Pada pagi itu.. Maya bangun sedikit awal kerna dia sangat lapar mencium bau masakan yang enak. Maya segera bangun dari tidurnya dan pergi ke dapur.
Maya melihat bibik yang sedang memasak sup daging. Maya merasakan air liurnya sudah hampir menitis.. Dia merasakan seperti sudah lama tidak memakannya. Mungkin pembawaan bayi kandungannya yang menginginkan sup daging.
"Masak apa bik"?
"Neng.... sudah bangun ya.. Tunggu sebentar.. sup nya sebentar lagi akan matang.. "
"Baik".
Walaupun Maya sudah tidak dapat menahan ingin merasa sup daging itu dan bau sup itu sangat enak pada Maya, akan tetapi Maya terpaksa menahannya kerna tidak mahu Bibik memikirkan yang bukan- bukan terhadap dirinya.
Maya merasakan bibik bukan orang yang jahat. Tapi Maya akan tetap berwaspada terhadap bibik. Pada ketika ini Maya hampir terlupa untuk bertanyakan tentang bingkai foto yang di lihatnya semalam kerna yang bermain di fikiran Maya ketika ini sup daging yang di makan bersama nasi putih.
Sekitar 10 menit menunggu akhirnya Maya dapat menikmati sup daging bersama nasi putih. Maya menambah lagi nasi putihnya. Bibik hanya tersenyum melihat tingkah laku Maya. Bibik merasakan Maya sedikit demi sedikit menerimanya semula.
Walau pada mulanya bibik tidak membenarkan Maya menolongnya mengemas dapur. Tapi Maya tetap berkeras menolong Bibik mengemas dan mencuci piring . Selesai makan Maya ingin menanyakan bibik setiap persoalan yang sedang bermain di fikiran nya.
" Bik.."
"Ada apa Neng.."
"Ke sini .. duduk dengan ku.. Aku ingin bertanyakan sesuatu padamu..?
Maya tidak lagi dingin seperti semalam. Emosi nya kini lebih baik dari semalam.
"Tapi neng... Janji sama bibik yang neng ngak akan marah sama bibik ya neng .."
" urmmm.. bergantung kepada cerita nya bik"
Bibik menarik nafas dalam. Mungkin sudah sekian lama dia menyembunyikan kebenaran. Mungkin hari ini lah kebenaran akan terungkap.
" Apa yang ingin neng Maya tanyakan.."?
" Sebelum aku bertanya kenapa aku berada di sini...Aku mahu tanya Bibik tentang bingkai foto yang ku temui di ruang tamu.. Apa itu suami Bibik.. siapa namanya bik..?"
"Apa Neng kenal sama pria di foto itu?"
"Ermm.. jangan bertanya kembali padaku Bik.. Jawab saja persoalan itu Bik.."
Maya tidak suka apabila persoalan yang bermain di minda nya di tanya . Bibik kembali menjawab dengan persoalan kembali..
"Maaf Neng Maya... Seperti yang neng lihat di bingkai gambar itu ialah foto perkahwinan. Itu adalah suami saya Neng.."
Maya hampir sahaja ingin memarahi bibik. Kerna ayahnya telah menduakan ibunya. Tapi mungkin juga bibik tidak tahu ayahnya sudah beristri. Fikir Maya di dalam hati.
"Siapa namanya Bik?"
"Mas Jason Neng."
" Ehh.. Bukan nama pria itu Jelvin Dicken Bik?"
"Bukan Neng.. "
"Jangan bercanda Bik.. Pria itu mirip papa saya Bik.. Namanya Jelvin Dicken. Ngak mungkin kan nama nya beda."
Maya sudah merasa dirinya seperti di permainkan oleh bibik. Maya baru hendak berdiri meninggalkan bibik di situ. Tiba- tiba seseorang telah membuka pintu utama.
" Papa"
Maya melihat seseorang mirip papanya memasuki rumah itu. Pria itu memang mirip papa nya. Tetapi Papanya tidak pernah tersenyum pada dirinya. Tidak seperti pria yang berada di hadapan nya. Murah dengan senyuman. Penampilan pria di hadapan nya ini juga cukup berbeda.. Papanya tidak akan memakai celana pendek biarpun tidak bekerja.. Pria di hadapannya ini memakai pakaian santai t shirt dan bercelana jeans pendek.
" Hii Maya... akhirnya kita bertemu... Kamu duduk dahulu... Saya akan menjawab setiap persoalan kamu..
Ini istri Saya namanya Marie yang lebih mesra di panggil bibik.. Saya rasa kamu sudah mengenali nya bukan.. Saya akan perkenalkan diri saya.. Nama saya Jason Dicken. Saya adalah abang kembar kepada Jelvin Dicken yang kamu panggil Papa."
Maya merasa terkejut mendengarnya. Setahunya Papa nya adalah anak tunggal dari keluarga Dicken. Maya juga tidak boleh menafikan Jason adalah keluarga Dicken. Kerna Jason sangat mirip ayahnya.
"Kembar.. Tapi kenapa kamu tidak menjadi pembantu kepada keluarga Romano..?"
" Kerna Aku telah di jaga oleh Kawan baik kepada kakek yang tidak mempunyai anak.."
"Jadi benar.. Kamu ini om aku..?"
"urmmm.. Kalau aku mengatakan kamu ini anak kami berdua.. adakah kamu percaya.."
" Apa??? Anak... ?? Apa lagi kejutan yang aku terima ya tuhan... Kalau aku ini anak kamu berdua.. Kenapa aku berada di keluarga Romano.. Aku telah di siksa sejak kecil.. kalau aku ngak lari dari keluarga Romano.. Mungkin sampai ke Mati aku ngak tahu tentang keluarga sebenar ku.. "
Bibik Merie sudah mengalirkan air matanya. Dia terasa sebak dan menyesal kerna menyerahkan anaknya ketika itu.
" Maaf kan ibu.. Ibu terpaksa memberikan kamu kepada Maria sehingga umur kamu 18 tahun."
"Apa?? Aku ngak mengerti ?? memberikan?? apa aku ini barang Bik...?? Apa kerna kamu berdua tiada uang dan menukarkan aku sebagai ganti. "
" Jaga percakapan mu Maya.. Marie ini ibu mu. "
"Jadi kamu ada alasan lain memberikan aku kepada mereka?"
" Kami terpaksa memberikan kamu kepada Jelvin . Bukan kerna uang , tapi kerna anak yang d kandung Maria ketika itu telah gugur kerna Maria di tolak dan terjatuh oleh Mikael sehingga keguguran. Maria hampir depresi bila mengetahui anak yang di kandung nya sudah tiada. Ketika itu Marie baru melahirkan anak perempuan iaitu kamu. Jelvin merayu untuk menjadikan kamu sebagai anaknya dan berjanji akan menjaga kamu dengan baik."
" Tapi.. aku ndak pernah di layan dengan baik.... uhuhuhuu...."
Maya menangis semahunya.. Bibik memeluk maya untuk menenangkannya.
" Maafkan ibu nak.. Sepatutnya ibu tidak menyerahkan kamu kepada mereka.. Sebenarnya ibu menyesal sekali."
"Maafkan ayah juga Maya.. Selepas mengambil kamu dari kami. Jelvin sering mengatakan bahawa kamu baik-baik sahaja.. Kami tidak di benarkan melihat atau melawat kamu. Peraturan keluarga Romano juga sangat ketat. Orang luar jugatidak di benarkan masuk tanpa undangan. Ayah juga tidak di benarkan Jelvin untuk pergi ke sana kerna wajah kami serupa. Kerna itu ayah berjanji akan mengambil kamu apabila berumur 18 tahun. Lebih- lebih lagi ayah mendengar kamu akan di nikahkan oleh pekerja di kediaman Romano juga.
"18 tahun?" Jadi kamu yang merancang semuanya.. Adakah Rafael juga terlibat."?
" Rafael tidak mengetahui semua itu.. Memang ayah yang merancang pemergian mu anak ku. Di sebabkan ibu mu Marie bekerja di villa Rafael. Jadi Ayah tahu Rafael orang yang Baik."
"Bagaiman?? Aku tidak pernah memberitahu sesiapa pun.."