Saya nggak Tahu

1496 Words

Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja sampai ke kafe. Dara dan Daffa turun dari mobil secara bersamaan, disambut oleh aroma kopi yang menguar di udara, bercampur dengan semilir angin malam yang membelai lembut kulit mereka. Dara tampak gugup. Jantungnya berdebar tak beraturan, seolah-olah ada seribu kupu-kupu beterbangan liar di dalam dadanya. Ketakutan menjalar seperti kabut tipis yang menyelimuti sanubarinya. Ia takut—takut jika nanti Melawati akan meluapkan amarahnya karena keberaniannya melangkah pergi dari rumah. Matanya, yang biasanya berbinar cerah, kini redup, enggan menatap dua sosok yang menunggu mereka di sofa dengan tatapan penuh makna. Daffa melangkah dengan pasti, penuh keyakinan, sementara Dara hanya bisa menelan ludah. Keringat dingin mengalir pelan di pelipisn

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD