Yun Ja Oppa

1039 Words
Aku terlalu pusing untuk memikirkan hal yang benar-benar tidak aku mengerti. Perubahan wajah Paman benar-benar membuat aku sangat curiga. Ada hal yang beliau sembunyikan di belakangku. Apa itu sebenarnya? Semuanya seolah berhubungan denganku, semuanya seolah mengikat aku, dan semuanya membuat aku merasakan sesuatu hal yang aneh. Paman Soo kini bahkan begitu Murung, ketika aku mulai bertanya perihal ibu. Itu semua mengundang kecurigaaku. Tapi sudahlah, aku tidak ingin membahas itu lagi, daripada membuat taman sedih, sebaiknya aku berdiam diri saja, tidak perlu membahas apapun tentang ibu pada Paman. Karena itu membuat aku sangat kebingungan. Di tengah keramaian seperti ini, harusnya aku dan Paman merasa sangat bahagia seperti tadi. Tetapi kini setelah pertanyaanku mood Paman berubah dengan drastis. Akhirnya sore itu kami memutuskan untuk pulang ke Mansion. Sebelum pulang Paman membelikan aku beberapa helai pakaian. Dia membelikan semua kebutuhan dan juga perlengkapan untukku sekolah. Tidak ku pungkiri, sekarang Paman menjadi orang tuaku. Beliaulah yang mencukupi semua kebutuhanku, menjaga dan merawatku, sehingga aku tidak mau melihat Paman bersedih seperti itu lagi. "Ji Soo, jika ada yang kamu perlukan lagi katakan saja semuanya kepada Paman, ya," kata Paman Soo dengan menorehkan sedikit senyum kepadaku. "Paman, untuk saat ini semua keperluanku sudah kita beli tadi. Aku sangat berterima kasih karena Paman begitu baik padaku," "Kenapa berkata seperti itu, itu semua adalah kewajiban Paman menjagamu dan memenuhi semua kebutuhanmu, di dunia ini hanya Paman yang kamu miliki sekarang, kamu tidak perlu sungkan ya, Sayang!" ucap Paman tersebut manis sambil membelai lembut rambutku. Entah kenapa aku merasa senang ketika Paman memberikan belaian seperti itu, seperti halnya Ayah memberikan belayan itu kepadaku dahulu. Tidak dipungkiri aku begitu merindukan Ayah. Paman Soo memang tidak bisa menggantikan Ayah untukku, tetapi setidaknya Paman bersikap seperti Ayah bagiku. Walau sampai kapan pun tidak ada yang bisa menggantikan Ayah di hatiku. "Gomawo, Samchon," ucapku sambil menolehkan senyum yang manis kepadanya. Ketika kami berdua sedang asyik mengobrol tiba-tiba saja ponsel Paman berdering begitu kencang. Paman Soo mulai menerima panggilan telepon tersebut. "Halo," kata Paman sambil menempelkan posnsel-nya di telinga. Entah Paman menerima panggilan telepon dari siapa, tetapi panggilan telepon tersebut membuat mood Paman yang rusak kini kembali bagus. Wajah Paman berbinar seketika. Aku menjadi sangat penasaran, siapa orang yang melakukan panggilan telepon bersama, Paman? Pastilah dia seseorang yang sangat berarti buat Paman Soo. "Oke, baiklah Yeon Ja, Aboeji tunggu sampai waktunya tiba," kata paman Soo sambil menutup panggilan telepon tersebut. "Aboeji? Apakah tadi itu Samchon berbicara dengan Yun Ja Oppa?" Kataku dengan suara yang agak pelan, namun Paman bisa mendengar pertanyaanku. "Betul sekali Ji Soo, tadi itu adalah Yun Ja, Oraboeni-mu," kata Paman Soo sambil menatapku dan memberikan aku sebuah senyuman yang begitu manis. Kali ini aku melihat perubahan mood Paman, dia tersenyum begitu bebas tidak seperti tadi. Sepertinya aku sudah mengetahui letak dari senyum itu. Telepon dari Yun Ja Oppa sudah membuat mood Paman berubah dan terlihat jelas bahwa Paman Soo begitu menyayangi Yun Ja Oppa. "Oraboeni-mu akan segera pulang ke Seoul, dia mengatakan ingin tinggal di rumah sampai liburan musim semi ini berakhir. Dan kamu nanti akan berkenalan dengan dia, kamu jangan khawatir Ji Soo, Yun Ja akan bersikap baik padamu," ucap Paman menyunggingkan senyumnya. Membuat aku benar-benar merasa tenang karena senyuman itu kembali berbinar. "Yun Ja Oppa, apakah dia akan menerima aku, Samchon?" tanyaku dengan ragu-ragu. Aku hanya takut yang Yun Ja Oppa menolakku seperti halnya Ahjumeoni cantik itu. Padahal aku sudah tinggal bersama selama beberapa bulan, tetapi Ahjumeoni tetap memberikan aku senyuman masangnya. Kalau dipikir, semuanya terlihat begitu sulit untukku. Aku harus bisa menelan semua kemasaman itu setiap saat. Tapi sudahlah, sebaiknya aku nikmati saja semuanya. Aku pun tidak memiliki pilihan lain. Aku hanya akan bertahan dengan semua cobaan yang ada. "Yun Ja sangat baik, dia ramah tidak akan mungkin dia tidak menerimamu, aku mengenal sifat dan karakter Putraku, jadi kamu tidak perlu merasa khawatir," Paman Soo berkata sambil membelai kembali rambutku, sepertinya rambutku ini salah satu kegemarannya, karena setiap kali kami bersama rambutku ini menjadi sasaran untuknya. "Semoga saja Samchon, karena memang aku sendiri benar-benar merasa takut, jika sampai Yun Ja Oppa menolak kehadiranku," "Tidak mungkin, dia tidak pernah bersikap tidak baik kepada orang lain, apalagi bersikap tidak ramah kepada seorang gadis, kamu tenang saja jangan memikirkan hal yang tidak penting!" kata Paman memberikan semangat untukku, agar aku tidak terlalu berpikiran negatif tentang Yun Ja Oppa. "Baiklah Samchon, setidaknya aku bisa bernapas dengan lega," ucapku dengan menorehkan sedikit senyum kepada Paman Soo. "Nah seperti itu, jangan berpikiran negatif terlebih dahulu!" ujar Paman kepadaku. Aku pun hanya bisa mengangguk dan tersenyum dengan manis. Mencoba untuk mengerti bahwa semua ketakutanku itu hanyalah sebuah bayangan yang semu. Aku terlalu takut untuk bertemu dengan orang baru. Mengingat perlakuan Ahjumeoni dan Kang Ha kepadaku, tidak membuatku nyaman tinggal di rumah Paman. Aku merasa tercekik dan merasa sesak setiap harinya. Rasanya aku berada dalam sebuah sangkar emas yang di dalamnya bahkan ada lintah yang suatu saat bisa menyedot darahku. Tidak ku pungkiri perlakuan Ahjumeoni kepadaku membuat aku susah untuk tertidur dengan lelap. Karena kecemasan selalu datang dalam setiap malamku. Tapi apalah dayaku, aku hanya bisa bertahan dengan semua rasa sakit yang kurasakan. Karena aku tidak memiliki pilihan lain selain tetap tinggal dan menikmati semua sikap masam mereka. "Baiklah Samchon, aku akan berusaha selalu berpikir positif," "Yun Ja itu sangat baik, walaupun dia memang sedikit pendiam. Dia sangat susah untuk berkomunikasi dengan orang baru, tetapi yakinlah bahwa dia tidak pernah menyimpan rasa benci dan sifat seperti ibunya, Bibimu memang selalu bersikap masam bukan cuma terhadap kamu, tapi terhadap orang luar yang masuk ke keluarga kita, beruntunglah Yun Ja tidak memiliki sifat seperti sang ibu," tutur Paman Soo kepadaku. "Benarkah mereka memiliki sifat yang berbeda? Aku merasa sedikit tenang kalau seperti itu, Paman," "Benar sekali Ji Soo, semua itu memang ada sebabnya. Dulu Bibimu tidak pernah bersikap seperti sekarang, dia begitu ramah kepada setiap orang. Tetapi semenjak ada orang yang berusaha untuk mencelakakannya, dia berubah dan selalu saja menolak keberadaan orang luar untuk mendekatinya," "Mencelakainya?" Sebuah pertanyaan yang aku lontarkan kepada Paman mungkin tidak seharusnya aku katakan. Karena aku melihat Paman seolah-olah malas untuk menceritakan hal itu. Catatan kecil author : Halo sahabat ini adalah cerita keduaku di di aplikasi dreame/ innovel. Kali ini saya menyajikan sebuah cerita dengan nuansa korea yang kental, karena itu yang suka drama korea pasti akan tau bahasa atau kata-kata sapaan yang saya gunakan. Selamat membaca semoga sahabat suka. Selamat membaca. Salam sayang dariku Evangelin Harvey.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD