Dara lantas berbalik badan setelah melihat Daffa berada di sana. Dadanya bergemuruh, seolah jantungnya ingin melompat keluar. Pria itu duduk berbincang dengan Fahri, wajahnya sendu, tatapannya kosong. Ada bayang-bayang luka yang sulit diterjemahkan di sana. Sekaligus pemilik cafe tempat ia bekerja kini. Dara menelan ludah dengan susah payah. Tangannya gemetar saat memberikan nampan itu pada Riska yang kebetulan sedang lewat. "Mbak. Saya kebelet. Tolong antarkan ini ke pemilik cafe itu, yaa," katanya dengan suara bergetar, menunjuk ke arah Daffa yang sedang termenung dalam lamunannya. Matanya mendadak sayu. Ada sesuatu dalam sorot mata Daffa yang membuatnya tertegun. Daffa tampak lesu, seperti seseorang yang kehilangan warna dalam hidupnya. 'Ada apa dengan Mas Daffa? Kenapa mukanya mu

