Panggil Aku Aboeji

959 Words
Hari minggu berikutnya, seperti biasa kami pun pergi ke pusat perbelanjaan. Sore itu Paman Soo sudah membelikan aku banyak sekali barang. Dimulai dari pakaian sepatu dan juga alat make'up lainnya. Paman Soo terlihat begitu senang memilihkan aku banyak pakaian. Aku merasa sangat disayangi aku merasa masih memiliki orang tua. Mungkin aku adalah gadis yang sangat beruntung, karena seorang gadis yatim piatu masih bisa merasakan kehangatan seorang Ayah. Walaupun bukan Ayah kandung. Tetapi kasih sayang Paman Soo terasa begitu berarti untukku. Aku Sayang kepada Paman. Mencintai Paman layaknya anak mencintai Ayahnya. "Ji So berdandanlah yang cantik, nanti malam karena seseorang akan datang dan akan Paman perkenalkan kepadamu," ujar Paman Soo kepadaku. Pria itu menatapku dengan tatapan yang penuh kasih sayang. Senyumnya lebar benar-benar membuat hatiku terasa sejuk dan damai. "Samchon, bukankah tidak berdandan pun aku masih terlihat cantik." Aku berkata sambil menorehkan sedikit senyum genit kepada Pamanku itu. Aku mulai bersikap manja kepadanya. Tidak dipungkiri rasa sayangku kepada Paman benar-benar sudah terkumpul penuh dalam jiwaku. "Kamu memang sangat cantik, sangat mirip dengan Ibumu dan Paman juga tidak akan membiarkan kamu dandan terlalu tebal. Sudah, kamu cukup berpakaian rapi dan mengenakan minyak wangi, kamu sudah cantik," Paman Soo berkata dengan memberikan sebuah belaian lembut kepalaku. Ah ... aku sungguh bahagia karena hidupku ternyata indah, tidak sesulit yang aku bayangkan. Walaupun memang pada saat aku pulang ke rumah aku akan disajikan dengan muka kecut dua wanita itu. Aku tidak peduli yang penting aku tidak berbuat salah terhadap mereka berdua. Aku akan mencoba hidup bahagia dan tidak akan menangis lagi. Walaupun Eomoeni dan Aboeji sudah tiada aku masih memiliki Samchon disampingku. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan telah mengirimkan malaikat yang berwujud manusia seperti Samchon. "Samchon, kenapa Samchon menganggapku serius. Aku bahkan tidak secantik itu, tadi aku hanya bercanda saja." Kataku sambil menolehkan senyum yang manis. "Tidak Sayang, semua adalah kenyataan. Kamu memang cantik kok, kamu sangat mirip dengan ibumu, cara berbicara, cara berpakaian, rambutmu, dan postur tubuhmu benar-benar sangat mirip ibumu. Bahkan aku terasa muda kembali jika melihat dirimu, saat aku menatapmu aku seolah sedang menatap Haeso, Haeso memang sudah tidak ada. Tetapi dia hidup kembali di dalam tubuhmu. Tuhan telah memberikan aku kesempatan untuk merawatmu berada disampingmu. Aku akan menjagamu sampai akhir nafasku, tidak akan ada orang yang menyakitimu selama aku masih hidup. Kamu adalah putriku dan itu tak terbantahkan. Bisakah kamu memanggil aku Aboeji?" tutur Paman dengan tatapan mata yang sendu. "Apa, Aboeji?" Aku terkejut Paman meminta aku untuk memanggilnya Ayah. "Iya, anggaplah aku sebagai Aboeji-mu. Maukah kamu menganggapku sebagai Aboeji-mu?" pinta Paman Soo kepadaku. "Samchon aku tidak bisa memanggilmu Aboeji, tidak boleh terjadi. Jika Aku memanggilmu Aboeji maka Ahjumeoni tidak akan membiarkan aku tidur dengan tenang, beliau pasti tidak menyukai panggilan tersebut. Maafkan aku Samchon aku hanya akan memanggilmu dengan sebutan Samchon saja!" Aku berkata dengan suara yang bergetar aku benar-benar tidak bisa lagi untuk merasa tenang. Aku memang ingin sekali mengikuti permintaan dari Paman. Memanggilnya dengan sebutan Ayah. Tapi itu semua tidak bisa aku lakukan. itu sama saja dengan ku membunyikan genderang perang. Aku tidak mau menambah kebencian pada Bibiku itu. Memanggil Paman Soo dengan sebutan Paman dan tinggal di rumahnya sudah membuat Bibi begitu marah kepadaku. Dan kini bahkan Bibi akan sangat mengamuk ketika aku memanggil suaminya dengan sebutan Ayah. Aku tidak sanggup menerima amukannya. "Benar juga apa yang kamu katakan, Ahjumeoni-mu pasti akan marah mendengarmu memanggilku dengan sebutan Aboeji. Dan jika dia marah pasti akan menindasmu, sudah-sudah lupakan semuanya, panggil aku dengan sebutan biasa saja," Pangan berkata kepadaku dengan penuh kelembutan. Apa yang Paman katakan barusan memang benar adanya. Bibi pasti akan menindasku. Dan aku tidak bisa membayangkan hal itu terjadi. Aku bahkan tidak akan bisa tidur lelap jika sampai bayanganku ini menjadi kenyataan. Aku tidak mau membayangkan hal yang buruk. Lupakan saja semoga itu tidak terjadi. "Ya sudah Ji So, ayo kita pulang sekarang dan segeralah masuk ke kamarmu, turunlah pada saat jam makan malam!" Pinta Paman Soo kepadaku. "Baiklah Samchon," jawabku kepada Paman Soo. Aku hanya bisa menuruti semua perkataannya. Aku tahu itu semua demi kebaikan ku agar aku tidak terlalu sering melihat wajah masam istrinya. Aku memang lebih nyaman berada di kamar. Lagian semua kebutuhanku telah tercukupi barang-barang yang ada di kamarku telah tersedia lengkap. Mungkin aku akan keluar pada saat jam makan saja. Tetapi jika Paman tidak ada, aku bahkan tidak berani keluar untuk makan. Biasanya pelayan akan datang mengantar makanan ke kamarku. Dan kegiatan itu sudah aku lakukan semenjak aku datang ke rumah ini. Rumah yang begitu besar dan megah yang bahkan tidak pernah aku mimpikan sebelumnya. Tapi Rumah ini begitu sepi dan hampa, ketakutan selalu menyelimutiku. Apa yang harus aku lakukan untuk menarik perhatian Bibi. Agar Bibi bisa menyukaiku. Aku tidak mau terus-menerus hidup seperti ini. Selalu dicemburui oleh sepupu sendiri. Dan selalu diberikan senyuman masam oleh istri dari Pamanku. Kehidupan ini tidak selancar yang dibayangkan. Tetapi aku tetap bersyukur karena aku bisa lebih baik daripada orang lain. Kini aku sudah berada di dalam kamarku, kucoba untuk merebahkan tubuh lelahku. Tanpa kusadari aku pun ternyata sudah terbuai dan terlelap dibawah alam mimpi. Sampai akhirnya sebuah ketukan pintu membuyarkan mimpi indahku. Aku terkejut karena ternyata ini sudah malam. "Nona anda dipanggil Tuan Besar untuk turun!" ucap salah satu pelayan di balik pintu kamarku. Akupun mencoba untuk bangun dari posisi tidurku. Aku mengikat rambutku lalu membuka pintu tersebut. "Tolong katakan aku akan segera turun sepuluh menit lagi." "Baiklah Nona." Pelayan itu pun langsung pergi meninggalkanku, aku dengan segera menutup pintu tersebut dan menguncinya, setelah itu aku bergegas mandi dan langsung mengenakan pakaian yang telah Paman belikan kepadaku tadi. Setelah siap aku pun mencoba untuk membuka diri keluar dari kamarku dan melangkah menelusuri tangga. Kini semua mata memandang ke arahku. Tetapi ada sosok mata yang redup dengan pantulan yang begitu cerah. Tatapan mata yang tidak biasanya yang baru ku temui saat ini. Tatapan seorang pria yang sangat tampan yang duduk di samping Paman Soo. Siapakah sosok baru itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD