Wajah Pangeran Heydar masih terlihat dongkol saat mereka memasuki aula utama istana. Dia memang berniat untuk langsung pergi ke Kerajaan Asytar demi merebut kembali Putri Arezha dan Shirin. Namun, Pangeran Fayruza melarang dan menyarankan untuk terlebih dahulu melaporkan kejadian itu kepada Raja Faryzan. Gulzar Heer tak banyak bicara, hanya mengekori kedua pangeran dengan waja datarnya.
“Salam hormat kami kepada Matahari Kerajaan,” ucap ketiganya saat berdiri di depan singgasana.
Raja Faryzan yang tadi tengah berbicara serius dengan ratu, Pangeran Ardavan, dan Farzam seketika mengerutkan kening. “Kenapa kalian hanya datang bertiga? Di mana Arezha?”
Pangeran Heydar langsung berlutut. “Maafkan kami, Yang Mulia. Kami diserang orang-orang misterius dan lengah. Putri Arezha diculik oleh penguasa Kerajaan Asytar.”
“Apa?”
Raja refleks berdiri. Wajahnya merah padam. Sementara Ratu Azanie menjerit histeris dengan berurai air mata sembari memegangi d**a, lalu merosot perlahan. Untunglah, Pangeran Ardavan bergerak cepat, menahan tubuh sang ibu sebelum membentur lantai marmer. Dia juga menggendongnya ke kamar. Aula utama istana menjadi hening seketika.
Lama mereka semua terdiam, terjebak ketegangan hingga Pangeran Heydar angkat suara, “Yang Mulia, hamba mohon keluarkan perintah untuk p*********n ke Kerajaan Asytar. Hamba sendiri yang akan memimpin pasukan dan membawa kembali Putri Arezha.”
“Menyerang langsung Kerajaan Asytar mungkin akan memakan banyak korban. Tidak bisakah kita mengadakan diplomasi terlebih dulu?” saran Pangeran Fayruza.
“Jika kita terlambat, Kak Arezha dan Shirin akan disiksa olehnya,” sergah Pangeran Heydar.
Raja Faryzan meremas jemari. Pendapat Pangeran Heydar lebih dapat diterimanya. Sepak terjang Raja Atashanoush dalam menyiksa wanita tawanannya sudah sering menjadi buah bibir, mulai dari yang ringan seperti pencambukan, hingga langsung memenggal kepala.
“Tenanglah dulu, Pangeran.” Kali ini, Farzam yang berbicara. Dia mengalihkan pandangan kepada Raja Faryzan. “Baginda, istri hamba pengendali mana elemen angin terbaik di kerajaan ini. Dia bisa mengantarkan pesan untuk diplomasi secepat mungkin. Gulzar Heer dan Pangeran Fayruza bisa ikut untuk perlindungan.”
Menurut perkiraan Farzam, sore hari istrinya sudah bisa sampai ke Kerajaan Asytar. Mereka bisa pulang lebih cepat lagi dengan kemampuan Pangeran Fayruza. Teleportasi dengan media air memang hanya bisa digunakan jika tempat berpindah sudah pernah dikunjungi.
“Yang Mulia, pikirkanlah baik-baik. Kak Arezha yang cerdas pasti juga tidak akan setuju dengan tindakan gegabah,” bujuk Pangeran Fayruza lagi.
Raja Faryzan menekan kening. Dia terjebak dilema. Sebutan iblis untuk Raja Atashanoush bukan tanpa alasan. Menghilangkan sebuah kerajaan kecil dari muka bumi seorang diri pernah dilakukannya. Kerajaan Arion sangat besar dan berjaya, juga mumpuni dalam bidang militer, tetapi tetap akan memakan banyak korban.
Raja Faryzan menghela napas berat. “Baiklah, aku akan menawarkan Daerah Maryava kepada Raja Atashanoush.”
“Apa?” seru Pangeran Ardavan yang baru kembali dari mengantar Ratu Azanie. Dia menatap protes kepada Raja Faryzan. “Anda tidak mungkin melepaskan tanah berlian, kan, Yang Mulia?” cerocosnya.
“Arezha jauh lebih berharga daripada sekedar tambang berlian!”
Pangeran Ardavan mengepalkan tangan dengan kuat. “Kuharap, kakak s****n itu mati saja di tangan Raja Atashanoush,” gerutunya dalam hati.
Raja Faryzan pun segera menuliskan surat. Sementara itu, Gulzar Heer bersama Fayruza menuju kolam kecil di tengah aula untuk menjemput Delaram melalui teleportasi. Mereka kembali ke istana tepat setelah surat selesai dibuat.
“Salam hormat hamba kepada Matahari Kerajaan,” cetus Delaram sembari membungkukkan badan.
“Tidak usah berbasa-basi, Delaram. Sesegera mungkin sampaikan surat ini kepada Raja Atashanoush,” cetus Raja Faryzan sembari menyerahkan surat.
“Baik, Yang Mulia. Kami akan segera berangkat.”
Setelah berpamitan, Delaram memegang tangan Gulzar Heer dan Pangeran Fayruza. Mereka menuju jendela aula istana. Tak lama hingga ketiganya melesat di udara dengan kecepatan tinggi.
***
Raja Faryzan dan Pangeran Heydar mondar-mandir di aula utama. Hari sudah menjelang senja, tetapi ketiga utusan belum kembali. Farzam berusaha menenangkan, tetapi diacuhkan. Sementara itu, Pangeran Ardavan melirik malas pada ayah dan adiknya.
“Semoga saja mereka membawa pulang mayat Arezha,” ketusnya dalam hati.
Kolam kecil dengan air mancur di tengah aula tiba-tiba diselimuti cahaya biru. Raja Faryzan dan Pangeran Heydar menghentikan langkah. Tak lama kemudian Pangeran Fayruza, Gulzar Heer, dan Delaram muncul di sana. Raja Faryzan langsung berlari menghampiri.
“Akhirnya, kalian kembali. Di mana Arezha? Kalian tidak langsung membawanya pulang?” cecarnya.
“Maaf, Yang Mulia. Raja Atashanoush tidak menemui kami, hanya memberi surat balasan melalui pengawalnya,” tutur Delaram.
Dia mengeluarkan surat dengan segel Kerajaan Asytar dari balik baju dan menyerahkannya kepada Raja Faryzan. Sang raja membukanya dengan cepat. Sayangnya, surat itu hanya berisi satu kalimat.
Aku tidak akan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikku.
Wajah Raja Faryzan seketika merah padam. “Persiapkan pasukan! Kita akan menyerang Kerajaan Asytar dan merebut kembali Putri Arezha! Aku sendiri yang akan memimpin!” serunya berang.
Pangeran Ardavan diam-diam tersenyum simpul. Jika sang ayah pergi berperang, otoritas kepemimpinan kerajaan akan dialihkan sementara kepadanya. Meskipun kegirangan, dia tetap harus bersandiwara. Raut wajah semringah cepat dirubahnya seolah cemas.
“Jangan gegabah, Yang Mulia. Terlalu berbahaya, biarkan Pangeran Heydar, Farzam, dan Gulzar Heer yang memimpin pasukan,” ucapnya sok bijak.
“Iya, Yang Mulia, serahkan saja kepada kami,” timpal Farzam.
Raja Faryzan menggebrak meja, menjatuhkan gelas di atasnya. Karpet mahal kini ternoda merahnya anggur. Sang raja mendelik tajam.
“Kalian meremehkan kemampuanku?” bentaknya gusar.
“Bukan seperti itu, Yang Mulia. Siapa yang tak tahu kehebatan Anda di masa muda. Namun, kita tidak boleh mengambil resiko. Anda adalah raja negeri ini, pemegang kebijakan-kebijakan untuk rakyat,” bujuk Farzam lagi.
“Iya, Yang Mulia. Meskipun ada Pangeran Ardavan yang bisa menggantikan sementara, tapi pasti akan tetap sulit meredakan kegelisahan rakyat.” Pangeran Fayruza menambahkan.
Pangeran Ardavan melirik sinis, tetapi cepat merubah raut wajah saat Gulzar Heer melihat ke arahnya. Sementara itu, Pangeran Heydar sudah tidak sabar, bahkan hendak bergegas keluar dari aula utama istana. Raja Faryzan mendadak mencabut pedang yang selama ini hanya menjadi aksesoris karena lama tidak terpakai.
“Tidak! Arezha adalah hartaku yang paling berharga. Aku sendiri yang akan merebutnya kembali. Atashanoush harus membayar semua perbuatannya!”
Raja Faryzan menggemeletukkan gigi. Putri Arezha memang anak yang paling dekat dan dapat diandalkannya. Jika saja terlahir sebagai laki-laki, pastilah dia akan diangkat menjadi putra mahkota tanpa keraguan sedikit pun. Sementara itu, Pangeran Ardavan kembali menyunggingkan senyum kecil diam-diam.
“Semoga kalian semua mati di sana,” gumamnya dalam hati.
“Persiapkan pasukan! Kita berangkat malam ini juga!” titah Raja Faryzan.
“Kita tidak bisa menyerang langsung begitu saja, Yang Mulia,” celetuk Gulzar Heer yang dari tadi diam saja. Dia menghela napas berat.
“Kita harus menggunakan sedikit taktik kotor.”
“Apa maksudmu, Gulzar?”
***