Ia dibangunkan perlahan oleh Gio saat mereka sudah mendarat dan ia tak tahu di mana mereka berada.
"Kita di mana?"
"Rumah sakit," jawab Gio kaku.
"Maaf, aku tertidur."
Gio segera melompat turun dan menunggu Nafa untuk turun juga.
"Apa kamu tidak bisa lebih cepat lagi?!" bentak Gio saat tak sabar menunggu Nafa turun dari sana. Ia hanya bisa berjengit mendengar hal itu.
"Bergegaslah!"
"Jika Anda lupa saya buta, Sir!" bentak Nafa balik karena merasa kesal.
Ia berteriak saat Gio mengangkatnya turun dari helikopter dan menurunkannya di lantai.
Setelah itu Gio kembali menyeretnya entah ke mana dan ia bisa mendengar berbagai pembicaraan yang tak ia mengerti. Operasi mata Nafa dijadwalkan akan diadakan keesokan harinya setelah ia menjalani puasa.
"Vinno," panggil Nafa pelan merasa ingin menangis sebab merasa takut berada di tempat asing.
"Ya, Tuhan, panggil aku Gio!"
"Maaf, Gio."
"Ada apa?"
"Aku takut, maukah kamu memelukku?"
Beberapa menit berlalu dan ia tak merasakan sentuhan suaminya. Ingin ia mencari laki-laki itu tapi tak tahu di mana keberadaannya hingga akhirnya ia merasakan sebuah sentuhan dan dengan cepat ia masuk ke dalam pelukan suaminya dan tak melepaskannya seolah-olah hidupnya bergantung dari hal itu. Walau laki-laki itu hanya berdiri seperti patung saat ia memeluknya, ia tak peduli akan hal itu.
Tidak lama kemudian Gio melepaskannya dan menjauhkan tubuh Nafa darinya.
"Aku harus mengurus pekerjaanku yang tertunda karena harus menikah dan menjemputmu, aku akan datang lagi nanti."
"Kapan?" tanya Nafa.
"Saat aku sempat," ujarnya dingin.
"Baiklah," jawab Nafa meski merasa sedih sebab laki-laki itu meninggalkannya sendirian. Entah mengapa ia merasakan jika sikap laki-laki itu begitu berubah dibandingkan saat mereka baru saling mengenal tapi ia kemudian menepis hal itu.
Aku berharap aku akan bisa melihat jadi akhirnya aku bisa melihat wajah Vinno. Eh Gio, aku harus membiasakan diri karena tak ingin dia marah lagi padaku. Apa dia jadi marah karena aku salah memanggil namanya?
Malam tiba dan sepanjang hari itu Nafa hanya bisa membaca saja karena tak ada yang bisa ia lakukan. Dirinya sudah berganti pakaian rumah sakit dan beberapa kali orang-orang itu melakukan test atau apapun padanya. Ia sungguh merasa takut berada di tempat asing dan tanpa seorangpun yang ia kenal bersamanya. Ia terdiam saat merasakan ada orang lain di ruangan itu. Sebab ia bisa merasakan tubuhnya meremang seolah-olah seseorang menatapnya.
"Siapa?" tanya Nafa takut.
"Apa kamu masih boleh menerima pengunjung?"
"Gio!" serunya lega dan tersenyum bahagia mendengar suara itu.
"Apa kamu sudah makan?"
"Sudah tadi dan aku tidak boleh makan lagi sejak jam 9."
"Aku membawakan sesuatu untukmu."
"Apa?"
Gio menyodorkan sesuatu padanya dan ia menemukan jika itu seikat bunga yang lumayan besar. Ia menghirup bunga itu dan tersenyum begitu bahagia.
"Terima kasih!" ucapnya senang. Dengan perlahan Nafa turun dari ranjang dan mencoba menggapai keberadaan Gio dengan tangannya, ia berjalan tak tentu arah sebab laki-laki itu sama sekali tak bersuara hingga tanpa sengaja ia tersandung dan akan jatuh tapi ia merasakan sebuah lengan merangkul pinggangnya.
"Apa kamu selalu seceroboh ini?"
"Biasanya tidak tapi aku tahu di sini ada kamu, jadi kamu pasti akan menjagaku," ujarnya tersenyum. Nafa bisa merasakan hembusan napas Gio pada lehernya dan ia hanya terdiam menanti hingga ia merasakan bibir panas dan lembab mencium bibirnya dengan begitu b*******h. Menelusuri bibirnya dengan ujung lidahnya dan tanpa ia sadari, ia membuka bibirnya untuk Gio. Dia menyelipkan lidahnya di kehangatan bibir Nafa dan memperdalam ciumannya. Rengkuhan lengannya pada pinggang Nafa semakin erat hingga mereka tampak menyatu.
Napas mereka terengah saat mereka selesai berciuman.
"Aku tak tahu ciuman bisa senikmat ini," ujar Nafa tak menyadari jika suaminya hampir meledak karena gairah sebab begitu menginginkannya.
"Sebaiknya kamu tidur karena besok kamu harus menjalani operasi."
"Baiklah, maukah kamu menemaniku?"
"Aku harus pergi lagi."
Nafa begitu sedih mendengarnya dan dia merasa jika laki-laki itu benar-benar berubah. Bahkan ciuman mereka terasa berbeda dari biasanya.
"Baiklah," ucap Nafa sendu.
"Apa besok kamu akan ada di sini saat aku akan menjalani operasi?"
"Mungkin."
Hati Nafa semakin sedih mendengarnya. Apa setelah kami menikah dia tak peduli lagi untuk bersikap seperti dulu? Apa dulu itu hanya aktingnya saja?"
Nafa kemudian kembali meraba-raba untuk kembali ke ranjangnya dan dia berbaring di sana mencoba tidur. Saat mendengar suara pintu yang ditutup, ia membiarkan air matanya mengalir. Ia merindukan Vinno yang menjadi kekasihnya bukan Gio yang menjadi suaminya.
***
Saat ini Nafa sudah dipersiapkan untuk menjalani operasi tapi sejak tadi ia tak mendengar kedatangan suaminya. Bahkan hingga ia memasuki ruang operasipun ia masih tak mendengar kehadirannya.
Apa kesalahanku hingga dia menjauhi aku? batin Nafa sebelum kesadarannya hilang setelah obat bius bereaksi.
Nafa terbangun dan menyadari jika semuanya sudah selesai, ia menyentuh matanya dan menemukan perban di sana. Meski selama ini ia selalu melihat kegelapan tapi saat matanya diperban seperti ini, ia merasa tak nyaman. Ia tak berharap lagi jika Gio akan ada di sini sekarang.
"Kamu sudah sadar?"
Dirinya tersentak saat mendengarkan suara itu. Saat ia berharap akan kehadiran laki-laki itu tapi dia tak ada. Saat dirinya tak mengharapkan kehadirannya tapi dia malah datang.
"Apa kamu memang benar-benar peduli aku akan bangun atau itu hanya aktingmu saja?!" ketus Nafa akhirnya. Ia sudah tak tahan lagi karena terus diabaikan laki-laki itu.
"Tenangkan dirimu, kamu baru menjalani operasi jadi tidak boleh tertekan."
"Jika kamu tak terus mengabaikan aku atau berusaha menjauhi aku tanpa aku ketahui sebabnya maka aku tak akan tertekan, jadi jika kamu memang ingin menjauh dariku maka pergilah, entah untuk apa kamu menikahiku."
"Baiklah aku akan pergi jika kamu tak menginginkan kehadiranku di sini!"
"Kamulah yang tak ingin kehadiranku di dekatmu, Mr. Larvall! Hingga kamu terus menjauhiku sejak aku menjadi istrimu."
Nafa kemudian mendengar bunyi pintu yang ditutup dan ia menghela napas pasrah dan berusaha tak menangis, sebab bagaimanapun ia tak ingin merusak kesempatannya untuk bisa melihat lagi.
Keesokan harinya Nafa menemukan sebuah buku di sampingnya dan ia tahu jika pasti Gio yang meninggalkan buku itu untuknya. Saat buku yang ia baca sudah habis maka dia akan menemukan buku yang lain tapi sejak hari itu ia hanya bertemu dengan Gio sekedarnya saja. Laki-laki itu hanya mampir sebentar dan kemudian akan pergi lagi. Perlahan ia tak lagi mengharapkan jika laki-laki itu akan kembali seperti dulu dan Nafa sungguh merasa kesepian.
Hari-hari yang dilaluinya hanya berjalan terasa begitu lambat dan tak ada yang bisa dilakukannya. Saat bosan dia akan keluar dari kamar dan berjalan tak tentu arah. Kadang-kadang para suster akan membawanya kembali ke kamarnya karena takut ia cedera tapi ia sungguh merasa bosan saat tak memiliki siapapun untuk diajak berbincang-bincang. Sejak mereka menikah bahkan kakak laki-laki Gio dan adiknya tidak datang menemuinya. Ia merasa jika Gio pasti membohonginya jika mereka sudah setuju akan hubungannya dengan Gio.
Dokter sudah mengizinkannya untuk pulang tiga hari setelah operasi dan memintanya kembali satu minggu kemudian untuk membuka perban tapi Gio mengatakan jika ia lebih aman di sini. Jadi ia hanya pasrah dan terus berada di rumah sakit.
***
Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^