Candala (Perasaan ketika seseorang merasa dirinya sangat rendah)

1314 Words
Ketika hasrat menjadi satu-satunya alasan menguar keraguan Meluruhkan ego yang dibalut nafsu tak berkesudahan Menanggalkan satu-satunya hal paling berharga dalam diri Merenggut mimpi yang tersisa akan cerahnya esok pagi _Elea *** Gemintang nun jauh di atas sana, bertaburan bak permata terhampar di karpet hitam. Sang raja malam menyembul malu-malu, mengisyaratkan tak ingin tampak dalam pesona hiasan kelap-kelip cahaya kecil itu. Semilir meniupkan ranting kecil, dedaunan sesekali terjatuh dan terbang entah kemana. Ingar-bingar musik disko yang dimainkan disjoki perempuan cantik itu, semakin menyemarakkan suasana di sebuah tempat hiburan malam ternama. Anak muda yang rata-rata datang ke sana dengan alasan melepas penat dan lelah setelah bekerja, begitu menikmati alunan musik yang mampu membangkitkan semangat. Gibran dan dua orang temannya berada di antara kerumunan orang. Mereka tampak menikmati minuman berbahan alkohol yang dipesan dengan obrolan dan tawa tak karuan. Amanda terlihat bergelayut manja di bahu lelaki yang sejak dulu disukainya itu. Perempuan itu sudah dalam keadaan hampir tak sadarkan diri. "Sebaiknya kau pulang, Amanda," perintah Gibran terlihat enggan dengan kehadiran perempuan itu. "Kenapa Kak Gibran selalu menolakku seperti ini? Aku satu-satunya perempuan yang mencintaimu, tapi kau tak pernah menganggapku ada. Malah perempuan itu yang mendapatkanmu," racau Amanda sambil menunjuk lelaki di hadapannya. Gibran terdiam. Percuma meladeni perempuan yang tengah dalam pengaruh alkohol itu. "Aku tahu kau tidak mencintai perempuan itu, kan? Tapi kenapa kau mau menikahinya, Kak?" tanya Amanda, kali ini setengah berteriak. "Aku jelaskan sekalipun, kau tak akan mengerti, Amanda," jawab Gibran tak acuh. "Mama sudah pernah bilang padanya, kalau dia tak pantas bersanding denganmu. Dia perempuan biasa, mana bisa jadi istrimu, Kak." Lelaki itu bergeming. Ternyata Arini memang benar-benar tak menyukai Elea. Hingga dengan tega mengatakan hal itu pada perempuan yang baru dikenalnya. "Pantas atau tidaknya dia menjadi istriku, hanya aku sendiri yang bisa menilainya. Mamamu atau siapa pun tak berhak mengatakan itu padanya." Gibran merasa geram dengan tingkah ibu dan anak itu. Satu anggota keluarga Bagaskara yang lain tampaknya ingin mengusik rumah tangganya dengan Elea dan hal itu membuatnya makin emosi. "Kau benar-benar mencintainya?" tanya Amanda bernada sindiran. Gibran tak menjawab. Ia malah menuangkan minuman dari botol ke dalam gelas, lalu menenggaknya hingga tandas. "Amanda, ayo pulang!" Tiba-tiba tangan kekar meraih lengan Amanda. Gibran sempat menoleh ke arah lelaki yang menarik tangan perempuan di sampingnya, ia tak peduli. "Aku tidak mau pulang. Aku mau di sini dengan Kak Gibran," ujar perempuan yang sudah sempoyongan seraya menepis tangan lelaki itu kasar. "Kau ini perempuan, jaga sedikit kehormatanmu, Amanda," teriak lelaki itu kesal. "Kakak tidak berhak melarangku kemana aku pergi. Aku sudah dewasa sekarang." Amanda makin meracau sambil menggandeng lengan Gibran yang hanya tersenyum menyaksikan obrolan kakak beradik itu. "Gibran, sebaiknya kau pulang juga. Istrimu pasti tengah menunggumu di rumah." Gibran tertawa sinis mendengar itu. "Apa hakmu bicara seperti itu? Kau bukan siapa-siapa bagiku." "Aku memang bukan siapa-siapa bagimu, tapi aku peduli pada istrimu." "Kau menyukai istriku?" Dengan nada sinis Gibran menahan emosi mendengar perkataan lelaki itu. "Peduli bukan berarti menyukai. Hanya aku merasa kasihan padanya dengan sikapmu yang seperti ini," ucap lelaki itu sambil meraih tubuh Amanda yang hampir terjatuh karena Gibran bangkit berdiri. "Kau tahu kenapa aku begini? Itu karena dirimu." "Aku?" Lelaki itu tak mengerti. "Ya. Kau berusaha mendekati istriku karena kau menyimpan dendam padaku, kan? "Apa maksudmu, Gibran?" "Sedang apa kau bersama istriku di restoran tadi sore? Dengan menahan amarah, Gibran berdiri tegak di hadapan lelaki itu yang masih tertegun sambil merangkul tubuh Amanda. "Jadi, kau seperti ini karena melihatku bersamanya di restoran?" tanya lelaki itu heran. "Jawab saja pertanyaanku, sedang apa kau bersamanya di sana?" "Kau salah paham. Aku bertemu dengannya tak sengaja. Apa kau pikir aku dan istrimu memiliki hubungan lebih dari itu?" "Aku tahu kau mengincar istriku sejak jamuan makan malam tempo hari. Kau sengaja mendekatinya karena tahu dia istriku, kan?" "Ucapanmu sudah tak karuan." Lelaki itu menepis lengan Gibran yang menunjuk ke arahnya. "Jangan berani-beraninya kau mengganggu istriku," teriak Gibran memperingatkan. "Jika sikapmu seperti ini, tak menutup kemungkinan akan ada lelaki lain yang akan mengambil ia darimu." "Kau mengancamku?" Gibran dengan cepat meraih kerah jaket yang dikenakan lelaki itu. Teman-teman Gibran yang sejak tadi hanya menyaksikan mereka bersitegang, akhirnya melerai mereka sebelum pertengkaran terjadi. Lelaki itu, Ezra, menahan emosinya melihat perlakuan Gibran yang kekanak-kanakan. Selalu seperti itu jika berhubungan dengan perempuan. Dengan segera, Ezra menggendong Amanda yang sudah tak sadarkan diri dan membawanya keluar dari ruangan penuh sesak itu. Sementara Gibran langsung mengambil gelas yang berisi minuman dan menghabiskan isinya hingga habis tak bersisa. Hatinya makin memanas mendengar perkataan lelaki itu. Ia diliputi kemarahan melihat Ezra mengincar Elea. Bagaimanapun juga, ia takkan pernah memberikan celah sedikit pun pada lelaki itu untuk memasuki ruang pribadinya, termasuk mendekati Elea. *** Ketika hasrat menguasai amarah yang bersarang dalam d**a. Logika seakan terkalahkan oleh nafsu yang tiba-tiba membuncah. Mencoba mengontrol debaran yang menyusup tanpa kendali. Memaksa diri untuk melakukan tindakan tak terpuji pada perempuan yang seharusnya dilindungi. Rasa itu sungguh tak benar. Namun, bisikan hilir mudik menggelapkan akal dan kewarasan. Meluruhkan keimanan yang jatuh seketika. Terpikat pada sosok yang seharusnya dijaga sedemikian rupa. Perempuan itu dengan wajah pucat pasi berontak, saat lelaki yang seharusnya mengasihi dengan penuh cinta, kini tanpa ampun menanggalkan helai demi helai yang melekat di badan. Meronta pun akhirnya percuma. Lemah dan pasrah menerima perlakuan yang entah kenapa tiba-tiba datang. Derai bening yang mengalir tak mampu membendung ego yang sudah dikuasai nafsu. Hatinya menjerit meminta kekuatan Sang Maha Kasih ketika mahkota berharga direnggut paksa, justru oleh lelaki yang sejak awal tak pernah diharapkannya. Masihkah ada pahala di sana? Berdosakah ia yang sudah menolak keinginan suaminya? Elea hanya bergelung dengan selimut menutupi tubuh. Menangis dalam senyap dibalik punggung lelaki yang sudah tak sadarkan diri. Kenapa harus seperti ini jalan yang harus ia tempuh? Di saat sudah mulai luluh dengan suaminya, justru seketika lelaki itu menorehkan kembali luka yang mencabik-cabik jiwa. Harga dirinya pun hancur bersamaan dengan kekecewaan dan rasa malu. Elea sudah tak bisa lagi marah, bahkan membenci. Hatinya bagai pualam yang pecah dan terserak di sudut ruang gelap nan sepi. Tertatih-tatih Elea berjalan menuju kamar mandi dengan perih yang melanda. Di bawah curahan air yang membasahi seluruh tubuh, berharap kesakitan sedikit menguar bersamaan dengan luruhnya air mata. Elea masih tak habis pikir dengan sikap Gibran yang tak terkendali. Ia bisa mencium bau alkohol dari napas lelaki itu yang datang selepas tengah malam. Ajakan makan malam yang sudah jauh terlewat tak dihiraukannya. Lebih memilih menaiki anak tangga dan berlalu ke kamar. Wajah itu terlihat menahan kesal dan amarah. Elea yang penasaran mengikuti suaminya hingga ke kamar. Gibran tampak menyugar rambutnya kasar seraya bergumam tak menentu. Perempuan itu melangkah masuk dan berbaik hati menanyakan keadaannya. Tangan lembutnya menyentuh bahu kekar itu. Gibran yang tengah dalam suasana buruk, menatap Elea yang tengah berdiri dengan polos. Dari sanalah hal itu terjadi. Lelaki yang sejak sore tadi menahan diri karena kemarahannya pada Ezra yang mencoba mendekati istrinya, merasa malam ini adalah kesempatan untuk bisa menahan perempuan itu agar tak bisa dimiliki lelaki lain. Gibran tak menyadari, jika perbuatannya malah semakin menyakiti Elea. Akal sehat dan perasaan lelaki itu bertentangan. Tak bisa meredam emosi yang ia cipta karena masa lalu. Kebencian terhadap lelaki yang pernah menjadi bagian terbaik di hidupnya itu, jutsru mengantarkan pada sebuah penyesalan besar. Melukai perempuan yang ingin dijaga dari berbagai lindu, malah ia sendiri yang semakin memperdalam luka, hingga entah penawar seperti apa yang bisa menyembuhkannya. Elea masih menangis di kamarnya setelah membersihkan diri. Tubuhnya yang menggigil karena siraman air dingin di tengah malam, tak ia hiraukan. Kejadian demi kejadian yang sekilas itu mampu terekam dalam memorinya. Lelaki itu menjamah tubuhnya tanpa belas kasih. Elea pernah berharap jika Gibran akan memperlakukan ia dengan lembut kala kewajibannya minta dipenuhi, tetapi pengaruh alkohol telah menggelapkan mata hatinya, hingga dengan tega m*****i kesucian yang memang sudah seharusnya ia serahkan penuh pada sang suami. Namun, bukan hal itu yang ia inginkan. Setidaknya, Gibran bisa sedikit menghargainya sebagai istri. Elea kini semakin rapuh, jatuh, dan lumpuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD