4

1174 Words
Setelah kepergian Vinno, Nafa naik ke kamarnya dan menangis sepuasnya. Ia baru mengenal laki-laki itu selama seminggu tapi dirinya sungguh sudah mencintainya. Setelah puas menangis, ia akhirnya bisa tertidur karena kelelahan. Ia membuka matanya dengan berat merasakan hangatnya cahaya matahari pagi menyinarinya. Ia bisa merasakan matanya yang bengkak karena terlalu banyak menangis. Seharian ia mengurung diri di kamar tapi tahu jika saat malam ia tak bisa terus mengurung diri karena harus bernyanyi. Saat bernyanyi ia kembali menyanyikan lagu tentang cinta sambil memikirkan Vinno dan tanpa ia sadari sembari menyanyi ia juga menangis hingga membuat para tamu terdiam mendengarnya bernyanyi begitu sedih. Selesai bernyanyi ia akhirnya menyadari jika dia menangis padahal bahkan Vinno belum sehari pergi. Dengan cepat ia menghapus air matanya dan tersenyum mengucapkan terima kasih. Saat semua tamu sudah pergi dengan perlahan ia berjalan akan naik ke kamarnya. "Nafa," panggil suara seorang laki-laki. Nafa tersenyum mendengarnya dan dengan cepat menghampiri suara itu, memeluknya erat. "Kamu tak jadi pergi, Vinno? Aku senang sekali," ujarnya dan kemudian melepaskan pelukannya pada Vinno yang ia rasakan tiba-tiba menjadi kaku. Nafa kemudian meraba wajah laki-laki itu dan dirinya tersentak kaget tidak lama kemudian. "Kamu bukan, Vinno," ujarnya dan berjalan mundur menjauhi laki-laki itu hingga menabrak meja. "Siapa kamu?" tanyanya panik. "Kenapa suaramu begitu mirip Vinno?" "Aku kakaknya, aku kemari ingin menjemputnya. Sihir apa yang sudah kamu lakukan padanya hingga ia tertarik padamu dan ingin menikahimu? Bagaimana caramu menjeratnya hingga dia bahkan tertarik dengan gadis buta sepertimu? Apa kamu menjeratnya dengan tubuhmu?" "Aku tidak melakukan apapun padanya, kami saling mencintainya." "Katakan saja di mana dia! Aku akan membuatnya sadar jika dia tidak mencintaimu tapi hanya penasaran padamu saja. Berapa yang kamu inginkan agar kamu melepaskan adikku?!" "Dia sudah pergi kemarin saat mendengar jika adiknya masuk rumah sakit jadi saya ingin Anda juga keluar dari sini, saya tidak akan tinggal diam saat dihina di dalam rumah saya sendiri! Simpan saja uang Anda karena saya tak menginginkan sepeserpun uang Anda." "Dengan harga tertentu aku yakin kamu pasti mau, aku hanya belum menyebutkan harga yang tepat untuk itu." "Aku memang buta tapi setidaknya aku memiliki sopan santun dan harga diri tidak seperti seseorang di sini," sindir Nafa marah saat ingat semua perkataan laki-laki itu. Ia tahu jika itu artinya laki-laki ini tak akan merestui hubungannya dengan Vinno dan sepertinya ia harus berusaha melupakan Vinno mulai sekarang. "Jika kamu berbohong dan kamu menyembunyikan Vinno maka kamu tahu akibatnya," ujar laki-laki itu sambil memegang erat dagu Nafa yang membuat ia merasa dagunya terbakar oleh sentuhan laki-laki itu. Ia sungguh tak tahan merasakan sentuhan itu dan dengan panik ia mencoba melepaskan dirinya. Tapi ia malah merasakan bibir yang basah memagut perlahan bibirnya. Nafa membeku di tempatnya karena ciuman itu membuat ia merasa gelisah dan perlahan berubah menjadi rasa takut. Ia semakin ketakutan saat laki-laki itu menarik pinggangnya semakin merapat padanya. Ia berusaha mendorong d**a laki-laki itu agar melepaskannya tapi laki-laki itu bergeming dan terus memagut, menghisap dan mencecap bibir Nafa sepuasnya. "Aku rasa Vinno pasti hanya ingin mencicipimu dan aku yakin dia sudah mendapatkan apa yang dia mau jadi karena itulah dia pergi. Aku yakin jika tak pergi pun dia akan langsung membuangmu saat tahu betapa murahannya dirimu hingga membiarkan laki-laki lain menciummu." "Pergi!" bentak Nafa marah. "Dasar berengsek!" maki Nafa. Dia yang memaksakan ciuman itu padanya tapi seolah-olah Nafa yang sudah menyerangnya. Tak pernah ia bertemu orang yang sebajingan itu. Ia bisa bernapas lega saat laki-laki itu akhirnya pergi dan meninggalkannya sendirian. *** Seminggu berlalu sejak kejadian itu dan sesuai dugaan Nafa jika Vinno tak akan pernah kembali untuk menjemputnya lagi. Dirinya tak tahu harus senang karena tebakannya benar atau harus merasa sedih karena Vinno mencampakkannya. Tapi setidaknya ucapan kakak laki-laki Vinno tidaklah tepat jika Vinno hanya menginginkan tubuhnya, sebab Vinno tak pernah menyentuhnya lebih dari sebuah ciuman. Di kejauhan ia mendengar sebuah helikopter dan hatinya sungguh berharap jika itu Vinno yang kembali menjemputnya, saat menanti selama setengah jam dan tak mendengar suara laki-laki itu memanggilnya, ia kembali merasa kecewa. "Halo, bella mia." "Vinno!" seru Nafa begitu senang bisa kembali mendengar suara itu. Dengan panik ia berjalan ingin menghampiri laki-laki itu dan tanpa sengaja ia menubruknya hingga tubuhnya hampir terpental. "Hati-hati, bella mia, jika kamu sampai cedera kita tak akan bisa menikah." "Jadi kakakmu merestui kita?" "Ya," jawabnya pelan. "Apa kamu yakin? Terakhir dia ke sini tak tampak seperti itu." "Aku tahu, maafkan aku atas kelakuannya," geramnya marah. "Aku berhasil meyakinkannya jika kita memang saling mencintai. Jadi maukah kamu menikah denganku di sini dan aku akan membawamu ke rumahku dan rumah masa kecilku tempat di mana kami bertiga dibesarkan." "Ya, aku mau." Keesokan harinya Nafa menyusuri gereja untuk melangsungkan pernikahannya dengan Vinno. Laki-laki itu tak ingin menunda sedikitpun dan langsung menikahinya. Dia sudah membawakan sebuah gaun pengantin untuknya dan Nafa tak bisa lebih bahagia lagi saat pernikahannya dihadiri oleh semua orang yang dikenalnya. Perlahan Nafa berjalan menyusuri lorong gereja dengan dituntun oleh Raimon. "Kamu sangat cantik, Sayang." "Terima kasih, Papa," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Ia sungguh tak menyangka jika akan menikah dan dengan laki-laki yang ia cintai. "Apa kamu Giovanno Larvall akan menerima Nafandra Rainger sebagai istrimu, mencintai, menyayangi dan menjaganya dalam suka ataupun duka, sakit ataupun sehat hingga maut memisahkan kalian?" "Ya, saya bersedia." "Apa kamu Nafandra Rainger akan menerima Giovanno Larvall sebagai suamimu, mencintai, menyayangi dan melayaninya dalam suka ataupun duka, sakit ataupun sehat hingga maut memisahkan kalian?" Nafa sedikit ragu menjawabnya sebab ia merasa jika ada sesuatu yang terasa tak sesuai tapi ia tak tahu apa. "Nafa," panggil Vinno pelan. "Ya, saya bersedia." Kemudian pendeta mengatakan jika ia sudah menjadi istri sah Vinno dan laki-laki itu boleh menciumnya. "Vinno, aku rasa ada yang salah tapi aku tak yakin apa itu," ujar Nafa tapi laki-laki itu sudah membungkam bibirnya dengan penuh gairah hingga ia tak bisa berpikir lagi. "Ayo, kita harus bergegas, aku sudah menemukan donor untuk matamu dan kita tidak bisa menunda lama-lama." "Mata?" "Ya, aku pernah berjanji bukan akan membuatmu bisa melihat lagi." "Ya, tapi apa itu mungkin?" "Tak ada yang tak mungkin, bella mia." Nafa berpamitan kepada kedua orangtuanya dengan air mata berderai. "Aku akan merindukan kalian," isaknya. "Berbahagialah, Sayang, kamu pantas mendapatkan kebahagiaan itu." "Terima kasih, Ma." "Layani suamimu dengan baik dan menurutlah padanya, Papa tahu kamu bisa sangat keras kepala kadang-kadang." "Aku akan mencobanya, Papa." Dengan tak sabar Vinno berpamitan pada kedua mertuanya dan kemudian menyeret Nafa untuk pergi dari sana. Nafa bisa mendengar suara helikopeter saat mereka sudah tiba di landasan. Ia merasa begitu ngeri sebab tak bisa melihat seberapa rendah baling-baling itu. "Tundukkan kepalamu jika tak ingin kepalamu lepas dari tubuhmu," ujar suaminya. "Apa begitu rendah, Vinno?" "Mulai hari ini panggil aku Gio." "Kenapa?" "Karena orang lebih sering memanggilku Gio dan aku lebih menyukai panggilan itu daripada Vinno." "Tapi aku ingin memanggilmu seperti itu." "Turuti keinginanku!" bentaknya marah hingga Nafa berjalan mundur ketakutan karena Vinno tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya padanya. "Maaf, aku tak bermaksud membentakmu, aku hanya__, sudahlah sebaiknya kita segera berangkat." "Baik," ujar Nafa dan berjalan mengikuti Gio yang menarik tangannya. Akhirnya Nafa bisa bernapas lega saat sudah duduk di dalam helikopter itu dan Gio memasangkan sesuatu pada telinganya. Saat mereka mulai lepas landas dengan refleks ia merengkuh tangan Gio karena sedikit takut sebab ini pertama kalinya ia meninggalkan rumahnya dan ini pertama kalinya ia naik helikopter. Setelah beberapa lama akhirnya ia merasa rileks dan tertidur di bahu Gio yang menjadi sandarannya. *** Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD