Dara mengulas senyum tipisnya, lembut seperti bayang-bayang rembulan yang memantul di permukaan danau. "Mas, daripada marah-marah, lebih baik carikan aku makan. Lapar soalnya." Daffa menelan salivanya dengan susah payah. Bisa-bisanya Dara meminta makan di saat dirinya tengah serius, suaranya tadi bahkan sedikit bergetar oleh emosi yang ia tahan. "Ya sudah. Aku juga lapar. Mau aku belikan apa?" suaranya kini lebih tenang, seperti ombak yang baru saja reda setelah dihantam badai. "Ayam goreng. Minumnya terserah, yang manis dan dingin. Oh, dan air mineral juga." Yang tadinya menahan amarah, Daffa malah terkekeh kecil. Sorot matanya melembut, melihat Dara yang kini tak lagi murung. Tangannya terulur, mengusap lembut rambut perempuan itu sebelum ia bangkit dari duduknya. "Aku beli makan d

