Terpuruk

1357 Words
Perempuan itu seperti angin, dingin tapi menyenangkan Wajah yang sejak pertama kali menyentuh hati dengan tatapan penuh tanya Mengurai berbagai rasa yang selalu ingin berada di sisinya Tak sengaja waktu mempertemukan dalam situasi tak terduga Membiarkan prasangka itu menguasai pikirannya Tak pernah ingin menjadi lindu, apalagi melukai Hanya ingin menawarkan secercah tawa yang mengukir indah hari-harinya _Ezra *** Gibran menekuri lantai kamarnya dengan masih mengenakan pakaian semalam. Diliputi perasaan bersalah setelah mengingat apa yang sudah dilakukan terhadap Elea, sungguh takkan pernah bisa dimaafkan. Lelaki itu berkali-kali mengutuk dirinya sendiri yang tak bisa mengendalikan emosi. Kenapa bisa seceroboh itu, padahal ia merasa tidak dalam keadaan mabuk berat. Namun, amarahnya lebih besar menguasai hingga tak bisa menahan hasrat untuk tidak menyentuh perempuan polos itu. Apa yang harus dilakukannya? Elea pasti sangat terluka saat ini. Dengan langkah ragu, lelaki itu menuju kamar Elea. Diam terpaku di depan pintu. Ia ternyata tak memiliki keberanian untuk hanya sekadar menanyakan keadaanya. Kembali menuju kamar dan memikirkan langkah apa yang harus ia tempuh untuk memulai pembicaraan. Elea pasti tak ingin melihatnya saat ini. Bahkan, mungkin perempuan itu dipenuhi rasa benci, hingga tak mau menemuinya lagi. Ah, Gibran mendesah dalam penyesalan yang tak berkesudahan. Ditatap pintu kamar Elea yang masih belum juga terbuka sejak pagi. Di atas meja makan hanya tersaji hidangan semalam yang belum sempat dibereskan. Seharusnya mereka menikmati makanan itu semalam, tetapi ia lebih tergoda dengan bujukan memabukkan yang menguasai hati dan pikiran. Tepat pukul sembilan, Gibran sudah bersiap menuju kantor. Beberapa pertemuan bisnis sudah dijadwalkan asistennya. Lelaki itu sudah beberapa kali menghubungi untuk sekadar mengingatkan. Kembali dilihatnya pintu kamar Elea yang masih tertutup rapat. Bahkan, tak terdengar suara dari dalam sana. Apakah perempuan itu baik-baik saja? Kembali Gibran hanya terpaku di depan kamar. Ingin memastikan keadaanya, tetapi ia tak memiliki keberanian setelah kejadian semalam. Gibran segera pergi dari sana dan menuruni anak tangga. Meski pikiran dipenuhi tentang Elea, tetapi ia tak bisa mengabaikan pekerjaan yang sudah menunggunya. Biarlah perempuan itu kini menenangkan diri sejenak. Semoga masih tersisa maaf untuknya. *** Elea berjalan dalam diam menyusuri halaman rumah sang ayah. Sudah sebulan ia meninggalkan rumah yang telah menaunginya dari terik dan hujan selama tiga belas tahun ini. Mencipta banyak kenangan manis antara ayah dengan anak perempuannya. Meninggalkan rindu yang menyelusup ke dalam d**a. Sengaja sejak pagi buta, Elea bangun dan langsung menuju stasiun kereta api tanpa meminta izin dari Gibran. Ia ingin pulang ke Bandung untuk menemui ayahnya. Hanya lelaki itu yang berkelebat dalam pikirannya sejak kejadian kemarin malam. Ayah. Diketuknya pintu depan, berharap sang ayah segera datang membukakan pintu. Ia sudah tak sabar menghambur ke dalam pelukan yang selalu bisa menenangkannya dari segala resah. Kesalahan yang pernah dilakukan lelaki paruh baya itu tiba-tiba menguap begitu saja. Ia hanya ingin melabuhkan diri dan menangis sepuasnya dalam kehangatan lelaki yang selama ini sudah banyak mempertaruhkan hidup untuk kebahagiaannya. Beberapa kali pintu itu diketuk, tak juga ada sahutan. Hening. "Elea?" Sebuah suara berhasil membuat perempuan itu menoleh. Sosok Bu Rahma, tetangga sebelah rumahnya tampak berdiri sambil menatap heran. "Kau pulang?" tanya Bu Rahma seraya mengahampirinya. "Ayah ada di mana, Bu?" tanya Elea tanpa memedulikan pertanyaan perempuan itu. "Dua hari yang lalu ayahmu pergi." "Pergi kemana?" "Ayahmu tak memberitahu akan pergi kemana. Ia juga tak bicara apa pun, hanya pamitan pada tetangga terdekat dan Pak RT saja. Kau sedang ada masalah dengannya?" Elea tak menjawab. Ia lebih memikirkan ayahnya yang pergi entah kemana. Setelah mengucapkan terima kasih pada Bu Rahma, ia segera pergi dari sana. Menekuri jalan yang tiba-tiba terasa begitu asing. Harapan untuk bertemu sang ayah seketika lenyap sudah, berganti kekhawatiran. "Jika Ayah pergi, lalu aku bagaimana? Pada siapa mengadukan semua duka? Marahkah ia karena perlakuanku padanya? Tak rindukah ia pada anaknya? Kenapa Ayah pergi tanpa pamitan dulu?" Berbagai pertanyaan hilir mudik dalam pikiran. Bulir bening telah jatuh luruh membasahi pipi. Mengantarkan pada penyesalan yang membelenggu. Sikapnya mungkin sungguh keterlaluan, hingga membuat lelaki itu memilih pergi meninggalkan. Kemana ia harus mencari kini? Ayah. Hari sudah beranjak sore saat Elea sampai di Jakarta. Langkahnya terasa berat untuk kembali pulang ke rumah suaminya. Ia seperti tak punya arah tujuan. Pikirannya kalut tak karuan. Rinai mulai menyapa bumi. Mengalirkan hawa dingin yang mengembus perlahan. Elea tak memedulikan basah di pakaiannya. Ia melangkah dalam diam menyusuri jalanan di seputaran stasiun. Entah seberapa jauh ia melangkahkan kaki tanpa tahu di mana akan berhenti. Pikirannya terlalu buntu untuk memikirkan hal selain lelaki yang telah pergi tanpa permisi. Bahkan, ketika sebuah mobil berderit karena hampir menyentuh tubuhnya pun tak juga dipedulikannya. Lelaki yang keluar dari dalam mobil segera menghampiri Elea. Ia begitu terkejut setelah melihat siapa perempuan yang hampir ditabraknya itu. Tatapan yang kosong, tubuh itu pun menggigil karena kedinginan. "Elea ...." Segera dipapahnya perempuan itu masuk ke dalam mobil. Ia tak bereaksi, hanya mematung sambil memeluk tubuhnya sendiri. Lelaki itu terlihat khawatir. Apa yang sebenarnya terjadi? Mobil melaju membelah jalanan dalam deras hujan. Menuju sebuah tempat yang selama ini menjadi rumah kedua bagi lelaki itu. Sanggar lukisnya. Dibawanya Elea masuk ke sanggar. Perempuan itu masih belum juga tersadar. Ezra, lelaki itu, segera mengambilkan handuk, lalu menutupi tubuh basah yang bergeming dalam tatapan kosong. "Elea...," panggil Ezra seraya menggenggam kedua tangan perempuan itu. Elea masih tertegun dalam diam. "Aku mohon sadarlah, Elea." Perempuan itu tiba-tiba menatap Ezra sendu. "Kau bisa menemukan ayahku?" "Apa?" Ezra masih belum mengerti masalah yang terjadi dengannya. "Ayahku pergi!" Tangis Elea pecah, emosinya terlihat labil. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ezra khawatir. Perasaan ingin melindunginya selalu muncul. Entah kenapa, sejak pertama kali melihatnya diam-diam di jamuan makan malam ayahnya, Ezra mulai tertarik dengan Elea. Meski setelah tahu jika perempuan itu adalah istri dari Gibran, ia tetap ingin dekat dengannya. Ezra yakin, Elea adalah perempuan yang pernah diceritakan Gibran saat hubungan persahabatan mereka masih baik-baik saja. Elea adalah putri dari lelaki yang telah membuat hidup Gibran menderita. Janjinya ingin menemukan lelaki itu dan membuat perhitungan dengannya. Sejak mengetahui jika lelaki itu memiliki seorang putri, tujuannya hanya satu, menjadikan perempuan itu sebagai istrinya. Ia ingin hidup lelaki yang telah membuat masa lalunya menderita dengan mengambil satu-satunya harta berharga dalam hidup lelaki itu. "Ayah pergi meninggalkanku. Aku tak tahu di mana ia sekarang. Aku tak tahu harus mencarinya kemana," racau Elea terisak. "Tenanglah, Elea. Kita akan mencari ayahmu sama-sama. Sekarang kau tenangkan dirimu dulu." "Bagaimana aku bisa tenang, sementara Ayah pergi tanpa memberitahu apa pun." "Ayahmu pasti punya alasan kenapa ia pergi diam-diam. Kita akan mencari tahu itu nanti. Sekarang yang terpenting memulihkan kondisimu terlebih dulu. Bagaimana bisa kau mencari ayahmu dalam keaadaan seperti ini." Elea bergeming. Tangisnya sudah mulai reda. "Aku harus pulang!" Tiba-tiba perempuan itu berdiri dan hendak melangkah pergi. Namun, belum juga melangkah, Elea ambruk dan tak sadarkan diri. Ezra membaringkan tubuh lemah itu di atas sofa dan segera menyelimutinya. Ia tak punya pilihan selain menghubungi Gibran. Bagaimanapun lelaki itu kini sudah menjadi suami Elea. Dengan berat hati, setelah enam tahun berlalu, ini pertama kalinya Ezra kembali menghubungi lelaki itu. "Mau apa kau meneleponku?" ujar suara di seberang dengan nada ketus. "Kau harus datang ke tempatku sekarang. Elea pingsan." Ezra tanpa basa-basi langsung mengatakan itu. Gibran panik seketika. "Kau di sanggar?" "Ya." Setelah menutup telepon, Ezra kembali menatap perempuan di depannya. Ada kekhawatiran di sana. Ia memang baru mengenal Elea, tetapi entah kenapa, ia begitu peduli dan ingin melindungi. Ada rasa hangat meski hanya memikirkannya saja. Tak perlu waktu lama untuk Gibran sampai di sanggar Ezra. Lelaki itu terlihat panik setelah melihat keadaan Elea. "Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Gibran sambil memegang tangan Elea yang dingin. "Tadi Elea bilang, ayahnya pergi entah kemana. Ia sangat membutuhkan ayahnya saat ini." Gibran terpaku. Pasti ini karena perbuatannya semalam, hingga membuat Elea ingin menemui ayahnya. Lagi-lagi, penyesalan itu kembali bersarang. Melihat keadaan perempuan itu, tiba-tiba membuat ia terluka. "Aku akan membawanya pulang," ucap Gibran sambil menyingkap selimut dan segera menggendong tubuh Elea. Gibran pergi tanpa berbasa-basi, bahkan pamit pun tidak. Mereka seperti dua orang asing yang saling tak mengenal. Ezra hanya menatap nanar kepergian sepasang suami istri itu. Meski hati ingin selalu melindungi Elea, tetapi apa daya, ia tak kuasa. Masih ada yang lebih berhak atas perempuan itu. Ia tak bisa memaksakan diri untuk mengulurkan tangan, sementara tak juga ada sambutan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD