Bab 1 : Lampung, 1998 : Kholifah
Hujan turun deras di kota kecil di Pesisir, membasahi jalanan yang mulai retak-retak akibat krisis ekonomi yang melanda negeri. Di sebuah rumah panggung khas Lampung yang dulu megah, suasana terasa sesak meski tak ada seorang pun yang berbicara. Seorang gadis bernama Kholifah duduk bersimpuh di depan ayahnya, Pak Ruslan, yang sejak tadi menatapnya dengan sorot mata keras. Ibunya, Bu Yati, duduk di sisi lain, wajahnya dipenuhi guratan lelah.
Kholifah adalah anak sulung dari Pak Ruslan, seorang pengusaha kopi yang dulunya cukup disegani. Namun, krisis moneter yang melanda Indonesia sejak tahun lalu telah menghancurkan segalanya. Nilai tukar rupiah jatuh, harga bahan pokok melonjak, dan usaha keluarganya gulung tikar dalam sekejap. Demi menyelamatkan kehormatan dan martabat keluarga, Pak Ruslan meminta pinjaman kepada sepupunya yang lebih kaya, Tuan Basri. Tapi pinjaman itu tidak gratis.
Sebagai gantinya, Kholifah harus menikah dengan Fadil, anak lelaki tertua Tuan Basri.
“Ayah, aku mohon… jangan paksa aku menikah,” suara Kholifah bergetar, hampir tenggelam dalam suara hujan di luar.
Pak Ruslan mengembuskan napas, kemudian berkata dengan nada tegas, “Ipah, ini bukan soal mau atau tidak mau. Ini tentang keluarga kita. Hutang ayah pada Basri besar. Kalau kau menikah dengan Fadil itu akan menyelamatkan kita dari kehancuran.”
“Tapi Ayah tahu aku tidak mencintainya!” Mata Kholifah mulai basah.
Pak Ruslan mengalihkan pandangan. Mungkin ada bagian dari hatinya yang terluka juga, tapi harga diri seorang kepala keluarga harus lebih besar daripada perasaan seorang anak perempuan.
“Kau pikir hanya cinta yang penting dalam pernikahan? Pi’il kita tidak mengajarkan itu.”
“Tapi bagaimana dengan hidupku, Ayah?” Kholifah memohon, suaranya pecah. “Aku harus menghabiskan seluruh hidupku dengan seseorang yang tidak kucintai hanya karena kesalahan yang bukan milikku?”
“Sudah cukup,” potong Pak Ruslan. “Besok, pernikahan akan tetap berlangsung. Tidak ada lagi yang perlu dibahas.”
Kholifah ingin berteriak, ingin melawan, ingin lari. Tapi ke mana?
Tak ada tempat bagi seorang anak gadis untuk melawan pi’il keluarganya sendiri