"Kita mau ke mana, Mas?" tanyaku pelan, setelah Mahendra memaksaku kembali masuk ke dalam mobil. Dia tidak langsung menjawab, masih sibuk mengetik sesuatu di ponselnya, sementara mobil melaju cukup kencang. "Mas—" panggilku lagi, kali ini dengan nada sedikit lebih tegas. Mahendra menoleh sebentar, lalu akhirnya menjawab singkat, "Kita ke rumah sakit." Aku mengernyit. "Tapi aku udah sembuh. Nggak perlu datang kesana." Untuk membuktikannya, aku meraih tangannya dan menaruh telapak tangannya ke dahiku. "Mas, tuh— udah nggak panas, kan?" ucapku, mencoba terdengar meyakinkan. Mahendra menatapku sebentar, lalu menarik tangannya pelan. Ekspresinya tetap tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu—entah kekhawatiran, marah, atau... kecewa? "Ini bukan soal demam, Ayla," katanya datar. Aku diam.

