Perempuan Masa Lalu

1304 Words
Uluran tangannya mampu membuat jantung ini berdebar lebih kencang Pelukan lembut itu mampu menjadi pelindung terhebat yang menenteramkan Entah ini rasa yang selalu dinanti atau hanya bahagia sesaat Satu hal yang pasti, jangan biarkan cinta pergi tanpa tahu kemana ia akan mencari jalan kembali _Elea *** Suasana pusat perbelanjaan terbesar di kota metropolitan itu begitu ramai pengunjung. Elea dan Gibran berjalan beriringan menuju tempat pembelian tiket untuk menonton film. Horor merupakan genre yang dipilih perempuan dengan jilbab pasminah warna cokelat muda itu. "Kau suka film horor?" tanya Gibran setelah Elea mendapatkan tiket di tangannya. "Suka, lebih menantang dibanding percintaan. Jangan bilang kau takut film horor, Mas?" tanya Elea curiga. "Aku pikir kau penggemar cerita romansa," canda Gibran mengerutkan kening. "Apa yang membuatmu berpikir begitu?" "Novel-novel di rak buku kamarmu kebanyakan kisah cinta dibanding cerita horor." "Kau memperhatikannya?" "Tentu saja, otakku bisa menyerap cepat hanya dengan melihat sekilas saja." "Sepertinya kau penggemar romance juga." "Aku lebih menyukai thriller ketimbang cerita cinta." "Kalau begitu, kau cocok jadi detektif daripada pebisnis, Mas." Karena peristiwa masa lalu, aku lebih banyak mempelajari tentang misteri pembunuhan. Itulah sebabnya aku bisa menemukan siapa penyebab kecelakaan yang terjadi pada kedua orang tuaku 22 tahun yang lalu, bisik Gibran dalam hatinya. Elea mengernyitkan dahi, menatap sejenak lelaki yang berjalan di sampingnya. "Mas ...," panggil Elea lagi karena Gibran seperti tak mendengarkannya. "Kalau aku jadi detektif, tak mungkin akan bertemu denganmu, Elea." Tawa Elea lepas mendengar alasan yang dikatakan lelaki itu. Gibran menatap perempuan yang terlihat cantik saat tengah menarik garis lebar di bibirnya, memperlihatkan gigi-giginya yang berderet rapi. Ia tak menyesal telah mengikuti keinginan Elea hari ini. Seketika hatinya terasa menghangat. Sementara Elea tengah mengantri untuk memberikan tiket pada petugas jaga di pintu masuk, Gibran menyempatkan membeli sekotak popcorn dan dua gelas jus. Mereka kemudian berjalan memasuki ruangan yang sudah dipenuhi penonton. Mencari nomor kursi yang terletak di bagian sisi kanan bagian atas dan duduk berdampingan. Beberapa saat kemudian lampu sudah dimatikan, tanda film akan dimulai. Musik pengiring yang bernuansa menyeramkan mengiringi pemutaran awal film yang menampilkan nama-nama tokoh. Sepanjang menikmati adegan demi adegan, Elea dan Gibran hanya berinteraksi lewat bahasa tubuh. Saling melempar senyum atau memegang lengan Gibran saat Elea terkejut. Hingga film selesai pun, tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. "Bila sudah menonton film horor, adrenalinku bisa naik dengan cepat," ucap Elea bersemangat. "Aku perhatikan, kau terlihat ketakutan, wajahmu juga begitu tegang," cibir Gibran membuat Elea salah tingkah. "Kau menonton filmnya atau hanya memperhatikanku?" "Keduanya." Kembali Elea tertawa. Mereka menyusuri sepanjang jalan yang di sisi kanan kirinya menampilkan banyak produk-produk yang terpampang di etalase toko. "Kau lapar?" tanya Gibran seraya memandang perempuan yang berjalan di sampingnya. Elea mengangguk. "Mau makan di mana?" "The People's Cafe." Nama kafe itu menjadi salah satu tempat makan favoritnya. Jika setelah berbelanja kebutuhan rumah, Elea pasti menuju The People's Cafe untuk mengisi perutnya atau hanya sekadar menikmati cafe' latte. Salah satu kafe yang dijamin kehalalannya, menjadi pilihan bagi kaum muslim. Tempat itu pun cukup nyaman dan hangat. Membuat siapa pun akan merasa nyaman makan atau hanya sekadar nongkrong di sana. "Baiklah, hari ini adalah milikmu, dan aku akan ikuti semua keinginanmu." "Terima kasih, Mas," ucap Elea menyunggingkan senyum. Gibran beberapa kali merangkul pundak Elea yang hampir bertabrakan dengan orang yang berlalu-lalang di sepanjang mal. Perempuan itu merasakan debaran yang meningkat kala perhatian itu dilakukan suaminya. Ia bisa melihat dalam sorot mata yang terpancar di sana, ada ketulusan yang seperti ingin selalu menjaganya. Belum sampai di tempat yang dituju, tiba-tiba langkah Gibran terhenti. Elea pun otomatis menghentikan langkah. Tangan yang merangkul pundaknya terlepas. Perempuan itu sejenak menoleh dan ia bisa melihat tatapan itu mengarah pada seorang perempuan yang tak jauh berdiri di depan mereka. Dengan rambut panjang tergerai, wajah cantik dengan kulit putih bersih, dibalut pakaian mini dress casual warna hitam yang dipadu dengan sepatu high heels warna senada, menambah kesan perempuan memesona. Selama beberapa saat, kedua orang itu saling pandang dalam diam. Elea ikut mematung dengan rasa penasaran yang singgah di pikirannya. Siapakah perempuan itu? "Elea, kau pergi duluan ke kafe, nanti aku menyusul." Elea mengangguk. Berjalan sendiri melewati perempuan itu yang masih bergeming menatap Gibran. Sementara Gibran berjalan perlahan mendekati perempuan itu. Mereka masih saling diam saat keduanya sudah dalam jarak dekat. Tatapan yang entah dapat diartikan seperti apa saat ini. Namun, rasa canggung itu jelas menguasai. "Sheira ...," panggil Gibran setengah berbisik. Perempuan itu tampak memaksakan senyumnya mengembang. "Apa kabarmu, Kak?" tanya perempuan yang dipanggil Sheira itu terlihat kaku. "Baik." "Aku senang bisa melihatmu lagi," ucap Sheira sambil menunduk. "Bagaimana kabarmu?" Gibran memperhatikan perempuan itu lekat. "Aku juga baik." "Sejak kapan ada di sini?" "Seminggu yang lalu." Hening. Mereka terlihat seperti dua orang yang sudah lama tak bertemu. Begitu canggung dan kaku. "Perempuan tadi itu istrimu?" tanya Sheira ingin memastikan. "Ya, dia istriku," jawab Gibran tanpa ragu. "Kau mencintainya?" "Apa perlu alasan lain untuk menikahinya?" Kembali Gibran menjawab dengan sinis. Sheira terdiam. Seharusnya ia tak bertanya hal itu. "Elea mungkin tengah menunggu. Aku jalan duluan," ucap Gibran hendak melangkah pergi. "Tunggu, Kak ...." "Ada yang ingin kau bicarakan lagi?" Perempuan itu bergeming, menatap manik mata Gibran yang sudah tak ditemukan cinta lagi untuknya. "Aku sedang proses cerai dengan Alan," ucap Sheira tanpa malu-malu. "Lalu?" "Aku hanya memberitahumu, jika pilihanku ternyata salah. Maafkan aku, Kak." Kali ini Gibran yang terdiam. Kembali ditatapnya perempuan itu. "Aku sudah memaafkanmu sebelum kau memintanya," ucap Gibran sambil berlalu dari hadapan Sheira yang mematung dengan penuh tanya. Gibran bergegas menuju The People's Cafe. Elea mungkin telah lama menunggunya dengan berbagai pertanyaan. Perempuan itu tak perlu tahu dengan siapa tadi ia bertemu. Karena baginya, itu adalah masa lalu yang ingin dikubur dalam-dalam. Rasa lega bisa melihat Elea yang duduk sambil menikmati secangkir kopi. Perempuan itu bahkan selalu terlihat cantik meski wajah pucatnya masih membingkai bekas demam semalam. Kau adalah perempuan yang ingin aku perjuangkan, Elea. bisik lelaki itu sambil memesan minuman yang sama, cafe' latte. "Maaf lama menunggu," ucap Gibran seraya duduk di hadapan Elea yang terkejut dengan kedatanganya. "Apa perempuan itu begitu berarti bagimu, sehingga lebih memilih membiarkanku pergi sendiri?" gerutu Elea tak suka. Lelaki itu tersenyum dengan ucapan Elea yang mengandung kecemburuan. "Justru aku membiarkanmu pergi agar aku bisa merasakan perjuangan untuk mengejarmu." Elea mengernyitkan dahi, menatap penuh selidik lelaki di hadapannya. "Silakan cafe' lattenya, Kak." Tiba-tiba seorang waitress menyuguhkan secangkir kopi yang dipesan Gibran. "Kau memesan kopi yang sama denganku?" Elea terbelalak dengan kopi yang dipesan lelaki itu. "Sejujurnya aku lebih menyukai vietnam drip coffee, tapi karena ingin mencoba kopi yang kau minum, jadi aku memesannya, apa itu menganggumu?" "Tidak." "Kalau begitu, sambil aku menikmati kopi ini, silakan memesan menu. Aku tak ingin kau sakit lagi karena telat makan." "Kau tak ingin direpotkan lagi olehku?" "Bukan begitu. Aku hanya mengkhawatirkanmu." Elea mengerucutkan bibirnya tak percaya. Apa lelaki itu kini sedang menggodanya? Sementara itu, Gibran tampak tersenyum melihat perempuan yang kini tengah memanggil seorang waitress untuk memesan menu makanan. Apa yang dipesan Elea, Gibran pun memesannya. Sikap lelaki itu menimbulkan curiga. Seperti ada yang tengah disembunyikan. Ia tak ingin berlebihan menilai itu sebagai penghalang kebahagiaannya hari ini. Meskipun kehadiran perempuan itu sedikit mengganggu pikiran, tetapi ia mencoba untuk tetap terlihat tenang. Mungkin perempuan itu teman lama Gibran yang kini dipertemukan kembali. Namun, lebih menyuruhnya pergi dan tak memperkenalkan jika ia adalah istrinya, membuat Elea bertanya-tanya. Pernah ada hubungan apa di antara mereka? Ah, lagi-lagi tak mau berasumsi macam-macam hingga membuat prasangka makin berkeliaran. Biarlah waktu yang akan menjawab semua tentang siapa perempuan itu. Lagi pula, ia dan Gibran belum menentukan apa-apa. Elea tak tahu akan perasaan lelaki itu? Mungkin saja, karena perasaan bersalah akan kejadian malam itu, hingga rela menebus dengan mengabulkan semua keinginannya. Dengan begitu, beban di hati pun akan sedikit berkurang. Elea tak ingin berharap lebih. Sementara Gibran masih terganggu dengan pertemuannya dengan Sheira, perempuan di masa lalunya yang pernah menghadirkan cinta sekaligus luka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD