dan yang paling Relisha tidak mengerti kenapa dia mau dicium Ken bahkan membalas ciuman Ken?             Apa dia sudah mulai terpikat pesona pria dengan satu anak ini?             “Dad, aku rasa Relisha tidak perlu mengawasiku lagi. Aku sudah berusia 8 tahun.”             “Ya, dia akan ikut Dad kembali ke rumah kok.” Kata Ken yang malah membuat degupan jantung Relisha tidak keruan.             Berarti itu artinya dia hanya berdua dengan Ken di rumah?             Relisha menelan ludah.             “Emm, sepertinya aku harus tetap ada di sekolah deh.” Relisha menarik perhatian ayah dan anak itu sesampainya mereka di depan gerbang sekolah.             “Aku nanti bisa pulang sendiri kalau Poppy sudah masuk sekolah.” Lanjutnya dengan ekspresi gugup.             “Tidak.” Poppy menggeleng. “Aku tidak ingin anak lain mengataiku sebagai anak yang manja karena di antar, dijaga dan diawasi ibu tirinya.”             Tidak ada yang bisa membantah keinginan Poppy.             “Poppy benar.” Ken mengangguk setuju. “Poppy sudah delapan tahun, Relisha.”             Poppy keluar dari mobil. Ken melambaikan tangan pada Poppy sebelum anak itu lenyap dari pandangan matanya. “Apa kamu akan tetap duduk di belakang seperti itu? Aku bukan sopir ya, kamu harus duduk di depan sini.”             Mau tidak mau Relisha menuruti perintah Ken.             Ken menyalakan mesin mobilnya. Sekilas dia menatap Relisha yang masih termenung. Ken menduga kalau Relisha masih memikirkan soal ciuman itu. Padahal menurut Ken ciuman yang diberikannya tidak sepanas ciuman-ciumannya dengan mantan kekasihnya atau dengan Olivia. Terlalu singkat karena Relisha mendorongnya, bergumam protes dan kemudian melesat pergi.             Kehadiran Relisha seperti oase di padang pasir bagi kehidupan Ken. Setelah perpisahannya dengan Olivia lalu dia kembali berhubungan dengan Emma yang tidak disukai Poppy. Dan akhirnya dia harus berpura-pura menjalin hubungan dengan Relisha dan mengakui wanita yang bekerja sebagai pengasuh putrinya itu sebagai istrinya.             “Kamu bilang anggap saja ciuman tadi sebagai ucapan terima kasih, memangnya aku memintamu untuk membelaku di depan Ommu itu?” Relisha menatap Ken. Hidung pria itu seperti meledekanya yang tidak semancung hidung Ken saat Ken balik menatapnya.             Ken meminggirkan mobilnya di jalanan yang sepi dan kemudian mematikan mesin mobilnya.             “Kenapa berhenti, Ken?” tanya Relisha melihat Ken yang menatapnya dengan tatapan menginginkan. Antara dingin, arogan dan menginginkannya.             Ken mendekati wajah Relisha yang tegang namun sebelum dia kembali meraih bibir Relisha ponselnya berdering.             Telepon dari mamahnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD