Bagian 21

1077 Words
Kayvan, pimpinan menara sihir Kerajaan Asytar mengerutkan kening. Matanya tak lepas dari bola kristal yang tengah berpendar kebiruan. Tangan keriput terulur di atas bola. Namun, dia cepat menariknya karena hawa dingin terasa menusuk kulit. “Ada yang aneh dengan batu sihir pelindung,” celetuknya sambil mengusap-usap jenggot putih. Mata yang sedikit keruh masih terpaku pada bola kristal. Sentuhan pelan di bahu membuatnya terlonjak. Kayvan melepaskan bola api. Pemuda yang tadi menepuk bahu cepat melapisi tubuh dengan perisai es. Bola api membentur perisai pecah dan menyisakan percikan kecil, tetapi mudah untuk dipadamkan. “Maaf, saya mengejutkan Guru,” ucap si pemuda setelah kondisi kembali terkendali. “Akulah yang harusnya minta maaf karena hampir melukaimu.” “Ada apa, Guru? Tidak biasanya Anda begitu fokus, hingga tidak menyadari sekeliling.” Kayvan kembali mengelus jenggot. Pemuda di hadapannya adalah murid terbaik. Dia mendadak mendapatkan ide cemerlang. “Aku merasakan aktivitas batu perlindungan sihir sedikit aneh,” cetus Kayvan seraya menunjuk bola kristal. “Kamu pergilah ke Penginapan Masyana. Aku akan menemui Yang Mulia Raja Atashanoush untuk melaporkan ini.” “Baiklah, Guru, saya permisi.” Pemuda itu segera pergi setelah mendapat anggukan gurunya. Kayvan mengganti pakaian dengan seragam resmi penyihir kerajaan sebelum bergegas menuju istana. *** Putri Arezha masih melongo. Kejadian demi kejadian ajaib yang dialami olehnya hari ini masih terasa seperti mimpi. Awalnya, dia memang terpesona dengan keindahan rupa seorang Atashanoush. Namun, sikap manis sang raja sangat jauh berbeda dari rumornya. Lelaki tampan itu bahkan menggendongnya dengan lembut sampai ke kamar tidur mewah, juga memerintahkan para pelayan melayani sebaik mungkin. Kini, setelah mandi dan berganti pakaian, Putri Arezha makan malam bersama Raja Atashanoush. Meja makan dipenuhi piring-piring berisi jenis makanan yang berbeda. Sementara itu, Shirin berdiri takut-takut di belakang kursi tuannya. Dia tampak berdoa dengan khusyuk. “Aku tidak tahu makanan kesukaanmu, jadi kuminta pelayan dapur menyiapkan makanan-makanan terenak di Asytar,” cetus Raja Atashanoush memecah keheningan. “Saya merasa sangat terhormat mendapat jamuan sehebat ini.” Mata Putri Arezha tertumbuk pada buah-buah kecil mirip anggur, tetapi berwarna merah darah dengan bercak-bercak putih. “Ini buah astyra?” tanyanya takjub. Astyra sangatlah langka. Konon katanya, hanya ada sepuluh pohon di seluruh dunia. Buah ini sudah sering menjadi rebutan antar kerajaan yang berakhir dengan peperangan. Khasiatnya memang tidak main-main, menghambat penuaan, memulihkan energi, sampai menyembuhkan orang yang sudah sekarat dalam sekejap. “Pantas saja, Raja Atashanoush awet muda,” cetus Putri Arezha dalam hati. Raja Atashanoush tersenyum manis. “Iya, saat menemukanmu, aku langsung memerintahkan orang-orang untuk mencarinya,” sahut sang raja. “Terima kasih, Yang Mulia.” Wajah Raja Atashanoush berubah sedikit muram. Putri Arezha menjadi tak enak hati, mencoba memikirkan di mana letak kesalahannya. Shirin tiba-tiba mendekat. “Sepertinya, Raja Atashanoush jatuh cinta pada Anda, Putri, mungkin Anda akan menjadi ratunya,” bisiknya. “Hei, Pelayan! Apa yang kamu bilang tadi? Jatuh cinta dan menjadikan ratu?” Raja Atashanoush mendelik tajam. Shirin hampir terkencing-kencing dibuatnya. Dia tak menyangka telinga sang raja cukup tajam. Shirin langsung berlutut. “Maafkan kelancangan hamba, Yang Mulia.” “Yang Mulia, tolong ampuni pelayan saya,” mohon Putri Arezha dengan mata memelas. Raja Atashanoush menghela napas dan mengangguk. “Aku tidak mungkin melakukan tindakan tak bermoral dengan menikahi cahaya mataku,” cetusnya lagi. "Ah, ayo kita mulai makan saja.” Meskipun ucapan Raja Atashanoush sedikit aneh, Shirin bisa bernapas lega. Dia kembali berdiri di belakang Putri Arezha. Kali ini, tak ada kata lagi yang keluar dari bibirnya. Piring Putri Arezha telah kosong. Raja Atashanoush langsung menambahkan beberapa macam lauk. Berkali-kali dia mengamati wajah sang putri dengan mata berbinar-binar, lalu tersenyum simpul. “Makanlah yang banyak, Farah,” ucapnya. Nama asing yang disebut Raja Atashanoush membuat Putri Arezha membatin, “Farah? Sepertinya, dia mengira aku adalah Farah. Apakah Farah itu nama kekasihnya? Tapi, cara menatapnya bukan seperti menatap kekasih hmm ....” “Terima kasih, Yang Mulia.” Sinar mata Raja Atashanoush meredup. Bahunya terlihat turun. Putri Arezha menelan ludah. “Aku tidak suka kau panggil yang mulia,” cetus sang raja setelah hening beberapa saat. Putri Arezha mengerutkan kening. “Eh? Ah, maaf. Jadi saya harus memanggil apa?” Raja Atashanoush tersenyum malu-malu. Sungguh, itu terlihat aneh. Wajah tampan nan menawannya lebih cocok saat memasang raut bengis. “Panggil aku a–” Braaak! Pintu ruang makan dibuka paksa. Beberapa pelayan tampak menghalangi masuknya seorang gadis. Mereka gagal. Gadis cantik bertubuh semampai melangkah cepat menghampiri Putri Arezha. “Putri Anahita,” cetus Shirin dengan mata membulat. Putri Arezha pun tak kalah terkejut. Gadis yang kini ada di hadapannya berasal dari Kerajaan Farrin. Wanita tercantik di dunia gelarnya. Namun, bagi Putri Arezha seharusnya Gulzar Heer yang menyandang gelar tersebut seandainya si kesatria tidak berotot. “Bagaimana mungkin, Yang Mulia? Bagaimana mungkin Anda lebih memilih dia daripada saya. Saya jauh lebih cantik,” cerocos Putri Anahita berapi-api. Shirin melirik kesal karena tuannya dihina. Sementara Putri Arezha tidak tersinggung. Putri Anahita memang lebih cantik darinya. Namun, sikap diamnya malah memicu masalah lebih besar. Putri Anahita menjadi semakin angkuh dan mendorong Putri Arezha hingga terjungkal dari kursi. “Arrrgh!” Putri Arezha dan Shirin hanya bisa tenganga saat Raja Atashanoush menarik rambut Putri Anahita. Sraaat! Kepala yang memiliki paras menawan terguling. Darah menggenang di lantai marmer. Shirin langsung terkulai tak sadarkan diri. Sementara Putri Arezha jauh lebih tenang. Dia telah terbiasa melihat Gulzar Heer memenggal kepala pembunuh bayaran yang mengincar Pangeran Fayruza. Sementara itu, Raja Atashanoush membersihkan pedang sebelum kembali memasukkannya ke dalam sarung. “Pengawal, bereskan wanita s****n ini!” titahnya. Belasan pengawal dan pelayan memasuki ruang makan. Darah dan mayat Putri Anahita sudah raib seolah tak terjadi apa pun. Raja Atashanoush tersentak saat menyadari keberadaan Putri Arezha. Dia langsung menghampiri dengan wajah muram. “Maaf aku memperlihatkan hal buruk padamu, kamu tidak apa-apa, Farah?” “Tidak apa-apa, Yang Mulia. Saya sudah biasa melihat seseorang memenggal kepala,” cetusnya membuat Raja Atashanoush mengerutkan kening. Mata elang menodong. Putri Arezha terkekeh. “Kesatria yang menjaga adik saya sering memenggal kepala pembunuh bayaran yang mengincar adik saya.” Raja Atashanoush malah mendelik. “Kamu jatuh cinta pada kesatria itu? Bagaimana sifatnya? Dia bukan seorang pemabuk atau suka main perempuan bukan? Aku tidak mau kamu mencari suami sembarangan, harus ditunjukkan padaku dulu dan lulus seleksi,” cecarnya. Perhatian sang raja terasa menggelikan bagi Putri Arezha, bukan seperti lelaki jatuh cinta. Sorot mata khawatir itu sering dilihat sang putri. Hanya saja, dia lupa di mana. Putri Arezha membatin, “Sorot mata siapa yang biasanya seperti ini, ya?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD