Cinta, sekejap saja datang tanpa permisi
Mencipta harap akan mengeja bahagia
Lalu, seketika sirna kala semua tak lagi samar
Menjadi elegi yang membekas, tak mau pergi
_Elea
***
Elea memutar tubuh hingga membelakangi apa yang baru saja dilihatnya dari balik rimbun bunga bugenvil. Ia seakan tak percaya jika lelaki yang dua hari lalu memberikannya kebahagiaan, ternyata masih merindukan sang mantan kekasih, perempuan yang kini duduk di depan Gibran.
Kedua tangan Elea meremas baju yang tengah dikenakan Dadanya berdesir hebat, keringat dingin yang mengucur di dahi hingga pelipis tak ia hiraukan. Hatinya tengah bergemuruh saat ini. Harapan akan cinta yang tengah dipupuk untuk lelaki itu, kini luruh bersama kenyataan, jika Gibran masih mengharapkan mantan kekasihnya.
"Dia mantan tunanganku," ucap Gibran saat Elea mendesaknya untuk mengatakan mengenai perempuan yang mereka temui di mal. Awalnya, Gibran tak mau bicara, ia seakan menutup rapat masa lalunya mengenai perempuan itu.
Elea sebenarnya tak ingin mengetahui lebih dalam tentang mantan tunangan lelaki itu, tetapi Gibran seakan terbawa pada masa lalu yang pernah memberikannya bahagia sekaligus luka.
"Namanya Sheira. Dia adik kelasku sewaktu SMA. Awalnya kami menjalani persahabatan, hingga akhirnya aku jatuh cinta dan menjalin hubungan hingga bertahun-tahun lamanya. Namun, impian kami untuk menikah harus kandas karena ia memilih pergi dengan lelaki lain," ujarnya lirih.
"Kenapa? Apa dia sudah tak mencintaimu lagi?"
"Bukan. Ada satu alasan dia meninggalkanku. Aku pun berharap dia tak melakukan itu, tetapi ternyata cintanya tak cukup kuat untuk tetap berada di sisiku." Ada kegetiran dalam kata-kata itu.
Gibran tak melanjutkan ceritanya. Dia memilih mengalihkan pembicaraan, hingga beberapa pertanyaan yang masih membuat Elea penasaran pun, harus menguap begitu saja.
Sepertinya cinta Gibran dan Sheira begitu kuat, tetapi ada satu keadaan yang membuat perempuan itu memilih meninggalkan Gibran. Lelaki itu pasti menyimpan misteri yang tak boleh Elea tahu. Ia pun tak memaksa lelaki itu untuk cerita.
Hubungannya dengan Gibran baru akan dimulai, tak mungkin mendesaknya terlalu jauh. Biarlah Gibran yang memulai ceritanya lebih dulu.
Hanya satu rasa penasarannya tentang siapa perempuan itu, hingga tanpa disadari, ia mendesak Gibran untuk mengatakan. Namun, ternyata Elea menyesal saat ini, karena semakin dalam ia mengenal Gibran, ia makin merasakan sakit yang entah kenapa selalu membuatnya sesak.
"Aku memang masih merindukanmu, Sheira."
Ucapan Gibran bagai sembilu menghujam jantung Elea saat ini. Ternyata memang tak ada sejumput cinta yang tersaji untuknya di hati lelaki itu. Perempuan di masa lalu lebih memberikan arti yang dalam dibanding dirinya yang menikah pun hanya karena sebuah perjanjian.
Elea mendesah.
Kedua netranya sudah basah oleh genangan air yang tak bisa terbendung. Ingin mulai mengukir mimpi indah bersama lelaki itu seakan sirna dan menguap bersama terik yang kini menjadi saksi akan perasaannya.
Elea yang terlalu banyak berharap jika lelaki itu akan mencintainya perlahan. Namun, ia tak pernah bisa menjamin akan perasaan seseorang. Gibran tak pernah benar-benar ingin membahagiakannya. Apa yang lelaki itu lakukan hanya untuk menebus rasa bersalahnya saja.
Biarlah ia simpan cinta itu jauh di lubuk hati yang terdalam. Hingga tak seorang pun tahu, tak juga Gibran yang bisa memahami jika cinta itu sudah tumbuh dan berkembang untuknya.
Elea berjalan seperti mengambang dalam pijakan. Pikirannya menerawang ke berbagai sisi.
Langkah yang begitu berat entah akan kemana membawanya pergi. Ia sedang tak ingin pulang saat ini. Berbagai peri seakan menyesaki jiwa. Rasa sakit itu kembali menyiksa. Apakah ia yang telah keliru menjatuhkan hati pada lelaki itu?
Kandas sudah harapannya, mengeja bahagia bersama Gibran yang ia pikir bisa memberikan hati itu untuk perempuan sederhana sepertinya dirinya. Sikap manis yang ditunjukkannya selama dua hari ini, seolah tiada arti. Perempuan yang datang tiba-tiba dalam kehidupan mereka telah mengubah keadaan.
Taksi yang ia tumpangi membawanya tak tentu arah selama beberapa menit. Hingga akhirnya, sebuah alamat ia sebutkan pada sang sopir yang sesaat lalu sempat kebingungan.
Pintu berukuran besar kini terpampang di depannya. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit, akhirnya Elea sampai di sana. Hanya bergeming tanpa suara, sementara gerimis mulai membasahi bumi, menguarkan petrikor yang tak lagi dirasakan perempuan itu.
"Elea ...." Ezra yang hendak keluar sanggar untuk membuang sampah, begitu terkejut melihat perempuan itu sudah berdiri tepat di depan pintu sanggarnya.
"Kak Ezra ...."
Entah kenapa, Elea bisa sampai di sanggar milik Ezra. Kenapa hatinya lebih memilih tempat itu sebagai persinggahannya? Padahal lelaki itu belum lama ia kenal, tetapi sudah membuat langkah kakinya menuju ke sana.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Ezra terlihat heran. Lelaki itu seolah memahami, ada yang terjadi dengan Elea. Seperti kejadian tempo hari, kali ini Ezra pun menyimpulkan hal yang sama. Terlebih lagi, mata perempuan itu terlihat sembap bekas menangis.
Elea menggeleng.
"Bolehkah aku melihat karya-karyamu?" tanya Elea akhirnya. Ia tak punya alasan lain untuk bisa datang ke sana.
"Boleh ...," ucap Ezra masih tak percaya dengan alasan Elea datang ke sanggarnya. Namun, ia tak ingin mendesak perempuan itu lebih dalam.
Biarlah untuk saat ini, Elea menenangkan hatinya tanpa harus bercerita apa-apa. Dengan mau datang ke sanggar saja, itu menandakan perhatiannya selama ini telah menggugah jiwa perempuan itu.
Elea mengikuti langkah Ezra masuk ke dalam sanggar. Beberapa proyek yang tengah dikerjakannya tampak berantakan. Segera lelaki itu membuatkan minum untuk perempuan yang selama ini begitu diharapkannya datang.
"Aku tak punya minuman untuk disuguhkan selain air putih dan kopi. Semoga kau suka dengan pilihan yang kedua," ucap lelaki itu sambil menyodorkan secangkir kopi moka.
Elea menyambutnya sambil menyunggingkan seulas senyum.
"Aku suka kopi, terima kasih."
Ezra yang memang tengah disibukkan dengan pekerjaannya, segera mengambil kuas dan mulai melukis di beberapa media kayu yang sudah dicat. Hitam dan putih menjadi dua warna yang menghiasi proyek terbarunya.
"Ini untuk proyek apa?" tanya Elea seraya menyesap perlahan kopi moka yang masih mengepul panas.
"Perusahaan desainer."
"Proyekmu cukup menjanjikan."
"Kau tahu, hal pertama yang kulakukan sebelum mendapatkan proyek-proyek yang katamu menjanjikan itu?"
