Tak ada yang bisa Nafa lakukan hari ini sebab tamu-tamu mereka sedang pergi dan tak tahu apa hari ini akan kembali atau menginap di puncak. Jika mereka gagal sampai ke atas maka mereka akan kembali, jika mereka berhasil maka besok siang mereka baru akan pulang. Sesaat di dalam hatinya Nafa berharap mereka gagal, ia tahu jika dia egois tapi dia hanya ingin bersama Vinno sedikit lebih lama sebelum dia harus pergi.
Tapi harapan Nafa tak terkabul karena saat malam mereka tak juga kembali.
"Ada apa, Sayang?" tanya Lizabeth saat melihat wajah sendu putrinya.
"Tidak ada, Ma."
"Apa kamu menunggu dia pulang?"
"Apakah tampak begitu jelas, Ma?"
"Ya, jangan jatuh cinta padanya Nafa sebab saat dia pergi dari sini maka dia akan lupa padamu," ujar Lizabeth. Meski ia tak ingin menyakiti hati Nafa tapi ia lebih tak ingin Nafa patah hati jika kenyataannya memang akan seperti itu.
"Ya, Ma, aku tahu. Aku tahu mungkin saja dia hanya penasaran padaku dan ingin menghabiskan waktunya sejenak mencoba menghilangkan rasa penasaran itu. Tapi hatiku tak ingin tahu akan hal itu, bagaimanapun dia laki-laki pertama yang tak bergegas kabur dari hadapanku saat tahu aku buta."
"Ya, Mama hanya tak ingin kamu kecewa."
"Terima kasih, Ma."
Lizabeth membelai kepala putrinya dengan sayang. Walau mereka bisa saja merahasiakan tentang kenyataan soal kelahiran Nafa tapi mereka memilih memberitahunya saat ia berumur 18 tahun dan mereka senang ia bisa menerimanya lebih baik dari perkiraan mereka.
"Mama, tidur dulu," ujar Lizabeth meninggalkan Nafa di bawah sendirian.
"Hmmm," balas Nafa. Ia berada di sana sedikit lama tapi kemudian memutuskan naik ke atas dan mencoba tidur. Setengah jam kemudian ia menyerah saat dirinya tetap tak bisa tidur dan ia membuka jendela merasakan angin tak menyadari jika jauh di atas sana seseorang juga tak bisa tidur karena merindukannya.
Vinno menatap langit di atas kepalanya dan melihat bintang di sana. Kepalanya tak bisa menghilangkan wajah Nafa yang terus berputar-putar dibenaknya. Besok dia sudah akan pulang tapi dia merasa belum rela meninggalkan Nafa dan akhirnya keputusannya sudah bulat, dia tak sabar untuk memberitahu Nafa besok.
***
Nafa sedang membersihkan meja-meja di restoran saat mendengar suara langkah kaki yang masuk. Dengan cepat ia berjalan ke arah suara itu dan tanpa sengaja ia menubruk tubuh seorang laki-laki.
"Apa kamu merindukan aku, bella mia?" tanyanya merengkuh Nafa ke dalam pelukannya dan berbisik di telinganya.
"Ya," ujar Nafa dan tersenyum senang saat akhirnya bisa mendengar suara itu lagi.
"Aku juga," bisiknya lagi dan kali ini dia memagut bibir Nafa perlahan. Nafa hanya bisa bergeming diam di sana karena tak tahu harus melakukan apa. Saat Vinno merasakan Nafa tidak menolak dia merengkuh pinggang Nafa semakin dekat padanya dan memperdalam ciuman mereka.
Setelah puas mencium Nafa ia meletakkan tangan Nafa di wajahnya.
"Pelajari wajahku dan jika tanpa sengaja kamu menabrak seorang laki-laki, kami akan tahu apakah itu aku atau bukan."
"Baiklah," ujar Nafa dan kembali meraba dengan perlahan wajah Vinno dan mempelajarinya.
"Bagaimana acara bermalamnya?" tanyanya sambil terus menelusuri wajah Vinno.
"Sangat dingin menusuk tulang, jika bisa aku sangat ingin terbang ke sini menemuimu dan kemudian bergelung tidur di balik selimut hangatku."
Nafa tertawa mendengarnya. Saat ia selesai menyentuh wajah Vinno ia kembali merasa sedih waktu ingat Vinno akan pulang sore ini.
"Ada apa, bella mia? Kenapa kamu bersedih?"
"Apa kita akan bertemu lagi?"
"Oh, ya aku lupa memberitahumu, aku akan tetap di sini selama satu minggu lagi."
"Benarkah?" tanya Nafa gembira dan tak bisa menyembunyikan rasa senangnya mendengar hal itu.
"Si, aku ingin lebih mengenalmu dan jika orang tuamu mengizinkan, aku ingin membawamu menemui kakakku dan mengenalkanmu padanya, kemudian kita bisa meminta izinnya untuk menikah. Maukah kamu menikah denganku, Nafa?" tanya Vinno mengenggam erat tangan Nafa.
"Tapi kita baru bertemu."
"Aku akan memberimu waktu selama satu minggu untuk menjawabnya tapi maukah kamu menjadi kekasihku sampai kamu menjawab lamaranku?"
"Baiklah," ujar Nafa tersenyum. Kemudian ia merasakan Vinno mengangkat tangannya dan sebuah cincin menyelip di jarinya.
"Apa ini?" tanya Nafa sambil meraba jari manis di sebelah kirinya dan bisa merasakan sebuah cincin polos tanpa ukiran berada di sana.
"Cincin sebagai tanda jika kamu sudah menjadi kekasihku. Jarimu begitu kecil hingga bahkan cincin yang aku pakai di kelingkingku muat di jari manismu bahkan masih sedikit longgar," ujar Vinno tersenyum geli.
"Terima kasih."
"Ya," jawab Vinno dan mencium Nafa untuk meresmikan hubungan mereka sebagai kekasih.
Vinno mengatakan yang sebenarnya jika dia belum akan pulang sedangkan kedua temannya sudah pulang terlebih dahulu. Mereka semakin hari semakin dekat.
Lima hari kemudian Nafa mengajak Vinno ke sebuah air terjun yang merupakan tempat rahasianya. Di sana Vinno menciumnya dengan perlahan tapi tidak melakukan hal yang lebih jauh dari itu.
"Apakah kamu mau menikah denganku, Nafa?"
"Ya," jawab Nafa akhirnya memberanikan diri menyongsong kesempatan yang diberikan padanya.
"Terima kasih," ujar Vinno dan memeluk Nafa erat ke dalam dekapannya, kemudian memagut bibirnya perlahan.
Mereka kemudian pulang ke rumah dengan gembira. Vinno meminta izin kepada kedua orangtuanya untuk membawanya ikut serta ke Italia agar bisa diperkenalkan kepada kakaknya dan sekalian meminta restunya.
"Om-Tante, aku ingin membawa Nafa ikut bersamaku ke Italia untuk meminta restu kakakku jika kalian mengizinkan. Kami sudah sepakat akan menikah dan aku ingin dia jadi istriku."
"Maaf, Vinno, bukan Om tidak merestui kalian tapi dia putri Om satu-satunya dan jika dia belum menjadi istrimu Om tidak bisa mengizinkannya ikut bersamamu. Jika dia sudah menjadi istrimu maka kami akan mengizinkannya untuk ikut bersamamu. Jadi kamu harus menikahinya dulu di sini baru bisa membawanya pergi dari tempat ini," jelas Raimon.
"Baiklah, aku akan menelepon keluargaku dan meminta mereka hadir."
Kedua orangtua Nafa meninggalkan mereka untuk memberikan privasi.
Vinno kemudian menekan nomor ponselnya dan menghubungi kakaknya tapi tak bisa tersambung dengan kakaknya jadi dia menelepon ke rumah. Dia malah mendapatkan kabar jika adiknya masuk ke rumah sakit dan dia harus segera pulang.
"Maafkan aku, Nafa. Aku harus segera pulang sebab adikku masuk rumah sakit. Aku janji akan kembali untuk menjemputmu dan menikah denganmu nanti."
"Jadi kamu harus pergi? Tak bisakah kita menikah dulu agar aku bisa ikut bersamamu."
"Maaf aku tidak bisa, kakakku orang yang sangat disiplin, dia akan mencekikku jika aku menikah tanpa kehadiran seluruh keluarga."
"Baiklah, aku akan menunggumu."
"Ya, tentu," ujar Vinno dan memagut bibir Nafa pelan. Kemudian bergegas membereskan barangnya.
Nafa berusaha tegar saat mendengar derap langkah kepergian laki-laki itu, entah kenapa hatinya berkata jika ia tak akan pernah bertemu dengan laki-laki itu lagi.
Vinno kembali mendekati Nafa dan memeluk erat dirinya. "Andai aku bisa membawamu untuk ikut denganku sekarang," ujarnya. Tanpa bisa Nafa kendalikan ia menangis di dalam pelukan laki-laki itu.
"Aku akan menunggumu, Vinno, bahkan hingga aku mati, jadi aku mohon kembalilah untuk menjemputku," isak Nafa.
"Ya, aku janji. Aku mencintaimu, Nafa."
"Aku juga mencintaimu, Vinno."
"Rindukan aku, bella mia."
Air mata terus berjatuhan dari pipi Nafa dan dengan cepat ia mengangkat tangannya ingin meraba wajah Vinno untuk terakhir kalinya dan berharap jika laki-laki itu akan kembali untuknya dan tak melupakannya. Dengan panik ia terus menyentuh wajah Vinno hingga akhirnya laki-laki itu mengenggam tangannya dan mengecupnya perlahan.
"Aku pasti akan kembali, bella mia."
"Ya."
Vinno membuka kalung yang selalu dipakainya dan mengalungkannya di leher Nafa.
"Aku akan kembali untuk mengambil kalung ini, ini pemberian ibuku jadi aku tak akan pernah meninggalkannya dan aku akan meninggalkan ponsel ini di sini, agar aku bisa meneleponmu nanti."
Nafa tersenyum sedih mendengarnya dan dia menyentuh kalung itu. Dirinya bisa merasakan jika kalung itu berbentuk hati dan bisa dibuka.
"Di sana ada fotoku bersama Mama dan Papa. Jaga kalung ini untukku dan di ponsel itu ada foto kita berdua, aku ingin kamu menjaganya seperti menjaga harta karun kita. Jika kita sudah menikah, aku ingin meletakkan foto pernikahan kita di sana."
"Ya, aku akan menjaganya hingga kamu kembali."
Vinno mengecup pelan bibir Nafa kemudian berlalu pergi dari sana.
***
Jangan lupa klik love & komentya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^