Berawal dari senyumnya yang membuatku membisu. kini membuat jantungku berdegup kencang ketika aku bertemu dengannya. Bahkan aku tidak bisa menutupi kegundahanku katika aku tahu kalo Yun Ja Oppa akan tinggal dan sekolah di sekolahku. Samchon ingin Yun Ja Oppa menjagaku. Padahal tidak harus seperti itu juga Paman. Itu malah akan membuatku semakin berdebar.
Setiap hari kami berangkat Sekolah bersama. Yaa kami bertiga, aku Yun Ja dan Kang Ha. Kami semakin dekat dan setelah kedatangan Yun Ja Oppa di Rumah membuatku seperti punya napas baru. Apakah aku menyukainya? Entahlah yg pasti itu tidak mungkin. Yeoja seperti aku tidak boleh mimpi terlalu tinggi. Tinggal di rumah ini saja sudah membuatku beruntung.
Tapi anehnya semakin hari Yun Ja Oppa semakin perhatian padaku. Aku tidak mau seperti ini. Karena ini Sangat menyiksa hatiku. Please Oppa jaga jarak aman okay.
Tapi sepertinya aku telah takluk dan semakin hari semakin menyukai Oppa-ku. Semua perhatian Yun Ja Oppa padaku membuatku tidak bisa memahami perasaanku sendiri. Ini sangat tidak benar, aku harus melupakan Oppa dan mencoba membendung rasa sukaku terhadapnya. Sebisa mungkin perasaan ini harus aku simpan dalam-dalam.
Aku tidak boleh menyimpan perasaan ini terlalu lama. Aku harus menjadi adiknya yang baik dan penurut. Bukan malah menyukai kakakku sendiri.
"Ji so, ayo pulang!" Yun Ja Oppa mengajak aku segera masuk ke dalam mobil hari ini memang tidak masuk karena dia agak sedikit demam. Jadi gini hanya aku dan Opah berangkat sekolah berdua saja.
"Eh ... Iya Oppa," Aku tersenyum saja ketika Yun Ja Oppa mencoba mengajak aku berjalan menuju arah kendaraan kami.
Sesampainya kami di dalam mobil aku pun baru menyadari sesuatu hal. Ke mana Pak Sopir yang biasa mengantar Jemput kami sekolah?
"Oppa, Ajeossi kemana?" Aku bertanya kepada kakakku sambil mengerutkan dahi. Yang jawab sendiri hanya bisa tersenyum kepadaku sambil terus mengemudikan kendaraannya. Pria itu tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.
"Oppa, apa kamu sakit? Kenapa tiba-tiba saat tersenyum seperti itu tanpa menjawab pertanyaanku?" Sedikit mengejeknya karena kali ini yang Yun Ja Oppa begitu mencurigakan dia hanya senyum-senyum kecil tanpa menjawab semua pertanyaanku. Ada apa ini kenapa tiba-tiba Yun Ja Oppa menjadi menyebalkan seperti ini.
Aku mendadak menjadi sangat gemas dibuatnya, senyumannya begitu mendebarkan hatiku, semakin membuat aku seolah terpancing dan tertantang untuk terus menyukainya.
Please Oppa jangan membuat aku tambah menyukaimu, cukup sudah, aku harus menjadi adikmu yang baik dan penurut. Aku tidak bisa terus-menerus menyukaimu seperti ini karena rasanya aku menjadi sangat bersalah. Apalagi Senyummu begitu menawan, lucu dan menggemaskan, senyum yang sangat aku sukai. Aku harap kamu tidak tersenyum lagi seperti itu, karena itu hanya akan membuat aku semakin tidak bisa lepas darimu.
Tanpa kusadari sedari tadi aku terus menatapnya, benar-benar menatapnya. Bagiku semua yang dilakukan oleh Pria di sampingku sangat keren, dia mengemudikan kendaraannya sambil sesekali mencuri pandang ke arahku. Ah ... Oppa kamu membuat aku semakin nervous.
"Kita tidak langsung pulang ke rumah ya, Oppa akan mengajakmu ke suatu tempat terlebih dahulu," ucapkan Yun Ja Oppa sambil menghentikan laju kendaraannya, tiba-tiba saja dia tersenyum manis kearahku dan mengajak aku segera turun.
"I-ini di mana?" Aku merasa sangat gugup, tanpa kusadari aku telah berada di suatu tempat yang tidak aku kenal, dimana ini aku sungguh tidak tahu tempat ini.
"Ini tempat favoritku kita akan makan siang di sini!" Pria itu kembali tersenyum, senyumannya membuat aku tidak bosan untuk terus memandangnya.
Kenapa senyumannya begitu manis seolah-olah mengalahkan manisnya madu. Aku ingin sekali mengecup madu itu. Akupun turun dari mobil dengan perlahan. Sambil mencoba menetralisir degupan Jantungku. Benar-benar debaran jantungnya menggangguku. Aku jadi tidak bisa konsentrasi melakukan apapun jika di hadapannya.
Tiba-tiba saja Yun Ja Oppa menarik tanganku karena memang saat itu turun hujan.
"Apa yang kamu pikirkan, kenapa hanya berdiam diri saja di pinggir mobil, padahal sudah tahu turun hujan?" Yun Ja Oppa kini sudah duduk dihadapanku, aku hanya bisa menorehkan sedikit senyum untuknya.
"Aku hanya kebingungan melihat tempat ini. Masalahnya aku belum pernah datang ke tempat seperti ini ini cantik sekali aku suka suasananya," ucapku sambil melihat ke sekeliling.
Sebuah Resto sederhana yang di desain khusus seolah-olah sedang berada di sebuah restoran zaman dahulu, masa-masa Kerajaan Goreo. Kami berdua kini sudah berada di tengah danau, sebuah danau kecil yang sengaja dibuat, dengan bangunan kecil yang terbuat dari kayu yang sekarang sedang kami pijak, agar terkesan kami itu sedang duduk di tempat para Raja bersantai.
Benar-benar sangat indah seolah aku sedang berada di masa lalu.
"Ini adalah Resto kesukaanku, makanan di sini sangat lezat. Aku sangat suka. Resto ini sangat terkenal dan Aboeji mengatakan bahwa Resto ini memang sudah ada sejak Aboeji masih belia," Opa berkata kepadaku menjelaskan betapa dia menyukai Resto ini. Terlihat begitu kuno tetapi Ketika aku melihat daftar menu tersebut, benar-benar membuat jiwa miskinku berteriak.
"Kenapa kita harus makan di sini, lihatlah harganya begitu mahal, satu cangkir teh saja bisa untuk membeli sepuluh cangkir teh di tempat lain," Aku berkata sambil menatap buku menu tersebut. Benar-benar sangat takjub dengan harga makanan di sini. Sangat mahal jika aku datang sendiri ke sini aku hanya akan sanggup membayar satu cangkir teh saja.
"Tidak harus mempermasalahkan uang. Resto ini sudah Aboeji booking untuk kita," pria itu tersenyum manis aku sungguh tidak suka dengan senyumannya karena setiap dia tersenyum, hatiku sekolah mau meledak. Aku tidak boleh terus-terusan seperti ini. Apa kata dunia jika mereka tahu aku menyukai kakak sepupu sendiri.
"Apa? Samchon membooking Resto ini?" Ada apa ini, aku sungguh tidak mengerti. Kenapa Samchon sengaja membikin Resto ini?
Tetapi Yun Ja Oppa sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya tersenyum manis kearahku, setiap hari harus menerima dan melihat senyuman manis itu. Lama-lama aku bisa terkena Diabetes. Ini tidak bisa di biarkan.
"Selamat ulang tahun Wang Ji So," ucap seseorang memecah kesunyian. Aku terkejut, aku lupa hari ini adalah hari ulang tahunku. Air mataku tiba-tiba saja menetes tatkala melihat Samchon membawakan kue ulang tahun untukku.
"Saeng-il chughahabnida, Wang Ji So,"
"Ayo tiup lilinnya!"
"Iya Ji So, segera tiup lilinnya,"
Sungguh keterlaluan Ayah dan anak ini membuat aku menangis. Mereka mempersiapkan sebuah kejutan yang membuat aku tidak henti meneteskan air mata karena bahagia. Dua orang pria ini sungguh membuat aku tidak henti untuk tersenyum dan merasakan hangatnya sebuah keluarga.
"Ajeossi, jeongmal gomawoyo hyeongnim salanghabnida," Terimakasih banyak paman, kakak, aku sayang kalian.