Elea menggeleng.
"Aku melukis beberapa anak jalanan di balok kayu berukuran setengah badan mereka dan ada orang yang mengunggahnya ke media sosial. Dari sanalah aku mulai menerima proyek-proyek itu."
Dengan nada bangga, Ezra menceritakan perjuangan awal yang mengantarkannya hingga ke masa ini.
Elea kagum. Lelaki itu ternyata cukup mengasyikan. Biasanya ia begitu terganggu dengan kehadiran Ezra, tetapi saat ini justru hal itu yang membuat suasana hatinya bisa berubah.
"Kau ingin mencoba melukis?"
Ezra menawarkan sebuah kuas yang tengah dipegangnya ke hadapan perempuan itu. Elea ragu. Beberapa saat hanya ditatapnya kuas dan Ezra secara bergantian.
"Aku tahu kau bisa melukis."
"Tahu dari mana?"
"Dari caramu menilai hasil proyekku saat di taman waktu itu."
"Aku tidak menilai apa pun."
"Aku bisa melihat itu dari matamu dan saat kutawarkan untuk melukis, kau ragu. Itu membuatku yakin jika kau bisa melukis. Ayo cobalah!" desak Ezra menyodorkan kembali kuas itu ke hadapan Elea.
Perempuan itu akhirnya mengambil kuas, sempat ragu saat akan menorehkan warna hitam yang ia pilih di atas balok kayu berwarna putih.
"Gambarlah hal yang kau pikirkan dan ada hubungannya dengan fashion."
Selama beberapa menit, Elea menuangkan isi kepalanya dalam gambar. Ezra memperhatikan itu dengan serius. Ia terpana dengan hasil gambar di balok itu. Seorang perempuan berambut panjang dengan mini dress dan sepatu high heels.
"Sempurna." Ezra memuji hasil lukisan Elea.
Kini perempuan itu yang terkejut. Ia tak menyangka akan melukis perempuan di masa lalu Gibran yang saat ia temui pertama kali.
"Siapa perempuan itu?" tanya Ezra penasaran.
"Bukan siapa-siapa."
"Baiklah, aku menyukai lukisanmu. Mau aku buatkan MOU untuk membayar hasil lukisanmu itu?"
Elea tertawa.
"Apa itu akan menjadi pekerjaan yang potensial bagiku?"
"Tentu saja, kita bisa bekerjasama."
"Aku belum memikirkan ke arah sana," bisik Elea sendu.
"Tak apa, bisa kau pikirkan sambil berjalan. Jika ingin hatimu lega, melukis lagi saja."
"Sepertinya itu ide bagus."
Kali ini Ezra yang tertawa.
Entah dari mana hubungan mereka bisa terlihat begitu akrab. Seperti dua sahabat yang sudah terpisah jarak dan waktu, lalu akhirnya dipertemukan kembali, bernostalgia akan masa kebersamaan dulu. Ah, hidup ternyata begitu sederhana.
"Oya, Kak, terima kasih karena waktu itu kau sudah menolongku dan menelepon Mas Gibran untuk membawaku pulang," ucap Elea yang baru memiliki kesempatan untuk mengatakan itu pada lelaki yang ia anggap baik, karena telah menolongnya saat tengah terpuruk.
Ezra tersenyum sesaat, lalu berkata, "Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Jika hal itu terjadi lagi, aku pun tak pernah ragu untuk melakukannya hal yang sama," ujarnya membuat Elea terpana.
Penilaiannya terhadap lelaki itu selama ini ternyata salah. Ezra lelaki yang baik. Entah kenapa, berada di dekatnya membuat Elea merasa nyaman. Ia seperti menemukan sosok yang siap melindungi.
Apakah kini Elea menemukan alasannya untuk bisa sekadar tertawa? Melepas gundah hatinya yang baru saja kehilangan harapan akan cintanya yang kandas. Akankah ia bisa menemukan bahagia yang dicari selama ini, dalam diri lelaki yang selalu terlihat lepas tanpa beban itu?