Debaran

978 Words
"Duduklah Ji So.'' Paman membersilahkan aku untuk duduk di sampingnya. Kenapa malam itu aku merasa sangat gugup. Ketika kini bahkan ada sesosok yang tampan berada di hadapanku. Seorang pria yang benar-benar membuat jantungku tidak karuan, detakkannya begitu kencang lain dari pada biasanya. "Terima kasih Samchon." Aku tersenyum kepada Paman dan mulai untuk menyantap sajian yang berada di hadapanku. Ini benar-benar malam yang spesial karena sepertinya semua masakan ini dimasak oleh Ahjumeoni. Aku menikmati masakan yang dimasak olehnya. Tidak dipungkiri bahwa masakan Bibi begitu lezat dan membuat aku seolah tidak mau berhenti untuk memakan semua sajian itu. Ahjumeoni sendiri hanya bisa terdiam begitu pula dengan Kang Ha. Karena melihat mereka gang membisu seperti itu, membuat aku lupa untuk sesaat bahwa di hadapanku ada seorang yang asing yang telah mendebarkan hatiku. "Yun Ja, sekarang adikmu ada dua, ada Kang Ha dan juga Ji So. kamu harus menjaga mereka berdua terutama Ji So, dia belum lama tinggal di sini dan dia masih butuh bantuanmu untuk mengenal kota ini." Paman berkata kepada sosok pria yang ada di hadapanku, benar sekali nama pemuda itu adalah Yun Ja dan aku pernah mendengar nama itu, akan sering mendengar nama itu di Rumah ini. Oh ternyata ini adalah anak tunggal dari Paman dan Bibi, sangat tampan aku takjup karena Oppa-ku benar-benar tampan sangat mirip dengan Paman. Sepertinya ketika Paman Soo masih muda, Paman memiliki ketampanan seperti Oppa ini. Aku tidak menyangka Paman dan Oppa sangat mirip bagai pinang dibelah dua. Tapi perbedaannya hanya dalam usia saja. Yang satu sudah paruh baya dan yang satu masih sangat remaja. Aku senang melihat pantulan mereka, benar-benar seperti kaca. Tetapi sesaat sesuatu telah membuyarkan lamunanku. Pria di hadapanku kini tersenyum melihat ke arahku. Senyumnya begitu manis aku tidak percaya senyuman itu bisa membuat jantungku seperti mau lepas. Benar-benar begitu menawan. Aku menyukai senyuman itu. Ya Tuhan ada apa dengan diriku, Kenapa hanya dengan sebuah senyuman hatiku bisa berdetak tak karuan seperti ini. "Baiklah Aboeji, aku akan menjaga mereka berdua menjaga adik-adik kecilku yang manis ini," kata Yun Ja kepada Paman Soo. Suara Oppa sangat bagus, benar-benar langsung masuk ke dalam hatiku. Bukan cuma ketampanan Oppa yang memikat, tapi senyuman Oppa yang membuat hatiku tak karuan, tetapi suaranya pun kini berhasil membuat degupan jantungku semakin cepat. Benar-benar sangat membahagiakan memiliki Oppa setampan itu. "Ji so, ini adalah Oppa-mu kalian harus baik-baik, harus akrab, kalian adik kakak dan kalian tidak boleh bermusuhan, ok!" pinta Paman kepada kami. Kini aku hanya bisa mengangguk saja, semua ucapan Paman saat ini benar-benar membuat aku senang, aku memiliki Oppa tampan itu dan Paman menyarankan aku untuk tidak bermusuhan dengan Oppa. "Tidak mungkin aku memusuhi adik adikku sendiri Aboeji, aku janji akan menjaga mereka berdua," kata Yun Ja Oppa sambil tersenyum ke arahku, tapi lagi-lagi Oppa tersenyum begitu manis dan lagi-lagi jantungku berdetak tak karuan. Apa ini, kenapa aku bisa seperti ini, sudahlah lupakan saja. Aku harus bisa menstabilkan debaran jantungku ini karena jika getaran akan sangat memalukan. Semuanya terlihat begitu manis senyumnya itu membuat aku benar-benar seolah terhipnotis olehnya. "Bagus sekali Yun Ja, Aboeji memegang kata-katamu, dan ucapanmu itu harus bisa dipertanggung jawabkan?" ucap Paman Soo kepada Putra semata wayangnya. Paman Soo memberikan senyuman yang manis kepada Sang putra, begitu pula dengan Oraboeni. Dia pun membalas senyum sang Ayah dengan manis pula. Lain halnya dengan paman, Bibi benar-benar tidak memperlihatkan ekspresi senang ketika peman Soo memerintahkan untuk baik kepadaku. Dia masih saja bersikap masam dan tidak mau menatapku. "Kalian berdua itu terus saja berbicara, lantas kapan kalian makan? Ayo ini Yun Ja, Eomma buatkan ini khusus buat kamu, Sayang. Makan yang banyak. Sudah lama kan kamu tidak memakan makanan rumah," tutur Bibi kepada Putra kesayangannya. "Benar sekali Eomoeni. Aku bahkan sangat merindukan masakanmu, tidak ada yang bisa menggantikan cita rasa masakanmu di sana, karena semuanya beda, karena makanan ini Eomoeni bubuhkan dengan penuh cinta, maka terasa begitu lezat di lidahku," Yun Ja Oppa tersenyum begitu manis kepada bibi dan Bibi pun menyambut senyuman Putra kesayangannya dengan begitu segar. Baru pertama kali aku melihat bibi tersenyum begitu manis seperti itu. Bibirya yang indah merekah seperti bunga mawar, di usianya yang sudah paruh baya wanita itu masih saja terlihat cantik pantas saja Paman Soo menjadikan dia sebagai istrinya, karena Bibi sangat cantik. Kecantikan itu terpancar dan menurun kepada putranya. Mereka adalah sepasang suami istri yang sangat cocok, melahirkan seorang Putra yang sangat tampan seperti Yun Ja Oppa. Hidup Mereka terlihat begitu bahagia, benar-benar bahagia. Andai saja Aboeji dan Eomoeni masih ada, mungkin aku pun akan tampak bahagia seperti yang terpancar di wajah Yun Ja Oppa. Sayangnya takdir setiap manusia itu berbeda. Takdirku dan takdir orang lain tidak akan pernah sama. Aku hanya harus menikmati sisa hidupku sebisa mungkin. Aku harus bisa lebih bahagia agar Aboeji dan Eomoeni bisa bahagia melihatku dari surga. Aku tahu mereka memperhatikanku di atas sana. Karena itulah aku harus lebih bahagia dan harus tersenyum setiap hari. "Baiklah terima kasih atas pujiannya, tapi memang benar apa katamu. Setiap Eomma masak semua itu Eomma sajikan dengan rasa cinta. Karena Eomma membumbuinya dengan rasa sayang dan taburkan dengan penyedap kebahagiaan untukmu, Sayang." Bibi itu tersenyum kepada putranya sambil menuangkan beberapa makanan ke dalam mangkuk mangkuk Yun Ja Oppa. "Eomoeni sekarang sudah pintar berpuisi aku semakin merindukan Eomma saat jauh disana, beruntunglah sekarang aku bisa pindah sekolah ke sini." Pria itu berkata sambil mengunyah makanannya. Lalu dengan segera menelan makanan tersebut dan tersenyum begitu manis. "Iya Putraku Sayang, tinggallah di Rumah karena Eomma sendiri begitu merindukanmu ketika kamu jauh disana, Eomma tak sanggup harus kesepian setiap harinya tanpa dirimu," "Eomoeni, tidak akan kesepian lagi aku akan menemani setiap hari. Lagian sudah ada Kang Ha dan Ji So, jika Eomoeni masih kesepian tidak masuk akal, jadi mulai detik ini Rumah ini akan sangat ramai," Yun Ja Oppa Berkata sambil menorehkan senyum yang begitu memukau, membuat aku tidak berhenti untuk menatap senyuman itu disebut. Aku memiliki kakak yang tampan itu. Ya Tuhan apakah aku bermimpi. Kakakku bahkan tidak kalah dari seorang selebritis. Aku sungguh beruntung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD