Satu jam kemudian. Dara membuka matanya perlahan. Seberkas cahaya putih dari lampu ruangan menusuk retinanya, membiaskan bayangan samar yang belum sepenuhnya jelas. Ia mengedarkan pandangan, mengamati setiap sudut ruangan yang terasa begitu asing, begitu dingin—seakan menjadi penjara yang membatasi kebebasannya. "Aaahhh...." Dara meringis pelan, tangannya refleks meraba perutnya yang terasa nyeri. Setiap denyutnya mengingatkannya pada kenyataan yang tak bisa dihindari. "Di mana ini? Rumah sakit kah? Aku kenapa, ya?" bibirnya bergetar, suaranya nyaris tak terdengar. Tatapannya beralih ke samping, menemukan sosok Daffa yang tertidur di atas bangsal dengan wajah yang tampak kelelahan. Napasnya teratur, tapi ekspresinya menyiratkan kecemasan yang belum reda. 'Apakah Mas Daffa yang memba

