Bagian 20

1085 Words
Gulzar Heer pun menjelaskan rencananya. Sebelumnya, saat mereka mengirimkan surat ke Kerajaan Asytar, dia dan Pangeran Fayruza sempat melakukan penyelidikan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Delaram menuju istana Kerajaan Asytar, sementara mereka berkeliling kota. Dari hasil penyelidikan, mereka menemukan alasan sulitnya Kerajaan Asytar ditembus. Ya, ada batu sihir yang sengaja ditanam untuk perlindungan. Pangeran Fayruza bisa melihat perisai raksasa melingkupi negeri tersebut. p*********n dari luar hanya akan menjadi tindakan bodoh karena akan diserap atau bahkan bisa berbahaya jika ada sihir pembalik. “Jadi, bagaimana kita menembusnya?” sergah Raja Faryzan yang sudah tidak sabar. "Menghancurkan batu sihirnya dulu, Yang Mulia," jelas Gulzar Heer. “Kami juga sudah menemukan lokasi batu sihirnya, sedikit mengejutkan memang. Batunya ada di bagian dalam atap penginapan yang juga rumah b****l, mungkin untuk mengecoh musuh.” Pangeran Fayruza ikut menambahkan. “Rencananya, prajurit kerajaan kita berkumpul dulu di dekat Kerajaan Asytar, tapi di luar jangkauan batu sihir. Hamba dan Pangeran Fayruza akan menyusup dan melakukan penyamaran untuk merusak batu sihirnya. Setelah itu, kita bisa langsung masuk ke istana Asytar lewat teleportasi,” timpal Gulzar Heer. “Aku ikut menyusup bersama kalian,” cetus Pangeran Heydar. “Benar kata Heydar, Akan sulit menghadapi bahaya, jika hanya berdua,” tambah Raja Faryzan. Gulzar Heer dan Pangeran Fayruza mengangguk. Rencana pun dijalankan. Pertama, Pangeran Fayruza akan membawa sepuluh pengendali mana elemen air ke titik lokasi. Setelah itu, mereka akan memindahkan lima belas prajurit setiap kali teleportasi. Cukup tiga kali, 423 prajurit bisa dipindahkan. Kini, Raja Faryzan dan para prajurit Kerajaan Arion telah berkumpul di sekeliling Danau Khina yang tak jauh dari Kerajaan Asytar. Sesuai rencana, Gulzar Heer, Pangeran Fayruza, dan Pangeran Heydar pun lebih dulu menyusup. Mereka mengendap-endap di sekitar gerbang bagian belakang. Dua penjaganya tampak asyik mengobrol. “Kau sudah dengar rumor terbaru?” celetuk penjaga berkumis tipis. “Ya?” sahut kawannya yang berhidung besar dengan wajah bingung. “Ah, kau ini selalu ketinggalan berita!” ketus si kumis tipis. “Kau tahu aku bukan pria yang suka bergosip.” Penjaga berkumis tipis melotot. “Heh, menyindirku?” Sang kawan hanya mengangkat bahu, terlihat tak tertarik. Namun, si kumis tipis belum menyerah. Dia kembali mencerocos dengan antusias. “Rumornya benar-benar menarik. Kau tahu? Yang Mulia Raja Atashanoush membawa dua gadis cantik, putri dari Kerajaan Arion dan pelayannya. Aku jadi ingin bertugas di istana. Siapa tahu pelayan itu tertarik padaku.” Pangeran Heydar menghunus pedang. Beruntung, Gulzar Heer cepat merebutnya dan mendelik tajam. Setelah sang pangeran memasukkan lagi pedang ke dalam sarungnya, mereka kembali mengintai. “Hanya wanita saja pikiranmu.” Si hidung besar menggetok kepala kawannya. Dia diam sejenak sebelum bergumam dengan nada resah, “Bukankah ada yang lebih gawat soal rumor itu? Tindakan raja kita bisa memicu perang dengan Kerajaan Arion. Kudengar prajurit mereka sangat hebat, pasti akan memakan banyak korban.” Pangeran Fayruza mengangguk-angguk, membenarkan kata-kata si penjaga. Sementara itu, Gulzar Heer dan Pangeran Heydar sudah berada di belakang para penjaga. Satu pukulan telak di tengkuk, dua lelaki itu pingsan. Mereka segera melucuti baju zirah khas Kerajaan Asytar dan mengenakannya. Gulzar Heer menghampiri Pangeran Fayruza yang masih termangu. Dia menyerahkan bungkusan sembari bergumam dengan tenang, “Ini untuk penyamaran Anda.” Pangeran Fayruza meraih bungkusan dan membukanya. Wajahnya langsung memerah. Pantas saja sebelum berangkat Gulzar Heer sempat berbicara dengan salah satu selir. Ternyata, dia meminjam gaun putih polos tanpa lengan dari sutra dengan belahan rok tinggi yang akan memperlihatkan keindahan betis saat berjalan. Pakaian itu seolah memancarkan kepolosan sekaligus godaan nakal. Pangeran Heydar sampai tersedak saat Pangeran Fayruza mengeluarkannya dari bungkusan. “Gulzar, jangan bercanda. Bukankah lebih baik kamu yang benar-benar wanita mengenakan gaun ini?” Gulzar Heer menepuk kening. “Apakah Anda berpikir ada wanita rumah b****l dengan tubuh berotot dan penuh bekas luka, Pangeran?” sahutnya sembari memperlihatkan lengan atletis dengan jaringan parut. Pangeran Heydar menepuk bahu adiknya. "Sudahlah, Fayruza. Kita tidak punya banyak waktu. Gulzar benar, di antara kita bertiga, postur dan wajah cantikmu yang paling cocok.” Pangeran Fayruza akhirnya menyerah dan setuju mengenakan gaun itu. Dia segera berganti pakaian di semak-semak. Tawa Pangeran Heydar seketika pecah saat sang adik mendekat dengan balutan gaun seksi. Sesaat dia melupakan ambisi untuk mengobrak-abrik Kerajaan Asytar dan membawa pulang kembali Shirin. “Nah, Kakak ketawa, ‘kan?” sungut Pangeran Fayruza. “Tidak, tidak aku tidak tertawa, kamu salah dengar, itu suara kentut,” kilah Pangeran Heydar. “Pangeran, ayo cepat!” tegur Gulzar Heer yang sudah berjalan cukup jauh dari mereka. “Gulzar, tunggu!” Pangeran Fayruza menghampiri Gulzar Heer dengan langkah hati-hati. Sepatu wanita tentu menyulitkan. Saat dia berjalan, betis mulusnya mengintip dari belahan rok, terlihat sangat menggoda. Pangeran Fayruza telah berhasil mengejar Gulzar Heer. Dia memeluk lengan gadis pujaan hati. “Jika kamu memaksaku menjadi perempuan murahan, maka kamu juga harus menyamar menjadi pria hidung belang.” Gulzar Heer tak menyahut, sibuk menenangkan detak jantungnya. Pangeran Heydar kembali tergelak, membuat Pangeran Fayruza bersungut-sungut. Akhirnya, mereka berangkat juga ke penginapan sekaligus rumah b****l setelah dipelototi Farzam yang tiba-tiba muncul dari balik semak-semak. Sesuai rencana, sesampainya di penginapan Pangeran Fayruza semakin menggayut mesra di lengan Gulzar Heer. Beberapa pasang mata melirik buas ke arahnya. Pria-pria berwajah sangar itu bahkan sampai m******t bibir melihat kulit mulus sang pangeran. “Satu kamar untuk dua hari,” cetus Pangeran Heydar di depan meja pemesanan kamar. Si pemilik penginapan mengambil kunci. “Kamar paling ujung di lantai dua,” jelasnya sambil menyerahkan kunci. “Terima kasih.” Mereka pun segera menuju tangga. Pangeran Fayruza mendengkus-dengkus. Bagaimana tidak? Bisikan tak sedap menusuk telinga. “Gila, dia bisa melayani dua pria yang tampak sangat kuat sekaligus. Benar-benar seksi.” “Aku juga mau menyewa gadis itu!” “Hei aku dulu!” “Atau kita lakukan bersama-sama ha ha ha.” Gulzar Heer mendelik tajam. Dia sudah mencengkeram gagang pedang. Sementara tangan Pangeran Fayruza mulai berpendar biru. Pangeran Heydar menepuk bahu mereka, mencoba menenangkan. Untunglah, keduanya menurut. Mereka segera naik ke lantai dua dan memasuki kamar paling ujung. Setelah pintu terkunci, Pangeran Fayruza duduk bersila di lantai. Perlahan, tubuhnya diselimuti cahaya biru. Sementara itu, Pangeran Heydar dan Gulzar Heer bersiaga di balik pintu dan jendela, memastikan tak akan ada penganggu. “Arghh!” Pangeran Fayruza mengerang saat cahaya biru semakin benderang, lalu menembus atap dengan kecepatan kilat. “Pangeran!” “Tenanglah, Gulzar. Fayruza pasti bisa menyelesaikannya dengan baik.” Gulzar Heer mengepalkan tangan. Netranya terus menyorot Pangeran Fayruza yang tampak sangat kesakitan. Dia tak menyangka rencana untuk mengacaukan batu sihir perlindungan Kerajaan Asytar akan sedemikian menyakitkan. “Fay ... bertahanlah,” desisnya lirih. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD