Chapter Tujuh Belas

3304 Words
        Aster berjalan ke barisan paling depan, sembari mengangkat kedua tangannya. Berusaha tidak bergerak sembarangan karena orang-orang asing di sekitarnya tampak tidak sedang bermain-main. “Diam di tempat!” teriak lelaki itu lagi.         “Tenanglah, kami datang dengan damai,” Aster berusaha memperbaiki keadaan meski usahanya tampak tidak berhasil.         “Kubilang jangan bergerak!” orang-orang semakin ribut. Seakan memandang kelompoknya sebagai cikal bakal dari sesuatu yang buruk.         “Aster!” Alby sedikit berteriak untuk menyuruhnya mundur.         “Siapa kalian? Dari mana asal kalian? Dan apa yang kalian inginkan dari kami?” tanya si lelaki tadi bertubi-tubi.         “Kami... pengembara yang kebetulan menemukan tempat ini. Kami berasal dari sebuah tempat yang bernama Oakland dan Nibbana.”         Seketika semua orang asing di hadapannya saling berpandangan satu sama lain. Sepertinya mereka sedang saling berbisik. Aster merasa sedikit tenang karena sepertinya orang-orang itu tahu tentang nama tempat yang dia sebutkan. “Kalian tahu Nibbana dan Oakland?” tanyanya lagi untuk memastikan.         “Tidak,” jawab lelaki yang sama. Namun dia kini sudah tidak menodongkan senjatanya lagi. Begitu pula dengan orang-orang di belakangnya.         “Kami datang tidak dengan maksud jahat. Kami hanya ingin tahu mengenai tempat ini. Kalian bisa mempercayai kami.”         Orang-orang itu kembali berbisik. Aster tidak bisa mendengar hal apa yang sedang mereka bicarakan, namun dia berharap bukan sesuatu yang buruk.         Aster berdebar menanti hasil dari diskusi tersebut. Terutama saat sang lelaki yang tampak seperti sang ketua dari gerombolan itu berbalik menatapnya.         Perundingan pun berakhir, dengan hasil kelompok Aster mendapatkan sebuah kata maaf. “Maafkan kami,” ucap si ketua. Sebuah kata yang menenangkan hati. “Kami mengira kalian orang yang ingin melakukan sesuatu kepada kota kami.”         Aster saling pandang dengan Ethan dengan spontan. Namun mereka tidak mengatakan apa-apa setelahnya. Si lelaki yang menjadi ketua mendekati Aster untuk menjabat tangannya. “Selamat datang, maaf atas kelancangan kami. Kalian pasti sangat lelah setelah melakukan perjalanan yang jauh, bukan? Rekan saya akan membawa kalian ke rumahnya untuk beristirahat.” Dia menolehkan wajah kebelakang. Bahkan tanpa melihat respon para tamunya lebih dahulu. “Lucy!” teriaknya kepada seseorang.         Seorang wanita berumur sekitar empat puluh tahun datang mendekat. Rambutnya disanggul, membentuk sebuah bola yang menempel di atas kepalanya. Dia sedikit membungkuk untuk menunjukkan rasa hormatnya.         “Antarkan tamu kita ini untuk beristirahat!”         “Baik,” jawabnya singkat.         Rasanya sangat aneh menyaksikan perubahan yang begitu drastis dari wajah orang-orang tersebut. Meski sebenarnya sudah sepatutnya Aster merasa tenang.         Kenapa rasanya ada sesuatu yang aneh? Kenapa orang-orang itu berkata takut kalau-kalau kami melakukan sesuatu kepada kota mereka? Padahal tempat ini justru terlihat sangat tidak terawat. Lantas apa yang sebenarnya sedang mereka pertahankan? Apakah ada sesuatu yang sedang berusaha mereka lindungi dan sembunyikan di kota ini? Semua, membuatku penasaran...         Aster juga teman-temannya yang lain memilih untuk tidak terlalu banyak bicara saat itu. Mereka khawatir orang-orang itu mendadak berubah pikiran jika mendengar sang tamu terlalu banyak bicara. Tentu saja ada berjuta hal yang ingin Aster tanyakan, namun harus dia tahan untuk beberapa saat.         Mereka semua dibawa ke sebuah rumah yang cukup besar. Berlantai dua, namun tampak kosong. Lantai kayunya terlihat bersih, sangat berbeda dengan penampilan luar rumahnya. Kipas angin bergerak di langit-langit, mengusir sedikit hawa panas di dalam sana. Kalau saja benda itu tidak ada, semua yang ada di dalam rumah itu akan merasa seperti sebuah kepiting rebus.         Lucy berkata bahwa rumah tersebut adalah miliknya. Dia tinggal seorang diri karena semua anggota keluarganya sudah meninggal akibat terserang sebuah penyakit. Lucy adalah seorang wanita yang baik. Dia sangat senang menyambut kelompok Aster di rumahnya. Tak peduli mereka siapa dan berasal dari mana. Karena dengan begitu, Lucy seakan merasakan keadaan dalam rumahnya menjadi sehangat dulu, saat keluarganya masih utuh.         Rumah tersebut lebih dari cukup untuk menampung mereka semua. Mungkin ada beberapa yang harus tidur di lantai karena jumlah kasur yang tidak mencukupi, tapi hal itu bukan menjadi masalah besar.         “Terima kasih sudah memperbolehkan kami beristirahat di sini,” ucap Aster.         Mereka semua berkumpul bersama di ruang tengah bersama Lucy untuk bertukar cerita. “Aku senang bangunan ini terasa lebih hangat dibanding sebelumnya.”         “Aku tidak mengerti definisi kata hangat di sini,” celetuk Johan sambil mengibas-ngibaskan bajunya.         Aster sedikit mengomel karena mendengar perkataan tersebut. Dia takut Lucy tersinggung karenanya. Namun wanita tersebut hanya tertawa kecil, tersenyum seakan sudah terbiasa menghadapi pemuda seperti Johan.         “Aku ingin bertanya,” ujar Erik.         Semua orang tampak tengah bersantai karena sudah memiliki tempat persinggahan untuk beristirahat. Tapi tidak sama halnya dengan lelaki yang satu itu. Sejak awal berada di dalam kota, Erik selalu terlihat waspada. Tidak berkurang sedikitpun meski orang-orang kota sudah memperlihatkan keramah-tamahannya. Mungkin ada hal yang masih mengganjal dalam benaknya hingga saat ini.         “Silahkan, tanyakan apa saja yang ingin kalian ketahui.” Lucy masih menebar senyuman yang sama.         “Sekarang ini, kita sedang ada di mana?”         “Kalian benar-benar tidak tahu tempat yang kalian tuju ini?” Semua menggeleng. “Kalian ada di sebuah tempat bernama Zeehan, Tasmania.” Tidak ada respon apapun dari semua pendengar. Hanya beberapa yang saling bertatapan lalu berbisik. Lucy memperhatikan semua dengan perasaan heran. “Tetap tidak tahu?” tanyanya lagi. Mereka kembali menggelengkan kepala sembari mengerutkan dahi. “Australia?”         Mungkin saat ini Lucy sedang mengeluh ‘sia-sia saja menanyakan itu semua karena sepertinya mereka tidak tahu apa-apa.’ Karena semua terlintas dalam raut wajahnya. Akan tetapi, kali ini setidaknya ada seorang yang merespon ucapannya.         “Tunggu!” Aster menyahut dengan cepat. “Maksud Anda, Negara Australia...?”         “Ya. Apa lagi yang bernama seperti itu?”         Wajah Aster mendadak seperti orang yang baru saja melihat hantu. “A-aku jadi semakin tidak mengerti,” ucapnya.         “Kamu saja semakin tidak mengerti, apalagi aku. Bisa kamu jelaskan apa yang terjadi?” tanya Simon. Dia mulai bingung karena melihat ekspresi penuh aneh dari teman perempuannya itu. Tentu saja, selain Aster tidak ada lagi yang mengerti kenapa dia harus tertohok saat mendengar perkataan Lucy tadi.         Aster membenarkan posisi duduknya, menegakkan badan dan bergerak dengan penuh antusias. Dia mulai memberi penjelasan, “Kalian tahu bukan kenapa para tetua mendirikan Oakland? Karena bumi ini sudah mengalami kiamat! Tidak ada lagi yang tersisa selain lautan. Tapi, jika sekarang kita ada di bagian dari Negara Australia, berarti semua cerita itu...” kata-katanya terpotong, entah sengaja agar membuat semua makin penasaran atau memang hal baru yang dia pikirkan seperti biasa.         “Tapi bisa saja ada hal yang belum kita semua ketahui. Seperti bagaimana semua orang mengira bahwa tempat ini sudah lenyap,” Tony memberikan pendapatnya.         Aster memasang pose berpikirnya. Ditumpukkan kaki kanannya ke atas kaki satunya sembari memegangi dagu. “Mungkin bencana itu tidak menghabiskan daratan secara keseluruhan.”         Wajah kebingungan kini menghinggapi wajah Lucy saat mendengar semua percakapan barusan. “Maaf memotong pembicaraan kalian. Tapi, saya tidak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan. Tentang... bencana, kiamat?”         Aster memiringkan sedikit tubuhnya ke arah Lucy berada. “Beberapa puluh tahun lalu bumi ini diterjang oleh gelombang pasang air laut yang dahsyat. Apa mereka menyebutnya?”         “Tsunami,” jawab Johan cepat.         “Oleh karena itu, semua daratan lenyap. Sebelumnya kami mengira seperti itu, hingga akhirnya menemukan tempat ini. Dan, mungkin hanya negara ini yang tersisa?”         “Hmm?” Lucy mencoba mengingat-ingat. “Aku tidak pernah mengalami, melihat bahkan mendengar berita tentang itu. Selama ini kami baik-baik saja. Negara di dunia ini pun masih sama seperti sebelumnya.”         Keadaan menjadi sangat sepi. Mereka semua terdiam karena terkejut mendengar apa yang dikatakan wanita tersebut. Jika tidak ada bencana, berarti semua cerita yang mereka percayai selama ini hanyalah sebuah kebohongan? Bagaimana bisa? Rasanya sulit untuk menerima semua itu setelah apa yang terjadi kepada mereka.         Kenapa ini semakin rumit? Padahal aku berharap semua akan segera berakhir.         Sementara Aster semakin kebingungan, Erik sedikitnya sudah menduga semua ini akan terjadi. Bahkan dia hanya butuh beberapa hal lagi untuk mengungkap misteri di dalam pikirannya sendiri. “Tanggal berapa sekarang?” tanyanya dengan tenang seperti biasa.         Hal itu membuat Aster sedikit terkejut. Kenapa dia menanyakan hal itu di saat seperti ini? ujarnya dalam hati. “Kenapa kamu bertanya seperti itu, Erik?”         “Aku hanya bertanya.” Lelaki itu melipat tangan di depan d**a, melirik ke arah Lucy, menunggu jawaban dari pertanyaannya tiba.         Lucy mengingat-ingat dan berjalan mengambil sebuah gulungan dari atas rak buku karena merasa tidak yakin. Dia tidak pernah mempedulikan waktu, bahkan benda tersebut entah dari kapan sudah tergeletak di tempat yang sama. Hanya laba-laba yang menggunakan lubang di dalamnya sebagai tempat untuk berlindung. Hewan-hewan itu bergegas berlarian di saat sang pemilik kalender mengambil kembali benda miliknya.         Lucy membentangkan gulungan kalender miliknya. Sedikit menyingkirkan benang-benang halus yang menempel. “23 April 2093.”         “Apa?” nada bicara Aster meninggi karena merasa tidak percaya.         “Lihat saja sendiri, hari ini hari Rabu.”         “Boleh saya melihatnya?” pinta Erik. Lucy segera memberikan gulungan kalendernya.         Lelaki itu tertawa sinis. Rasa kesal turut muncul dari dalam nada bicaranya. “Lucu sekali. Selama ini kita dipermainkan oleh sesuatu. Membuat kita percaya bahwa kini sedang tinggal di abad dua puluh tiga. Padahal kenyataannya, abad dua puluh dua-pun belum kita lalui.”         Semua ini semakin gila! Bagaimana bisa ini terjadi... bahkan aku sama sekali tidak pernah berpikir    sampai ke situ.         Aster termenung, menggigiti kuku ibu jarinya pelan.         Ethan melihat gadis itu tengah terjebak dalam pikirannya sendiri. Sedang berpikir dengan sangat keras. Ekspresi wajahnya mengatakan hal tersebut. Tapi dia merasa sedikit kecewa karena Aster selalu saja menyimpan berbagai hal dalam pikirannya seorang diri. Padahal Ethan ingin sekali keberadaannya dapat berguna, meski hanya untuk mendengar keluh kesah semata.          Tetapi, memang seperti itulah Aster. Dia tidak bisa memaksanya untuk berbicara jika tidak karena keinginannya sendiri. Jadi, segera disingkirkanlah semua pikiran negatif yang mulai menghantui. Ethan kembali fokus kepada permasalahan yang ada. “Lalu...” lanjutnya. “Tadi aku sempat mendengar, pada awalnya kalian mengira bahwa kami adalah orang yang ingin berbuat sesuatu pada kota kalian. Apa orang-orang yang kalian maksud juga yang sudah membuat kota ini menjadi seperti sekarang?”         “Memangnya ada apa dengan kota kami?”         “Maksudku... um,” sedikit sulit mencari kata-kata tepat agar tidak terdengar terlalu menyinggung si pendengar. Ethan merasa dirinya tidak terlalu lihai dalam berkata-kata. “Aku melihat kota ini begitu gersang dan tampak mati. Mungkin ada yang membuatnya seperti itu.”         “Oh, tidak. Ini semua karena perubahan iklim yang terjadi. Matahari kini terasa lebih menyakitkan bagi makhluk hidup yang berusaha bertahan di bawahnya. Mungkin bumi ini sudah lelah, mulai tua dan berumur tak lama lagi.”         “Sangat disayangkan karena kami berpikir kota ini dulunya pasti sangat indah.”         “Memang benar. Banyak orang dari luar pulau, bahkan dari luar negara yang sengaja berkunjung hanya untuk menikmati keindahannya. Namun, semua hal di atas bumi tidak ada yang abadi. Begitu pula dengan kota ini. Tapi, kami tetap menyayanginya dibandingkan dengan tempat lain yang jauh lebih indah sekalipun.”         “Ya, aku juga pasti seperti itu jika menjadi bagian dari kota ini.”         Ethan kehabisan kata-kata. Dia terdiam, di saat semua orang turut membisu di sekitarnya. Kembali mereka semua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Bahkan sebagian besar hanya termenung menatap lantai dengan tatapan yang tampak kosong.         “Aster,” bisik Ethan sepelan mungkin. “Kamu baik-baik saja?”          Lamunan gadis tersebut buyar. Ethan membawanya kembali ke kenyataan. Dia sedikit bersalah saat mendapati ekspresi keterkejutan pada Aster. Namun gadis itu hanya tersenyum setelahnya setelah mengucapkan ‘maaf’. Bahkan Ethan tidak mengerti, siapa yang seharusnya meminta maaf.         “Umm, sepertinya kalian terlihat sangat lelah. Silahkan anggap rumah ini seperti rumah sendiri. Jika butuh makanan, ambil saja di dalam kulkas. Aku akan pergi sebentar.” Mungkin Lucy merasa kurang nyaman berada di tengah keheningan yang ada. Sebelum semua menjadi makin tidak mengenakkan, dia bergegas bersiap-siap untuk pergi.         “Terima kasih banyak,” ucap Aster sembari memandangi wanita tersebut hingga menghilang di balik tembok. Suara pintu di buka dan di tutup kembali terdengar, itu tandanya Lucy sudah tidak berada di dalam rumahnya.         Johan berbaring di atas karpet yang tergelar di atas lantai. Cukup lama dia menahan diri untuk melakukan hal itu sejak sampai di dalam rumah. Karena sang pemilik rumah semula masih bersama mereka, dia tidak berani melakukannya. “Lelah sekali! Bagaimana jika kita beristirahat saja untuk hari ini?”         “Kau benar,” Alby turut merebahkan badan di samping Johan. “Beruntung sekali penduduk di sini ternyata baik. Aku sempat khawatir petualangan kita selalu saja dipenuhi dengan mara bahaya.”         “Bisa-bisanya kalian bersantai di tengah keadaan membingungkan seperti ini!” Erik melempar sebuah bantal.         Johan menangkap bantal itu dengan sigap, meski sambil tetap berbaring di atas karpet. “Sudah terlalu sering kita terjebak dalam kebingungan. Tapi jangan sampai hal itu mengganggu waktu bersantai kita.”         “Jo tidak salah. Saat ini lebih baik kita beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga.” Bianca berjalan ke belakang Erik. Mengelus punggung kekasihnya itu pelan.           “Kalu lihat, Erik? Bahkan pacarmu sendiri membelaku!”         “Ya, sudah. Serahkan saja keputusannya kepada ketua kita,” ujar Simon. “Bagaimana Aster?”         Sang ketua masih saja tenggelam dalam lamunannya, padahal beberapa saat yang lalu baru saja Ethan menyadarkannya.         “Aster?” ucap Bianca dengan lebih keras.         Sama sekali tidak ada jawaban.         Ethan yang sedikit kesal menyenggol lengan Aster. “Hmm?” tanya gadis itu singkat. “Simon bertanya padamu.”         “Ada apa, Simon?”         “Barusan, Johan berkata apa tidak sebaiknya kita beristirahat untuk hari ini? Biar kita lanjutkan penyelidikan esok hari.”         “Oh, ya. Kamu benar. Kita tunda misi ini hingga besok. Kalian lebih baik beristirahat untuk saat ini.”         Semua tahu kata-kata barusan keluar dari dalam mulut Aster tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Tony bertemu pandang dengan Erik yang juga mulai merasa bingung. Akhirnya setelah perbincangan singkat tanpa suara dengan Erik, Tony memutuskan untuk bertanya, “Ada yang kamu pikirkan?”         “Banyak,” jawaban singkat kembali terucap dari dalam mulut Aster.         “Sebaiknya kamu juga beristirahat. Tidak baik terlalu memforsir pikiranmu seperti itu.”         “Baiklah,” seru Aster dengan berat hati. “Tapi, sepertinya aku ingin menanyakan sesuatu kepada Lucy sebelum beristirahat. Kemana kira-kira dia pergi?”         “Entahlah, dia tidak bilang apapun tadi. Mungkin ke rumah tetangganya karena tempat ini sudah         terlalu sesak dengan kehadiran kita,” jawab Ethan.          “Aku akan mencarinya sebentar dan kembali ke sini.”         “Hanya sebentar!” Erik menegaskan.         Aster mengangguk, dia tersenyum ke arah Bianca yang mulai mencemaskannya. Jika sudah terlalu asik dalam menyelediki sesuatu, dia pasti akan kesulitan untuk berhenti. Tapi, semua misteri yang ada justru terasa lebih mengganggu baginya jika dibandingkan dengan rasa lelah sekalipun.         Jika semua cerita tentang bencana dan kiamat itu tidak pernah terjadi, kenapa semua itu tertera dalam buku sejarah sekolah? Rasanya waktu yang berjalan di Oakland dan di tempat ini saling bertolakbelakang. Lucy pasti tahu sesuatu. Jika tidak, mana mungkin dia tidak begitu terkejut saat mendengar hal baru yang seharusnya sangat aneh tadi? Lagi-lagi... orang-orang ini pasti menyembunyikan sesuatu.         Aster berbelok di ujung ruangan, berjalan ke arah pintu keluar. Dia menghentikan langkah beberapa senti dari pintu kayu, memutar kenopnya dan mendapati bahwa pintu tersebut ternyata terkunci. Dia berpikir, mungkin tenaganya sudah terbuang terlalu banyak selama perjalanan hingga tidak bisa menarik pintu itu. Akan tetapi, berapa kali pun dicoba tetap saja benda tersebut tidak mau terbuka. Bahkan bergeser satu mili pun tidak.         Semakin lama, semakin kasar Aster menarik kenopnya. Tidak peduli saat ini dia sedang berada di rumah siapa. Dan kemungkinan dia akan merusakan pintu milik orang lain pun sangat besar.         Keadaan dan rasa lelah telah memancing emosi Aster. Gadis itu menarik lalu mendorong pintu dengan cepat, dan beberapa kali memberi tendangan hingga suaranya terdengar ke ruang tengah. Tony paling pertama menyadari hal tersebut. Dia bergegas bangkit dari atas sofa dan berjalan cepat ke arah ruang depan. Sementara yang lain disuruhnya agar tetap menunggu.         “Ada apa, Aster?” Tony menghampirinya.         “Entah badanku yang lemas atau memang pintu ini terkunci dari luar?” napasnya sedikit memburu karena kesal.         Aster mundur beberapa langkah sambil bertolak pinggang. Mempersilahkan temannya itu untuk turut mencoba hal sama dengannya. Tony mengambil alih kenop pintu. Menarik, mendorong, menggoyangkan, semua dilakukan untuk memeriksa benda tersebut. “Positif, terkunci dari luar.”         “Argh!” Aster menggeram kesal. Dia berjalan cepat untuk kembali ke ruang tengah. Semua sedikit terkejut melihat ekspresi penuh kekesalan muncul dari wajah sang ketua.         “Ada apa?” tanya Mellisa heran.         “Pintu depan terkunci dari luar,” jawab Tony yang baru saja sampai di dekat tempat Aster berdiri.         “Kupikir ada apa. Kenapa kamu terlihat semarah itu, Aster?”         “Jelas saja, karena wanita itu mengurung kita dalam rumahnya!”         “Mungkin dia spontan karena sudah terbiasa mengunci pintu saat hendak keluar rumah. Pasti dia berbuat dengan alasan.”         “Tapi,” Okta menyahut dengan cepat. Wajahnya sedikit berpikir. “Kita memang tidak boleh mendramatisir hal ini, tapi tetap tidak boleh lengah terhadap apa yang ada.”         “Ayolah, kamu membuatku bingung,” protes Johan.         “Aku mengerti kenapa Aster sekesal itu. Pikiranku lebih setuju bahwa Lucy sengaja mengunci pintunya dari luar. Meski aku tidak tahu untuk apa.”         “Sebelum berpikir terlalu jauh, lebih baik kita memeriksa seisi rumah untuk mencari jalan lain,” Erik mengusulkan.         Entah kenapa pikiran Aster dengan cepat menuduh Lucy sengaja mengurung mereka di dalam sana, tanpa memikirkan kemungkinan lain yang terjadi. Tapi dia tersadar bahwa perkataan Erik benar. Sebelum pikiran mereka salah men-judge, lebih baik sekarang mulai memeriksa ke seluruh penjuru rumah untuk mencari jalan lain yang mungkin bisa dipergunakan.         Tenanglah Aster... Aku harus bisa mengendalikan diri sendiri.         Aster menarik napas untuk menyetabilkan emosinya. “Maaf aku terlanjur emosi. Erik benar, sekarang kita berpencar untuk memeriksa seisi rumah ini. Cari jalan lain yang sekiranya dapat kita gunakan untuk keluar. Dan ingat, jangan menyentuh apapun jika tidak diperlukan!”         Dengan otomatis, semua orang langsung menentukan arah pencariannya seorang diri. Sebagian memeriksa ruangan di lantai satu dan sebagian lagi di lantai dua. Rumah Lucy cukup besar dan memiliki banyak ruangan. Dapat terbayang seberapa banyak anggota keluarganya sebelum akhirnya meninggalkan dia untuk hidup seorang diri. Bahkan di lantai dua Natasha banyak menemukan foto-foto tergantung pada tembok. Setidaknya ada lebih dari sepuluh orang yang berpose di dalamnya. Tentu saja Lucy menjadi salah satu yang ada di dalam foto tersebut.         Satu-persatu ruangan mereka masuki dengan hati-hati. Berusaha untuk tidak mengubah apapun di dalamnya. Sementara Aster sendiri meneliti ke arah dapur. Dia mendapati sebuah pintu lain yang sepertinya terhubung ke luar rumah. Aster mengintip melalui celah di pinggiran pintu. Matanya menangkap sosok jalanan berpasir di luar sana. Dengan penuh harap Aster menarik kenop dari benda yang tertutup rapat itu.         ‘Sial, lagi-lagi terkunci!’ gerutunya kesal.         Dia memeriksa di sekitar, membuka semua laci, meraba ke bagian atas lemari, namun keberadaan kunci yang dicari tidak kunjung dapat diketemukan. Setelah selesai dengan tugas masing-masing, semua orang bergegas kembali ke ruang tengah. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk memeriksa keseluruhan isi rumah dengan jumlah orang yang banyak.         Aster sibuk mengobrak-ngabrik seisi dapur, mencari seteliti mungkin agar tidak perlu melewati seonggok kunci apapun. Awalnya dia memerintahkan teman-temannya untuk tidak menyentuh barang-barang apabila tidak diperlukan. Sekarang, dia pula satu-satunya yang mengacak-acak dapur milik Lucy.         Menyerah dengan keadaan, Aster kembali menuju tempat berkumpul semula. Hampir semua teman-temannya sudah berkumpul di sana. “Bagaimana?” tanyanya singkat. Tapi hampir semua menjawab dengan gelengan kepala.         “Aku menemukan sebuah pintu yang menuju ke bagian beranda di lantai dua. Tapi terkunci,” jelas Alga dengan kecewa.         “Bagaimana dengan yang lain?” kembali terlihat gelengan kepala penuh kekecewaan. “Jendela… Ya, jendela! Kalian sudah memeriksanya?”         “Semua terkunci,” ujar Erik yang sedang menuruni tangga dari lantai dua. Alby mengekor di belakangnya.         “Bahkan tiap jendela dipasangi penghalang besi, dan benda itu melekat sangat kuat,” tambah Alby.         Aster menghela napas panjang, berusaha tetap menenangkan diri. “Ada satu jalan keluar yang lain di dapur, tapi sama-sama terkunci. Aku tidak dapat menemukan kuncinya di manapun.”         “Itu artinya... kita menang terkurung di dalam rumah ini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD