Bagian 22

1083 Words
Raja Faryzan mondar-mandir di tepian danau. Beberapa kali dia mendesah berat dan meremas jemari. Langkahnya seketika terhenti ketika permukaan danau berpendar biru terang. Tak lama kemudian, bola biru raksasa berisi empat orang naik ke permukaan, lalu perlahan ke pinggiran danau. Pangeran Heydar yang tengah memikul pemuda berjubah hitam di bahu keluar dari bola lebih dulu, diikuti oleh Gulzar Heer. Terakhir, Pangeran Fayruza menjentikkan jari untuk melenyapkan bola biru. Raja Faryzan mengerutkan kening. “Siapa dia?” tanyanya sembari menunjuk pemuda yang kini dilempar dengan kasar ke rumput oleh Pangeran Heydar. “Sepertinya, penyihir di negeri ini sudah mengetahui ada masalah dengan batu sihirnya. Dia utusan mereka. Jadi, kami terpaksa menangkapnya.” Pangeran Fayruza yang menyahut. “jika mereka sudah mulai curiga berarti, waktu kita tidak banyak,” lanjutnya. Penyihir muda yang tadi terkulai di tanah membuka mata. Dia mengerjap-ngerjap beberapa saat sebelum terperanjat. Pangeran Heydar cepat meringkusnya, lalu mengikat dengan tali. Pemuda itu menatap nyalang. “Hei lepaskan aku! Dasar pengecut! Kalian akan dibantai oleh raja kami!” serunya tak terima. Dia terus meronta-ronta, hingga mengeluarkan cahaya biru. Buuuk! Satu pukulan telak di tengkuk, pemuda malang itu terkulai tak sadarkan diri. Pangeran Heydar mendengkus. "Benar-benar merepotkan, lebih baik kau tidur saja," gerutunya. Sementara itu, Raja Faryzan menghadap ke arah para prajurit yang telah berbaris rapi. “Persiapkan teleportasi ke istana Kerajaan Asytar!” titahnya. *** Putri Arezha masih termangu, berpikir keras. Raja Atashanoush tampak semakin resah. Tangannya mencengkeram gagang pedang, seolah siap berhadapan dengan kesatria yang tadi disebut sang putri. “Ada apa, Farah? Apa pemuda itu benar-benar seorang pemabuk?” cecarnya. Cengkraman yang begitu kuat membuat Putri Arezha tersadar. Dia tertawa kecil. “Aku tidak mungkin punya hubungan romantis denganya karena dia seorang wanita.” Raja Atashanoush mengembuskan napas lega. Lengan kokohnya tiba-tiba mengelus kepala Putri Arezha. Sang putri tersentak. Akhirnya, dia bisa mengingat sorot mata penuh kecemasan itu. Ya, mirip dengan sorot mata Raja Faryzan ketika mengetahui ada beberapa pria yang dekat dengannya, tatapan lembut seorang ayah. “Ayah!” seru Putri Arezha refleks. Raja Atashanoush menggaruk kepala dengan pipi bersemu. Senyuman tipis tersungging di bibir. Putri Arezha hanya bisa ternganga. “Dia tidak mungkin benar-benar menganggapku anak, ‘kan?” celetuknya dalam hati. “Ah, ayo kita makan lagi!” ajak Raja Atashanoush membuyarkan lamunannya. Mereka pun kembali duduk di kursi. Sementara itu, Shirin sudah dipindahkan ke kamar. Selama makan, Raja Atashanoush lebih banyak membicarakan rumor tentang dirinya. Ternyata, dia tidak pernah meminta upeti gadis-gadis dari kerajaan lain. Raja-raja itulah yang justru mengirimkan para putri mereka demi kepentingan politis. Bahkan, beberapa putri datang dengan keinginan sendiri karena tergila-gila pada ketampanannya. Namun, Raja Atashanoush tak sedikit pun tertarik. Sang raja hanya mencintai satu wanita dalam hidupnya. Akhirnya, dia menempatkan para putri di istana khusus selir tanpa pernah dikunjungi. Meskipun begitu, kadang ada yang nekat hendak menggoda dan berakhir dengan kematian seperti Putri Anahita. “Habis ini, mau jalan-jalan berkeliling istana sebentar, Farah?” tawar Raja Atashanoush setelah piring mereka telah kosong. “Boleh, Yang Mulia,” sahut Putri Arezha meskipun sedikit tak nyaman karena dipanggil bukan dengan namanya. Namun, dia tentu tak ingin protes jika acaman kematian bisa saja datang tanpa permisi. Wajah Raja Atashanoush kembali muram. Namun, dia berusaha tetap tersenyum. Mereka pun segera berkeliling istana, hingga Putri Arezha terpaku di hadapan sebuah lukisan. Wanita dalam lukisan memang teramat indah. Rambut dan iris mata berwarna perak begitu menyihir. Putri Arezha segera menurunkan posisi gadis tercantik di dunia milik Gulzar Heer menjadi nomor dua. Namun, ada sedikit ganjalan di hati saat menatap paras jelita tersebut. Dia merasa pernah melihat wajah yang mirip dengan wanita dalam lukisan. “Ya ampun! Ya ampun! Bagaimana bisa ada makhluk seindah ini? Hidupku rasanya diberkati hanya dengan melihat lukisannya. Mata bening yang memancarkan kepolosan. Senyum ini begitu menawan, rambutnya indah sekali seperti sutra yang diturunkan dari langit ...," cerocos Putri Arezha sambil mengusap-usap permukaan lukisan tanpa sadar. Raja Atashanoush terkekeh, membuat Putri Arezha tersentak. "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya sudah bersikap tidak sopan ...." Raja Atashanoush tergelak. Tak ada kemarahan di wajahnya. Putri Arezha diam-diam menghela napas lega. "Beliau ini cantik sekali. Siapakah beliau ini, Yang Mulia?" tanyanya setelah tawa Raja Atashanoush terhenti. “Dia adalah Daria ratuku, juga ib–” “Ratu? Waaah! Pantas saja Anda tidak tertarik pada wanita-wanita gatal itu, Yang Mulia Ratu begitu begitu ... begitu ... begitu menakjubkan! Seperti peri!" seru Putri Arezha antusias. “Dia memang peri.” Putri Arezha langsung berbalik dan mengenggam tangan Raja Atashanoush tanpa sadar. “Apa saya boleh bertemu dengannya?” Raja Atashanoush kembali terkekeh. “Tentu saja, ikutlah denganku.” Mereka berjalan beriringan di koridor istana. “Kamu mirip Daria,” celetuk Raja Atashanoush tiba-tiba. Putri Arezha ternganga. Dia hendak menyangkal. Namun, lelaki paruh baya berbaju zirah menghampiri mereka dengan tergesa-gesa, lalu melakukan salam penghormatan. “Yang Mulia, maaf hamba sudah mengganggu. Tapi, ini sangat darurat, pemilik menara sihir hendak bertemu.” “Suruh dia menunggu! Kau tidak lihat aku sedang bersama siapa?” “Yang Mulia, mungkin saja itu penting, saya bisa menunggu urusan Anda selesai,” tutur Putri Arezha tak enak hati. “Tidak, kamulah yang paling penting dalam hidupku, Farah.” Raja Atashanoush menarik tangan Putri Arezha meninggalkan si pengawal yang melongo. Mereka terus berjalan, hingga berada di depan kamar dengan pintu berukiran mawar. Raja Atashanoush membuka pintu perlahan, hingga terlihat tubuh semampai berkulit putih bersih terbaring di ranjang. Rambut peraknya terlihat gemerlapan. Mata dengan warna senada menatap hampa langit-langit. “Jantungku mau meledak, dia lebih indah dari lukisannya!” Putri Arezha mengekori Raja Atashanoush memasuki kamar. Jantungnya berdetak cepat, tak sabar bertegur sapa dengan makhluk terindah di dunia. Setelah mereka berada di sisi kanan tempat tidur, dia langsung melakukan salam penghormatan. “Salam hormat saya, Yang Mulia Ratu.” Tidak ada sahutan. Ratu Daria tetap berbaring dengan sorot mata hampa menatap langit-langit kamar. Raja Atashanoush menepuk bahu Putri Arezha dengan lembut. “Dia tidak akan menjawab karena sudah lama meninggal. Tubuh seorang peri tidak akan rusak.” Air mata meluncur di pipi Putri Arezha. Dia pun meraung-raung menyayangkan makhluk seindah itu harus mati. Raja Atashanoush langsung menariknya ke dalam pelukan. Lengan kokoh mengusap-usap rambut dengan lembut. “Iya, harusnya dia masih hidup dan kita bertiga akan bahagia, tapi kutukan s****n itu menghancurkan segalanya.” Putri Arezha mendadak menghentikan tangis dan melepaskan pelukan Raja Atashanoush. Mendengar kata kutukan, rasa ingin tahunya meluap-luap, mengalahkan rasa takut. Dia mengenggam tangan pucat Ratu Daria. Dingin terasa menusuk kulit, mengirimkan rasa sakit misterius. Bayangan masa lalu sang ratu pun merasuk ke dalam pikirannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD