“Apa-apaan ini? Kenapa kita harus dikurung di dalam sini? Ada yang tidak beres dengan wanita itu!” gerutu Simon.
“Kita tidak boleh menuduh secepat itu. Dia pasti melakukan ini karena suatu alasan.”
“Alasan apa yang membuatnya harus mengurung kita di dalam sini?”
“Entahlah. Mungkin kita akan tahu setelah dia kembali. Tidak mungkin kita terus dibiarkan berada di dalam rumahnya.”
“Mungkin saja ini bukan benar-benar rumahnya.”
“Yang jelas kita harus selalu waspada. Kau hanya membuang-buang tenaga untuk marah,” Erik kembali duduk setelah mondar-mandir pelan sembari berpikir.
Keadaan menjadi lebih hening. Bukan berarti mereka menyerah terhadap keadaan, melainkan sedang berusaha untuk tetap tenang. Di satu sisi, mereka masih belum terpikirkan hendak melakukan apa.
Aster menggigit kuku ibu jarinya dengan tidak tenang. Mendadak rasa kekhawatiran menyeruak di dalam hatinya. Di antara yang lain, sepertinya dia yang terlihat paling tidak bisa diam.
Apa yang harus aku lakukan di saat seperti ini? Seharusnya aku biarkan mereka beristirahat tanpa memberitahukan keadaan sebenarnya. Sekarang, semua merasa gelisah akibat perbuatanku. Padahal jelas-jelas aku tidak memiliki bukti bahwa Lucy melakukan ini dengan sengaja. Ketua macam apa aku ini?!
Rasa bersalah, khawatir, bingung, berkumpul dan berputar di dalam kepalanya. Semua itu membuat Aster tidak sedang dalam kondisi prima untuk memimpin kelompoknya berdiskusi. Padahal, seharusnya dia melakukan itu, daripada membiarkan semua anggota kelompoknya tenggelam dalam bayangannya sendiri.
“Kenapa kalian harus sepanik itu?”
“Tentu saja karena kita terkurung di dalam sini. Pertanyaan bodoh, Okta,” jawab Johan.
“Memang sudah berapa kali kalian terkurung di suatu tempat sebelum ini?”
“Oh, lebih dari cukup. Salah satunya berkat ibumu kami harus merasakan kurungan lembab yang berbau busuk.”
“Kalau begitu tidak perlu mencemaskan kondisi ini. Apalagi kita tidak sedang mendekam di dalam penjara yang menjijikan bukan? Ada tempat beristirahat, makanan dan air yang cukup. Tenang saja lah!”
“Kau kan belum pernah merasakan hal serupa.”
Jika diteruskan, percakapan kedua lelaki itu bisa-bisa berubah menjadi sebuah pertengkaran. Sebelum terlanjur, Erik memutuskan untuk menghindarkan hal tersebut. “Terima kasih, Okta. Kau benar. Sudah seharusnya kita menghemat tenaga. Hanya perlu menunggu hingga Lucy kembali.”
Okta melanjutkan percakapannya dengan Erik dan teman-teman yang lain. Sementara Aster tetap sibuk dengan pikirannya seorang diri. Semua percakapan yang ada tidak ada satupun yang masuk ke dalam telinganya. Satu-satunya suara yang ada hanyalah perdebatan antara dia dan dirinya sendiri.
Apa yang seharusnya aku lakukan di saat seperti ini?
Lagi-lagi kamu menanyakan hal sama berulang kali. Tidak bisakah kamu berpikir!
Sejak tadi pun aku sudah berusaha berpikir dan berpikir berulang kali. Tapi sia-sia.
Buka paksa saja pintu yang ada di bagian belakang rumah. Dengan begitu semua bisa keluar dari tempat ini.
Tapi tidak mungkin hal itu dilakukan jika tidak ingin memancing sebuah masalah muncul.
Apa dengan menunggu wanita itu kembali tidak akan membawakan sebuah masalah baru juga?
Wanita itu terlihat baik, sepertinya tidak mungkin memiliki niatan buruk.
Tidak ada penjahat yang berusaha memancing korbannya dengan memperlihatkan wajah buruknya.
Tapi memang benar. Jika dia tidak memiliki sebuah maksud tertentu, tidak mungkin dia mengurung kita di sini.
Ya, pasti ada maksud. Dan sepertinya bukan hal yang baik.
Jangan biarkan wanita itu mencuri start setelah kembali ke sini.
Jangan berikan dia kesempatan untuk memperburuk keadaan. Aku harus lebih dulu memaksanya bicara mengenai apa yang sedang terjadi.
‘Cring’ suara benda terjatuh terdengar dari kejauhan. Terdengar seperti sekumpulan besi kecil berkencringan saat jatuh menimpa lantai. Tentu saja siapapun yang mendengar akan langsung sadar bahwa benda tersebut adalah kumpulan kunci. Sumber suaranya tak salah lagi, berasal dari luar rumah. Semua orang yakin bahwa hal tersebut merupakan pertanda bahwa Lucy telah kembali.
Suara lemah tersebut dengan dahsyatnya memancing perhatian Aster, yang bahkan sebelumnya tidak pernah terganggu oleh suara nyaring dari percakapan teman-temannya.
“Aster!” sahut Natasha pelan.
Gadis yang namanya baru saja dipanggil itu tidak mempedulikan apapun dan bergegas berjalan cepat menuju pintu keluar. Sebuah pintu kayu berwarna cokelat kini bertengger kokoh di hadapannya. Catnya sudah banyak terkelupas.
Dia menunggu Lucy membuka pintu dengan tidak sabar. Semua temannya turut berkerumun di balik pintu mengikutinya. Ethan sengaja berdiri sedekat mungkin dengan Aster agar dapat langsung bertindak jika gadis tersebut bertindak gegabah.
‘Trek’ suara yang terdengar berikutnya. Tangan Aster terkepal di samping jahitan celana. Semakin tidak sabar untuk menemui si pemilik rumah. Begitu pintu terbuka, Aster bergegas menarik gagang pintu dengan cepat dan berjalan keluar untuk meminta kejelasan. “Ada apa ini, kenapa kamu mengurung kita di dalam sini?” tanyanya sembari sedikit mendorong tubuh wanita tersebut.
Akan tetapi, tubuh di hadapannya berubah menjadi seorang lelaki kekar yang sedikit terkejut karena serangan Aster yang tiba-tiba. Lelaki itu perlu menundukkan kepala untuk melihat wajah si penyerangnya. Sementara Aster sebaliknya, dia harus menanggahkan kepala hanya untuk mendapati wajah sangar lelaki tersebut.
Mereka berdua terdiam sembari saling pandang. Mulut Aster sedikit menganga tak mengeluarkan suara. “E... Um, maaf. Aku kira, Anda...” ucapnya tergagap-gagap.
Lelaki berkulit hitam tersebut tidak merespon. Meski sebelumnya dia terlihat seakan tersentak karena terkejut, namun ekspresi pada wajahnya tidak berubah sama sekali. Aster sama sekali tidak dapat menerka apa yang ada di dalam pikiran orang itu. Apa dia marah karena diserang secara mendadak, atau justru terheran-heran, atau hendak melakukan sesuatu kepadanya.
‘Ada yang salah dengan lelaki ini,’ pikir Aster.
“Kalian diperintahkan untuk mengikuti saya sekarang juga!”
“A-”
“Pastikan semua pertanyaan kalian simpan hingga nanti sampai di tempat tujuan!”
Mulut Aster masih terbuka menunggu si pria menyelesaikan kata-katanya. “A-”
“Jangan melakukan hal yang tidak perlu seperti melawan, menyerang, ataupun kabur!” lagi-lagi orang tersebut menyela kata-kata Aster yang belum sempat meloncat dari dalam tenggorokannya.
Mulut Aster kini terkatup, tidak berniat untuk melanjutkan perkataannya. Lebih baik dia menyimpan tenaga dan bertanya di saat yang tepat, daripada harus merasa semakin dongkol karena perkataannya tidak pernah dibiarkan selesai. Bahkan untuk melontarkan satu kata pun tidak bisa.
“Siapa dia, Aster?” tanya Johan penasaran.
“Aku tidak tahu. Dia menyuruh kita semua untuk mengikutinya,” Aster sedikit berbisik di saat si lelaki misterius membalikkan badan dan mulai melangkah.
Baru saja Aster hendak melangkahkan kaki kanannya, Alby menarik lengannya dengan cepat. Mata lelaki tersebut memancarkan sorot keraguan serta kekhawatiran. Aster mengerti benar hal itu. Tentu saja dia pun sudah memikirkan berbagai kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Akan tetapi, dia lebih takut apabila kemungkinan tersebut akan semakin besar jika mereka tidak bergegas mengikuti lelaki tadi.
Aster membalikkan badan, memandang ke arah semua temannya. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Semua hanya saling pandang seakan sedang berkomunikasi melalui pikiran. Entah berapa lama mereka seperti itu. Atmosfer yang terasa sangat cukup untuk menjelaskan keadaan yang ada. Bisa disimpulkan bahwa mereka semua memiliki pikiran yang sama.
Erik mengeluarkan sebuah pisau kecil yang tersembunyi di balik kaosnya. “Tidak ada salahnya jika kita berjaga-jaga.”
“Itu benar.”
Aster kembali membalikkan badan. Tangan kanannya perlahan meraih pisau yang juga tersembunyi di balik baju bagian belakang. Digenggamnya benda kecil tersebut dengan seerat mungkin agar tidak perlu meloncat dari kepalannya yang mulai terbasahi oleh keringat. Begitu pula dengan yang lain, mereka telah bersiap dengan senjatanya masing-masing.
Suara langkah kaki si lelaki hitam yang menyentuh pasir sudah tidak terdengar dari balik tikungan. Aster khawatir akan kehilangan jejak orang tersebut.
Kenapa aku harus khawatir? Bukankah dia yang harusnya khawatir jika kita semua ternyata tidak mengikutinya? Dia sendiri sebenarnya sadar, semakin mereka mendekati lelaki tadi, semakin dekat pula mereka dengan bahaya baru. Namun di sisi lain ada hal yang membuat Aster lebih memilih untuk mendekati bahaya, daripada harus meninggalkan rasa penasaran di dalam hatinya. Entah kenapa dia sangat yakin bahwa pencarian terhadap misteri yang selama ini mengekangnya akan segera memberikan jawaban.
Simon mempercepat langkahnya, menjadi sedikit berlari untuk menyemakan posisi dengan Aster. Dia sedikit bingung kenapa temannya itu terlihat semakin terburu-buru. Tapi tetap saja, semua turut menyamakan langkah di belakangnya.
“Apa hanya perasanku saja atau memang langkahmu semakin cepat?” akhirnya Simon angkat bicara.
“Apa perlu kita terburu-buru seperti ini?” tambah Natasha. “Aster?” tanyanya dengan nada yang meninggi. Dia sadar teman perempuannya itu sedang tenggelam dalam lamunannya sendiri ‘lagi’.
“Kita tidak boleh kehilangan jejak orang itu.”
Johan berlari dengan cepat ke sebelah Aster. Dia sedikit melompat-lompat sembari menghadapkan badannya ke arah kiri. “Kita tidak akan kehilangan jejak orang itu, Aster. Lihat, jejaknya tampak jelas di sepanjang jalan!” ucapnya berusaha memecah ketegangan dan berharap langkah ketua kelompoknya itu melambat. Bibirnya memberikan senyuman seakan penemuannya tersebut merupakan hal yang sangat hebat.
“Aku bisa melihatnya sendiri, Jo!” Sayangnya Aster bukan orang yang bisa melepaskan mangsanya begitu saja. Raut wajah seriusnya masih terus terpasang. Bahkan dia sama sekali tidak menyisihkan waktu untuk melihat ke arah wajah Johan. Senyuman memudar dari wajah lelaki bermata sipit itu. Langkah kakinya terhenti, membiarkan teman-temannya berjalan lebih dulu. Ethan merangkul bahunya yang sedikit lesu itu.
Sambil terus berjalan, Aster berharap bisa melihat keberadaan lelaki hitam tadi di balik belokan. “Siapkan tenaga kalian jika keberadaan orang itu belum juga terlihat di balik sana!”
Kaki Aster berjalan dengan sangat cepat, bersemangat untuk segera berbelok di tikungan yang ada di hadapannya. Keberuntungan bagi Johan, mereka tampaknya tidak perlu mengeluarkan tenaga banyak untuk berlari, karena orang yang dicari terlihat jelas di hadapan mereka. Bahkan tidak hanya ada satu orang saja, setidaknya ada lebih dari sepuluh orang bersenjata yang berbaris di belakang orang hitam itu. Semua sedikit terperanjat karena terkejut.
“Oke... kita menemukannya,” komentar Ethan pelan.
Semua yang berjalan di belakang Aster mendadak berhenti setelah melihat sang ketua yang lebih dulu menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. ‘Bugh,’ Johan yang terakhir berbelok menabrak punggung Simon. Hidungnya terasa berdenyut meski tak mengeluarkan darah. Sambil mengusap-usap hidung, dia melihat ke arah deretan lelaki bersenjata di seberangnya beserta si lelaki hitam yang berdiri tegap di depan barisan tersebut.
“Jatuhkan senjata kalian!” ujar si lelaki hitam dengan nada santai. “Sudah kubilang jangan mencoba-coba untuk melakukan perlawanan!”
“Ka-”
“Jatuhkan senjata kalian!” lagi-lagi perkataan Aster dipotongnya.
Kekesalan semakin menumpuk dan menumpuk hingga tidak bisa dibendung lagi. Aster mulai merasa jengkel karena sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk berbicara. “Apa yang kalian takutkan dari pisau kecil ini sementara kalian semua membawa senapan?”
Suara kokangan senjata api menjawab pertanyaannya. “Ini tidak baik, cepat buang semua pisau kalian!” perintah Erik sembari tetap berusaha merasa tenang. Aster tidak mempedulikannya.
“Aku tidak suka mengulangi perkataan,” tambah si lelaki hitam sembari menghunuskan tatapan tajam pada gadis yang juga menatapnya lekat.
Sebuah peluru melesat dengan cepat menggores lengan Tony tanpa sempat dihindari. Dia meringis sembari memegangi sobekan baju yang mulai ternodai oleh darahnya sendiri. Pisau dalam genggamannya jatuh ke atas jalan.
Aster yang terkejut menoleh ke belakang beberapa saat dan kembali menatap si lelaki hitam dengan tajam. Namun dia tak kunjung membuang pisaunya. Erik menyadari hal itu. “Aster!”
Pada akhirnya, Ethan merebut pisau dari genggaman Aster setelah dia membuang miliknya terlebih dahulu. Gadis tersebut tidak bereaksi sedikitpun. Dia lebih sibuk memberikan tatapan tajam kepada sosok di hadapannya. “Angkat kedua tangan kalian setinggi-tingginya!” ujar sosok tersebut.
Aster berusaha keras menahan emosi agar tidak perlu bertindak gegabah. Sedikit saja dia bertindak tanpa pikir panjang, bisa-bisa puluhan peluru bersarang di dalam tubuhnya serta tubuh teman-temannya dalam sekejap mata.
Si hitam yang menjadi pemimpin dari penyergapan, atau hal apapun itu yang sedang dia lakukan kepada kelompok Aster, terlihat memberikan suruhan kepada anak buahnya yang lain. Kemudian dia berjalan lebih dulu dengan langkah yang cukup cepat. Kembali pergi dan menghilang di balik bangunan yang ada.
Semua orang yang menjadi anak buah si hitam langsung menjalankan perintah yang mereka dapat. Diaturnya semua tawanan mereka agar berbaris dengan rapi. Membentuk sebuah barisan dengan berisikan tiga orang di tiap barisnya. Aster berada pada baris ke empat, sekaligus barisan paling belakang. Tony berdiri di sebelah kiri dan Bianca di sisi satunya lagi.
Pasukan bersenjata itu sangat kasar. Tak jarang mereka mendorong atau menarik siapapun yang dianggapnya bergerak terlalu lambat. Hal itu membuat Aster semakin merasa tidak suka.
“Aku tahu banyak hal yang kamu pikirkan. Tapi, jangan sampai semua itu mempengaruhi tindakanmu!”
Wajah Aster yang semula terus-menerus tertunduk akhirnya terangkat setelah mendengar perkataan Tony yang ada di sebelahnya itu. “Maaf, aku memang bukan pemimpin yang baik,” balasnya sembari menghela napas panjang.
“Bukan, bukan itu maksudku.”
“Hmm?”
“Aku berkata seperti ini bukan karena ingin membuatmu merasa seperti itu.”
“Berhenti bicara! Lihatlah ke depan!” teriak seorang lelaki yang berada di belakang barisan Aster.
Aster juga Tony dengan spontan meluruskan pandangan mereka. Meski tak lama lelaki itu melanjutkan perkataannya, kini dengan berbisik. “Kamu dengar? Orang di belakangmu itu pun mengerti.”
“Mengerti apa?” Aster mulai tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin Tony sampaikan.
“Berhenti bicara dan lihat ke depan! Tidak usah pedulikan apa yang ada di belakangmu. Tapi perhatikanlah apa yang akan kamu temui di depan!”
Aster melihat senyuman Tony yang tak bisa jika tidak dibalasnya. “Iya, terima kasih, Tony.”
“Kubilang berhenti bicara!” orang yang sama dengan sebelumnya kembali berteriak. Aster dan Tony hanya tertawa kecil sembari kembali meluruskan pandangannya.