Mencintai Dalam Diam

1366 Words
Maaf karena sudah menorehkan luka yang begitu dalam Mempertahankanmu ternyata lebih sulit dari sekadar mengucakan kata maaf Karena begitu menginginkanmu tetap di sisiku Aku tak menyadari jika itu makin membuatmu ingin lepas Apakah tak semudah itu menyentuh hatimu yang begitu banyak perih? Apakah aku tak boleh mengeringkan rasa sakit itu? Setidaknya, izinkan aku mencintaimu meski dalam diam, Elea _Gibran *** Di bawah selimut yang menghangatkan, tubuh Elea masih terbaring dengan suhu badan yang mencapai tiga puluh sembilan derajat. Tekanan yang membawanya pada masa tersulit baru saja dimulai. Dengan telaten, Gibran mengurus perempuan itu tanpa merasa jengah. Meski mungkin Elea akan mengusirnya saat terbangun nanti, tetapi ia sudah berusaha memberikan apa yang ia mampu untuk bisa menyembuhkan sedikit saja luka. Pertama kalinya ia merasa takut kehilangan. Khawatir akan ditinggalkan sekaligus dibenci membuat napasnya begitu menyesakkan. Dengan memberikan kompres, kondisi Elea berangsur membaik. Kedua netra itu terbuka perlahan. Mengerjap sesaat seakan silau dengan cahaya lampu kamar. Sosok Gibran yang tengah terlelap tampak duduk di kursi dekat pembaringan. Tatapan Elea lekat melihat ke arah lelaki itu. Ingatannya kembali pada malam di mana harapan terakhir yang dimilikinya harus kandas. Juga di saat sang ayah harus pergi tanpa permisi. Hatinya kembali nyeri. Menangis dalam senyap menahan luka yang menganga. Isak tangis Elea membuat Gibran terusik. Dibukanya kedua netra dan ia melihat perempuan itu sudah berlinang air mata. Ragu ketika ingin menghampiri, tak kuasa membuat kaki untuk melangkah mendekati. Ia takut perempuan itu ketakutan. Gibran hanya bisa menatapnya nanar. "Elea ...." Hanya kata itu yang meluncur dari mulutnya. "Aku lapar." Gibran mengukir senyum. Ia tak menyangka jika itu hal pertama yang akan dikatakan Elea. "Aku sudah membuatkanmu bubur, semoga kau suka," ucap Gibran seraya menghampirinya, lalu duduk di sisi tempat tidur. Dengan hati-hati ia membantu membangunkan Elea hingga duduk bersandar, lalu mengambilkan segelas air putih. "Kau minumlah dulu." Elea menurut. Ia meminum air putih beberapa teguk, lalu kembali menyandarkan kepalanya di tumpukan bantal. "Kau makanlah sedikit dulu, lalu setelah itu minum obat." Gibran seraya mengambil mangkuk berisi bubur di atas nakas, kemudian menyuapi Elea perlahan. Tanpa protes, perempuan itu memakan bubur dengan cukup lahap, hampir habis separuh isinya. Gibran tersenyum dalam hati. Tak sia-sia membuat bubur susah payah dengan bantuan aplikasi si logo merah. Setelah meminum obat, Elea kembali berbaring karena mengeluh kepalanya yang masih pusing. "Mas, kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Elea seraya mengingat kejadian sebelum tak sadarkan diri. "Ezra yang menghubungiku. Ia yang mengabarkan kalau kau pingsan." Ezra? Elea mengingat kembali saat pergi ke Bandung untuk mengunjungi rumah sang ayah, tetapi lelaki itu telah pergi entah kemana. Tepakasa kembali ke Jakarta dengan pikiran dan perasaan yang tak karuan. Hujan turun semakin deras saat itu dan ia melihat Ezra ada di sana. Membawanya ke sebuah sanggar lukis, kemudian ia tak ingat apa-apa lagi. "Jadi, kau yang membawaku pulang?" "Kau berharap lelaki itu yang membawamu pulang?" Ada nada cemburu dalam pertanyaan itu. Elea menarik garis bibirnya hingga melengkung ke atas. "Bukan seperti itu. Lagi pula aku baru mengenal lelaki itu. Kami selalu saja bertemu tanpa sengaja." Gibran mendengarkan dengan serius. Ia menyadari akan apa yang dilihatnya sore itu di restoran tak seperti yang dipertanyakan pada Ezra tempo hari, saat di tempat hiburan malam. Ia menyesal, tetapi tak mungkin menarik lagi kata-katanya di depan lelaki itu. "Maafkan aku, Elea," sesal Gibran menunduk. Kali ini, mungkin kata maaf tak akan pernah cukup untuk menebus kesalahannya. Namun, hanya itu yang mampu Gibran lakukan saat ini. Ia benar-benar menyesal, tak ingin lagi membuat hati perempuan itu terluka. Bohong jika hati Elea tak terluka. Bohong jika jiwanya tak hancur karena perbuatan Gibran padanya malam itu. Bohong jika ia tak kecewa pada lelaki yang ia menyimpan harapan akan bisa memberinya secercah kebahagiaan. Namun, ia tak bisa memungkiri, malam itu ia pun menikmati apa yang dilakukan Gibran. Justru hal itu yang membuatnya sangat sakit, ia membohongi hatinya, seolah membenci Gibran dan dalam waktu bersamaan mengutuk dirinya sendiri karena menikmati setiap sentuhan lelaki itu. Malam itu, tanpa disadari, Elea menuntaskan hasratnya bersamaan dengan Gibran yang tak sadarkan diri. "Aku menerima permintaan maafmu, Mas," ucap Elea seraya menahan degup jantungnya yang berdetak lebih cepat. "Perbuatanku padamu tak pernah bisa termaafkan, tapi setidaknya, aku berharap kau memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan." "Permintaan maafmu saja sudah cukup membuktikan jika kau menyesal, Mas." "Aku mungkin tak bisa membuktikan apa pun saat ini, tapi izinkan aku untuk memberikanmu sedikit saja kebahagiaan." Elea mengangguk. "Terima kasih karena kau telah mengurusku," ucap Elea tulus. Gibran menatap manik mata itu dengan senyum yang mengembang. Ia bahagia, setidaknya Elea kini sudah bisa menerimanya tanpa ada kebencian terpancar dalam tatapan itu. "Kau istirahatlah, aku akan menjagamu di luar kamar." "Ya, aku tak akan bisa istirahat jika kau ada di sini," sindirnya sambil tersenyum. Gibran pun bangkit dan melangkah keluar kamar setelah menyelimuti Elea. Di luar kamar, lelaki itu diliputi perasaan tak menentu. Seperti ada sesuatu yang berloncatan di dalam d**a. Ia tersenyum sepanjang jalan menuju ke kamarnya. *** Sinar membelai terik dengan sentuhan hangatnya. Waktu masih menunjukkan angka sembilan ketika Elea terbangun. Setelah melaksanakan salat subuh fajar tadi, ia tertidur lagi. Kepalanya masih terasa berat, badan pun lemas tak bertenaga, tetapi kini ia merasa sudah lebih segar. Semangkuk sereal dan segelas s**u yang masih hangat sudah tersedia di atas nakas samping tempat tidurnya. Suasana begitu sepi. Di manakah Gibran? Apakah lelaki itu sudah pergi ke kantor tanpa pamit padanya? Menikmati sarapan di dalam kamar membuat Elea merasa tak nyaman. Dengan mengandalkan tubuh yang masih terasa sedikit ngilu, ia membawa nampan berisi sereal dan s**u. Berjalan menuruni tangga, lalu menuju meja makan. Di sana tampak Gibran tengah duduk sambil menikmati sarapannya sendiri. Lelaki itu terkejut saat melihat Elea tertatih berjalan sambil menuju ke arahnya. "Kenapa kau ke sini? Bukankah kau harus sarapan di kamar?" tanya lelaki itu khawatir. "Aku bosan di kamar. Makan sendirian membuatku tak berselera," ucap Elea menirukan kata-kata Gibran. Lelaki itu mengulum senyum, memperlihatkan deretan giginya yang putih. Segera ditariknya kursi untuk Elea duduk. Mereka menikmati sarapan dalam keheningan. "Kau yakin tidak mau ke dokter, Elea?" tanya Gibran akhirnya. Semalam ia sempat menanyakan hal itu pada Elea, tetapi perempuan itu menolak. Lagi, Elea menggeleng. Menyendok sereal yang semakin berkurang dalam mangkuknya. Gibran memperhatikan itu dan ia senang melihatnya. "Kau tidak ke kantor, Mas?" Elea bertanya karena menyadari kalau lelaki itu masih berpakaian santai di jam yang sudah beranjak siang. "Aku izin." "Bukan karena aku, kan?" tanya Elea ragu. "Ya, karena kondisimu belum sepenuhnya pulih, maka aku bertanggung jawab untuk menjagamu. Apa aku terlalu berlebihan?" Elea terdiam. Lelaki kasar dan dingin yang selama ini ia kenal, tiba-tiba bisa berubah lembut dan perhatian. Adakah yang salah dengan lelaki itu? Ataukah karena perasaan bersalahnya akan kejadian malam itu? Elea mendesah. "Apa keberadaanku membuatmu tidak nyaman?" Gibran menatap ragu. Perempuan itu masih bergeming dalam bisu. "Elea ...." "Kenapa kau bisa berubah dalam waktu cepat? Kemarin kau berlaku kasar dan saat ini bersikap lembut. Apa yang hendak kau tunjukkan padaku, Mas?" Kali ini lelaki itu yang terdiam. Terpaku tanpa suara. Pikirannya berkecamuk dengan berbagai prasangka. Ia pun tengah mempertanyakan hal itu dalam hatinya. Adakah yang berubah dengan perasaannya? "Aku hanya ingin menebus rasa bersalahku karena kejadian malam itu." Kata-kata Gibran menjawab rasa penasaran Elea. Perempuan itu manggut-manggut seraya menatap wajah lelaki itu. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita menghabiskan waktu hari ini dengan bahagia?" saran Elea. Sepasang mata bulat itu tampak berbinar. "Setuju! Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Gibran segera. Ia tak ingin melewatkan kesempatan kali ini untuk bisa membuat Elea bahagia. "Nonton bioskop." "Apa? Kau yakin dengan hal itu? tanya Gibran heran. "Kau tak suka?" "Aku hanya tak pernah melakukan itu. Lagi pula, kau, kan, masih butuh istirahat." "Aku hanya perlu sedikit refreshing agar sakitku segera hilang. Kau, kan, bilang ingin menebus rasa bersalahmu, jadi buat aku bahagia hari ini, bagaimana?" Lelaki itu pun mengangguk. Garis lengkung tampak menarik bibirnya, membuat rasa lega di hati Elea. Rasa yang dulu ingin membuat perempuan itu menderita, menguar seiring waktu. Sejak kejadian malam itu, Gibran menyadari satu hal, ia mulai mencintai Elea. Meskipun ia harus melakukan itu dalam diam, tetapi ia berupaya ingin membahagiakan perempuan itu. Tak mau lagi luka menggores hatinya yang sudah dipenuhi rasa sakit. Ia takkan pernah rela, siapa pun singgah dan merebut tempatnya untuk melukiskan senyum di bibir itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD